Tanah bergetar seiring hentakan kaki kedua raksasa. Artemis sudah mengumpat dalam hati. Bukan karena dia takut, bukan pula karena dia tidak bisa melawan raksasa ini. Namun lebih karena melawan mahluk dengan tubuh seperti mereka begitu merepotkan, Artemis bisa saja melarikan diri, tapi ia yakin. Kedatangan Aktaion lalu dua raksasa ini bukan sebuah kebetulan. Seseorang sedang memburu dirinya. Satu nama terlintas di benak Artemis, mungkinkah ibu para dewa dewi telah mengetahui rencananya untuk menyakiti Lettasya? Siapapun itu Artemis harus memikirkan cara untuk mengalahkan lawannya atau dia akan selamanya menjadi buruan. Hal pertama yang dia lakukan adalah memantau kedua raksasanya itu sambil membuat rencana. Dua raksasa dengan jari kaki yang bau itu berhenti di dekat persembunyian Artemis.

