"Jangan menguji kesabaranku Lettasya.”
Dinginnya belati kian terasa di leher Lettasya. Dia masih terdiam, tidak menyangka bahwa Antares masih mencurigainya tentang kematian pria bangsawan berperut buncit beberapa waktu silam. Namun, Lettasya tidak akan menjawab jika ia tidak selalu bisa menggunakan matra tersebut untuk melukai semua orang. Pria yang menyerangnya tadi mungkin dikuasai oleh amarah, tapi ia tidak mempunyai kesalahan padanya dan dewa. Lettasya tidak bisa melukai sembarang orang.
“Saya hanya orang biasa, Tuan. Bagaimana mungkin saya bisa melakukan sesuatu seperti melukai orang lain,” jawabnya tenang.
Berbeda dengan kondisi sebelumnya ia tidak merasa takut dengan ancaman Antares. Bukan, bukan karena ia yakin jika Antares sanggup melukainya. Setelah melihat bagaimana Antares melukai pria yang menyerangnya tadi, namun lebih karena tidak ada yang bisa ia jelaskannya jika tidak ingin jiwanya terhisap. Lagi pula Lettasya tahu bahwa masih ada yang Antares lindungi di dunia ini. Dia tidak tahu siapa dan apa, tapi ia bisa merasakannya.
Antares pun menurunkan belatinya. Napas memburu lelaki itu cukup untuk menjelaskan jika ia masih dilanda emosi. Maka Lettasya pun tak menunggu dua kali saat Antares mengusirnya dari ruangan tersebut.
*****
Setelah kepergian Lettasya, Antares melempar belati miliknya begitu saja. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat kembali besok semuanya sudah terlambat. Lettasya dan anaknya bersimbah darah di rumah ini. Hal itu lebih dari cukup untuk membuatnya dilanda amarah yang ia sendiri tidak mengerti.
Lettasya hanya seorang wanita biasa, dari kalangan biasa yang telah memiliki seorang anak. Apa yang salah dengan dirinya hingga sesuatau yang berhubungan dengan wanita itu begitu mempengaruhi Antares. Ini lah alasan ia mengusir wanita itu dan Miguel ke tempat lain. Menjauhinya akan lebih mudah bagi Antares mendapatkan kendali diri lagi.
Sebelumnya, ketika ia masih di istana. Seseorang yang Antares tidak tahu membisikan kepadanya untuk pulang ke rumah sebelum semuanya terlambat. Akan tetapi, Antares merasa tidak mengenal wajah orang itu. Dia jelas bukan salah satu dari anak buah Antares, tapi mengapa dapat mengetahui keadaan di rumahnya.
Keesokan harinya ia melihat Lettasya menyeka kening anaknya yang demam. Antares belum bertanya lebih lanjut mengenai apa yang terjadi dengan Miguel sebenarnya hingga anak itu begitu ketakutan sampai jatuh sakit. Namun, Antares mengurungkan niatnya. Ia tidak seharusnya tahu lebih banyak tentang mereka. Bukankah Antares menginginkan keduanya segera pergi dari rumah ini. akan tetapi tidak bisa ia pungkiri bahwa Antares juga sadar satu sisinya hatinya khawatir.
“Apa kalian sudah memasukannya ke penjara?” tanya Antares pada salah satu anak buahnya.
“Sudah, Tuan.”
“Jaga tempat ini baik-baik, jika terjadi sesuatu, segera kabarkan padaku! Aku harus mengunjungi orang itu.” Antares melirik pada Lettasya sekali lagi sebelum berangkat.
Istana Binzandium bisa dibilang sangat megah begitu banyak kamar, luasnya halaman, taman bunga, danau serta markas pelatihan. Begitu juga dengan penjara. Terdiri dari dua bangunan dengan tinggi empat lantai belum termasuk penjara bawah tanah dan tempat eksekusi.
Kemungkinan besar, orang-orang sedang menyiapkan pesta untuk malam nanti. Akan tetapi, dikarenakan bangunan yang berdiri berbeda dan cukup jauh, Antares tidak perlu melewati banyak mata prajurit juga pengikut Jendral Bayzil. Di penjara ini semua penjaga mengenalinya. Antares memasuki bangunan dengan batu-batu berlumut yang basah. Ia menuju penjara di lantai paling bawah. Tidak ada sinar matahari yang masuk, penerangan hanya dari obor yang tidak seberapa banyaknya. Hewan pengerat dan sejenisnya menjadi teman para penghuni. Bau busuk segera terhirup oleh Antares.
“Di mana orang yang semalam dikirim ke sini?” tanya Antares pada salah seorang penjaga. Prajurit itu menunduk sebelum kemudian menunjukan jalan padanya.
Cahaya obor menerangi setiap langkah Antares. Sampai ke penjara paling ujung, sipir penjaga mengulurkan obor ke arah ruangan kecil berjeruji besi tersebut terlihat seorang lelaki dengan rambut lepek dan wajah menunduk tengah duduk di pojokkan.
“Kau!” sentak sipir sambil mnengang jeruji besi berhasil membuat orang itu mengangkat wajahnya. “Bangun.”
Tawa samar setengah meledek keluar dari mulutnya. “Lihatlah! Siapa yang datang ke tempat seperti ini?”
Lelaki itu lalu mendongak, bersandar pada dinding basah yang kotor.
“Apa kau akan membunuhku seperti kau membunuh keluargaku?”
Lagi-lagi seseorang yang tersisa keluarga dari istana yang ia bantai. Apakah dirinya melewatkan banyak orang yang masih selamat?
“Kau pasti ingin bertanya dari mana asalku bukan?”
Antares masih diam berdiri dari luar jeruji dengan kedua lengan di belakang punggung.
“Aku memang bukan anak resmi dari raja yang kau bantai. Aku adalah anak simpanan yang selama ini bersembunyi.” Lelaki itu bangkit dan melangkah menghampiri Antares. “Kau membunuh keluarga kerajaan, aku tidak peduli. Tapi kau membunuh ayahku sekaligus merusak semuanya.”
“Ibuku yang seharusnya akan masuk ke istana sebagai selir resmi setelah mendapat banyak hinaan sebelumnya harus meratapi nasib karena telah kehilangan kesempatan.” Tangan lelaki tersebut kemudian mencengkaram jeruji dengan penuh emosi. “Karena kau dan raja gilamu. Semua rencana menajdi berantakan. Dan ibuku … akhirnya bunuh diri.”
Cengkramannya meraih pakaian Antares. “Itu semua karena kalian.”
Sementara Antares masih memilih diam.
“Tidak kah kalian puas setelah beberapa tahun lalu menyerang negara kami dan mengacak-ngacak semua yang tertara?” Wajah lelaki tersebut kian murka. “Kami telah setuju untuk menjadi bagian dari kekuasaan Orion sialan itu. Tapi kalian membunuh kami seperti kami hanyalah serangga yang telah tak berguna.”
Antares mengambil kedua tangan lelaki ini dan melepasksn cengkaramannya dalam sekali hentakan. “Kau adalah orang kedua yang selamat. Dan aku akan tetap mengatakan hal yang sama.”
Dia mengambil satu langkah mendekat. “Seharusnya kau bersyukur karena selamat dari p*********n dan hanya perlu mekanjutkan kembali hidupmu.”
“Dengan siapa?!” pungkasnya setengah berteriak. “Semua orang yang kumiliki telah pergi!”
“Hidup akan tetap berjalan sebagaimana kau memaknainya meski tidak ada orang-orang yang kau sayangi di sisimu. Itu tidak ada bedanya.”
“Kau berani berkata seperti itu karena tidak pernah berada di posisiku.”
Kali ini Antares yang mengeluarkan tawa kecil mengejek. Tidak banyak yang tahu memang tentang asal usulnya dan Antares tidak perlu menjelaskan. “Baiklah! Aku akan dengan senang hati membuatmu berkumpul kembali bersama orang-orang yang kau sayangi itu. Siang ini, aku yang akan memastikannya.”
*****
Lettasya menghela napas lelah, demam Miguel masih belum turun sejak semalam. Anak itu juga bahkan tidak sadarkan diri. Ini bukan penyakit luar ataupun racun yang seperti ia atasi sebelumnya. Ini tentang ketakutan seorang anak kecil yang mengalami trauma. Lettasya tidak yakin apa yang terjadi dengan Miguel sebelumnya, tapi ia bisa memastikan jika itu berhubungan dengan penyiksaan dan pembunuhan.
Lettasya berjalan menuju dapur untuk mencoba membuat ramuan penenang dan melihat sesuatu di atas meja kayu. Sebuah ramuan basah yang siap pakai tersedia di sana. Lettasya mencium aromanya dan ia bisa mengenali itu adalah ramuan untuk luka gores. Ia tidak merasa membuatnya. Miguel juga tidak menderita luka seperti itu, sampai kemudian Lettasya melihat sebuah pesan yang menjawab pertanyaannya. Ramuan ini adalah obat untuk lukanya yang dibuat oleh Antares.
Dia keluar untuk mencari Antares, tetapi tidak menemukan lelaki itu. Akhirnya Lettasya bertanya pada penjaga.
“Tuan Antares bilang anda harus tetap di dalam rumah.”
Lettasya memang tidak berniat pergi, dia hanya ingin bertanya apa maksud dari pesan Antares yang berbunyi ; Jangan hanya mengobati luka Miguel.
*****
To Be Continue….