Nyonya Hewan Buas

1192 Kata
Artemis, merupakan putri dewa Zeus dengan titan Leto. Ia juga disebut-sebut sebagai dewi kesuburan, dewi hewan dan alam liar. Tak sedikit juga yang menyebutnya dewi bulan. Senjata andalannya adalah busur perak dengan tangkai panahnya dari emas buatan para Kiklops. Dewi perburuan ini sering diikutin para nimfa saat berburu. “Kau kembali,” sapa Hera. Istri dari Zeus. Artemis tidak terlalu menyukainya, lebih tepatnya membencinya. Bagaimana tidak, saat ibunya mengandung ia dan saudara kembarnya—Apollo. Hera mengutuk ibu Artemis. Karena kutukan yang ditetapkan atas Leto, ibu Artemis harus melahirkan anak-anaknya di tempat dimana matahari tidak pernah bersinar. Zeus yang mengetahui hal ini membantu ibu Artemis dengan menciptakan sebuah pulau yang selalu diliputi oleh gelombang laut sehingga tidak terkena sinar matahari. Pulau ini dikenal sebagai Pulau Delos tempat Leto melahirkan Artemis dan Apollo. Tidak sampai di sana, Hera juga mengancam bahkan menyandera Eileithyia, sang dewi kelahiran supaya tidak membantu Leto melahirkan sehingga ibunya harus menahan sakit selama sembilan hari selama kelahiran Artemis. Luar biasa bukan. Siapa bilang para dewa dewi Olympus selalu baik hati?! Artemis berjalan melewati Hera begitu saja. “Kali ini masalah apa lagi yang kau timbulkan?” Hera kembali melempar pertanyaan. “Aku mendengar kau mengirim angin kencang untuk mencegah armada Achaea keluar dari pelabuhan di Aulis menuju Troya hanya karena Agamemnon membunuh seekor rusa dan mengatakan bahwa dia lebih pintar berburu darimu?” Artemis masih menolak menjawab. Itu sudah terjadi cukup lama. Lelaki bernama Agamemnon yaitu pemilik armada bernama Achaea itu bukan hanya membunuh rusa kesayangannya dan menyombongkan diri, tapi ada hal yang tidak diketahui Hera. Jika Agamemnon juga menyerang armada milik Orion dan hampir membuat lelaki itu tenggelam di laut.  “Sebelumnya kau juga terlibat dalam kematian dua orang raksasa, Otis dan Ephialtes.” Itu benar. Ketika itu Otis dan Ephialtes mengejarnya di dalam hutan. Artemis lalu memperdayai mereka supaya saling membunuh dengan tombak mereka.  Jika Hera bukan lah dewi tertinggi dan istri dari Zeus, mungkin Artemis juga akan membunuhnya. Hera berjalan mendekatinya menatap Artemis dengan sorot meremehkan. “Bukan kah kau juga lahir dari seorang titan? Seharusnya kau lebih ramah terhadap mereka.” “Apakah anda tahu seorang nifma diperkosa oleh Zeus?” Raut wajah Hera berubah. Biar Artemis tebak, istri Zeus ini sama sekali tidak tahu. Bukan hal aneh, Zeus terkenal gemar meniduri siapa pun. “Aku terpaksa mengubah Kallisto menjadi seekor beruang karena ia telah gagal menjaga kep3rawanannya.” “Itu bagus.” Hera mengangkat dagu dengan puas. “Tapi kudengar … Zeus mengangkatnya menjadi rasi bintang ursa major.” Wajah Hera memanas. Seluruh penghuni Olympus tahu, betapa Hera adalah wujud dari kecemburuan dan Artemis yakin hatinya kini sedang terbakar. “Kabar terbaru, Kallisto memiliki seorang anak dari Zeus.” “Di mana anak itu?” tanya Hera setengah menggeram, tangannya terkepal kuat. “Aku tidak tahu, kau bisa menanyakannya pada suamimu. Bukan tidak mungkin dia lah yang menyembunyikan anak itu.” Hera membuang muka dan berjalan meninggalkan Artemis begitu saja. Kemungkinan terbesarnya adalah Hera mungkin akan mencari tahu dan membunuh anak dari Kallisto. Ia tidak perduli. Bagus lah wanita itu sudah pergi. Ia tidak mengendarai kereta emas dari Smyrna ke Klaros, hanya untuk mendengar ocehan Hera. Ia datang ke sini untuk menjemput Apollo dan mengajaknya berburu, sudah lama sekali ia dan saudaranya itu tidak berburu bersama. “Kau sudah di sini?” Apollo muncul dari belakang. “Ya.” “Aku mendengarmu berbicara sebelumnya. Dengan siapa?” Apollo menoleh ke sekitar dan tidak menemukan siapa pun di sana. “Ibu tiri kita,” ujar Artemis enteng. “Aku masih tidak mengerti untuk apa dia terus mengganggu kita.” “Mungkin merindukan anak-anaknya,” kelakarnya disambut tawa sinis oleh Artemis. “Ayo berangkat!” ***** Apollo adalah saudara kembar Artemis, bila Artemis dikenal sebagai dewi bulan, maka Apollo adalah mataharinya. Sebelum bersama Orion, Artemis lebih sering berburu dengan Apollo. Mereka akan mendatangi hutan dan melihat siapa yang lebih banyak mendapat buruan. “Aku mendengar rakyat di Ephesus membangun kuil untukmu?” tanya Apollo ketika mereka berjalan menyusuri hutan. Artemis memilih hutan yang berbeda dan lebih jauh dari biasanya agar tidak mengingat tentang Orion, tapi di mana pun hutan yang ia kunjungi. Semua terasa sama. Udara dingin, ciutan burung dan hewan-hewan di sana, semak yang rimbun, pohon tinggi menjulang yang menepis cahaya matahari. “Aku belum melihatnya. Apa kita harus ke sana suatu saat?” tanya Artemis.  “Artemis,” panggilan Apollo dengan nada yang berbeda menghentikan langkah mereka. “Apa kau masih mengharapkannya?” Artemis terdiam. Ia tahu siapa yang dimaksud. “Manusia itu.” Apollo memiringkan wajah. “Ini sudah bertahun-tahun berlalu sejak Zeus melarang hubungan kalian berdua. Dari yang kudengar dia juga telah meniduri banyak wanita.” “Tak masalah, lagi pula aku tidak berniat menyerahkan kep3rawananku kepada siapa pun. Seperti yang kau tahu.” Berita tentang Dewi Artemis merupakan dewi yang selalu menjaga kesuciannya dari para dewa yang tidak bisa mengendalikan nafsu mereka sudah menyebar. Untuk itulah kuil Artemis dibangun, banyak para gadis yang memuja dan mengikuti jejak Artemis untuk menjaga kesucian mereka. “Itu artinya kau akan tetap menerimanya?” “Dia sudah hampir sudah hampir menguasai seluruh daratan Yunani.” “Dan kau yakin dia masih hidup saat sudah menepati janjinya?” “Apa maksudmu?” Artemis bertanya bingung. “Kita tahu seperti apa dewa-dewi Olympus. Apa kau pikir Zeus akan membiarkan dirinya kalah begitu saja?” “Jadi yang kau maksud adalah….” Artemis tidak melanjutkan ucapannya, tapi Apollo paham dan mengangguk. “Satu hari saat aku mengunjungi istana Olympus, aku mendengar jika Dewi Gaia mengutus seseorang untuk membunuh Orion. Untuk menghukum orang sombong itu.” “Apa kau tahu siapa orangnya?” tanya Artemis mengambil satu langkah mendekat, matanya jelas terlihat mulai cemas. “Aku tidak tahu, sekali pun aku tahu aku tidak akan memberitahumu. Aku tidak ingin kau berhubungan dengan manusia itu.” “Tapi dia juga seorang keturunan dewa,” sahut Artemis tak terima jika saudaranya ini ikut merendahkan Orion. “Dia putra dari Posseidon. Meski ibunya hanya manusia biasa.” Apollo tidak menjawab, wajahnya tampak datar dan itu cukup untuk mencerminkan bahwa Apollo tidak akan mengubah pikirannya. Ia akan tetap menolak Orion sama seperti halnya Zeus dan dewa dewi di Olympus. “Artemis!” seru Apollo yang melihat saudarinya itu berlari kembali. “Artemis kau akan ke mana?” Artemis tak menghiraukan panggilan tersebut, ia juga mungkin tidak akan berhenti berlari jika Apollo tidak berhasil mencegah tangannya. “Artemis aku harap dugaanku salah jika kau sekarang berniat untuk mendatangi Olympus.” “Aku harus bertanya pada Dewi Gaia tentang orang utusannya.” “Dan kau pikir mereka akan menjawab dengan senang hati?” sentak Apollo. “Aku beritahu, kau bahkan tidak diperbolehkan untuk masuk ke sana. Dan bila kau masuk, mungkin kau tidak bisa menginjakan kakimu lagi di hutan.” Ancaman itu cukup untuk membuat Artemis goyah di atas kakinya sendiri, hingga duduk bersimpuh di tanah. “Apa kau sebegitu mencintainya Artemis?!” teriak Apollo dengan kedua tangan mengguncang pundak saudarinya. Melihat Artemis bereaksi seperti ini cukup mengejutkan sekaligus membuatnya bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi di antara keduanya hingga tampak Artemis terlihat begitu memiliki perasaan yang cukup dalam terhadap orang itu. ***** To Be Continue….          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN