Bersama

2173 Kata
Pemandangan langit-langit rumahnya masih sama, baik kemarin mau pun sekarang. Begitu juga dinding rumah yang sebagian terdiri dari kayu, juga orang yang mengobati Antares saat ini dan efeknya masih membuat lelaki itu tidak nyaman. Lettasya meniup tumbukan ramuan yang ia tempelkan di d**a Antares kemudian mengambil kain dan mulai membebat. Namun waktu terasa berputar begitu lama bagi Antares. Terdengar sebuah bunyi yang cukup jelas berasal dari perut wanita itu. Pergerakan Lettasya terhenti sesaat. Begitu juga Antares yang langsung menatapnya. “Saya tidak mendengar apa pun.” Lettasya melarikan pandangannya dari tatapan Antares yang masih diam. “Itu bukan saya, sungguh.” Antares mengambil kain kasa dari tangan Lettasya. “Sebaiknya kau masak saja? Ada kraken yang menjerit di dalam perutmu. Aku tidak ingin dia keluar dan mengacak-ngacak kota.” Lettasya mengigit bibirnya dan undur diri dari sana dengan wajah memerah. ***** Namun, sekian lama kemudian Antares tengah berdiri di depan rumah dengan kedua tangan melipat di d**a dan menoleh saat Lettasya muncul mengenakan baju yang telah ia belikan. Wanita itu bahkan mengikat rambutnya dengan sederhana sehingga tampak lebih rapi. “Haruskah kita pergi?” tanya Lettasya ragu. “Jika kraken dalam perutmu bisa berhenti meraung hanya dengan makan udara, aku tak masalah.” Lettasya merasa malu, tapi ia berusaha menutupinya. “Tapi tuan tidak perlu ikut dengan saya. Luka anda kemarin pasti belum pulih.” “Sepertinya kau lupa bahwa kau adalah tahananku di sini. Aku tidak akan memberikanmu celah sedikit pun untuk kabur.” Lettasya membuang napas panjang seolah lelah dengan perdebatan ini. Salahnya memang karena sibuk mencari bahan makanan hingga mengacak seisi dapur pemilik rumah dan menimbulkan bunyi gaduh. Antares yang semula hendak beristirahat pun hampir meledak melihat keadaan dapur yang untuk pertama kalinya teramat berantakan sperti baru saja kedatangan seorang perampok. “Aku tidak punya barang berharga jika itu yang kau cari,” sindir Antares mengejutkan Letttasya pagi tadi. “Dan hanya orang tidak waras yang menyimpan barang berharga di dapur.” “Apa kah sayuran dan gandum termasuk barang berharga?” sahut Lettasya. “Kenapa seorang prajurit kerajaan yang tampak kaya ini bahkan tidak memiliki bahan pangan di rumahnya?” “Yang benar saja. Kau sedang mengkritik pemilik rumah?” “Bukan begitu, Tuan.” Nada Lettasya berubah lebih lembut. “Sebagai orang yang menumpang di sini, saya harus tahu diri dengan membersihkan rumah atau sekedar membuat makanan. Semua perabot sudah saya bersihkan, tapi saya tidak bisa memasak karena tidak ada yang bisa saya olah.” Ah, Antares melupakan hal itu. Sangat jarang lelaki itu tinggal di rumah. Dia terbiasa menginap di istana jika Raja Orion meminta, atau tak jarang tidur di barak. Biasanya di sana telah ada pekerja khusus yang menyiapkan makanan sehingga tidak pernah terpikir oleh Antares untuk menyediakan makanan di rumahnya. Dan ia baru menyadari jika sejak kedatangan meraka di sini, baik Lettasya mau pun anaknya belum juga mendapat makanan. Maka dari itulah kini keduanya berencana ke pasar bersama. Sementara Antares telah meminta seorang prajurit berjaga di rumahnya kalau-kalau anak Lettasya terbangun. Seekor kuda berwarna cokelat tua dengan surai yang panjang berukuran besar dilengkapi dengan atribut berlambang kerajaan  Binzandium menambah kegagahan Antares ketika menunggangginya. “Kita akan menaiki kuda itu bersama?” tanya Lettasya bingung tatkala Antares mengulurkan tangan dari atas kuda.  “Dan haruskah aku memberikan kuda untuk seorang tawanan agar bisa lari?” Lettasya paham, tapi tetap saja … menunggang kuda bersama dengan Antares terasa sangat ganjal. “Cepat Lettasya!” seru Antares dengan nada tidak sabar yang ketara. Meski pun ragu untuk sesaat, wanita itu akhirnya bersedia. Akan tetapi tubuhnya duduk di atas pelana dengan teramat kaku. “Apa kau belum pernah menunggang kuda sebelumnya?” “Sudah, Tuan.” “Kau berbohong,” tuduh Antares. “Saya tidak berani, Tuan.” Lettasya menggeleng tegas. Saat ia hendak berbalik, wajahnya kembali didorong ke depan oleh Antares. “Saya memang pernah menaiki kuda, tapi itu tidak lama karena saya terjatuh dan nyaris terinjak oleh kuda yang mengamuk sehingga ayah saya tidak memperbolehkan saya menaiki kuda lagi.” Ingatan Lettasya memutar masa lalu. Kerajaannya tidak mempunyai seorang putra mahkota yang mampu meneruskan tahta. Sehingga Lettasya sebagai kakak tertua berinisiatif memiliki keahlian layaknya seorang lelaki. Dia tidak keberatan, dia menyukai tantangan. Namun, ayahnya teramat cemas karena melihat putrinya terluka. “Maka dari itu kau sekarang ketakutan?” Pertanyaan Antares menariknya kembali dari kenangan. Sejujurnya bukan itu. Lettasya tidak takut untuk mencoba menaiki kuda lagi, tapi tanpa didampingi Antares seperti ini. Keberadaan lelaki itu di belakangnya membuat Lettasya tidak nyaman sehingga ia berusaha menegakkan tubuh agar tidak membentur d**a Antares. Mungkin ini memang bukan pertama kalinya ia menunggangi kuda, tapi ini pertama kalinya ia menaiki kuda bersama seorang lelaki. Perjalanan tersebut terasa lama bagi Lettasya, hingga keduanya tiba di pasar terdekat. Pasar yang sama di mana tempat ia terlibat urusan tidak menyenangkan dengan seorang bangsawan congkak berperut buncit dan kemudian bertemu Antares. Kondisi di sini masih sama, tidak ada yang berbeda. Ramai dengan teriakan para pedagang yang menjajakan barang mereka, anak kecil berlarian ke sana kemari, obrolan para pembeli yang menawar harga. Antares turun dari kuda lebih dulu. Lelaki itu berdiri di bawahnya dengan dua tangan terulur, lalu ketika Lettasya meloncat turun, Antares benar-benar meraih tubuhnya agar tidak limbung dan berakhir mencium tanah dengan nahas. “Beli lah semua bahan makanan yang kau butuhkan.” Kemudian Antares menyerahkan tali kekang pada seorang petugas yang berjaga di pasar, lalu mengiringi langkah Lettasya. “Saya sebenarnya tidak ahli dalam memasak, tapi ada beberapa yang bisa saya buat.” “Lalu selama ini apa yang kau makan?” Bisa dibilang, selama masa-masa tersesat dulu dia banyak diberi beri makanan oleh orang sekitar yang membutuhkan bantuan Lettasya. dia tidak pernah meminta imbalan pada orang-orang yang disembuhkan. Karena Lettasya tahu, kebanyakan dari mereka adalah orang tidak mampu. Pernah selama setahun penuh ia tinggal di sebuah desa kecil, hampir setiap hari selalu ada yang memberinya makanan. Mereka mengatakan Lettasya adalah penyelamat yang dikirim oleh Dewa Zeus. “Stew.” “Stew?” Antares mengulangi kata itu dengan alis mengernyit. Pada masa ini stew lebih dikenal dengan makanan untuk orang miskin karena dibuat dengan bahan seadanya seperti sayuran, biji-bijian, dan ikan. “Dan Tamale,” lanjut Lettasya. Tamale merupakan sejenis adonan roti berisi sayur, daging dan buah yang dibungkus dengan pelepah jagung. Makanan ini umum dibawa oleh para pengembara. Antares hanya mengangguk diam, mendapat jawaban tentang alasan mengapa Lettasya dan anaknya bisa sekurus itu. Antares menunduk, berada persis di belakang wanita itu. Dipandanginya kepala Lettasya yang hanya setinggi dadanya. Rambut hitam legamnya tampak menyerap semua cahaya yang menyinari. Tidak pernah sebelumnya Antares melihat rambut sehitam ini. Beberapa helainya tertiup angin dan mengelus lembut wajah Antares dengan aroma yang masih sama seperti sebelumnya. “Bagaimana keadaan anakmu?” Antares mencari pengalih perhatian. “Semalam dia demam tinggi, tapi pagi ini dia sudah lebih baik.” Lettasya menuju pedagang sayuran. Memilih beberapa jenis yang menurutnya terbaik. Ada keinginan untuk menjelaskan status Lettasya, tapi kalimat ancaman yang dilontaran Antares di depan ruangan rahasianya masih membekas. “Bersyukurlah karena kau memiliki seorang anak. Jika tidak … mungkin kau sudah tidak bernyawa sekarang” “Dia masih belum sadar?” Lettasya menggeleng. “Kemungkinan malam ini dia baru akan bangun, itu pun jika kondisinya sudah stabil. Jika belum, maka sepertinya saya membutuhkan lebih banyak ramuan.” Lettasya mundur secara tiba-tiba dan membentur d**a Antares. Menyebarkan aroma yang nyaris membuat lelaki itu merasa hilang akal. Demi Tuhan, Antares harus segera mencari wanita penghibur untuk menuntaskan hasratnya sebelum semakin gila. Sambil berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali dia meminta wanita menemani malamnya. Namun hal itu tidak berhasil. “Apa yang sebenernya kau lakukan sehingga dia seperti itu?” Tetaplah berbicara Antares. Tatap matanya. Jangan yang lain! Tekadnya dalam hati. Pergerakan Lettasya terhenti, wanita itu berbalik dengan wajah jengkel. Bersiap untuk memberi pembelaan diri dan mengakui jika dirinya sama sekali tidak mengenal bocah tersebut. Akan tetapi sebuah panah telah lebih dulu melesat dan hampir melukai Lettasya andai saja Antares tidak dengan cepat menarik perempuan itu hingga keduanya terjatuh bersamaan. Katakan Antares tidak waras karena disaat seperti ini ia justru terpanah pada wajah Lettasya yang bersandar di atas d**a. Baginya, keterkejutan wanita itu serta mata hazel yang menatap polos serupa malam bak menenggelamkan pikirannya. Tidak masuk akal, sebab Antares bukan lelaki baik yang tidak pernah bermain wanita. Namun ini pertama kalinya ia melihat mata hazel yang begitu indah, teramat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Menarik. “Tuan, Anda baik-baik saja?” Dua orang prajurit yang berjaga di pasar menghampiri mereka. “Kau tidak apa-apa?” Antares segera bangkit dan memeriksa tubuh Lettasya dengan cemas. Wanita itu menggeleng pelan, membersihkan tanah yang mengotori pakaiannya dan Antares menggeram marah. Sorot matanya jelas menunjukan kemurkaan layaknya seekor harimau. “Kalian, jaga dia!” titah Antares merujuk pada Lettasya. “Aku akan mengejar bandit kurang ajar itu.” Namun, langkahnya terhenti karena Lettasya menahan lengannya. “Jangan dikejar,” pinta Lettasya dengan nada memohon. “Dia orang yang berbahaya Lettasya. Orang seperti itu harus segera ditangkap.” Akan tetapi Lettasya masih menahan lengan Antares dengan erat. Saat itu lah dia menduga, barang kali saat ini Lettasya terlalu terkejut dan ketakutan. Antares pun membuang napas. Dengan nada bicara yang lebih pelan, ia mengambil tangan Lettasya. “Kalian berdua.” Yang dimaksud adalah petugas di sana. “Kejar dan tangkap orang itu!” Antares lalu membawa Lettasya duduk serta meminta air pada salah seorang pedagang di sana. Pria itu berjongkok di depan Lettasya. Menikmati gambaran bagaimana leher putih wanita tersebut bergerak meminum air. “Kau pasti terkejut.” Lettasya mengangguk. “Sedikit.” “Sedikit hingga membuatmu begitu ketakutan jika aku pergi menejar bandit tadi?” sindirnya. Di luar dugaan Lettasya menggeleng, kedipan matanya polos menandakan kejujuran. “Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya mendapat serangan mendadak. Saat saya tersesat dulu, saya pernah membantu beberapa orang dan ada yang tidak senang dengan saya lakukan.” Lettasya