Dua pekan berlalu, Lettasya telah memikirkan dengan cermat apa yang harus ia lakukan. Lettasya tidak dapat menggunakan pedang seperti seorang kesatria Tidak pula ahli dalam berlari. Satu-satunya yang dia kuasai hanya obat-obatan dan selama dua pekan ini ia membuat obat yang mampu membuat para prajurit terbius dalam beberapa saat. Lettasya tidak mungkin memasukan obat tersebut ke dalam makanan atau minuman karena jelas sudah ada orang yang mengurus soal makanan.
Ketika matahari terbenam sepenuhnya, hal pertama yang Lettasya lakukan adalah membuat Miguel tertidur. Ia tidak mungkin mengikut sertakan Miguel dalam hal ini, terlalu berbahaya. Lettasya juga telah berganti baju berwarna hitam miliknya agar bisa bersembunyi di dalam gelap malam tak lupa mengenakan cadar. Melalui sela jendela serta dari balik tembok Lettasya membakar sebuah ramuan yang telah ia persiapkan. Tumbuhan yang bisa ia dapat dengan bebas dari taman botanica milik Antares yang kemudian dikeringkan bersama tanaman lainnya sehingga asap yang dibakar akan memberi efek hilang kesadaran.
“Maaf,” Lettasya melangkahi tubuh para penjaga yang telah tergeletak tak sadarkan diri. Ini pertama kalinya ia menggunakan keahliannya untuk kabur. Tidak pernah sebelumnya ia melakukan hal seperti ini, tapi sekarang ia harus. Demi Theona.
Langkah Lettasya telah sampai di tembok belakang. Ia tidak bisa lewat melalui depan karena ada penjaga lebih banyak. sementara untuk membuat penjaga tak sadarkan diri dibutuhkan waktu yang cukup sehingga asap yang terhirup lumayan banyak. Maka pilihannya tentu hanya jalan belakang.
“Bagaimana aku bisa melewati tembok ini?” gumam Lettasya sendiri.
Temboknya lebih tinggi dari tubuh Lettasya. Ia pun berusaha mencari pijakan. Sebuah batu yang berukuran lumayan besar ia seret dengan kepayahan, lalu Lettasya munduk beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Dalam hitungan ketiga ia berlari sekuat mungkin kemudian menginjak batu pijakan dengan mantab, tangannya berusaha menggapai tembok teratas akan tetapi dia justru tergelincir jatuh.
Percobaan pertama, gagal!
“Auw,” desah Lettasya. Tak lupa dirinya mengumpat dengan kata yang barang kali akan membuat Antares pingsan saat mendengarnya. Meski pun dia seorang putri kerajaan, tapi dia telah hilang selama lebih dari dua tahun dan selama itu pula ia berteman dengan banayk orang dari berbagai kalangan.
Tidak menyerah, Lettasya bangkit membersihkan tanah yang menempel di pakaian dan kembali mencari batu untuk menambah pinjakan. Dalam hati Lettasya mengumamkan tekad jika ia harus berhasil karena bila putri yang menjadi tumbal kali ini adalah Theona maka Lettasya tidak punya kesempatan lagi.
Akan tetapi tekad tak selalu cukup untuk menuju keberhasilan, percobaan keduanya pun gagal. Lettasya mendapat luka gores di lengannya. Namun dia tak menyerah. Percobaan ketiga dia melepas alas kaki, melemparnya ke balik tembok dan kembali berlari sebelum melompat. Tangannya kini berhasil meraih dinding tertinggi dan ia memajat sekuat tenaga. Napasnya lumayan terengah lalu ia memilih berguling menjatuhkan diri dari tembok atas untuk kemudian tubuhnya ditangkap oleh sepasang lengan yang kuat.
Mata hazel Lettasya nyaris meloncat keluar mendapati Antares menangkapnya dirinya. Kedua tangan lelaki itu berada di punggung dan satu di belakang lututnya.
*****
Antares dan para prajuritnya masih belum mendapat petunjuk apa pun tentang gadis yang dicari. Beberapa yang memiliki tanda tidak serupa dengan petunjuk dari Vadlles. Ini bukan kegagalan, tapi Antares merasa tetap harus segera menemukannya. Ini merupakan tugas terlama yang belum ia selesaikan sebelumnya. Tidak sekali dua kali, Antares berpikir mungkin saja Vadlles berbohong agar dia selamat. Karena hampir tiga musim berlalu, wanita itu tidak pernah mereka temukan, bahkan Vadlles sendiri tidak memiliki petunjuk keberadaan gadis pembawa keabadian ada di mana atau berasal dari mana.
Hingga kemudian dia ditarik kembali oleh istana untuk mengawasi upacara penumbalan di kuil Athena. Setelah memberi perintah pada pasukan untuk melakukan keamanan sepanjang acara berlangsung. Antares kembali ke kediammannya lebih dulu. Sengaja ia masuk lewat jalan belakang karena mengembalikan kuda miliknya ke kandang. Dua prajurit yang bersamanya melakukan itu sedangkan Antares berencana masuk lebih dulu ketika telinganya mendengar sesuatu berdebum yang jatuh.
Antares pun mencari sumber suara dan wajahnya nyaris terkena lemparan alas kaki dari balik tembok tersebut. Begitu ia mendongak, seseorang jatuh dari atas tepat ke arahnya.
“Sa-saya….” Lettasya tergagap.
Antares teramat yakin jika Lettasya tidak menyiapkan alasan yang tepat untuk situasi tak terduga ini.
“Selamat malam tawanan yang mencoba kabur,” ujar Antares dengan suara berat.
“Maaf,” cicitnya seraya menundukan pandangan dan hanya melihat pada d**a Antares.
Antares kemudian menurunkan Lettasya dan menyuruh wanita itu berjalan lebih dulu kembali ke rumah. Ia cukup terkejut melihat beberapa pasukannya telah tergeletak tak sadarkan diri.
“Kau meracuni mereka?” tanya Antares. Ia berjongkok untuk memeriksa denyut nadi para penjaga.
“Tidak. Tentu saja tidak.” Lettasya menggerakan kedua tangannya dengan panik. “Saya hanya membuat mereka tertidur beberapa saat saja.”
“Untuk apa?”
“Itu….”
“Kau berniat kabur tanpa membawa anakmu?” cibir Antares.
“Bukan seperti itu.”
“Lalu?” Antares melipat tangan di d**a dan memperhatikan bagaimana gestur Lettasya tampak gelisah. Kedua jarinya bertaut, matanya tak berani menatap pada Antares.
“Saya ingin melihat upacara persembahan ke kuil Athena.”
“Kau tahu itu tidak mungkin. Upacara ini bukan sebuah parade perayaan yang bisa dilihat oleh banyak orang.”
Lettasya tak menjawab.
“Kenapa? Apa kau mengenal Elle dari kerajaan Primous?”
Tentu saja wajah Lettasya menyiratkan kebingungan yang jelas. Ia tidak tahu siapa
Putri Elle dan di mana kerajaan Primous itu. Namun, yang pasti Lettasya harus merasa lega karena bukan Theona yang menjadi persembahan kali ini. Lettasya berharap Theoan masih memiliki waktu yang cukup sampai dirinya menjemput.
“Bangunkan mereka!” titah Antares. “Seteleh itu ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Baik.”
Mulanya Lettasya membangunkan seorang penjaga untuk kemudian memberinya minuman hangat. Lalu setelah memastikan semua penjaga telah mendapatkan kesadarannya Lettasya pun menuju ruangan tempat Antares menunggunya. Masih dengan pakaian serba hitam ia masuk tanpa sanggup menatap wajah Antares. Selain memaki diri sendiri karena kecerobohannya, Lettasya juga kini tengah mencari alasan untuk bisa bertahan ia tiak ingin hukumannya bertambah.
“Lettasya.”
“Saya, Tuan.”
“Kau dan anakmu Miguel aku lepaskan.”
“Apa?” Begitu terkejutnya Lettasya hingga ia tanpa sadar mengangkat wajahnya. Berita ini terlalu mengejutkan dan tidak bisa ia prediksi.
“Aku telah memikirkannya dan aku rasa kau tidak bersalah. Jadi kau boleh pergi dari rumah ini kapan pun kau mau.”
Lettasya tidak tahu apa yang harus ia ucapkan, mulutnya terkunci seolah kucing menggigit lidahnya. Dalam jeda yang yang terhitung berapa lama itu Antares hanay memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya mempersilakan Lettasya untuk keluar.
