Kedatangan Antares ke istana rupanya terdengar oleh Orion, sehingga sang Raja menghampirinya. Bukan hal yang lumrah untuk seorang Raja besar mendatangi penjara yang menjadi tempat para pemberontak serta orang-orang tidak bermoral yang dianggap hina. Untuk itu lah Antares begitu terkejut melihat Orion berdiri menunggunya di depan gedung penjara.
“Yang Mulia, anda tidak boleh berada di sini,” tutur Antares.
Bagi rakyat Yunani, raja merupakan simbol orang dipenuh berkat dari para dewa. Meski Antares tidak yakin apakah Orion termasuk salah satunya mengingat bagaimana dia naik tahta dari dengan cara kudeta.
“Aku mendengar ada orang-orang yang menyerang kediamanmu.”
“Itu benar, Yang Mulia.”
“Dan aku juga mendengar dia adalah bagian dari keluarga yang telah kita bantai sebelumnya.” Orion menatap langit yang cerah di siang hari ini. “Bukan kah aaku sudah pernah memerintahkanmu untuk membantai semua yang memiliki hubungan tanpa menyisakan seorang pun?”
“Saya terlalu ceroboh. Orang yang di dalam merupaka nanak haram dari keluarga kerajaan sehingga tidak banyak yang tahu tentangnya.”
“Anak haram.” Orion mendengus. “Aku tidak mengerti kenapa seorang anak haram bisa mencintai orang tuanya seperti itu. Bukan kah begitu Antares?”
Antares bisa memahami maksud Orion. tidak banyak yang tahu siapa ayah Orion sesungguhnya karena mendiang raja sebelumnya telah mengikrarkan Orion sebagai anaknya meski tidak begitu dengan perlakuannya.
“Saya juga tidak mengerti,” jawab Antares. Meski dirinya mungkin bukan anak haram, tapi apa yang lebih menyedihkan dari seorang anak kandung yang justru ingin dibunuh oleh kedua orang tuanya sendiri.
“Aku akan mengirimkan beberapa orang lagi untuk mengusut semua hal yang tersisa. Sudah dua orang yang kita tahu adalah kelurga yang selamat. Mungkin masih ada orang lain yang juga selamat mengingat begitu banyak wilayah yang telah kita habisi.”
Antares ingin menyela, bahwa mungkin tidak perlu membunuh keluarga yang tersisa jika memang tidak memiliki keinginan untuk mengganggu kekuasaan Orion.
“Mungkin saja ada beberapa yang juga selamat, meski tidak menyerang kita seperti dua orang bodoh iyu. Tapi aku yakin, ketika mereka memiliki kemampuan, meraka akan menjadi lebih merepotkan.”
Setelah mengatakan itu Orion berlalu untuk kemudian berhenti sesaat. Melalui balik bahunya ia berpesan kepada Antares. “Pesta nanti malam. Seperti yang kau tahu, kau tidak perlu datang.”
*****
Lettasya tidak mengerti dengan pemikiran Antares. Lelaki itu yang melukainya dengan belati, tetapi dia juga menyediakan obat untuk luka yang dibuatnya. Memang, luka gores yang didapatnya bukan hanya dari Antares. Melainkan juga dari lelaki yang menyerangnya kemarin. Lettaysa memiliki beberapa luka gores di bagian lengan, siku, dan juga di sudut kening. Akan tetapi ini hanya luka kecil yang tidak terlalu parah. Sedikit perih namun dibanding dengan Miguel ... Lettasya merasa ia bisa menunda penyembuhan untuk dirinya.
Hanya saja, ramuan yang telah dibuat seperti ini khasiatnya akan berkurang apabila tidak segera digunakan. Sebagai pembuat ramuan, ia tidak akan menyia-nyiakan sebuah obat. Ia mencoba mengoleskan beberapa di bagian leher, juga di belakang punggung, ini cukup menyulitkan.
“Perlu bantuan?” Lettasya berjengit terkejut mendengar suara dari belakang.
Astaga! Kenapa orang ini selalu muncul tiba-tiba seperti hantu?
“Saya masih bisa sendiri, Tuan. Terima kasih.”
Namun tentu saja Antares tidak menganggap jawaban Lettasya sebagai penolakan. Lelaki itu tetap mengambil ramuan untuk dioleskan di beberapa luka yang sulit dijangkau dan tidak terlihat. Seperti siku, leher dan bahu. Antares mendudukan Lettasya sementara dirinya berdiri di sisi wanita itu.
“Kau pernah menyelamatkanku dari racun, anggap saja aku sedang membayarnya.” Antares lalu mendorong pelan dagu Lettasya ke atas agar ia lebih mudah mengolesin obat. Menampakan kulit putih dengan leher jenjangnya. Lettasya bisa merasakan dingin dan sedikit perih ketika obat itu menyentuh lukanya.
“Untuk beberapa hari ke depan, panggil lah aku dengan Antares tanpa embal-embel ‘Tuan’ lagi.”
Lettasya melirik bingung. Akan tetapai ia tidak berani bertanya.
“Aku mungkin akan berhenti sejenak dengan urusan kerajaan,” tuturnya tiba-tiba. “Meski aku lebih ingin bebas seterusnya, tapi aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku telah bersumpah untuk mengabdi selama sisa hidupku. Kecuali Raja Orion melepaskanku.”
“Bukan itu. Maksud saya kenapa Tuan—“ Lettasya mengoreksi ucapanya. “Maksud saya kenapa anda tidak ingin menjadi prajurit kerajaan lagi? Bukan kah hidup sebagai tangan kanan raja merupakan hal yang istimewa. Dan anda bisa masuk keluar istana kapan pun, mendapat banyak uang dan makanan enak.”
Di kerajaan Lettasya, banyak rakyat yang bersedia menjadi abdi kerajaan karena dengan itu mereka dan keluarganya setidaknya akan mendapatkan bahan pangan yang cukup. Akan tetapi, Lettasya menyadari … jika setiap wilayah memiliki kebijakan yang berbeda. Terlebih ini adalah ibu kota. Di mana kerajaan Binzandium diperintah oleh Raja Orion yang ia semua orang tahu seperti apa gilanya dia.
“Kau pasti sudah banyak mendengara tentang Raja Kami.”
“Apa anda mengalami kesulitan selama ini?”
“Aku hanya merasa … lelah.”
Lettasya menurunkan wajahnya dan sepasang mata itu serentak menatap Antares dalam.
“Aku telah berteman lama dengan kesepian, menjalani hidup tanpa ada keinginan. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa mulai merasa merindukan orang-orang di masa lalu dan mulai menginginkan sesuatu .” Antares menggeser tempat obat dan menyandarkan tubuhnya pada meja. “Aku rasa aku memang gila karena memikirkan mereka yang telah menyakitiku.”
“Saya mengerti.”
Antares terpaku.
“Anda merasa seperti sesuatu yang dibunag hanya kerana anda melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka terima. Mereka … orang-orang yang anda sayangi tidak mempercayai anda justru mendorong anda menjauh, lalu melupakan anda seperti tidak terjadi apa pun. Sementara kita di suatu tempat, menangisi jarak perpisahan dan lebih tidak masuk akal merindukan mereka. Berharap aka nada yang mencari kita, berharap ada yang merasa kehilangan keberadaan kita. Sampai di titik kita menyadari bahwa semua hanya harapan seoarah.”
Penjelasan itu begitu sempurna untuk perasaan Antares yang merindukan keluarganya. Merindukan kenyamanan sebuah keluarga dan diam-diam berharap waktu bisa diputar. “Apa kau seorang cenayang?”
Lettasya mengerjap. “Tentu saja tidak.”
“Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti tadi?”
“Itu….” Lettasya melarikan pandangannya. “Saya rasa saya harus pergi memeriksa Miguel sebentar.”
Wanita itu telah berdiri, namun Antares menahan pundaknya dengan satu tangan seolah berkata agar tidak berusaha lari dari pertanyaannya. Akan tetapi sentuhan itu terlalu menyakitkan kerana persis di tempat Lettasya yang terluka hingga Lettasya mengaduh.
“Kau masih memiliki luka.” Antares menyadari itu. “Biar aku lihat bahu kirimu.”
“Tidak perlu,” sahut Lettasya cepat.
Suasana seketika hening oleh karean kecanggungan.
“Saya hanya merasa tidak nyaman,” cicitnya seraya menunduk.
“Untuk seorang wanita yang tidak canggung melihat tubuh lelaki bahkan mencium leherku kau masih merasa malu?”
“Itu berbeda.” Antares mungkin merasa Lettasya tidak seharusnya malu terhadap lelaki setelah banyak hal yang ia lakukan termasuk mengecup leher Antares. “Itu saya lakukan karena saya harus menyembuhkan anda.”
Seolah alasan tadi tidak cukup kuat bagi Antares. Lelaki itu menarik Lettasya hingga ia terjebak di antara meja dan kurungan Antares. Dengan tatapan mata yang menyala, Antares mendekatkan wajah, lalu membisikan sesuatau yang berhasil membuat wajah Lettasya memerah.
*****
To Be Continue…