Perayaan

1190 Kata
Hanya butuh waktu sedetik untuk kemudian Lettasya kembali mengutuk diri sendiri karena memikirkan ide gila tersebut. Antares seketika bangkit tanpa membantu Lettasya berdiri. “Apa kah kau berniat untuk melakukan pembunuhan berencana terhadapku?” tuduh Antares. Lelaki itu terlihat kesal. Tentu saja. Lettasya bahkan tidak akan segan memaki orang yang melakukan hal serupa padanya. “Maaf,” ucap Lettasya tidak mendapat jawaban apa pun lagi dari Antares yang langsung berlalu begitu saja. “Lettasya.” Miguel muncul entah dari mana. Seluruh badannya basah. “Miguel. Apa yang kamu lakukan?” “Aku coba menangkap ikan di kolam sana.” Anak itu menunjuk ke sebuah sumur tua. “Lalu aku terjatuh.” “Kau tidak apa-apa?” Lettasya memeriksa Miguel dengan setengah panik. Sebelum kemudian dengan segera mengganti pakaiannya. “Lettasya,” panggil Miguel lagi. “Ya?” “Apa kau suka pada Tuan tampan itu?” “Tuan Tampan?” Alis Lettasya mengernyit. “Tuan yang tadi jatuh bersamamu. Kalian berpelukan.” Seketika wajah Lettasya terasa memanas, tapi yangpaling mengherankan bagiamana bisa seorang anak kecil seusia ini mengerti tentang sebuah rasa suka. “Miguel. Dengarkan aku, tidak selalu yang berpelukan berarti menyukai.” Tunggu, apakah yang Lettasya ucapkan ini benar? “Tapi orang yang berpelukan tidak saling memukul. Itu artinya tidak saling melukai.” Miguel mengatakan itu sambil memainkan pedang kayu. Setelah bajunya berganti dan sebelum Lettasya sempat bertanya maksud dari ucapannya itu, Miguel kembali berlari ke halaman belakang. Mengajak main seorang penjaga yang ada di sana. ***** Antares tengah mengenakan pakaiannya. Ia harus menuju ke istana karena raja mempertanyakan kehadirannya untuk pesta nanti. Akan tetapi di tengah kegiatan singkatnya itu bayangan tentang kejadian tadi yang membuat ia terjatuh bersama Lettasya terus menerus terulang. Dia bukan lelaki yang kesepian, dia telah menghabiskan banyak malam dengan banyak wanita ketika di perbatasan. Namun, satu sentuhan dari Lettasya seolah menghancurkan semuanya. Antares yakin dirinya bukan lah lelaki yang gemar bermain perempuan, maka dari itu hal seperti ini membuatkan sedikit bingung sekaligus merasa ingin marah diwaktu bersamaan. Belum pernah sebelumnya ada wanita yang mempengaruhinya seperti ini. Antares keluar ruangan dengan zirah lengkap, Lettasya muncul begitu saja seperti hantu. Hingga nyaris membuat Antares terkejut jika saja ia tidak pandai dalam mengatur ekspresi. “Apa Tuan akan pergi ke istana?” tanyanya yang sama sekali tidak ia gubris. Lelaki itu pikir Lettasya akan pergi saat ia abaikan, tetapi tanpa diduga ia justru mengikuti Antares dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya. “Kapan Tuan akan kembali? Apakah ada makanan yang ingin Tuan—” Mulut Lettasya merapat saat Antares berbalik dan sepertinya wanita itu baru mengingat jika Antares telah sering melarangnya untuk menyentuh dapur. “Perlukan saya menyiapkan sesuatu?” Antares tidak menjawab dan kembali mengabaikan Lettasya. Diam-diam di belakang, wanita itu mendengus jengkel. Antares tak terusik, ia tetap memilih meninggalkan Lettasya. mungkin ia harus kembali menginap di istana. Dalam langkahnya menunju pintu keluar, Antares terhenti karena  Miguel berdiri di tengah jalan. Kenapa, anak dan ibu ini gemar sekali menahan langkahnya dan muncul tiba-tiba? “Tuan….” Miguel membungkuk sopan. “Apa anda akan pergi lagi?” Antares hanya memberi sebuah anggukan kecil. “Hati-hati di jalan, Tuan. Tolong segera kembali ke rumah ini.” Satu alis Antares terangkat bingung. Miguel menengok sekitar sebelum ia berjinjit dengan tangan menutupi sepaaruh wajahnya. Hal itu membuat Antares membungkuk untuk mendengerkan bisikan Miguel. “Saya ingin memberi anda sesuatu, tapi saat ini belum selesai. Saya harap bisa membalas kebaikan hati Tuan.” Antares tersenyum kecil. Ia mengelus lembut kepala anak itu sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan rumahnya sendiri menuju istana. Setibanya di istana, seperti yang Antares perkirakan, kepulangannya yang tidak tidak membuahkan hasil menjadi sindiran oleh Jendral Bayzil. “Anjing kerajaan ternyata tidak bisa menemukan tulang?” tutur Bayzil saat bertemu Antares yang menuju ruangan Raja Orion. Antares tidak menggubrisnya, hanya mengangguk sopan sebelum kembali berjalan memasuki ruangan sang Raja. Dia berlutut dengan wajah tertunduk tidak berani menatap Sang Raja. Bukan karena ia takut jika Raja Orion murka padanya. Melainkan kekecewaan yang Antares dapat karena belum berhasil menjalankan perintah. “Aku telah mendengara yang terjadi di perbatasan Utara. Ada seorang wanita mati karena diduga memiliki sebuah tanda.” “Maafkan saya, Yang Mulia.” “Sudahkah kau menyelidikinya?” Seorang wanita menyuapinya sebuah anggur. “Saya belum mendapatkan petunjuk.” Meski demikian Antares yakin Jendral Bayzil terlibat. Ia hanya belum memiliki bukti yang cukup. “Aku tidak perduli dengan wanita yang mati itu. Aku hanya tidak suka ada yang berniat menghancurkan rencanaku. Jadi sebaiknya kau lebih hati-hati. Selidiki siapa yang melakukan hal itu.” Orion membuka sebuah kotak berukuran sedang dan memberikan hiasan baju pada satu dari dua wanita yang bersamanya. “Baik, Yang Mulia.” Antares tidak yakin ia bisa melaporkannya pada Raja Orion seandainya kelak memiliki bukti tentang keterlibatan Jendral Byazil. Bisa dibayangkan seberapa kecewanya Yang Mulia Raja. Namun, Antares tidak harus terbawa perasaan. Keduanya orang berjasa di hidup Antares. “Beristirahatlah di kamarmu. Besok lusa istana akan mengadakan pesta, aku yakin kau sudah tahu.” Orion lantas menggerakan tangannya, memberi isyarat pada Antares untuk pergi. Namun Antares harus mengatakan hal ini sekarang atau ia tidak memiliki kesempatan untuk menolak. “Maaf kan kelancangan hamba, Yang Mulia. Tapi saya rasa, saya tidak bisa mengikuti pesta yang dibuat oleh Putri Cleosana.” Seketika Orion menatap lurus padanya dan menghentikan wanita-wanita yang menghiburnya. “Kenapa?” “Saya….” “Apakah ini tentang pamanku lagi?” Kebisuan Antares dapat dimengerti dengan baik. “Baiklah kalau begitu. Kau boleh kembali ke kediamanmu.” Antares tidak yakin dari mana Raja Orion mengetahui perselihihannya dengan Bayzil. Namun, hampir seisi istana menyadari jika perubahan sikap Jendral Bayzil terlihat sejak Orion mengangkat Antares menjadi tangan kanan raja. “Terima kasih atas kemurahan hati, Yang Mulia.” ***** Hari telah larut, Miguel masih menemani mengukir sebuah simbol yang dibuat pada sebuah pedang kayu miliknya ditemani oleh Lettasya. Dengan wajah yang terus terantuk Lettasya meminta Miguel untuk melanjutkan apa pun yang tengah dibuat itu esok hari. Namun, entah dari mana Miguel memiliki tanaga yang seolah tak pernah habis bahkan setelah seharian bermain. “Lettasya, sepertinya kau mengantuk.” “Aku memang mengantuk. Maka dari itu ayo kita tidur.” “Aku belum mengantuk. Kau tidur lah lebih dulu.” Lettasya terheran, siapa sebenarnya yang orang dewasa di sini? “Apa yang sebenaranya kau buat ini?” Sebelum Miguel sempat menjawab, sebuah suara berdentang hebat seperti meja terjatuh dan teriakan seseorang dari luar terdengar hingga ke dalam. Seketika Miguel melempar apa pun yang dia pegang semabrangan lalu merunduk dan bersembunyi di bawah meja sambil menutup telinga denga ntubuh gemetar hebat. Lettasya ikut terkejut. Ia segera memeriksa apa yang terjadi di luar. Salah seorang penjaga terjatuh di atas meja yang terbelah sementara salah satu penjaga lain menatap marah pada temannya. “Ada apa ini?” Penjaga yang menatap marah itu beralih menghampiri Lettasya. berjalan mendekat dengan langkah lebar sebelum satu tangannya mencengkeram leher Lettasya tanpa bisa diperkirakan. “Di mana Antares?” Baru lah sat itu Lettasya sadar jika penjaga lain juga sudah tergeletak di belakang lelaki yang Lettsya duga bukan termasuk prajurit penjaga melainkan seseorang yang menaruh dendam terhadap Antares dan tengah menyamar. ***** To Be Continue….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN