Rasa mual itu membuat Lettasya tidak bisa menahan diri, ia memilih pergi dari sana kemudian bersandar pada dinding setelah berjalan terhuyung karena rasa tidak nyaman. Meninggalkan cahaya lilin yang terang di belakang sana demi mengatur napas yang mendadak terasa sesak hingga kemudian sebuah bayangan dari sosok yang berada di belakang Lettasya terlihat jelas. Mata hazel wanita itu membeliak terkejut ketika berbalik da melihat sebuah pisau yang diangkat tinggi, siap untuk dihunuskan kepadanya. Dengan segenap tenaga yang tersisa Lettasya mengelak ke sisi untuk menghindar, hingga sosok lelaki tersebut nyaris tersungkur karena menggunakan hampir seluruh kekuatannya agar bisa melukai Lettasya sedalam mungkin. Lelaki itu menoleh dengan wajah dan sorot mata yang begitu murka. Ia menggeram, “Mat