tidak terlalu ingat di mana dan kapan tepatnya  kejadian itu berlangsung, tapi dia ingat dengan jelas bagaimana hari-harinya mendapat serangan hingga tidak nyenyak karena seorang tabit di sebuah desa yang ia tolong tidak menerima keberadaan Lettasya di sana. Saat tersesat selamat bertahun-tahun Lettasya memang telah mengunjungi banyak tempat, satu persamaan yang Lettasya tahu adalah orang miskin kesulitan mendapat pengobatan. Untuk itulah Lettasya selalu bersedia membantu. Namun tidak semua orang menyukai kebaikan yang ia tawarkan. Seorang tabib di sana merasa keberadaan Lettasya telah merugikan dirinya. Hingga Lettasya mendapat banyak ancaman tak terduga yang meyuruhnya untuk meninggalkan desa. “Kau cukup sering mengalami hal seperti ini?” Kening Antares berkerut. “Lalu kenapa kau seperti sedang ketakutan?” “Tentu saja saya takut. Jika Tuan mengejar orang tadi, bukan tidak mungkin akan terjadi perkelahian. Sedangkan luka anda masih belum sembuh. Jika lukanya kembali parah bagaimana?” Penjelasan panjang Lettasya itu disertai dengan wajah tidak suka. Antares menghela napas tak percaya. Wanita ini benar-benar di luar dugaan. Ia melarikan pandangan ke mana pun selain pada Lettasya. “Kita pulang sekarang.” Antares beranjak bangkit disusul Lettasya. “Tapi kita belum selesai,” protes Lettasya. “Aku akan meminta orang lain membeli kebutuhan kita. Kau cukup tuliskan saja apa yang diperlukan.” Lalu Antares terdiam. Mengira jika mungkin Lettasya tidak bisa membaca dan menulis mengingat bahwa asal usul wanita ini bahkan tidak jelas. “Kau masak saja dengan bahan yang sudah ada. Untuk kekurangannya, aku akan perintahkan bawahanku.” Sementara di belakang, tanpa Antares sadari Lettasya tengah memutar bola mata jengah sambil menggerutu dalam hati. Berpikir jika Antares terlalu sombong dengan memamerkan kekuasaanya. Belum sempat keduanya menghampiri kuda mereka, langkah Antares dihadang oleh seorang pria yang tidak asing. Lebih tepatnya lelaki tua yang mana pernah Antares datangi tokonya untuk membeli baju bagi Lettasya dan anaknya. Lelaki tua tersebut datang dengan raut wajah cemas. Membawakan barang belanjaan yang sempat jatuh dan lupa untuk dibawa kembali. “Saya mendengar Tuan diserang seseorang. Apa anda baik-baik saja?” Antares mengangguk. “Syukurlah,” desah pemilik toko. “Sejak kedatangan Tuan kemarin, toko saya kembali ramai.” Mata lelaki tua dengan sedikit keriput di kelopaknya itu menangkap sosok wanita di belakang Antares dan kemudian tersenyum menyadari pakaian yang dikenakannya. “Saya bisa mengumpulkan uang untuk anak pertama kami. Saya sungguh berterima kasih.” Lettasya tidak menyangka Antares bisa bersikap demikian pada orang yang bukan berasal dari golongan bangsawan. Akan tetapi satu kata yang keluar dari mulut Antares berikutnya menghilangkan senyum Lettasya yang nyaris terbit. “Minggir!” Antares bahkan menggeser tubuh pria tua tersebut dengan kasar, kemudian berlalu begitu saja. “Hati-hati di jalan, Tuan. Semoga dewa selalu melindungi anda.” Lelaki tua itu bahkan tidak tampak sakit hati dan mendoakan dengan tulus. Lettasya mendengus dari tempatnya berdiri sambil menatap punggung Antares. Nyaris tidak percaya Antares sekasar itu. Entah mengapa dia yang justru merasa tidak nyaman pada lelaki tua ini. “Terima kasih doanya.” Lettasya tersenyum pada pria tua itu. “Lettasya!” seru Antares memanggil. Tidak membutuhkan penggilan kedua, wanita itu pun segera berlari kecil untuk menyusul Antares. Tanpa kedua orang itu sadari, si lelaki tua pemilik toko tersenyum memperhatikan punggung mereka yang berjalan menjauh. ***** To Be Continue…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN