Rencana Rahasia

1160 Kata
“Antares, aku akan ke sana sebentar.” Lettasya menunjuk ke arah tempat Miguel bermain. Antares hanya mengangguk kecil. Memandangi keduanya dari kejauhan dengan tenang, sampai sebuah berita seorang pengawal hampir membuat jantungnya berhenti saat ini juga. “Tuan Antares, Yang Mulia Raja Orion sedang berada dalam perjalanan menuju ke sini.” Seketika dunia Antares terasa berputar lebih cepat dari otaknya sehingga ia tidak sempat memikirkan cara menyembunyikan Lettasya selain dengan sebisa mungkin mencegah Raja Orion tidak memasuki halaman belakang. Antares menarik napas dalam-dalam, berusaha agar tidak terlihat begitu cemas atau Orion bisa menyadari jika ada yang ia sembunyikan. “Kenapa begitu mendadak?” Antares bangkit dari duduknya, menoleh sesaat kepada Miguel dan Lettasya sebelum meninggalkan keduanya dengan harapan tidak ada satu pun yang akan melihat Lettasya. Bersama dengan pengawalnya tersebut keduanya memasuki rumah untuk menyambut sang Raja dari semua Raja di daratan Yunani setelah sebelumnya terlebih dulu memastikan tempatnya telah cukup pantas. Bunyi terompet terdengar dekat, dalam hati Antares berdoa baik Lettasya mau pun Miguel tidak mendengarnya hingga penasaran. Terompet yang terbuat dari gading mammoth itu kembali ditiup ke dua kali untuk pertanda bahwa Raja Orion telah tiba. Antares segera menekul lutut serta menundukan wajah. “Selalu dalam kejayaan dan keabadian untuk raja kami. Raja semua raja di daratan Yunani,” ujar seorang pengawal, serentak semua prajurit yang juga ikut dalam rombongan pun ikut berlutut. Apa bila di negara lain banyak rakyat yang  mengagumi raja mereka, dan apa bila sang raja mendatangi tempat umum. Penduduk akan beramai-ramai untuk menyegarkan keingintahuan mereka. Akan tetapi di sini, penduduk yang menyadari kedatangan Orion, terlebih turun bersama begitu banyak prajurit membuat mereka menyembunyikan diri dengan segera. Menutup pintu rumah serta jendela. Rasa takut mereka mengalahkan keingintahuan tentang tujuan kedatangan Raja Orion. Orion tidak datang dengan menggunakan tandu di atas mammoth seperti raja-raja pada umumnya. Lelaki itu tetap menunggunakan kuda yang bisa ia gunakan saat perang. Kuda hitam kesayangan Orion. “Antares,” panggil Orion yang kini sudah berdiri di hadapan Antares yang tengah berlutut. “Bagaimana kabarmu selama ini?” “Saya berusaha menikmati waktu luang yang diberikan oleh, Yang Mulia.” “Bagus jika memang begitu. Kedatanganku ke sini untuk menjengukmu. Akhir-akhir ini kau selalu menghabiskan waktu di kediamanmu.” Antares tidak menyangka jika Orion menyadari hal itu. Antares memang terbiasa menghabiskan waktu di kerajaan Binzandium karena ia bisa sekaligus melatih para pasukannya. Jika pun tidak Antares akan beristirahat di markas. “Itu karena hamba tidak merasa berhak berada di sana dalam posisi tidak bertugas.”  Orion melenggang masuk melewati Antares dan para prajurit lain. “Bangun lah! Setidaknya kau harus mengajakku berkeliling meski rumahmu tidak sebesar kamarku.” Patuh, Antares pun berjalan tepat di belakang Orion. Sedangkan sang raja mengangkat tangan sebagai isyarat agar tidak dikawal terlalu dekat. “Rumah ini bisa hancur jika kalian semua masuk,” ujar Orion. Terkutuk lah siapa pun yang memberi ide kepada raja untuk mengunjungi dirinya, guman Antares dalam hati. Sejak Orion memberikan tempat ini untuk ia tinggali, tidak pernah sekali pun sang raja mendatanginya untuk sekedar berkunjung. Mungkin karena ia sendiri juga tidak pernah berada di rumah ini dalam jangka waktu yang cukup lama. “Aku punya tugas khusus untukmu,” bisik Orion dengan wajah menatap ke sekeliling. Dari cara Orion berbisik seperti ini sudah pasti menjadi tugas rahasia yang tidak jauh dari anggota kerajaan juga. Jika tebakannya benara maka itu berarti…. “Aku meminta kau mengutus seseorang untuk lebih mengawasi pamanku dan putrinya.” Tepat seperti dugaan Antares. “Baik, Yang Mulia.” “Aku mungkin tidak seharusnya mengatakan ini, tapi pesta kemarin ada sedikit kekacauan. Tentu saja keputusan bodoh mereka menyembunyikannya dariku. Tapi memang tidak lagi aneh jika pengacau tersebut merupakan orang yang ingin membuat pestanya sendiri.” “Apa maksud anda Putri Cleosana?” tanya Antares. “Seperti yang kau tahu. Perangai Cleosana memang begitu membara. Kurasa dia sudah mulai mengetahui tentang pencarian istriku. Dan tentu kau bisa menebak apa yang akan terjadi.” Istriku … kata itu terdengar tidak nyaman di telinga Antares. Namun ada yang lebih mengkhawatirkan lagi. Tentang kemungkinan besar Cleosana akan mencoba mencelakai siapa pun yang menginginkan raja Orion atau berhubungan dengan sang raja. “Dan mengenai pencarian gadis pembawa keabadian.” Dadda Antares berdetak lebih cepat. “Aku juga sudah mengutus orang lain untuk mencari secara tidak resmi. Mungkin kita harus mulai memberi kelonggaran seolah kita menyerah mencari gadis itu.” Jika Antares berniat memenuhi tugasnya, maka bukan kah sekarang adalah waktu yang tepat? Mereka tidak perlu membuang waktu lagi. Akan tetapi mendengar tentang Cleosana membuat Antares semakin resah. Mungkin Orion tidak akan menyakiti Lettasya karean wanita itu adalah sumber keabaadian untuknya. Namun tidak dengan Putri Cleosana. Pengagum Orion nomor satu itu yang –bahkan lebih mengarah kepada gila— sudah memimpikan menjadi istri Orion, menjadi Ratu dari kerajaan ini. Dan keberadaan Lettasya sama dengan penghalang besar untuknya. Antares tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Lettasya. “Tuan,” panggil Miguel dari arah belakang. Tubuh Antares mendadak sekaku batu. Pikirannya menduga jika Miguel bersama Lettasya. Bisa kah waktu berhenti sekarang? Dan Antares akan membaw  kabur Lettasya bersamanya. Untuk pertama kalinya, Antares benar-benar merasa tidak akan pernah bisa memberikan Lettasya pada siapa pun termasuk Yang Mulia Raja. Orion menoleh lebih dulu. “Kau masih memiliki kebiasaan lama rupanya.” Antares ikut menoleh kemudian dan bersyukur karena hanya ada Miguel di sana. Miguel tampak kikuk matanya melihat Antares dan Orion secara bergantian. “Tuan, Le—” “Berlutut lah Miguel. Ini Yang Mulia Raja,” pungkasnya. Seketika Miguel berlutut dengan ke kakinya. “Saya … saya….” Anak itu terlihat takut tapi juga bingung. Mungkin karena seumur hidupnya tidak pernah bertemu dengan orang penting sehingga tidak ada yang mengajarinya. Tentu saja, setelah diculik oleh penyamun mana mungkin mereka berpikir ada berhadapan dengan Raja seumur hidup mereka. Justru mereka yang paling menghindari orang-orang kerajaan sebelum tertangkap. Antares mendekat dan membisikan sebuah kalimat untuk kemudian diikuti oleh Antares. “Salam hormat saya Yang Mulia Raja Orion.” “Maaf dia, dia tidak tahu jika akan bertemu pemimpin negara ini.” Orion mengangguk. “Tetaplah berlutut dan menundukan wajah,” perintah Antares. “Kali ini anak dari mana?” tanya Orion yang kembali berjalan menuju pintu belakang. Perasaan Antares kian cemas, untuk itu tangan lelaki tersebut terangkat menunjukan arah dan emreka berbelok ke tempat kerja Antares. “Dia hanya anak jalanan yang tersesat. Sebelumnya dia kabur dari sarang peyamun yang menculiknya dari orang tuanya.” “Jadi kau berniat memeliharanya?” Memelihara bukanlah kalimat yang tepat, tapi tak masalah. Antares paham maksud Orion. “Tidak juga, Yang Mulia, saya hanya ingin mengorek informasi tentang para penjahat itu agar bisa menangkap mereka.” Orion mengangguk kecil. “Tapi kau harus tahu tugas mana yang menjadi priorotasmu.” Langkah Antares terhenti karena Orin juga berhenti tepat di depan pintu masuk ruang kerja Antares. Sang raja menolah kembali menoleh ke belakang, lalu tersenyum. “Sepertinya kau benar-benar tahu cara menikmati liburanmu ya? Siapa wanita itu?” Deg! ***** To Be Continue….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN