Antares mengenal setiap seluk beluk ruangan di istana ini seperti ia mengenali setiap nadi di tubuhnya. Dia besar di sini, meski mungkin hidupnya juga tidak bisa disebut baik tapi setidaknya ia bisa hidup dengan berada jauh dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Maka ketika Antares tidak menemukan Orion di tempat yang ruangannya, ia tahu di mana sang Raja berada tanpa perlu petunjuk dari penjaga istana.
Diketuknya sebuah pintu ganda berwarna merah, tanpa ada penjaga. Alih-alih mendapat sahutan, Antares justru mendengar desahan seorang wanita. Sekali lagi, ini bukan hal baru untuknya. Lumrah bagi seorang lelaki yang memiliki kekuasaan bersenang-senang dengan wanita.
Antares membuang napas, mengetuk kembali pintu tersebut dan bertaruh dengan diri sendiri. Apabila Orion masih tidak menjawab, mungkin Antares akan kembali beberapa waktu lagi. Bukan dirinya tidak sopan, tapi sebagai tangan kanan ia sudah memahami kebiasaan Raja mereka. Ketika Antares diminta untuk datang menghadap, maka ia harus menampakan muka.
“Masuklah, Antares!” sahut Raja Orion.
Barang kali beliau juga tahu, tidak ada yang berani mengetuk pintu dua kali selain Antares.
Tanpa ragu, Antares mendorong pintu ganda berwarna merah tersebut. Menjejakan kakinya pada lantai berlapis permadani nan mewah asal Persia, Antares tidak lagi terkejut begitu melihat Orion tengah mencumbui wanita tanpa busana. Kegiatan itu tak berhenti meski tahu Antares sudah berada di ruangan yang sama.
Wanita dengan warna rambut seterang gandum yang telah matang itu tampak memajamkan mata, menggeliat di bawah tubuh sang Raja. Desahan menyusul setiap kali sentuhan Orion menjamah kulitnya. Antares berusaha melarikan pandangan ke arah lain, entah itu pada jejeran alat penyiksaan yang terpajang di dinding, pada pilar-pilar tinggi yang megah di sudut ruangan, atau mengamati corak permadani di bawah kakinya.
“Kudengar kau masih belum menemukan wanita itu?”
“Maafkan saya Yang Mulia.”
“Aku telah meminta Vadlles untuk membuatkanmu lontaran yang bergambarkan tanda tersebut, owh … ah….” Orion menggeram. Antares tahu itu bukan desah kemarahan.
“Kau mungkin akan kesulitan mengingat bentuk tanda yang diramalkan. Maka dari itu….” Orion membalikan badan. Posisi kini berganti dengan lelaki itu yang rebah sementara si wanita mencumbui d**a* telanjangnya*
“Aku menaruhnya di atas meja sana.”
Mau tidak mau Antares mengangkat kepala dan mengikuti arah pandang Orion. Sebuah meja yang berada tidak jauh dari ranjang tersebut membuat Antares ingin mengutuk dalam hati. Haruskah setelah ini dia juga mencari seorang wanita pemuas juga?
Antares tahu, dia hanya perlu mengambil lontaran tersebut secepatnya dan pergi dari sana. Akan tetapi ketika lontaran itu telah berada di tangannya, sudut mata Antares bisa melihat sang Raja memejamkan mata menerima setiap cumbuan wanita itu di leher dan dadanya, sementara tangan Orion mengelus lembut punggung mulus si wanita. Antares meneguk ludah, dengan pemikiran yang gila ia teringat dengan leher dan punggung Lettasya.
Ini pasti karena pengaruh minuman. Semalan ia bersama beberapa bawahannya menghangatkan diri dengan meminum cukup banyak cocktail. Dia harus segera keluar sebelum kepalanya semakin tidak waras. Antares mengundurkan diri setelah memberi salam terakhir.
Sepanjang perjalanan di koridor Antares terus membuang napas, seolah dengan itu pikirannya yang mengingat serta membayangkan Lettasya ikut terbuang. Lelaki itu berjalan sambil memijat pundak belakang dengan lelah, ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya.
“Antares!” Suara seorang wanita memanggilnya.
“Putri Cleosana.” Antares menunduk hormat.
“Apa yang kau bawa itu?”
“Ah … ini hanya sebuah gambar untuk mempermudah pekerjaan saya menangkap seseorang.”
Lebih tepatnya menemukan seseorang, tapi Antares dengan sengaja mengganti kata tersebut agar Cleosana tidak bertanya lebih jauh. Wanita yang tengah berdiri di depannya ini merupakan putri dari Jendral Bazyli.
“Apa kau melihat Yang Mulia Raja?”
Antares menggelengkan kepala pelan. “Maafkan saya.”
Cleosana mendesah sedih. “Ke mana perginya Raja Orionku?”
Ada alasan Antares tidak memberitahu keberadaan Orion. Cleosana akan murka dan membunuh wanita yang tidur bersama Orion. Gadis yang sekaligus sepupu sang Raja sangat memuja Orion sejak kecil dan impian terbesarnya adalah menikah dengan Orion. Semua orang tahu itu. Namun tidak satu pun yang berani menghalanginya. Baik Jendral Bazyli mau pun Raja Orion sendiri.
“Kalian berdua!” panggil Cleosana merujuk pada dua pelayan yang setia mengikutinya. “Cepat cari, Yang Mulia Raja dan segera kabarkan padaku. Jangan manatapnya lebih dari dua detik jika kalian tidak ingin kehilangan pengelihatan kalian! Dia hanya milikku.”
“Cepat! Tunggu apa lagi? Apa kalian tuli?”
“Ba-baik Putri.”
“Baik Putri.”
Keduanya segera berpencar. Cleosana masih menggerutu jengkel. “Kenapa orang sebodoh mereka bisa menjadi pelayanku? Aku harus mengadukannya pada Ayah agar segera dicarikan pelayan yang lebih baik.”
Antares tahu dia tidak perlu menjawab keluhan tersebut.
“Baiklah Antares. Kau boleh pergi. Segera tangkap orang-orang jahat yang ingin berbuat buruk pada Orionku.”
“Tentu, Putri.”
Antares menunduk sebagai bentuk hormat sebelum Cleosana meninggalkannya untuk kembali mencari Raja Orion. Ia hanya bisa berdoa agar apa yang Raja lakukan sekarang tidak akan diketahui Cleosana.
Bukan karena membela Yang Mulia, Antares hanya tidak suka ada yang mati karena masalah sepele. Bukan salah wanita itu bila Raja meminta untuk dilayani. Namun, siapa lah dia. Hanya seorang tangan kanan Raja yang dipungut karena memiliki nasib yang teramat sial.
Antares pun berencana segera kembali ke rumah sebelum kedua tawanannya itu melarikan diri. Dia harus mencari tahu tentang Lettsya dan anaknya, dari mana asal mereka, dan bagaimana bocah tersebut mendapat banyak luka. Dalam perjalanan menuju pulang, lelaki itu melewati sebuah pasar. Di sana ada beberapa toko pakaian yang terpajang rapi.
****
Ada hukum social tak tertulis yang dianut oleh kota ini. rakyat jelata hanya diperbolehkan mengenakan pakaian berwarna putih. Antares teringat pertama kali melihat Lettasya mengenakan jubah berwarna kecokelatan atau mungkin merah gelap. Yang pasti perempuan itu harus menyesuaikan diri jika ingin berada di sini. Namun, menilik dari kondisi Lettasya, ia yakin wanita itu bahkan tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli pakaian.
Maka, atas alasan demikian Antares pun menyempatkan diri singgah di toko pakaian. Memilih barang satu atau dua chiton untuk Lettasya juga anaknya.
“Oh selamat datang di toko kami, Tuan.”
Seorang wanita setengah baya menyambut kedatangan Antares. Dia juga berteriak memanggil suaminnya. Mengabarkan jika mereka kedatangan orang penting. Keduanya tampak senang. Bagi beberapa orang, memang sebuah kebanggaan jika toko atau rumah mereka disinggahi oleh orang penting. Secara tidak langsung itu akan meningkatkan harga diri dibanding yang lain.
“Tuan Antares. Sebuah kehormatan Anda datang ke toko kami.”
“Katakan saja apa yang Anda butuh. Kami … kami akan memberikan yang terbaik.” Wanita itu memegangi perutnya yang terlihat tengah mengandung. Mereka lantas menunjukan beberapa jenis kain yang bagus, dengan beragam warna.
“Kain ini baru tiba dari Persia. Begitu halus dan berkilau.”
Antares menggeleng. “Aku hanya membutuhkan peplos serta chiton putih untuk wanita dan juga pakaian anak dengan tinggi sekitar segini.” Antares menaruh lengannya di pinggang. Sepasang suami istri itu saling bertukar pandang dalam diam.
“Apa kalian tidak punya?”
“Ada. Ada. Tentu saja ada.”
Antares memilih yang sederhana dan lebih panjang bila perlu yang mampu menutupi punggung serta leher perempuan itu.
“Berikan aku masing-masing enam.”
Setelah mendapat apa yang dia mau, Antares membayar dengan sejumlah sekantong emas.
“Tuan ini….”
“Aku tidak mempunyai kepingan perak, jadi kalian ambil saja sisanya,” ujar Antares melirik pada perut wanita yang hamil. Pemilik toko tentu teramat senang, karena sesungguhnya Antares bisa saja mendapatkan pakaian yang dia mau tanpa perlu membayar. Siapa yang tidak mengenal tangan kanan raja?
Antares pun pergi meninggalkan pasangan penjual tersebut yang masih tak percaya. Mereka terus mengucapkan terima kasih hingga Antares tak terlihat lagi. Namun beberapa langkah kemudian pria penjual itu kembali memanggil.
“Tuan!”
Pria pemilik toko tersebut menyusul sesaat setelah Antares meninggalkan tokonya. Kemudian menyodorkan sebuah jepit rambut berkilau nan cantik bentuk bunga berwarna perak bercampur merah muda.
“Mungkin benda ini tidak seberapa. Tapi istri saya sangat berharap Tuan berkenan untuk menerima hadiah ini. Jika Tuan tidak keberatan….”
“Aku tidak memakai perhiasan seperti ini.”
“Saya tahu, maaf telah lancang. Saya hanya ingin memberikan jepitan ini untuk siapa pun orang yang telah membuat anda mendatangi toko saya.”
Untuk sesaat, Antares ragu menerimanya. Bukan karena dia lelaki yang baik, tapi tidak ada dalam sejarah seorang lelaki memberikan benda seperti ini untuk sembarangan wanita. Memberikan benda semacam perhiasan apa pun bentuknya berarti sama dengan meminta untuk menjalin hubungan. Dan untuk saat ini Antares tidak tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan hati.
“Beberapa bulan ini, tepatnya sejak istri saya mengandung anak pertama yang telah lama kami nantikan, toko kami sangat sepi. Tidak sedikit yang berkata jika anak kami pasti membawa sial dan ha—”
“Baiklah.” Antares mengambil jepitan tersebut begitu saja. Dia harus segera tiba di rumah, memastikan tawanannya tidak kabur. Jika tidak menerima pemberian ini, mungkin ia akan terus tertahan dengan mendengarkan cerita hidup si penjual baju.
Wajah pria pemilik toko tersebut seketika sumringah.
“Terima kasih. Terima kasih.”
Antares tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan jepitan rambut ini. mungkin ia hanya perlu menyimpannya hingga memori tak lagi mengingat bahwa ia pernah memiliknya. Gilanya, untuk sesaat Antares sempat membayangkan wajah Lettasya. Bagaimana jika rambut hitam wanita itu berhiaskan jepitan ini, pasti akan sangat cocok.
Lamunan itu ternyata membuat Antares lengah untuk sesaat. Seseorang dari arah tak terduga meneriaki namanya kemudian menerjang Antares dengan sebuah belati.
****
To Be Continue
Don’t forget to tap love dan coment!
Thank you for reading.