Satu dari banyak hal yang membuat Lettasya tidak tahu harus menjawab apa adalah karena selain ini bukan hal yang ia perkirakan, tetapi juga memikirkan bagaimana dia dan Miguel di luar sana. Ia memang masih memiliki beberapa kepnguang yang tersisa, akan tetapi Lettasya tidak yakin itu cukup untuk bertahan hidup bersama Miguel. Tidak mungkin juga Lettasya meinggalkan bocah itu sendirian.
Kepalanya terpikir untuk mengakui pada Antares jika Miguel adalah anak yang hilang, bukan anaknya. Melihat bagaimana kepedulian Antares, ia yakin Miguel akan mendapat tempat yang layak setidaknya sampai anak itu mengingat rumah dan kedua orang tuanya. Seandainya bila ia dituduh dengan penipuan, ia masih bisa melarikan diri. Lettasya mengangguk yakin dengan pikirannya. Namun, ketika kakinya kembali melangkah menuju ruangan Antares samar-samar ia mendengar pembicaraan slaah seorang prajurit dengan lelaki itu.
“Sebagai tangan kanan Yang Mulia Raja Orion tentu saja anda harus hadir.”
Antares menyandarkan punggungnya di kursi, menatap pada langit-langit atap rumahnya. “Aku tidak terlalu suka berada di sana. Keberadaanku bukan hal yang tepat.”
“Saya mengerti.” Prajurit tersebut mengangguk untuk sebagai tanda hormat sebelum undur diri.
Lettasya segera mencari tempat persembunyian. Ucapan prajurit tadi memenuhi kepalanya bahawa Antares merupakan tangan kanan raja Orion. Segala hal yang terjadi mulai membuat Lettasya menyimpulkan semuanya. Bagaimana bisa Antares mengenal bangsawan berperut buncit, bagaimana bisa ia yang seharusnya menjadi tawanan penjara justru tinggal dirumah lelaki ini, tanaman botanical yang tidak banyak orang yang tertarik karena tidak paham dengan khasiatnya. Juga, para penjaga yang ditugaskan untuk menjaganya tetap di rumah selama ia tidak ada. Ia memang sempat berpikir Antares bukan prajurit sembarangan, tapi tangan kanan raja bukan sesuatau yang terlintas di kepalanya.
Tunggu! Jika Antares memang Tangan Kanan Raja Orion, itu artinya akan sangat mudah untuk lelaki ini keluar masuk istana. Yang Lettasya tahu keamanan Istana Benzandium sangatlah ketat. Sulit memasukinya jika bukan orang yang paham seluk beluknya.
Maka otak Lettasya kembali mencerna keadaan. Ia harus tetap tinggal di sini, berada sedekta mungkin dengan Antares agar bisa memasuki istana. Dan saat itu ia akan mencari Theona.
*****
Keesokan harinya Lettasya bangun lebih awal. Dia membersihkan rumah, bahkan membuat camilan pagi yang tentu saja ditolak oleh para penjaga karena trauma dengan Lettasya sebab pernah membuat mereka tak sadarkan diri. Ia pun hanya mampu menyunggingkan senyum canggung.
Antares tengah berada di halaman belakang, menjemur tubuhnya dengan mentari pagi. Cahaya matahari menyinari kulit kecokelatan milik Antares. Pada otot liat di lengan, punggung lebar yang tegap dengan banyak bekas luka, d**a bidang serta perut yang tak kalah berbentuk menggoda. Lettasya nyaris tak berkedip, ia bahkan membasahi bibir dan tenggorokannya sebelum menghampiri Antares untuk menawarkan segeglas s**u serta sarapan pagi.
“Kau masih di sini?” tanya Antares.
“Ya.”
“Kapan kau berencana keluar?”
Antares berpikir tindakan Lettasya yang mencoba kabur kemarin adalah karena wanita ini sudah tidak nyaman berada di kediamannya dengan banyak penjagaan. Lagi pula sepanjang perjalanan kembali Antares telah memikirkannya. Ia harus melepas Lettasya dan anaknya. Tidak ada lagi alasan Antares menahan mereka. Ditambah Antares merasa Lettasya cukup berbahaya tatkala mempengaruhi pikirannya.
“Saya merasa Miguel masih membutuhkan perawatan. Jika Tuan tidak keberatan, izinkan kami menginap beberapa malam lagi.”
Diam-diam Lettasya menggigit bibir dari balik wajahnya yang tertunduk. Ia tidak bisa menemukan alasan lain.
“Aku akan memberi kalian beberapa keeping uang dan juga kau boleh mengambil beberapa tanaman yang kau butuhkan.”
“Tapi kami juga tidak punya tempat tinggal.”
“Dan rumahku bukanlah sebuah penampungan.”
“Anggap saja ini permintaan saya karena telah menyelamatkan nyawa anda dari racun.”
Antares mendelik sinis dan Lettasy tahu dia salah berucap.
“Apa kau sedang mengungkit jasa penyelamatan? Menurutmu siapa yang menyelamatkan siapa sehingga kau dan anakmu bisa di sini?”
Lettasya semakin menunduk dalam dan mengutuk diri. Ia harusnya tahu jika cara seperti ini tidak akan mampu meluluhkan seorang Antares. “Maaf, syaa hanya pututs asa. Saya pendatang di sini dan tidak tahu bagaiaman kehidupan ibu kota.”
Antares tidak menjawab. Lettasya pun kembali melanjutkan, “Saya hanya tidak tega harus membawa Miguel terlunta-lunta tanpa tujuan.”
Lettasya bisa mendengar bagaimana Antares membuang napas kasar.
“Mulai besok, para penjaga di sini akan berkurang. Kau tidak perlu membuat makanan seperti ini lagi.” Antares mengambil sepotong roti isi buah yang Lettasya buat sebelum akhirnya berlalu meninggalkan wanita itu beberapa langkah. “Dan aku sudah bilang untuk berhenti membuat makanan di dapurku.”
Lettasya tersenyum kecil, hati bersorak. Ia harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Bagaimana cara agar Antares mau berbaik hati padanya. Yang paling penting, bagaimana cara ia bis masuk ke istana tanpa perlu melawan para prajurit dan pemeriksaan ketat. Menurut kabar yang didengarnya, cara memasuki istana Benzamdium tidak seperti istana lain yang menunjukan identitas pengenal yang dibuat khusus. Melainkan dengan pengenalan penjaga. Prajurit yang berjaga harus mengenali orang-orang penting dalam istana yang sering melakukan perjalanan. Mereka juga melakukan pengetesan beberapa lapis dengan kode tertentu. Secara garis besar, mustahil untuk Lettasya yang tidak tahu apapun bisa menembusnya .sekali pun ia menggunakan obat atau metode bius seperti kemarin itu justru akan membuat keributan dan kemungkinan dirinya tertangkap lebih besar.
Secara tiba-tiba Lettasya mengejar Antares untuk memastikan jika dirinya juga diizinkan ikut kemana pun Antares pergi. Lettasya bersedia untuk menjadi pelayan pribadi atau perawat khusus atau apapun itu. Langkahnya begitu cepat agar segera menyampaikan keinginannya, akan tetapi ketika ia sudah dengan Antares, lelaki itu secara mendadak berbalik hingga mengejutkan Lettasya. sayangnya kecepatan lari wanita itu tidak dapat berhenti di waktu yang tepat tubuhnya pun bertubruka dengan Antares. Untuk kedua kalinya lelaki itu menangkap Lettasya dan sebagaimana orang yang akan jatuh ia reflek meraih apa pun untuk bertahan. Maka diraihlah pakaian leher Antares, kedua pun jatuh bersamaan.
Mata cokelat Antares beradu pandang dengan sepasang mata hazel milik Lettasya. Telapak tangan wanita itu menekan d**a Antares, membangunkan kembali sesuatu yang Antares pikir telah hilang karena telah tersalurkan dengan wanita-wanita lain ketika ia masih berada di perbatasan utara. Rahangnya mengeras sementara Lettasya masih tak bergerak, entah apa yang ada dipikirannya yang pasti kini wanita ia hanya bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.
Hati kecil Lettasya berbisik, “Akan lebih baik jika dirinya bisa menaklukan hati lelaki ini. apa yang tidak bisa dilakukan seorang lelaki lakukan demi cinta terhadap seorang wanita. Bukan kah ayahnya juga membuang dirinya karena terlalu mencintai sang istri?”
Tapi … bisa kah ia mendapatkan hati Antares?
*****
To Be Continue….