“Aku hampir mengira kau benar-benar akan pergi menuju Olympus.”
Apollo dan Artemis tengah memanggang hasil tangkapan mereka, lebih tepatnya hasil buruan milik Apollo karena Artemis terus meleset dan hanya bisa mendapatkan hewan kecil yang tidak terlalu buas, musang dan kelinci. Sedangkan Artemis dan Apolo memiih untuk tidka memakan daging musang sedangkan kelinci yang mereka masak sesungguhnya tidak cukup untuk mereka berdua, tapi syukurlah Apollo mendapat buruan yang lebih besar. Seekor babi hutan.
Pikiran Artemis setidaknya kini telah lebih tenang, meski kecemesan hatinya belum mereda. Tetapi ia sadar, apa yang diucapkan Apollo ada benarnya. Ia tidak mungkin begitu saja mendatangi Olympus hanya untuk mengajukan keberatan dan bertanya pada Dewi Gaia. Alih-alih berhasil, ia mungkin akan semakin mustahil untuk membantu Orion.
“Jangan mengejekku, Apollo. Kau sendiri tahu seperti apa perasaanmu ketika kehilangan orang yang kau cintai,” ucapan Artemis cukup untuk membuat Apollo diam dalam kecanggungan.
Apollo, saudara lelakinya yang gagah, dan sama-sama menyukai berburu. Jika busur milik Artemis terbuat dari perak, busur milik Apollo justru terbuat dari emas dengan tangkai penyangga anak panah yang terbuat dari perak. Kebalikan dari Artemis. Hal ini utuk menandakan jika perak yang melambangkan cahaya bulan untuk Artemis, maka emas merupakan lambang cahaya matahari. Apollo juga merupakan seorang dewa penyair yang gemar memainkan musik dengan rambut ikal berwarna seterang fajar. Di atas kepalanya terhias sebuah mahkota yang terbuat dari batang pohon salam. Artemis tahu bagaimana kisah saudaranya tentang cinta.
Semua bermula dari Apollo yang gemar mengejek Eros. Dewa cupid itu akhirnya memanah hati Apollo saat berburu dengan Artemis, sehingga lelaki itu jatuh cinta pada seorang nimfa yang mengikuti Artemis kala itu. Namanya Dafne, putri dewa sungai Peneios. Eros juga menembakan panah pada Dafne, akan tetapi panah kali ini diberi timah, yang membuat Dafne tidak dapat mencintai orang lain.
Saudaranya itu terus mengejar Dafne seperti orang gila. Bahkan Dionysus yang tergila-gila pada minuman masih lebih baik dari Apollo. Dafne yang lelah karena terus menerus kabur pun akhirnya berdoa kepada ayahnya—atau mungkin kepada Gaia sang Dewi Bumi, Artemis tidak terlalu ingat—yang pasti wanita itu berdoa supaya wujudnya diubah. Dan doanya terkabul. Dia pun berubah menjadi pohon salam. Apollo yang bersedih memetik bahan pohon salam tersebut dan selalu menaruhnya di kepala.
“Bagaimana dengan Orakel di Delphi?” tanya Artemis lagi untuk memecah kecanggungan yang ada.
Delphi terletak di lereng Gunung Parnassus, di bawah mata air Castalian Spring. Sebenarnya tempat itu sebelumnya merupakan kuil milik Dewi Gaia. Tapi entah bagaimana Dewi Gaia bersedia memberikannya untuk dijadikan Orakel untuk Apollo. Artemis tahu Apollo memang lebih dekat dengan Dewi Gaia dari pada dewi Olympus lainnya. Maka, tidak heran mengingat Apollo juga mengetahui Dewi Gaia sudah mempersiapkan seseorang untuk membunuh Orion, sudah pasti Apollo berada dipihak Dewi Gaia.
“Maksudmu Orakelnya? Atau Imam wanita Phytia?”
“Semuanya.” Artemis menarik makanannya dari atas api untuk ia tiup.
“Aku memberikan restu padanya sehingga bisa membaca masa depan.”
“Kau terlalu baik.”
“Jangan menyindirku seperti itu.” Apollo tersenyum dan mereka terkekeh.
Tentu saja, ia dan Apollo bukan dewa-dewi yang sebaik itu.
“Sudah lama aku tidak mendengar kau bermain musik.”
“Beberapa waktu lalu Hermes memberiku sebuah alat musik lira yang terbuat dari cangkang kura-kura dan senarnya terbuat dari bulu domba,” tutur Apollo. “Kau harus mendengarkanku memainkannya.”
“Aku yakin kau yang terbaik.”
Beberapa kali manusia dan makhluk lainnya menantang Apollo dalam kontes musik, dan mereka dihukum karena kelancangan itu. Apollo seringkali menghukum mereka yang berani bersaing melawannya. Seperti pada kasus seorang satir bernama Marsias, lelaki itu tampaknya mendapat kesombongan karena mendapatkan suling buatan Dewi Athena. Dia menantang Apollo secara terang-terangan dan. Yang tentu saja berakhir kekalahaan. Akibatnya Marsias dikuliti hidup-hidup oleh Apollo.
Lihat! Sesungguhnya tidak ada dewa-dewi yang penuh belas kasih. Kebanyakan dari mereka memiliki harga diri yang tinggi serta egoisme luar biasa. Mereka juga tidak menyukai kekalahan. Keagungan serta penujaan adalah hal patut mereka dapat dari para manusia.
*****
Apollo dan Artemis masih berada di hutan meski langit telah berganti oleh cahaya bulan. Sesungguhnya Artemis sedang berusaha mengorek informasi dari Apollo tentang apa saja yang ia tahu mengenai rencana Dewi Gaia terhadap Orion. Namun, saudaranya ini tidak akan memberi informasi dengan mudah.
Keduanya masih terlibat perburuan di malam hari. Target mereka akli ini adalah seekor panter hitam. Keadaan hutan di malam hari jauh lebih mencekam. Bunyi-bunyi hewan yang aktif ketika matahari sudah meninggalkan peraduannya tidak sedikit dan cukup menyeramkan. Meski mungkin beberapa tidak begitu buas, seperti beberapa ekor tarsius yang hinggap di atas pohon.
Ukuran tubuh tarsius memang bisa dibilang cukup kecil dibanding primata lainnya. Berat tubuh mereka juga tak lebih berat dari musang dewasa. Hanya saja mata mereka yang bulat hampir memenuhi seluruh wajah. Bola matanya terang seolah memantulkan cahaya rembulan dan itu tampak mengetikan ketika mereka menatap orang-orang dari dari atas pohon dan kegelapan. Terlebih mereka hidup berkelompok sehingga akan banyak pasang mata yang melihat ke arahmu.
“Aku tidak terlalu yakin, tapi mungkin kau belum mendengarnya.” Apollo membuka percakapan di tengah kesunyian.
“Apa?”
“Rakyat pelabuhan Aulis mendesak Agamemnon untuk mengurbankan putrinya.”
“Ah,” desah Artemis. “Maksudmu orang sombong yang membunuh rusa kesayanganku itu?”
“Seperti yang kau tahu, angin kencang yang menghalangi kapal mreka keluar dari pelabuhan semakin membuat resah manusia-manusia di sana. Mereka menuntut Agamemnon untuk mengorbankan Iphigeneia—sang Putri.”
“Aku memang memintanya melakukan hal itu jika ingin terbebas dari angin kencang yang siap merusak kapal-kapal laut miliknya yang berusaha meninggalkan pelabuhan Aulis. Agar dia tahu bagaimana rasanya seseorang yang dia sayangi diburu dan dibunuh.”
Bagi Artemis, rusa adalah hewan kesayangannya. Dan rusa yang dibunuh oleh Agamemnon merupakan yang paling ia sayang. Kini Agamemnon akan merasakan bagaimana melihat orang yang dia sayangi diburu oleh penduduk setempat untuk dijadikan pengorbanan. Lagi pula yang paling membuatnya kesal adalah saat Agamemnon menyerah Orion. berani sekali manusia itu melukai dua hal yang paling ia sukai.
“Haruskah aku bersyair di hadapanmu?”
Artemis menggeleng, ia tahu kemahiran Apollo, tapi sayangnya ia sedang tidak ingin mendengar hal apa pun dari Apollo selain informasi tentang utusan Dewi Gaia. “Apa yang kau inginkan?”
Sebagai saudari kembar, Artemis tahu bisa memahami jika ada yang ingin diminta oleh Apollo darinya. “Bisa kah kau menyelamatkan Iphigeneia?”
“Aku tidak mungkin menyelamatkannya setelah memintanya sebagai tumbal.”
Apollo terdiam, ia mungkin tengah mencari cara untuk melakukan negosiasi dengan Artemis. “Aku tidak tahu kenapa kau menginginkan putri itu. Apa kah kau terlibat asmara dengannya?”
“Tidak. bukan seperti itu.”
“Lantas kenapa?”
“Tidak bisa kah kau melakukannya?” Apollo balik bertanya.
Artemis berpikir sesaat. “Aku bisa melakukannya dengan sebuah syarat.”
Apollo memiringkan wajah dengan alis ke atas.
“Beri tahu aku tenang pembunuh Orion,” ujar Artemis saat itu juga mengundang gelak tawa tak lucu dari Apollo.
“Lupakan.”
“Kalau begitu beri tahu aku sedikit saja tentangnya.”
Apollo membuang napas berat. Sejujurnya, ia hanya ingin membantu orang Troya, khususnya pahlawan Troya, Hektor dan Aineias. Ia sendiri juga tidak terlalu menyukai Agamemnon tapi putrinya berbeda. Menurut ramalan, Iphigeneia akan sangat berguna untuknya di masa depan.
“Baiklah. Aku akan memberi tahunya jika kau sudah menyelamatkan Putri Iphigenia.”
“Aku tidak akan menyelamatkannya jika kau tidak memberitahuku lebih dulu. Siapa lelaki yang akan membunuh Orion?”
Apollo pun menyerah. “Wanita. Pembunuh yang dikirim Dewi Gaia untuk membunuh Orion adalah seorang wanita.”
*****
Setelah perburuan dengan Apollo selesai, Artemis tidak berniat singgah hanya untuk mendengar petikan senar dari lira yang akan dimainkan oleh Apollo. Sebagai saudara kembar lelaki itu, Artemis sudah cukup sering mendengar saudaranya bermain musik dan ia sudah bosan. Ada hal penting yang harus ia rencanakan di kediamannya.
Pertama, bagaimana cara menyelamatkan Iphigenia tanpa diketahui siapa pun. Agamemnon harus tetap kehilangan putrinya. Artemis akan berhenti berburu jika ia membiarkan Agamemnon tahu putrinya selamat.
Yang kedua adalah mengatasi wanita yang diutus oleh Dewi Gaia untuk membunuh Orion. Demi Zeus, kenapa harus seorang wanita?! Artemis tahu kelemahan setiap lelaki adalah seorang wanita. Terlebih ia juga tahu tidak ada lelaki berkuasa yang tidak gemar meniduri dan berganti-ganti wanita. Terkecuali pamannya, Hades sang Dewa Dunia Bawah yang menguasai surga dan neraka.
Artemis lalu mendengar seseorang memanggil namanya, orang tersebut lalu mendatangi tempat di mana semua orang biasa memberi menaruh persembahan untuknya. Seorang lelaki muda dengan rambut hitam mempersembahkan seekor babi hutan untuk Artemis. Dewi tersebut tentu tidak bisa menunjukan wujudnya secara terang-terangan kepada manusia biasa jika tidak ingin manusia itu menjadi gila atau kehilangan indera pengelihatannya.
Maka dari itu Artemis mengubah wujudnya menjadi sebuah rusa yang hidup dari patung sesembahannya. Orang itu terkejut hingga terjatuh ke belakang.
“Siapa kau?”
“S-sa-saya Eide. Si-siapa kau?”
“Lancang!” seru Artemis dalam wujud patungrusa yang hidup. “Aku adalah Artemis. Dewi yang kau sembah. Jika aku menunjukan wujud asliku, kau mungkin sudah tidak selamat.”
“Ma-maafkan saya Dewi Artemis. Saya tidka tahu bahwa akan mendapat keberkahan karena bisa bertemu dengan anda.” Lelaki itu segera membungkuk.
Satu rencana terlintas di benak Artemis. “Keberkahan akan kau dapatkan sepanjang hidupmu jika kau mau menuruti perintahku.”
Wajah pemuda bermata merah itu terangkat. “Hamba akan melakukan apa pun. Sebuah kehormatan mendapat tugas langsung dari sang Dewi.”
“Pergilah ke ibu kota temukan seorang wanita yang akan membunuh Raja Orion. perk0sa dan bunuh dia! Maka kau akan mendapat berkah dariku seumur hidup, kau tidak akan mengalami kesengsaraan walau sungai Kizilirmak mengering.”
*****
To Be Continue….