Sementara itu, Cleosana mendatangi ruangan ayahnya dengan wajah kesal. Terlihat jelas dia tengah menahan amarah. Tidak ada pengawal mau pun pelayan yang menghalangi jalannya jika tidak ingin berakhir buruk. Semua tahu seperti apa perangai Putri Cleosana dan mendekatinya di saat-saat seperti ini sama dengan bunuh diri.
“Ayah!!” teriak Cleosana begitu pintu ganda ruangan Jendral Bazyli didorong kuat hingga menimbulkan bunyi berdebum.
Cleosana berjalan cepat ke arah meja sang Ayah yang tengah terduduk dengan santai. “Aku mendengar sebuah berita yang tidak menyenangkan.”
“Tenang lah sayang … kau bisa membicarakannya sambil duduk. Kakimu bisa sakit jika berdiri terus. Apa lagi tadi kau baru saja menari. Duduk lah!” ujar Bazyli tenang.
Cleosana menurut, ia menghempaskan tubuhnya dengan wajah cemberut serta tangan terlipat di dadda. Dagunya terangkat. “Benar kah Raja Orion sedang mecari seorang gadis untuk dia nikahi?”
“Siapa yang mengatakan itu?”
“Mereka semua.”
“Mereka? Dan kau percaya?” Bazyli mergerak bangkit dari kursinya untuk menghampiri sang Putri, duduk persis di sebelah Cleosana.
“Bagaimana aku tidak percaya jika hampir mengetahui hal itu? Dan hanya aku yang tidak tahu.” Cleosana membuang wajah ke arah lain.
Bazyli mengambil tangan putrinya. “Tidak akan ada pernikahan, Cleosana. Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Jadi berita itu benar?”
“Apa kah itu penting?”
“Tentu saja penting. Amat sangat penting, karena hanya aku yang boleh menikahai Raja Orion. Selama ini ayah juga tahu cita-citaku.”
“Ayah tahu,” ujar Bazyli pelan. “Maka dari itu kau tidak perlu cemas. Kau tahu ayah akan melakukan segalanya untukmu.”
“Benar kah?” Cleosana menoleh kembali memandangi ayahnya dengan wajah penuh harap. Senyumnya ikut mengembang saat Bazyli mengangguk. “Ayah harus berjanji.”
“Ayah janji. Apa kau sudah tenang sekarang?”
Cleosana mengangguk cepat. “Iya. Ayah memang yang terbaik.”
Kemudian sang putri memeluk Jenderal Bazyli.
*****
Sementara itu di tempat dan waktu yang lain … ada seseorang yang masih sibuk berperang dengan batinnya sendiri. Antara mengorbankan hati yang sudah terpikat atau melanggar sumpah yang selama ini ia pegang.
Pada kenyataannya tidak lah mudah bagi Antares untuk melepas Lettasya. Semakin banyak waktu yang ia habiskan bersama wanita ini semakin Antares merasa berat untuk mengirimnya pada Orion. Terhitung sudah lebih dari sepekan pasca Antares mengetahui siapa Lettasya sebenarnya. Miguel juga sudah sadar dan bermain seperti biasa.
Anak kecil itu bermain di belakang halaman sementara Lettasya tengah menimba air untuk ia mencuci. Antares sudah mengatakan untuk tidak perlu pergi ke sungai, lebih karena ia tidak ingin ada prajurit yang menyadari tanda di bahu Lettasya. Sehingga wanita itu akhirnya memilih mengunakan air sumur yang ada di dekat taman obat-obatan.
“Sudah kubilang untuk tidak perlu melakukan hal seperti itu tetapi Lettasya tidak mendengarakannya,” gerutu Miguel yang duduk di tanah memainkan kayu.
“Terkadang dia memang begitu keras kepala untuk beberapa hal,” timpal Antares setuju. Ucapan Miguel terdengar seperti orang dewasa yang sedang kesal kepada anak kecil karena sulit untuk di atur.
“Miguel,” panggil Antares membuat anak itu menoleh.
“Ya, Tuan.”
“Bagaimana menurutmu Lettasya. Apa dia cantik?”
“Sangat cantik. Yang tercantik yang pernah aku temui,” jawab Miguel dengan mata berbinar.
“Apa dia baik?” Kali ini Miguel tampak berpikir sejenak.
“Dia galak dan pemarah.”
“Begitu kah?” Antares tidak menduga jawaban kali ini, tapi ia sedikit terkekeh. “Kenapa?”
“Dia akan memarahiku dan mengancam tidak akan membiarkanku bermain jika menolak minumam pahit yang diberikan olehnya.” Miguel bergidik mengingat rasa pahit yang melekata di lidah serta mulutnya saat Lettasya menyuruhnya meminum sesuatu berwarna hijau pekat dan berbau. Miguel tidak suka.
Antares mengelus kepala anak itu dengan senyum tulus yang tak dibuat-buat. “Lettasya melakukan itu karena dia menyayangimu. Kau tahu, kau masih sakit.”
Miguel diam dan tak membantah. Anak itu kembali menekuri kayu yang dia patahkan beberapa bagian dan memukulnya dengan batu. Oleh karean rasa penasaran yang kuat Antares oun bertanya, “Apa yang sebenarnya kau buat?”
“Pisau yang bersembunyi.”
“Pisau?” tanya Antares heran. Anak sekecil ini bermain pisau? “Apa maksudmu pedang? Kau diajarkan pedang sebelumnya?”
Miguel menggeleng ia mengulangi ucapannya bahwa yang dibuatnya adalah sebuah pisau. Antares seketika dibuat penasaran oleh ucapan Miguel sehingga hanya memperhatikan dalam diam apa yang Miguel buat sebenarnya.
“Sudah jadi!” sorak Miguel gembira. Anak itu lalu menuju Antares dan memberikan kayu yang selama ini ia pegang.
Ukurannya tidak lebih panjang dari lengan Antares dari siku ke pergelangan. Bentuknya juga tidak tampak seperti pisau atau pedang. Lebih seperti sebatang kayu biasa dengan ukiran acak khas gambar anak kecil.
“Ini apa Miguel?”
“Biasanya saya dan teman-temanku mengambil beberapa potongan pedang yang patah dan terbuang di antara bekas-bekas tempat perang.” Miguel bercerita dengan wajah tertunduk lesu. “Kami membuat pisau yang disembunyikan di sini.”
Bocah tersebut menunjuk satu bagian kecil yang hanya perlu digeser. “Biasanya kami menaruh banyak serpihan tajam di sepajang garis ini, tapi saya tidak bisa menemukan berberapa potongan pedang. Prajurit yang pernah berjaga di sini bahkan tidak meperbolehkanku meminta sedikit.”
Antares terperangah. “Miguel, dari mana kau belajar hal ini?”
Anak itu mulai gemetar karena suara Antares yang meninggi dan berpikir Antares marah. Beruntung hal itu disadari oleh Antares, sehingga ia kembali memelankan suaranya. Antares menekuk lutut serta bergeser lebih dekat. Diraihnya tangan mungil Miguel dan luka di beberapa tempat oleh goresan kau dan batu.
“Miguel,” panggil Antares pelan. “Aku tidak marah padamu. Sungguh. Aku hanya ingin tahu, dari mana kau mempelajari ini.”
“Saya … saya....” Miguel terbata-bata. “Maafkan saya tuan, saya bersalah.”
Mendadak Miguel berlutut dengan suara terisak. “Jangan hukum saya. Jangan pukuli saya.”
Mendengar ucapan Miguel, bukan hanya membuat Antares membeku, tapi juga merasa ikut teriris hatinya. Tangisan Miguel sangat memilukan. Gerakan anak itu tidak berbohong jika ia begitu ketakutan.
“Miguel, aku tidak akan memukulmu. Percayalah.”
Antares kemudian berusaha menarik bahu Miguel untuk mendekapnya tetapi tangis anak itu semakin menjadi. Lettasya rupanya mendengar dari kejauhan dan menghampiri kemduanya. Dengan tangan di pinggang, wanita itu melotot pada Antares menuntut penjelanan. Miguel berlari pada Lettasya, memeluk kakinya.
“Aku hanya bertanya tentang ini.” Antares lalu menunjukan barang yang dibuat oleh Miguel. Lettasya menghela napas. Melihat hal ini Antares curiga jika Lettasya sudah tahu sesuatu.
Wanita itu melakukan hal yang sama. Dia berlutut, mengusap wajah Miguel dengan lembut. Sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan, lalu mengangguk pelan dengan senyum yang keibuan. Hebatnya Miguel berhenti menangis, bocah itu berbalik menghadap Antares meski masih menghindari tatapan wajahnya.
“Saya melakukannya sudah sangat lama.”
“Sejak kapan?”
Miguel menggeleng. Antares menatap Lettasya dan wanita itu pun melakukan hal yang sama yang berarti Lettasya tidak tahu dan itu artinya Miguel juga tidak mengingatnya.
“Aku … maksudku saya diperintahkan oleh mereka untuk mencuri banyak barang di pasar. Juga melakukan banyak hal. Jika kami tidak melakukannya kami akan dipukul.”
Kami? Bukan kah itu artinya ada banyak anak kecil yang bernasib sama dengan Miguel? Antares merasa darahnya mendidih, tapi ia masih menekan emosinya sebelum Miguel menyelesaikan cerita atau anak itu akan mengira Antares marah padanya. “Oleh siapa?”
“Oleh mereka. Orang-orang itu meminum minuman yang sangat bau sebelum memukuli kami semua.”
“Lalu?”
“Lalu salah satu dari mereka mengajari kami membuat ini. Katanya untuk berjaga-jaga jika suatu hari kami tertangkap kami harus bisa melarikan diri dengan menggunakan ini untuk melukai orang-orang yang ingin menangkap kami.”
Sungguh, Antares merasa kepalanya mungkin sudah berasap oleh perasaan marah. Dirinya memang tangan kanan Orion yang siap membunuh dan membantai siapapun, tapi tidak dengan anak kecil. Itu sebuah kesepakatan yang Antares pegang dan tentu Orion sebagai orang yang telah mengetahui masa lalunya setuju akan hal tersebut.
Sekarang mendengar cerita Miguel tentang orang-orang yang melukai anak kecil sungguh luar biasa menguji kesabarannya. “Bagaimana dengan orang tuamu?”
“Saya tidak terlalu ingat di mana rumah orang tua saya, saya hanya ingat wajah ibu dan ayah saat terakhir kali melihat saya dibawa oleh orang-orang itu.”
Miguel kembali berbalik memeluk Lettasya. “Lettasya, aku takut.”
“Kau tidak perlu takut, ada aku di sini.” Wanita itu mengelus kepalanya dengan lembut.
“Kurasa aku harus mencari keberadaan penjahat-penjahat itu. Mereka pasti seorang penyamun dari kota lain,” tekad Antares sambil berdiri.
Namun, pergelangan tangannya tertahan oleh Lettasya. Antares menoleh dan mendapati wanita itu menggeleng lemah tanpa kata, akan tetapi sorot mata hazelnya menyiratkan permohonan. Maka dari itu Antares memilih untuk menahan rencana serta keinginannya untuk membantai orang-orang gila itu.
*****
Butuh waktu lama sampai Miguel kembali ceria. Kali ini dia sudah berlarian mengejar serangga yang terbang di sekitar. Sedangkan Lettasya dan Antares duduk bersama dari kejauhan memandangi bocah itu dengan prihatin.
“Kau sudah lama mengetahuinya?” tanya Antares.
“Tidak juga. Belum lama ini. Lebih tepatnya saat Miguel sadar beberapa hari lalu.”
“Kenapa kau tak mengatakan apa pun padaku?”
Wanita itu menunduk, menjawab dengan suara yang mencicit sampai-sampai Antares harus mendekatkan telinganya. “Bagaimana aku bisa bercerita tentang Miguel jika yang kau lakukan saat kita berdua….”
Tidak ada kalimat lanjutan, Antares memahami apa maksud Lettasya. ia juga tidka mengelak. Bagaimana mengatakannya, Antares mengakui jika waktu yang ia habiskan bersama Lettasya tidak jauh dari kegiatan sentuh menyentuh dan berakhir dengan berkeringat bersama. Itu pula lah yang menjadi alasan Lettasya ingin mencuci bajunya.
Antares berdehem untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering. Ia tak menyadari mengapa setiap bersama Lettasya dirinya selalu di luar kendali. Mungkin karena ia terus menerus memikirkan bayangan jika harus memberikan wanita ini pada Orion. Rasa yang tidak dapat merelakan itu lah yang membuatnya merasa ingin memiliki Lettasya.
“Jadi, apa yang terjadi pada anak itu lebih jelasnya?”
“Dari yang aku coba gali selam bersamanya, dia hanya anak dari kalangan biasa yang sering berpindah-pindah tempat. Aku tidak terlalu bisa menebak orang tuanya seperti apa, mungkin seorang pedagang atau sejenisnya. Yang pasti anak itu diculik saat orang tuanya diserang peyamun.”
Antares mendengarkan dalam diam, meski sedikit sulit memproses cerita di otaknya sedangkan mata lelaki it uterus menerus terarah pada bibir ranum Lettasya yang ia telah tahu bagaimana rasanya.
“Lalu suatu saat sarang peyamun itu diserang oleh sekelompok orang dan Miguel serta beberapa anak lainnya melarikan diri. Mereka semua terpisah. Dan tidak bisa menemukan makanan. Tidak banyak yang perihatin terutama setelah menyebar berita bahwa pencuri yang ada di pasar dilakukan oleh anak-anak.”
Lettasya lalu mengungkit beberapa waktu lalu, saat ia diserang oleh orangyangberniat membunuh Antares di rumah ini. Miguel bersembunyi dan ketakutan sangat parah. Dia juga tidak bisa jika mendapat bentakan dan amarah. Anak itu selalu meminta maaf dan mengatakan untuk tidak memukulnya saat Lettasya memerintah Miguel untuk meminum obat sehingga Lettasya harus memberi pengertian dan memaksa dengan cara yang lebih lembut.
“Aku benar-benar harus menangkap orang-orang itu,” geram Antares.
“Tapi bukan kah kau sedang tidak bertugas? Kau tidak bisa membawa prajurit istana. Jika kau pergi mencari mereka sendirian itu terlalu berbahaya,” tuturnya khawatir.
Yang diucapkan Lettasya ada benarnya, dia memang tidak takut mati. Akan tetapi kali ini ada yang Antares lebih takuti dari pada sebuah kematian. Kehilangan Lettasya, ketakutan akan tidak bisa melihat wanita ini lagi jauh lebih besar dibanding jika ia kehilangan nyawanya. Antares sering kali bertanya-tanya bagaimana dirinya bisa seperti tergila-gila pada Lettasya setelah sekian lama dirinya sama sekali tidak terpikirkan untuk mencintai.
“Antares, aku akan ke sana sebentar.” Lettasya menunjuk ke arah tempat Miguel bermain. Antares hanya mengangguk kecil. Memandangi keduanya dari kejauhan dengan tenang, sampai sebuah berita seorang pengawal hampir membuat jantungnya berhenti saat ini juga.
“Tuan Antares, Yang Mulia Raja Orion sedang berada dalam perjalanan menuju ke sini.”
Tidak, Antares belum siap kehilangan Lettasya.
*****
Sementara itu di kerajaan langit Olympus….
“Kau yakin sudah melakukannya dengan benar?” Dewi Gaia tengah melihat dari kejauhan keadaan Lettasya dan Antares bertanya pada Eros, sang dewa cinta atau yang dikenal sebagai cupid.
“Tentu saja. Saya sudah menembakan panah pada Antares. Hanya pada Antares, seperti yang anda pinta. Tapi ternyata satu panah tidak cukup untuk membuat lelaki itu tergila-gila pada utusannya anda, sehingga aku harus menembakan panas kedua,” ujar Eros berdiri di belakang Dewi Gaia, sang dewi bumi.
Memang ia sengaja meminta Eros untuk menembakan panah cinta pada Antares. Itu ia lakukan agar Lettasya lebih terjaga dengan adanya seorang yang mencintainya. Bukan kah cinta selalu menjadi alasan orang rela melakukan apa pun. Dewi Gaia juga lah yang mendatangi Antares untuk kembali ke rumahny sehingga Lettasya bisa selamat. Ia bisa saja menyelamatkan Lettasya dengan tangannya sendiri, tapi dengan kedatangan Antares semua akan berbeda.
Dan Lettasya, Dewi Gaia yakin wanita itu akan tetap melaksanakan tugasnya. Karena dengan begitu ia juga akan mampu menemukan adiknya. Maka dari itu Dewi Gaia sengaja tidak memberi panas pada Lettasya. agar wanita itu lebih fokus.
*****
To Be Continue….