Sejak kembalinya Antares dari perbatasan juga pembebasan Lettasya, para penjaga sudah ditarik mundur sehingga hanya menyisakan sedikit. Lettasya tidka pernah mengenal lelaki yang kini masih mencekiknya dengan kuat, tapi Lettasya yakin. Sama seperti kejadian di pasar beberapa waktu lalu. Pria yang kini menyerangnya juga memiliki dendam pada Antares.
“Aku tanya di mana Antares?”
“Aku … ti-tidak ta—”
“Jangan bohong!!” teriaknya penuh emosi.
Lettasya mulai kehilangan pijakan, napasnya tersendat.
“Bukan kah kau wanita yang bersama Antares di pasar?”
Lelaki ini mengenalnya?
“Dia pasti ada di dalam.”
Pria itu kemudian melampar Lettasya hingga wanita itu terbatuk-batuk karena rongga paru-parunya mencoba menggapai udara, lalu menerobos masuk. Tidak lupa berteriak memanggil nama Antares. Menjatuhkan dan memecahkan benda yang dilewatinya. Lettasya menyusul, menghkhawatirkan Miguel yang masih meringkuk di bawah meja. Dalam hati Lettasya berharap Miguel masih bersembunyi dengan rapat.
“Siapa kau sebenaranya?” Pertanyaan Lettasya tidak membuat pria menoleh. Mata hazel Lettasya mencari-cari Miguel diam-diam.
“Aku tidak punya urusan denganmu, pergi lah sebelum aku mencelakaimu!” ancamnya.
Lettaysa menemukan satu kaki Miguel terlihat dari bawah meja, hanya berjarak beberapa langkah dari tempat berdiri pria ini. “Tunggu!”
Sebisa mungkin ia tidak menampakan ketakutan meski hatinya bergetar oleh kilat pedang yang dipegang si pria. Namun, langkah lelaki itu tidak kunjung berhenti. Seolah keinginan terbesarnya saat ini hanya merusak apa pun yang ada dan berkaitan dengan Antares. Lettasya hanya perlu pergi, menarik Miguel keluar dari persembunyiannya, tapi itu terlalu beresiko melihat Miguel tampak begitu ketakutan. Lettasya duga anak itu pasti memiliki trauma. Bukan kah luka-luka di tubuhnya sudah cukup menjelaskan jika dia merupakan korban abuse dari orang-orang dewasa.
“Aku!” teriak Lettasya masih berusaha menghentikan pria ini. “Aku bisa mencelakaimu dengan benda ini.” Lettasya mengambil sebilah kayu dari patahan kaki kursi yang hancur.
Lelaki itu menoleh tak peduli.
“Dia tidak di sini.”
Langkah lelaki itu terhenti, menoleh padanya dengan dramatis sebelum kemudian berjalan cepat ke arahnya. Lettasya tidak takut pada prajurit, tidak juga pada pria bangsawan berperut buncit. Namun terhadap orang ini … Lettasya bisa melihat jika tidak ada yang ditakuti olehnya. Bagi Lettasya, orang yang tidak memiliki sesuatu lagi untuk dipertaruhkan adalah orang yang seharusnya paling ditakuti. Karena dia sudah kehilangan semuanya, maka dia kan mempertaruhkan sisa hidupnya demi tujuan.
“Antares.” Lettasya mengangkat kayu ke arah pria itu. “Dia dipanggil ke istana.”
Alis lelaki itu berkerut. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Lalu pandangannya menelusuri Lettasya dari bawah ke atas. “Aku rasa kau memang memiliki hubungan dengan Antares. Apa dia kekasihmu?”
Lettasya mencoba untuk tidak mundur saat lelaki itu kembali mendekat. Mata hazelnya melirik pada meja, dalam hati berharap Miguel segera keluar dan lari dari sini.
“Jadi berita itu benar. Bahwa Antares menemukan anaknya dan kekasihnya?”
Tunggu? Berita macam apa itu?
Seringai mengerikan terbit di wajah pria tersebut. “Jika Antares t tidak ada. Maka akan kubuat dia kehilangan orang yang disayanginya.”
Sial!
Lettasya berlari ke samping secepat yang ia bisa, kemudian mengayunkan kayu untuk memukulnya ke punggung lelaki itu. Namun pria tersebut sama sekali tidak terusik. Lettasya berniat berlari tapi akan tetapi rambutnya berhasil ditarik. Dengan amarah yang lebih besar ia mendorong Lettasya hingga menubruk meja tempat Miguel bersembunyi kemudian kembali mencekiknya. Lettasya meronta sedangkan Miguel masih menutup mata dan telinga dari balik meja, tubuh kecil itu bergetar hebat, penuh keringat.
“Kenapa wanita sepertimu bersedia tinggal dengan manusia tidak beradab seperti Antares hah?”
“Apa yang … sebenarnya k k-kau bicara-kan?” ujar Lettasya terbata-bata. Kedua tangannya mencoba menahan cekikan pria ini.
Hingga saat ini ia tidak mengerti dengan orang yang menyerang Antares sejak lelaki itu pulang dengan keadaan terluka oleh racun, juga saat bersamanya mencari persediaan makanan. Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah Miguel harus segera pergi. Satu tangan Lettasya kemudian menggapai apa pun di sekitarnya dan menemukan sebuah tembikar yang langsung ia gunakan untuk memukul kepala lawan.
Cukup berhasil.
Lelaki itu mundur Lettasya terdorong hingga meja terjungkal dan menampakan Miguel yang masih meringkuk. Sedikit kesempatan itu ia gunakan untuk meraup Miguel dan menariknya pergi. Namun tubuh anak itu sekaan terpaku di tempat. Bahkan Miguel sempat menempis tangan Lettasya. Sementara pria sebelumnya menggelengkan kepala bebrerpa kali dan telah berhasil mendapatkan kesadarannya.
“Kurang ajar!” teriaknya pada Lettasya semakin murka.
Pedang di tangan lelaki itu sudah terangkat. Lettasya yakin satu ayunan pedang akan cukup untuk membuat luka yang serius. Alih-alih berlari Lettasya justru memeluk Miguel untuk melindungi bocah itu. Dengan mata terpejam ia mempersiapkan diri menerima luka untuk kemudian satu pekikan si Pria itu disusul bunyi berdebum merasuki indera pendengarannya. Lettasya tidak merasa sakit sedikit pun.
Saat ia membuka mata si pria rupanya tengah tergeletak dengan kaki Antares di wajahnya.
“Tuan,” gumam Lettasya merasa lega.
“Beraninya kau mengacau di rumahku,” sentak Antares.
“Kenapa tidak? Kau bahkan membu—aaarrgghh.” Antares melukai lengan pria itu dengan pedangnya.
“Mungkin anak buahku tidak berhasil menangkapmu, tapi kedatanganmu ke sini bukan kaha sama saja dengan mengantarkan nyawa. Aku akan dengan senang hati mengirimu ke neraka.”
“Jangan!” cegah Lettasya.
Antares menoleh padany dengan wajah jengkel, berusaha tidak memperdulikan kalimat larang itu.
“Setidaknya jangan di sini,” sahut Lettasya lagi. Ia memikirkan Miguel.
Akhirnya Antares hanya membuatnya tak sadarkan diri kemudian melemparkan tubuh pria tersebut pada anak buahnya yang ikut kembali dari istana.
“Bawa dia ke penjara dan segera hukum sesuai peraturan kerajaan Binzandium.”
*****
“Apa kau sudah gila!” bentak Antares pada Lettasya yang telah berdiri di hadapannya.
Miguel masih ketakutan saat si pria penyerang tadi dibawa pergi bahkan masih tidak bersedia berbicara atau berpindah tempat. Lettasya sedikit kebingungan menangani anak itu yang menolak berbicara. Hingga pada akhirnya memilih untuk membuat Miguel tertidur agar lebih tenang. Setelah itu Antares memintanya datang ke ruangan lelaki itu.
“Apa kesalahan saya?” Lettasya tidak mengerti kenapa ia justru mendapat luapan emosi sedangkan dirinya lah yang paling mendapat banyak luka karena mencoba menahan menyerang tadi untuk tidak melukai Miguel.
“Bukan kah seharusnya kau melawan.” Antares menatapnya dengan mata yang berpijar layaknya api membara. “Kau bisa melakukan apapun seperti yang kau lakukan pada Costword.”
“Saya tidak mengerti apa yang Tuan maksud,” sanggahnya.
Antares berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Lettasya dengan langkah lebar. Ia hanya bisa menunduk.
“Jangan berpura-pura seolah kau tidak tahu. Aku yakin kau mengerti apa yang aku maksud.” Nadanya lebih rendak akan tetapi tidak mengurangi ketegasan yang terkandung. “Apa jadinya jika aku tidak datang tepat waktu hah?!”
“Maafkan saya, Tuan. Karena telah membuat rumah anda berantakan.”
Seandainya Lettasya bukan seorang wanita, ia yakin Antares akan dengan suka rela memberinya satu pukulan atau sekedar tamparan di wajah. Hal yang tidak Lettasya duga adalah Antares mecengkram wajahnya dengan satu tangan untuk membuatnya mendongak. Menatap langsung mata kecokelatan milik Antares yang diselimuti oleh amarah. Kemudian ia bisa merasakan lehernya tersentuh oleh benda tajam yang dingin. Sebuah belati.
“Jangan menguji kesabaranku Lettasya.”
****
To Be Continue….