Lengah

2213 Kata
“Antares! Mati kau!!” Seorang pria bertubuh lebih tinggi dari Antares dan otot besar serta wajah yang ditumbuhi janggut juga kumis tebal menerjang Antares dengan pisau belati hitam di tangannya. Pergerakan yang tiba-tiba itu berhasil merobek pakaian Antares di bagian d**a. Tidak akan Antares ditunjuk sebagai tangan kanan jika tidak mempunyai pergerakan reflek yang baik. Dengan mudah Antares menghindar ketika lawan kembali berusaha menyerangnya. Beberapa orang di pasar memekik terkejut. Pergerakan lawan Antares lebih seperti kuda yang mengamuk, sehingga tidak teratur dan hanya ayunan pisau serta teriakan yang kencang. “Kau tidak pantas hidup! Kau bukan manusia,” racaunya. Antares tidak balas menyerang, sejauh ini dia hanya berusaha menghindar. Hingga kemudian sayatan pisau itu merobek bungkusan berisi pakaian yang baru saja dia beli. “Oh sial, menyusahkan saja.” Antares memeriksa pakaian yang dia beli dan beruntung hanya buntalannya saja yang koyak. Dua prajurit yang bertugas di pasar baru datang. Mereka mengacungkan tombak yang mereka bawa dan mengancam penyerang itu untuk tidak bergerak. Namun Antares justru menyodorkan barang bawaannya pada dua prajurit tersebut. “Kalian pegang sana ini, jangan sampai kotor apa lagi robek. Biar aku yang urus orang itu,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangan pada lawan. Semula kedua prajurit saling berpandangan dengan bingung, tetapi mereka tahu siapa orang yang meminta mereka. Antares bergerak maju. “Siapa kau?” “Aku adalah kakak dari gadis yang kau bawa untuk dikorbankan,” sahut lelaki itu terengah oleh amarah. “Kau dan rajamu itu sungguh bukan manusia!” Sementara Antares hanya diam, tidak mengelak mau pun mengiyakan. Jika Raja Orion tahu, orang ini mungkin akan bernasib seperti yang lain. Dimasukan ke dalam tembikar segitiga sebagai peti matinya. Bagi Raja Orion, membunuh seseorang harus beserta seluruh keluarga serta keturunannya agar tidak akan masalah di kemudian hari. Seperti saat ini. salah satu anggota yang masih hidup menuntut balas dendam. Namun rupanya Antares lengah, entah dia terlalu menaruh iba hingga membiarkan satu orang masih hidup atau berpikir jika lawannya ini tidak akan selamat. Yang jelas Antares ingat jika dia pernah membiarkan seorang lelaki sekarat dan pergi tanpa memastikan telah mati. “Seharusnya kau hanya perlu melanjutkan hidupmu,” ujar Antares dingin. “Jika sudah begini, maka apa boleh buat.” Antares telah mengeluarkan pedangnya, mengambil satu langkah pertama untuk bersiap menyerang. Tetapi luka di dadanya terasa berdenyut nyeri padahal ia yakin itu hanya goresan kecil.  Antares merobek tuniknya dan tampaklah luka sepanjang jari yang menganga. Yang tidak biasa adalah tidak banyak darah yang keluar sebagaimana luka pada umumnya. Lebih aneh lagi sekitar luka itu berwarna biru gelap. Dia melirik pada lawan yang menyeringai. Sial! maki Antares dalam hati. Lawan kembali menyerang, merasa lebih percaya diri dan selangkah lebih baik karena berhasil melukai seorang tangan kanan raja dengan belati beracun. Namun Antares tentu tidak membiarkan hal itu menjadi mudah. Sekalipun tinggi dan badan lawan lebih besar, Antares membuat lawan cukup kelelahan dengan pergerakannya yang lincah. Memukul beberapa titik rentan seperti tulang rusuk, punggung dan terakhir leher. Tanpa perlu membuat lawan berdarah, Antares berhasil menumbangkan pria tersebut. Dia menginjak pipi lelaki itu kemudian menekannya ke tanah sebelum berjongkok. “Mana yang lebih berarti? Kehidupan atau kematian?” Antares tidak mendapat jawaban, tapi dadanya kembali terasa sakit. “Kalian!” tunjuk Antares pada prajurit. “Bawa orang ini dan kurung di penjara bawah tanah.” Kedua prajurit bergerak cepat, mengikat tangan dan kaki pria tersebut. Antares pun melanjutkan perjalanan pulang menggunakan kuda milik salah satu prajurit agar bisa tiba lebih cepat. Ia harus segar membuat penawar untuk racun ini. ***** Lettasya masih sibuk berkutat di dapur. Ia berusaha tidak peduli dengan suara-suara berdesis yang masih terus memanggilnya. Wanita itu menyakinkan diri agar tidak ikut campur tentang apa pun kehidupan pemilik rumah ini. Mengenyahkan rasa penasaran dan keingintahuannya tentang sesuatu yang tersebunyi di balik pintu baja di dekat tanaman botanica. Lettasya berniat mengisi air hangat di sebuah wadah dan berbalik untuk kemudian memekik terkejut. Nyaris saja air di tangannya terjatuh karena satu sosok yang tinggi tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di depan matanya. Wajah Antares tampak pucat, begitu juga bibirnya yang membiru, belum lagi bulir-bulir keringat sebesar biji jagung yang memenuhi kening serta leher lelaki itu. “Tuan … Anda baik-baik saja?” “Aku baik-ba—” “Ya Tuhan, Anda terluka.” Lettasya terkesiap melihat pakaian Antares yang robek. Ia juga menemukan bercak darah di baju tersebut. Ia tidak yakin apakah itu darah milik Antares atau bukan, tetapi melihat luka yang ada, Lettasya tahu ini bukan luka ringan. Dengan segera Lettasya menaruh wadah yang dia pegang kemudian beralih meraih lengan Antares untuk ia lingkarkan di pundak. Memapah lelaki itu berjalan sedikit ke tempat duduk. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Antares dengan suara sedikit bergetar menahan pergelangan Lettasya yang terulur. “Saya harus memeriksa luka Anda sesegera mungkin.” “Apa kau sudah mendapatkan izin.” Demi Tuhan! Kenapa orang-orang berkuasa sangat haus akan rasa hormat, gerutu Lettasya dalam hati. “Bolehkah saya memeriksa luka Anda … Tuan?” ujar Lettasya menekan kata panggilan di akhir. Antares mengangguk. Dan Lettasya kembali terkesiap melihat jika racun di luka lelaki itu sudah menyebar. “Ini … in—” “Sudah berapa lama anda terkena racun ini?” “Aku tidak tahu, dalam perjalan pulang tadi. Saat di pasar.” Lettasya memutar otak, menghitung jarak dari pasar ke tempat ini bisa terbilang cukup lama. “Dan Anda masih hidup?” “Aku masih memiliki kesadaran Lettasya. Apa kau sedang mengatakan seharusnya aku mati?” Antares kemudian menggerang. Kepalanya terasa bertambah berat dan sakit. “Bukan begitu. Saya tidak yakin, tapi .. ini bukan racun yang mudah. Dan sangat luar biasa anda masih bisa bertahan, karena dari yang saya tahu hanya butuh beberapa menit hingga orang yang terkena racun mengalami kematian.” Antares tidak menjawab karena menahan sakit di kepala. “Izinkan saya menyembuhkan anda.” Tanpa menunggu persetujuan dari Antares, Lettasya bergerak cepat meraih sebilah pisau yang telah dicuci bersih kemudian dibakar di atas api. “Ini akan sangat sakit, bertahanlah!” Mata pisau panas itu menggores luka di tempat yang sama, bahkan menekan hingga masuk setengah bagian. Antares berteriak kesakitan. Butiran darah beku berjatuhan. “Jadi benar, ini adalah racun tretidigo.” Lettasya bergumam sendiri. Tretidigo merupakan sebuah racun baru yang berasal dari dua jenis racun yang disatukan. Tidak banyak orang yang tahu tentang racun ini karena baru menyebar beberapa waktu terakhir. Namun, semua yang tahu menyakini jika racun ini dibuat oleh seseorang. Racun yang membekukan darah ini akan bergerak cepat menuju jantung dan membuat kinerja jantung melemah hingga kemudian orang tersebut meninggal. Maka dari itu luka yang didapat tidak akan mengalirkan darah. Lettasya sendiri baru mengetahui obatnya sebelum ia tersesat di padang pasir. Bisa dibilang gampang-gampang susah. Karena Tretidigo adalah racun yang berasal dari hewan laut dan juga tanaman tertentu yang hanya tumbuh di pinggiran tebing. Terlebih kondisi Antares sudah sangat kritis. Bila sampai ia gagal, maka Antares akan menjadi orang pertama yang meninggal di bawah tangannya. Bagian terburuk, ia bisa saja menjadi tersangka karena berada di rumah yang sama. Meski demikian Lettasysa harus mencoba. Tidak ada banyak waktu untuk menunggu seseorang mencarikan Balian apa lagi Rhizmits. Baiklah, pertama ia harus mengeluarkan semua darah yang membeku. Lettasya menyiapkan wadah dan menaruhnya di bawah. Sedangkan Antares tampaknya sudah mulai hilang kesadaran. “Tuan! Bisakah Anda mendengarku? Jangan tertidur! Anda harus tetap terjaga.” Antares tampak mengernyit tatkala Lettasya membuka lukanya lebih besar. Butiran darah beku berjatuhan lebih banyak bahkan mengepulkan uap dingin. Setelah sekian banyak darah yang berhasil dikeluarkan, secara perlahan lelaki itu merasa sakit kepalanya telah berkurang. Dia juga bisa melihat dengan jelas seberapa telaten Lettasya saat mengobatinya. “Tuan … apa kau sudah merasa lebih baik?” Antares mengangguk. “Anda telah kehilangan banyak darah, tapi ini belum selesai. Tunggu di sini sebentar.” Lettasysa kemudian berlari menuju halaman belakang rumah, tepatnya ke tempat di mana tanaman obat-obatan milik Antares berada. Matanya memindai dengan teliti sebelum menemukan sesuatu. Dipetiknya beberapa helai daun berbentuk bintang dan kembali masuk ke dalam. Sementara itu pemikiran Antares justru tertuju pada Orion. Sesaat tadi dirinya sempat berpikir jika ia mati saat ini maka tugasnya untuk menemukan gadis bertanda mungkin tidak bisa terpenuhi. Setidaknya Antares harus bisa menyampaikan maaf sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Namun, sedetik kemudian Antares terkekeh sendiri mengingat mungkin saja Raja Orion kini masih bersenang-senang dengan wanitanya. Lettasya kembali dengan daun berbentuk bintang di tangannya. Antares yang telah mendapatkan kesadaarannya mulai berpikir, siapa Lettasya sebenarnya. Wanita ini bahkan mengetahui banyak hal tentang ilmu obat-obatan. Bahkan untuk racun yang sekarang diderita. Tanpa mengatakan apa pun, Lettasya mengunyah daun yang ia bawa. Lelaki itu cukup terkejut karena sepengetahuannya daun itu sangat pahit. Akan tetapi itu belum seberapa karena sedetik setelahnya Lettasya membuang daun tersebut untuk kemudian menggunakan lidahnya menjilat bagian luka di d**a Antares. Seketika dia pun membeku. Tidak sampai di situ, Antares bisa merasakan dengan jelas tatkala bibir wanita ini menghisap lukanya yang berada di dadda. Kilasan bayangan Antares saat di istana tadi seolah menjadi nyata dan ia merasa ingin mengumpat dengan isi pikirannya sekarang. Meski sungguh, Antares tahu jika Lettasya tengah menghisap racun yang ada di tubuhnya. Maka demi menjaga kewarasan yang tersisa, Antares  pun memejamkan mata. Namun itu menjadi kesalahan terbesar yang sama sekali tidak membantu karena tubuhnya bisa merasakan lebih jelas bagaimana bibir lembut Lettasya seakan membelainya. Disusul lengan wanita itu merayap untuk berpegangan. Sial! rutuk Antares dalan hati Antares lalu mengalihkan pandangannya, menatap pada dinding, atap rumah atau apa pun yang tetap tak behasil. Tangan lelaki itu telah menggenggap sudut kursi dengan kencang. “Letta,” geramnya pendek. Karena sungguh, jika Lettasya tidak juga menghentikan ini, mungkin Antares akan melakukan hal gila di tengah situasi genting begini. Alcohol sialan! Racun sialan! umpat Antares dalam hati. Beruntung wanita tersebut akhirnya melepaskan diri, membuang racun yang tersimpan di mulutnya pada wadah yang juga menampung darah beku milik Antares. Terdengar bunyi berdesis dan asap dingin kian mengepul. “Ini belum selesai. Racunnya masih tersisa.” Saat Lettasya kembali mendekat untuk melakukan hisapan kedua, Antares bergerak mundur. Lengannya menahan kedua pundak Lettasya. sedangkan wanita tersebut hanya mengerjap kebingungan akan tingkah lelaki itu. “Tidak bisakah kau menggunakan cara lain untuk mengeluarkan racun ini selain dari mulutmu?” “Jika mulut Tuan bisa menghisapnya sendiri maka saya tidak keberatan,” jawabnya datar. Andai kondisi Antares saat ini memungkinkan, betapa ingin ia membalas perkataan kasar Lettasya. Entah dari mana asalnya, tapi Lettasya harus belajar lagi cara berbicara dengan manusia. Tabiatnya ini bisa menjadi masalah dikemudian hari. Sebentar yang terasa lama bagi Antares itu akhirnya selesai. Lelaki itu merasa baru bisa menapas lega setelah sebelumnya bagai tersiksa. Jika boleh memilih, lebih baik ia merasakan sakit oleh dan perih oleh benda tajam. “Apakah kau tidak takut racun yang kau hisap itu justru akan menular padamu?” tanya Antares pada Lettasya yang tengah membebat lukanya dengan kain kasa. “Maka dari itulah aku mengunyah daun itu.” Wanita tersebut menggerakan dagunya. “Dari mana sebenarnya kau berasal? Bagaimana kau bisa tahu banyak tentang racun dan tanaman selayaknya seorang ahli botanica—auw” Antares meringis tatkala Letasya menekan dadanya. Sepertinya wanita itu sengaja melakukannya. “Untuk beberapa hari, Anda tidak boleh mandi dan harus sering mengganti kain kasa agar tidak infeksi. Racunnya mungkin sudah keluar, tapi ini belum selesai karena akan timbul efek samping beberapa hari ke depan.” Lettasya sudah bergerak bangkit dari tempatnya ketika pergelangan wanita itu ditahan oleh Antares. Mata hazelnya menatap tangan Antares sebelum keduanya saling berpandangan. Untuk beberapa saat, waktu hanya diisi oleh hening seolah terhenti dan menyisakan Antares serta Lettasya berbagi sesuatu yang tak mampu diucapkan oleh kata. “Tidak perlu berterima kasih jika itu yang ingin Anda katakan.” Antares mendengus, nyaris berpikir jika Lettasya cukup menarik. “Perlakuanmu ini tidak mengubah apa pun. Kau tetap seorang tawanan.” “Anda sungguh bermurah hati.” Lettasya tersenyum sinis dan berlalu tanpa menyadari pandangan Antares masih tertuju padanya. Setelah wanita itu menghilang, tatapan Antares teralih pada banyaknya butiran darah beku di wadah. Rautnya berubah menyeramkan. ***** Cleosana  baru saja keluar selesai mandi, mengangkat kaki jenjangnya keluar dari rendaman air berisi banyak kelopak bunga. Para pelayan menyambutnya dan membantu menyeka air kemudian membalut tubuh Cleosana dengan kain sutera. Beberapa waktu kemudian Cleosana telah mengenakan gaun sutera berwarna hijau gelap bercorak kuning yang dihiasi banyak eksen berkilau. Dia duduk di depan cermin besar dengan dua pelayan yang menyisir rambut pirangnya. Wajah cantik nan mulus miliknya memang tidak diragukan. Sebagai putri satu-satunya Jendral Bazly tentu saja dia amat dimanja, apa yang ia inginkan harus ia dapatkan termasuk…. “Saya sudah pastikan dia tidak akan bisa kembali, saya sudah membuang mayatnya di belakang gunung hingga tidak akan ada yang menemukannya. Kalau pun ada kemungkinan tubuh wanita itu tidak akan utuh karena dilahap hewan buas di sana.” Melalui cermin. Cleosana tersenyum menatap pembunuh bayarannya. “Kerja bagus!” Tidak ada seorang pun yang boleh mendekati, apalagi menyentuh Orionku. Pembunuh bayaran tersebut maju selangkah untuk menyerahkan sesuatu. Cleosana memberi isyarat dan pelayan bergerak mengambilkan untuknya. Sebuah bros cantik berwarna ungu muda. “Itu adalah barang pemberian Yang Mulia untuk wanita itu.” Cleosana tersenyum miring mendengar penjelasan tersebut dan membuka satu kotak kayu berlapis emas, menaruh bros tersebut bersama benda-benda lain yang juga ia dapat dari korban sebelumnya. Kenapa para wanita di luar sana sering sekali tidak sadar diri? ***** To be Continue…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN