Terbuai

1231 Kata
 Ini tentang merasa ditemukan setelah melalui perjalanan panjang tanpa seorang pun yang mengerti dirinya dan hanya memintanya menjalani hidup dengan rasa syukur. Bukan Antares tidak berterima kasih pada dewa dan juga Raja Orion yang telah menyelamatkannya dari tragedi masa lalu. Hanya saja ada kalanya Antares berpikir mungkin jika dirinya bernasib sama dengan Aegis—sang Adik, Antares tidak perlu mengabdikan diri pada Orion. Tidak perlu membunuh banyak orang. Tidak perlu menjadi anjing istana. Kemudian bagaimana Lettasya menjelaskan bahwa wanita itu juga mengerti apa yang Antares rasakan, dadanya mendadak terasa penuh. Ia yakin Lettasya tidak mengetahui masa lalunya. Di ibu kota, selain Raja Orion dan Jendral Bayzil tidak ada yang tahu asal usul Antares dibawa ke istana. Bahkan tidak pula Putri Cleosana. “Kau … aku bertanya-tanya sebelumnya.” Antares menatap lekat mata hazel milik Lettasya. “Kenapa aku menampungmu di rumahku, membiarkanmu tinggal di sini, dan bagaimana kau mempengaruhi sebagian dari diriku.” Lelaki itu lantas kian mengusir jarak di antara mereka dengan mendekatkan diri hingga nyaris berdempetan. Embusan napas hangat menerpa kulit wajah Lettasya, dan ia mulai merasa udaradi sekitar mereka memanasa. “Tu-tuan.” “Antares,” pungkasnya. “Panggil namaku!” Lettasya menggigit bibir membuat pandangan Antares ikut turun ke sana. “Panggil aku Lettasya.” tangan Antares berpindah melingkar di pinggang ramping milik Lettasya. Sesuatu menyengat di dalam diri wanita itu dan menyebar menjadi gelanyar aneh yang membuatnya jantungnya ikut berdegub kencang. “Antares,” panggilnya. Kemudian Lettasya tidak bisa berpikir lagi ketika Antares mempertemukan bibir mereka. Untuk beberapa detik yang dilaluinya oleh keterkejutan, isi kepalanya memerintah untuk mendorong Antares menjauh, tetapi kecupan lembut nan manis itu membuat Lettasya tanpa sadar memejamkan mata sedangakan kedua tangannya berpegang erat pada sisi meja. Ciuman Antares kian dalam, lengan kokoh lelaki itu yang melingkar di pinggang Lettasya semakin erat. Cukup dengan sekali gerakan tubuh Lettasya terangkat ke atas meja. Sementara tangan Antares yang lain mulai mengelus pelan pada paha Lettasya. katakan lah Antares tidak waras karena berpikir untuk melakukan hal yang lebih dari ini seperti mengangkatnya ke ruang miliknya dan melucuti pembatas kulit meraka agar saling bersentuhan. Selama berada di perbatasan utara Antares kerap mendatangi rumah beratap merah untuk mengenyahkan pikirannya bila teringat tentang wanita yang kini berada dalam dekapannya. Mencari pelampiasan untuk keinginan gilanya dan seperti yang sering Antares bayangkan saat mengunjungi wanita-wanita penghuni rumah beratap merah. Rasa Lettasya melebihi yang ia perkirakan. Cukup untuk meluapkan keinginan liar di dalam diri Antares yang selama ini ia bendung. Bibir Antares mengulum bibir Lettasya dengan penuh kelembutan, menariknya dalam bentuk hisapan dan berubah menjadi lumatan panas. “Antares.” Satu desaahan meluncur dari bibir Lettasya disusul seruan namanya mana kala ciuman Antares merambat turun ke rahang dan leher wanita itu. Pikirannya berkabut. Tetapi satu tangan Lettasya berhasil menahan pergerakan Antares yang menyusup semakin dalam. Tentu saja, ini ciuman pertamanya. Dan Lettasya belum mampu menyiapkan diri untuk menerima lebih dari batas yang ia izinkan. Antares menyadari keraguan Lettasya, ia tidak memaksakan diri. Namun tidak juga menghentikan gerakannya, justru menggantikannya dengan elusan. Antarse bukan seorang pemula, tentu ia tahu bagaimana cara membuat seorang wanita semakin hilang kendali. Lelaki itu menurunkan satu sisi baju Lettasya, lalu memberi kecupan-kecupan ringan sebelum meninggalakn sedikit gigitan pada bahu dan Lettasya pun mendesah lagi. Sial! Antares mengerang di dalam hati. Ia merasa tidak bisa berhenti, tapi kenapa ia harus berhenti jika apa yang selama ini ia inginkan sudah berada dalam genggaman. Akan tetapi kedatangan seorang prajurit yang memasuki rumahnya berhasil membuat keduanya memisahkan diri. “Maafkan saya.” Prajurit itu segera membalikan badan. Antares menarik kembali baju Lettasya untuk menutupi bahu wanita itu. “Ada apa?” tanyanya datar seolah tidak terjadi apa pun. Lain halnya dengan Lettasya yang segera turun dari meja dan menyembunyikan wajahnya yang ia yakin telah memerah. Rencananya Lettasya akan mengingsut pergi dari tempat itu tanpa Antares sadari. Namun, lelaki itu menyadari pergerakan Lettasya serta berhasil menahan pergelangan tangannya. Sehingga akhirnya LEttasya memilih bersembunyi di balik tubuh Antares. “Saya mendapat perintah untuk menarik prajurit di rumah anda.” “Atas perintah siapa?” “Jendral Bayzil. Beliau mengatakan jika pesta yang diadakan lebih penting saat ini sehingga membutuhkan lebih banyak prajurit terlatih.” Prajurit istana di negara ini lebih dari cukup. Antares dan Jendral Bayzil memiliki pasukan yang berbeda di bawah pimpinannya. Jadi alasan tadi sebenarnya cukup untuk menjelaskan bahwa Jendral Bayzil ingin mempermalukan Antares karena hanya ia yang tidak berada di pesta itu, bahkan prajurit bawahannya ikut serta menjaga. Akan tetapi Antares terlalu malas untung melayani permainan Jendral Bayzil sehingga mempersilakan mereak semua pamit dari rumahnya. Lagipula Antares kini telah memiliki mainan baru, bukan?! Setelah kepergian prajurit tersebut Antares mengajak Lettasya untuk berjalan menunju taman belakang tempat ia memiliki taman botanica sementara Lettasya tidak memiliki daya untuk menolak. “Kau tahu kenapa aku memiliki taman ini?” Lettasya menggeleng pelan, mata hazelnya belum berani menatap Antares langsung. “Karena adikku menyukai tanaman herbal. Ia memiliki kemampuan untuk menjadi peracik ramuan. Bahkan aku yakin dia bisa saja menjadi seorang balian kelak.” “Lalu di mana adik anda?” “Dia meninggal.” Antares berbalik “Di tanganku.” Mata hazel Lettasya melebar tak percaya.   “Setidaknya begitulah yang orang tua dan semua orang di tempatku berasal mengatakannya.” Antares menyimpan lengannya di balik punggung. “Karena hal itu lah mereka mencoba membunuhku.” Kali ini wanita itu terkesiap. Antares masih berdiri diam, menunggu reaksi Lettasya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya wanita itu. “Untuk sekarang, iya.” Antares kembali menarik tangan Lettasya untuk kemudian mengajaknya duduk di salah satu batu besar yang tak jauh dari sana. “Raja Orion menyelamatkanku.” “Maka dari itulah anda mengabdikan diri padanya?” Lelaki itu mengangguk kecil. “Bagiamana denganmu?” “Saya?” “Apa tujuanmu ke ibu kota ini?” “Saya sedang mencari seseorang.” “Apakah dia suamimu?” tebak Antares dengan raut wajah tak senang. “Tidak!” sahut Lettasya cepat. “Tidak. Bukan itu. Saya tidak memiliki suami.” Lettasya bisa menebak melalui ekspresi lelaki itu yang kini tengah menautkan alis. Dia yakin Antares yang masih mengira Miguel adalah anaknya tengah berpikir Lettasya memiliki seorang anak tanpa keberadaan ayahnya. Hal lumrah di masyarakat negeri ini sesungguhnya sehingga Lettasya tidak berniat menjelaskan lebih lanjut. “Dan saya juga mengalaminya,” sambung Lettasya. “Dibuang oleh orang tua saya. Karena saya memiliki ketertarikan pada tanaman dan racun.” Untuk sebagaian kecil, menjadi Balian atau Rhizmyts merupakan hal terbaik. Tetapi untuk sebagian besar lainnya, itu sebuah keanehan. Lelaki yang lebih memilih menjadi Balian adalah mereka yang tidak memiliki keahlian berpedang. Dan itu sama saja dengan kehilangan kebanggananya sebagai sosok seorang pria nan gagah. Sedangkan wanita di banyak negara yang berdiri di tanah yunani dinilai dari seberapa anggun dan pandai menghibur suami-suami mereka. Ketika wanita memiliki keinginan sebagai bagian dari Balian atau Rhizmyts sama dengan lebih rendah derajatnya dari wanita-wanita penghibur di luar sana. Ironisnya, mereka yang menganggap orang-orang Balian dan Rhizmyts sebagai orangorang yan tidak bisa memenuhi kodrat mereka juga membutuhkan keduanya saat berada dalam keadaan sakit maupun nyaris mati. “Dari mana kau berasal Lettasya?” tanya Antares. “Aku telah menyelidikimu sebelumnya. Akan tetapi mereka tidak menemukan sedikitpun informasi tentangmu.” Lettasya tidak sempat mempersiapkan jawaban untuk itu. Dia bahkan tidak yakin akan memberi tahu kebenaran tentang Miguel setelah mengetahui posisi Antares di istana. Tidak pula tentang dirinya, itu terlampau berbahaya. “Saya….” ***** To Be Continue….          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN