“Dari mana kau berasal Lettasya?” tanya Antares. “Aku telah menyelidikimu sebelumnya. Akan tetapi mereka tidak menemukan sedikitpun informasi tentangmu.”
Lettasya terlalu terkejut dengan pengakuan Antares yang menyelidikkinya, sehingga tidak sempat mempersiapkan jawaban untuk itu. Dia bahkan tidak yakin akan memberi tahu kebenaran tentang Miguel setelah mengetahui posisi Antares di istana. Tidak pula tentang dirinya, itu terlampau berbahaya. “Saya….”
Antares menunggu dengan tenang.
“Saya tidak ingat dari mana saya berasal. Saya telah mendatangi banyak tempat karena saya tersesat. Terakhir kali saya bisa kembali, saya melihat keadaan di sana telah berbeda.” Hanya jawaban itu yang terlintas dari pikiran Lettasya. Sebagian kebenaran yang dicampur kebohongan. “Bagaimana dengan anda?”
Pertanyaan itu semata Lettasya tunjukan agar Antares tidak menanyakan latar belakang Lettasya lebih banyak.
“Kau ingin tahu sebuah rahasia?” tanya Antares dengan senyum penuh makna.
Lettasya memiringkan kepalanya tak paham, tapi ia tetap mengikuti langkah Antares yang bangkit dari dududknya dan menuju area yang sempat membuat Lettasya terpanggil ketika pertama kali menginjakan kaki di taman ini. Sebuah pintu besar dengan suara-suara aneh.
“Ini….”
“Bukan kah kau sempat mencoba memasukinya saat pertama kali datang ke sini? aku harap kau tidak terkejut melihat apa yang ada di dalamnya.”
Lelaki itu bergerak mendorong pintu besar dengan satu tangan. Lettasya bisa mengintip sebagian dari tempatnya berada. Bukan hal yang terlalu mengejutkan saat merka memasukinya dan terdapat banyak sekali ular berbisa, laba-laba beracun, kalajengking dan binatang-binatang ganas lainnya. Karena Lettasya mulai menyadari bisa mendengar salah satu suara dari binatang beracun itu—kalajengking—sejak dia selamat dari padang pasir.
“Sepertinya kau tidak terkejut?” tanya Antares yang melihat wajah Lettasya datar-datar saja.
“Saya terkejut.” Sedikit.
Ketika pertama kali ke sini, suara desisan dari ular dan bagaimana para kalajengking itu memanggilnya lah yang membawa kaki Lettasya ke sana. Ruangan itu tampak lebih besar dari dugaannya. Banyak aneka macam pohon rindang serta tanaman rambat yang rimbun sehingga mengurangi cahaya matahari masuk. Lalu mata hazelnya bisa melihat ada beberapa ular dengan warna yang serupa hijau daun yang bersemanyam di pepohonan. Ada pula yang berwarna hitam dengan cincin kuning.
Menoleh ke sisi kiri, tak jauh dari tempatnya Lettasya melihat seekor laba-laba hitam pekat yang memiliki sedikit warna merah di bagian belakang, ada pun yang berwarna cokelat kekuningan tengah memintal sarangnya, bila dilihat dari dekat laba-laba itu memiliki sedikit bulu yang tampak cukup tajam.
“Hati-hati dengan langkahmu!” Antares menarik Lettasya hingga menubruk dadda lelaki itu. Lettasya yang terkejut menatap wajah Antares dengan bingung dan lelaki itu mengedikan dagu sebagi isyarat. Membuat Lettasya ikut menatap pada arah yang dituju.
Di bawah sana ada seekor ular bertubuh lumayan besar yang tengah melingkar. Warnanya serupa tanah dengan beberapa titik hitam di sepanjang punggung, dan kepalanya berbentuk hati.
Tidak hanya itu, setelah memperhatikan lebih teliti, Lettasya menemukan banyak ular yang bersemayam di berbagai sudut. Tempat ini benar-benar sempurna untuk menjadi sarang hewan-hewan beracun.
“Aku mendapatkan mereka dari banyak tempat, lalu mengumpulkannya ke sini.”
Mata hazel Lettasya masih memindai dengan hati-hati.
“Bagaimana anda bisa memelihara mereka di satu ruangan?” tanya wanita itu.
Antares menarik satu sudut bibirnya. Untuk pertama kali Lettasya melihat Antares tersenyum simpul sehingga mengira dirinya sedang bermimpi. Lettasya merasa tidak ada yang lucu dengan pertanyaan ini. “Kenapa?”
“Bisa kah kau memanggilku Antares seperti yang aku bilang beberapa waktu lalu? Dan berhenti menggunakan ‘saya’ ganti dengan ‘aku’ mengingat apa yang kita lakukan beberapa waktu lalu meja dapur.”
Bukan karena takut atau efek dari panas cahaya matahari sehingga membakar kulit wajahnya menjadi memerah. Lettasya hanya merasa apa yang mereka lakukan tadi cukup memalukan.
“Pada dasarnya binatang itu hidup berdampingan meski di alam liar. Tidak akan dari meraka memangsa satu sama lain selama makanannya terbutuhi.”
“Jadi maksud and—kau, kau yang memberi mereka makan?”
Antares mengangguk. “Aku memnyediakan hewan-hewan yang menajdi santapan mereka dalam keadaan hidup dan menyebarkannya di sini. gunanya agar para binatang ini tidak mengurangi insting liar mereka.”
“Kenapa kau memelihara mereka?”
“Aku hanya merasa terkesan. Dan...”
Antares melarikan pandangannya jauh ke depan seolah pikirannya justru tidak berada di sini bersananya. “Aku dan adikku sama-sama menyukai binatang-binatang ini.”
Dalam ingatannya, Antares lebih dulu menyukai binatang beracun, di mula sejak dirinya digigir ular krait biru. Karena terpikat oleh warna itu, tetapi ia bisa bertahan dari racun tersebut berkat kemampuan Aegis. Karena ia dan adiknya sama sekali tidak memberitahu orang tua mereka. Dari situ Antares tidak lagi takut terhadap hewan-hewan berbisa. Sejatinya ia lebih suka hewan-hewan ini. hanya saja ketika orang tuanya melaran gmereka, Antares mencari kegemeran lain. yakni belajar pedang.
Untuk seumuran dirinya kala itu, Antares bisa dibilang terlambat dalam belajar pertahanan diri apalagi menggunakan senjata. Namun, melihat ayahnya melkukan hal-hal kerena, ia pun terpacu untuk bisa melakukan hal yang sama juga.
Jika waktu bisa diputar, mungkin Antares akan berhenti belajar pedang. Berhenti berkelahi atau sekedar belajar pertahanan diri. Dia akan mengikuti adiknya yang mencari tanaman langka atau memelihara diam-diam hewan beracun itu. Karena kini, dengan keahlian pedang serta pertahanan dirinya laha ia menjadi orang yang harus selalu membunuh demi membayar jasanya terhadap Raja Orion.
“Memelihara mereka bisa membangkitkan ingatanku terhadap adikku.”
Lettasya tidak berbohong ketika ia merasa kalimat yang keluar dari mulut Antares terasa bermakna. Karena sebagai seorang kakak yang rela mendatangi ibu kota. Lettasya juga akan melakukan segalanya demi adiknya.
“Sebenarnya … orang yang kucari di ibukota adalah adikku.” Kalimat pengakuan itu meluncur begitu saja dari mulut Lettasya. Sebagai mana dirinya yang ikut hanyut pada pesona Antares. Perlakuan Antares yang berubah seperti sekarang selain membuat hatinya merasa iba, juga memiliki garis takdir yang sama. “Aku kehilangannya dan mendengar dia berada di ibu kota.”
“Kau bisa mengatakan padaku nama dan wajahnya, aku akan mencoba membantumu.”
Penawaran Antares tentu tidak akan pernah Lettasya terima karena itu sama saja dengan mengungkapkan siapa dirinya. “Aku akan mencarinya sendiri.”
Wanita itu lalu kembali melangkah, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Kenapa ular ini berada di sini?”
“Yang itu adalah ular Mojave.” Antares menunjuk pada ular dengan ekor yang bisa bergetar ke atas. Ular itu di masukan ke dalam peti kaca berisi banyak pasir. “Karena ia hidup di tempat yang gersang, maka ia tidak bisa di tempatnya bersama hewan lainnya.”
Lettasya mengangguk paham.
“Mana yang paling menurutmu?”
“Yang itu….” Lettasya menunjuk seekor kalajengking dengan kuning kemerahan berbeda. Warna yang asing dari kebanyakan kalajengking yang orang-orang ketahui.
Hottentotta tamulus, sahut Lettasya dalam hati.
“Hottentotta tamulus.” Antares menjelaskan. “Aku kesulitan mendapatkannya tapi dia memang yang paling langka dan paling berbahaya di antara jenisnya.”
Wanita itu menggangguk setuju.
“Lettasya, katakan dengan jujur. Apa kau seorang Rhyzmitz?”
Seketika mata hazel Lettasya membulat. “Apa maksudmu?”
Sorot mata Antares berubah. Wajahnya jelas menyiratkan kecurigaan dan Lettasya baru menyadari, bahwa tujuan Antares membawanya ke sini adalah untuk menyelidikinya. Seperti yang ia katakana, ia tidak bisa mengetahui latar belakang Lettasya. untuk itulah Antares menyelidikinya sendiri.
“Tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kau terlalu pandai dalam menangani racun yang bahkan belum banyak yang tahu.” Antares mengambil satu langkah mendekat. “Kau bahkan mengetahui tentang binatang beracun di sini.”
Dia kembali memangkas jarang sehingga Lettasya ikut bergerak mundur. “Itu bukan hal umum yang diketahi banyak orang. Apa aku salah?”
Lettasya menggeleng ragu.
“Kalau begitu berikan aku jawabannya Lettasya.”
“Aku … aku hanya….” Punggung wanita itu menabrak pintu yang tertutup. “Aku tersesat dalam waktu yang lama.”
Lettasya kembali menggeleng. “Sebenarnya aku dibuang.” Kemudian mengalirlah cerita di masa lalu. “Ayahku mulai menyadari jika aku menyukai tanaman yang berbeda dari pada kebanyakan gadis lainnya, begitu juga dengan hewan peliharaan. Satu ketika ayah mengajakku dan adikku pergi berjalan-jalan, tapi aku dtinggalakan begitu saja. Ayah bersama adikku tidak pernah kembali. Jadi aku harus bisa bertahan sendiri.”
Itu benar, tetapi tebakan Antares juga tidak salah. Ia bertemu dengan seorang Rhyzmitz dan akhirnya membawa Lettasya untuk belajar lebih banyak tentang ilmu obat-obatan. Sayangnya ia tidak bisa melanjutkan lebih lama.
“Benarkah itu?”
“Saya berkata apa adanya.” Lettasya tidak berbohong, dia hanya mengakui sebagian kebenaran.
Antares tidak menjawab apa pun lagi selain meninggalkan kecemasan pada Lettasya, lalu mengajak wanita itu meninggalkan tempat tersebut “Ayo kita keluar!”
“Kita akan ke mana?”
“Kau akan melihatnya nanti.”
“Aku tidak bisa meninggalkan Miguel sendirian.”
Benar. Lagi pula tidak ada orang lain yang berjaga di rumahnya saat ini. mereka hanya bertiga.
“Kita tidak akan keluar rumah. Aku tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula ada hal yang lebih penting.”
Keduanya kembali masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya menuju ruang kerja Antares. Jajaran buku-buku terpajang di banyak sisi. Lelaki itu lalu menghelanya ke sebuah kursi panjang yang biasa digunakan Antares sebegai tempat tidur.
“Kita akan melanjutkan yang sempat tertunda.”
Benak Lettasya tidak bisa berpikir selain menuju ke kejadian sebelumnya yang membuat wajahnya terasa panas. Terlebih saat ia melihat Antares melepas pakaiannya. Demi dewa, jantung Lettasya terasa seperti akan berhenti.
“Antares sepertinya….” Yang dipanggil namanya berbalik dan entah mengapa kali ini Lettasya merasa malu. Padahal sebelumnya ia tidak masalah melihat tubuh siapapun.
“Apa kau pernah mendengar tentang Rhyzmits?”
Wanita itu mengerjap beberapa kali karena tidak bisa mencerna pertanyaan Antares dengan baik oleh sebab Antares yang duduk persis di sampingnya masih belum mengenakan pakaian.
“Tentu saja.”
“Apa menurutmu yang bisa kita bisa menemukan mereka?”
“Untuk apa kau mencari mereka?”
“Aku hanya butuh sedikit informasi.”
“Apakah Raja Orion yang menyuruhmu?”
Lelaki itu menggeleng. “Aku butuh informasi untuk tujuanku sendiri.”
“Tujuanmu?”
“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku nyaris dibunuh oleh keluargaku dan seluruh penghuni desa. Mengabaikan semua pengakuanku. Menuduhku pembunuh bahkan berlaku tidak adil padaku dan Aegis hanya karena kami memiliki keahlian yang berbeda.”
“Dan apa hubungannya dengan Rhyzmits?”
“Ketua mereka sekrang seorang Rhyzmits setengah gila yang tidak ragu untuk mengorbankan para penduduk.”
“Kau akan membalas dendam dengan para penduduk dengan cara bekerja sama dengannya?” tebak Lettasya.
Namun lelaki itu menggeleng pelan. “Aku sempat merasakan hal itu, ingin membalas dendam pada mereka yang telah memperlakukanku dengan tidak adil.”
Kedua pasang mata itu saling menatap. Lettasya yang mencoba memahami sementara Antares dengan pengakuan yang menyedihkan. “Tapi aku tidak bisa. Aku hanya tidak ingin mereka menderita.”
Bahkan saat Orion menjanjikan wilayah Arcadia untuknya kelak setelah merebutnya. Antares mengalami dilemma, dia harus mengikuti perintah sang raja. Namun, hatinya merasa tidak ingin orang-orang di sana terluka. Bagaimana pun Arcadia merupakan tanah kelahirannya. Lagi pula Antares tidak yakin Orion benar-benar akan menghibahkan wilayah itu padanya.
Antares tersenyum miris. “Bukan kah aku bodoh?”
Lettasya segera menggeleng, lalu entaah keberanian dari mana. Kedua tangannya meraup wajah Antares yang bersedih. “Itu karena kau memiliki hati.”
Sekali lagi, Lettasya memahami perasaan Antares. Karena dirinya juga masih merindukan keluarganya, tetap mencoba kembali ke istana setelah sebelumnya jelas-jelas dia dibuang.
“Aku hanya seorang anjing istana. Tangan kanan orion yang telah banyak melakukan hal kotor juga membunuh banyak orang. Aku—”
Lettasya menyerbu bibir Antares tanpa perkiraan, semata agar lelaki itu tidak lagi memandang rendah dirinya sendiri. Akan tetapi kecupan itu berganti menjadi lumatan ketika Antares menyambut ciumannya.
Hebatnya, kali ini Lettasya tidak lagi memiliki keinginan untuk menolak. Sepenuh tubuhnya membiarkan Antares menyentuhnya. Memberi usapan lembut pada punggung yang terbuka. Wanita itu hanya ingin melupakan semua yang mereka bicarakan saat ini. melihat Antares seperti itu seperti melihat dirinya sendiri dan dia tidak suka terlihat rapuh di depan orang lain. Lettasya menyadari jika itu juga yang Antares rasanya. Selama ini dia hanya menahan diri. Bertahan dengan keadaan dan terus mengatakan pada diri sendiri semua ini sudah terbaik.
“Kau tahu, sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana bisa aku membiarkan wanita sepertimu mempengaruhiku, Lettasya.” Antares tersenyum disela ciuman mereka.
“Apa kau percaya bahwa dewa bisa mempengaruhi perasaan manusia?”
Antares tidak berpikir ke sana. Sama seperti peramal, Antares juga tidak terlalu percaya dewa.
“Aku lebih percaya bahwa kau kini berada bersamaku dan kita akan melakukan hal yang lebih dari yang telah kita lakukan siang tadi,” bisiknya persis di telinga Lettsaya menimbulkan gelanyar aneh yang menyebar ke seluruh tubuh.
Hati Lettasya penuh oleh perasaan yang belum pernah ia rasa sebelumnya, perutnya terasa tergelitik. Saat jemari Antares mengusap semakin ke bawah dan menarik lepas tali kamisol sesaat kemudian bergerak membelai pinggangnya.
Satu kesiap halus lolos dari bibirnya saat sentuhan Antares kian gencar. Lettasya menerima sepenuhnya apa pun yang akan Antares lakukan beberapa waktu ke depan. Lettsya sudah bisa menebak seperti apa pikiran lelaki itu sekarang. Kilat mata cokelat Antares cukup untuk membuat Lettasya menyadarinya. Namun, ia tidak ingin berhenti.
Maka, sore itu pun menjadi hari yang mungkin akan Lettasya sesali. Juga membuat Antares mengetahui jika faktanya, Lettasya merupakan seorang gadis dan itu berarti Miguel bukanlah anaknya seperti sebagaimana yang ia percayai selama ini.
*****
To Be Continue…