Careless

2132 Kata
“Jadi, kamu sudah tahu siapa pemilik dari coat itu? Beneran dia adalah senior kita?” tanya Alya yang kini berhadapan dengan Mikaela. Kedua gadis itu kini sedang berada di sebuah café setelah dari kampus untuk mengurus beberapa hal terkait dengan tugas. “Begitulah! Eh, tapi kenapa kamu tidak pulang ke Indonesia? Ini kan liburan musim dingin dan semua tugas kamu sudah kelar?” Mikaela bertanya balik kepada temannya. “Hahaha! Umi bilang mending ongkos pulang jadi uang jajan aku aja. Kamu tahu sendiri berapa biayanya. Aku kan gak sekaya kamu. Terkadang, aku iri sama Angel dan Nathasha yang sudah balik,” jawab Alya membuat Mikaela merasa bersalah sudah bertanya soal itu. “Maaf, gak gitu maksud aku kok! Aku juga gak pulang! Aku ingin menikmati musim dingin di negeri Paman Sam!” Mikaela berusaha menghibur Alya supaya tak terlalu sedih memikirkan soal ketidakpulangan mereka. Kedua gadis itu pun ber tos ria karena sama –sama mahasiswa asli dari Indonesia yang tidak kembali saat liburan. Setelah pertemuannya dengan Alya, Mikaela memutuskan untuk kembali dan beristirahat. Musim dingin membuatnya malas melakukan apa –apa dan rasanya ingin tidur saja di atas pulau kasurnya. Tapi saat akan sampai ke apartemennya, dia bertemu dengan tetangga baiknya, Willy! Tentu saja, Mikaela langsung tersenyum dan menyapa Willy. “Halo, senior! Kelihatannya anda baru akan pergi?” tanya Mikaela. “Iya, aku akan pergi sendiri ke sebuah panti asuhan.” Willy menjawab seadanya saja. “Panti asuhan? Wahh! Kamu baik banget ya! Boleh aku ikut? Kebetulan tidak ada jadwal yang aku rencanakan hari ini!” pinta Mikaela membuat Willy terkejut. “Aku tidak tahu kamu tertarik soal ini! Tentu saja boleh!” Willy memberi izin dan mereka berjalan bersama untuk menaiki mobil milik Willy. Ya, Mikaela memilih ikut dengan Willy karena tidak ada yang akan dilakukannya di apartemen setelah ini. Selain itu, Mikaela sangat penasaran dengan sosok Willy dan ingin jauh lebih mengenal pria itu lebih jauh! Selama Willy tidak melarangnya, itu berarti yang dilakukannya bukan sesuatu yang berlebihan kan? Itulah yang dipikirkannya saat ini. “Cassie, tidak kembali ke Indonesia? Ini sudah liburan kan? Sebentar lagi juga perayaan Natal dan kamu mesti kumpul bersama keluargamu,” kata Willy memulai pembicaraan di antara mereka. “Benar juga sih! Tapi keluarga kami tidak hanya berkumpul setahun sekali kok! Aku ingin tahun pertamaku kuhabiskan di Amerika dan terbiasa dengan iklim di sini walau kadang kedinginan sih! Dan keluargaku, mereka sama sekali tidak keberatan,” jawab Mikaela diangguki paham oleh Willy. “Apa kau nyaman hidup sendiri?” tanya Willy lagi. “Siapa yang nyaman sendirian, hm? Tentu saja tidak! Tapi Papa dan seluruh keluargaku selalu saja menghubungiku tanpa bolong sama sekali! Mereka tak berhenti perhatikan aku, sehingga aku sama sekali tidak merasa sendirian,” ungkap Mikaela sejujurnya saja. “Woahh!! Keluargamu hangat sekali ya!” puji Willy yang kagum dengan keluarga yang dimiliki Mikaela. “Tentu saja! Tapi kamu kan juga punya keluarga! Walau maaf… kamu gak punya orang tua, tapi kamu masih punya kakak dan Paman, bukan? Kalian juga bisa berkumpul kan?” tanya Mikaela membuat Willy tiba –tiba menghentikan mobilnya. Ia menginjakkan rem karena mendengar pertanyaan itu lalu menatap Mikaela sejenak. Melihat tatapan itu, rasanya Mikaela baru saja salah bicara. “Ah, maaf! Reaksiku berlebihan ya? Tapi aku memang terkejut!” ujar Willy kembali menjalankan mobilnya. Mikaela memperhatikan ekspresi Willy yang berubah kalau membicarakan keluarganya. “Aku lah yang harusnya minta maaf karena gak tahu kalau ini adalah topik sensitive buatmu. Harusnya aku sadar sih ketika Ares kasih tahu soal dirinya yang tak punya orang tua,” cicit Mikaela. “Keluarga kami itu berbeda dengan yang lainnya! Ya, tidak sehangat yang kamu bayangkan! Sama sekali tak begitu! Bahkan, aku dan kakakku saja masih dingin sekali kan?” Willy memberi tahu sehingga Mikaela menganggukkan kepalanya. Ya, semua orang tidak bisa sama! Tak terasa, mereka sampai di sebuah panti asuhan di Boston. Mereka berdua turun dan langsung masuk ke dalam. Baru saja sampai, Willy sudah disambut oleh banyak anak kecil yang terlihat sangat menyayangi dirinya. Mikaela merasakan kehangatan luar biasa di dalam hatinya ketika melihat seorang pria dengan jiwa penyayang kepada anak –anak. Senyuman di wajahnya terus saja terukir sembari mereka berdua bermain dengan banyak anak –anak di situ. “William, terima kasih sudah datang!” ujar seorang gadis kecil yang masih sangat kecil tapi kelihatannya sangat menempel dengan Willy. “Sama –sama, Grace! Tunggu, aku bawakan sesuatu untuk adik –adik manisku!” Willy segera ke mobilnya sambil membawakan beberapa tas yang mejadi hadiah untuk anak –anak di sini. ‘Dia pria luar biasa! Benar –benar sosok ayah yang baik untuk anak –anaknya di masa depan!’ puji Mikaela dalam hatinya. “Hai, kamu pacarnya William ya?” tanya seorang wanita paruh baya dengan pakaian suster katolik. “Ah, bu –bukan! Saya temannya! Perkenalkan, nama saya Cassie!” jawab Mikaela dengan nada salah tingkah. Wanita paruh baya itu tersenyum sambil menatap Mikaela. “Kamu gadis pertama yang dibawanya ke sini. Ya, William selalu datang ke sini setiap minggunya dan bermain dengan anak –anak. Seakan, dia melupakan semua kesepiannya selama ini. Dia adalah pria kaya, tapi pastinya bukan materi yang menjamin kebahagiaan, bukan?” Suster itu menjelaskan soal Willy kepada Mikaela. “Iya, dia berusaha mencari kebahagiaannya dan cara yang dipilih oleh Willy sudah benar! Memberi kasih sayang kepada yang membutuhkan adalah cara terbaik!” puji Mikaela pula. “Cassie! Kamu beruntung kalau bisa mendapatkan dia!” ujar suster itu lagi sehingga wajah Mikaela tiba –tiba memerah karena saking terkejutnya dengan perkataan suster itu. Gadis cantik itu hanya bisa mengangguk malu dan lanjut bermain karena Willy yang mengajaknya. Dalam waktu singkat, Mikaela merasakan kenyamanan yang luar biasa dengan Willy! Pria baik dan juga pintar! Tampan dan penyayang! Siapa yang akan melepaskan kesempatan untuk mendapatkan malaikat Tuhan seperti dia? Tanpa sadar, Mikaela memiliki perasaan di mana dia ingin jadi orang yang istiimewa untuk pria itu! Sampai akhirnya, tiba lah waktunya untuk kembali dan hari pun sudah mau malam. Hari yang berlalu begitu cepat tapi sangat menyenangkan buat Mikaela. “Terima kasih sudah menemaniku ya?” Willy menyatakan rasa terima kasihnya tatkala mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang. “Aku senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan Willy! Sungguh, hari ini sangat berarti bagiku!” ungkap Mikaela membuat Willy merasakan debaran di dadanya. “Begitukah? Jadi, kamu senang kalau pergi bersamaku?” tanya Willy langsung diangguki oleh Mikaela. “Tentu saja!” Mikaela mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. “Bagaimana kalau malam natal nanti, kita keluar untuk jalan –jalan?” ajak Willy. ‘DEG!!’ Mikaela berdebar mendengar ajakan dari Willy secara langsung. Mereka akan jalan –jalan di malam natal yang bersalju yang dingin. Senyuman langsung terlihat di wajah cantik itu dan langsung saja dia mengangguk. Lagian, ajakan Wlly sama sekali tidak mengganggu rencananya yang lain untuk bertemu dengan Ares di pagi harinya. “Kamu serius mengajakku jalan –jalan? Ha –hanya berdua?” tanya Mikaela untuk memastikan. “Iya, hanya berdua! Kamu keberatan?” Willy menjawab dan kembali bertanya lagi kalau saja ini membuat Mikaela keberatan. “Siapa bilang? Aku tentu saja mau! Berarti Minggu depan ya?” Mikaela tidak bisa menolak kesempatan ini sama sekali. “Baiklah, kalau begitu akan kutunggu! Kamu sudah sampai nih! Aku akan parkirkan mobilku dulu,” balas Willy dan kebetulan sekali sudah sampai di apartemen Mikaela. “Terima kasih banyak ya! Sampai jumpa!” Mikaela tak lupa melambaikan tangannya kepada Willy dan kemudian masuk ke gedung apartemennya. Gadis itu segera membuka pintunya dan menutupnya sambil memegangi dadanya yang terus saja berdebar karena ajakan jalan dari Willy. Sepertinya, Mikaela memang merasakan sesuatu kepada seniornya yang tampan dan baik hati itu! Pria yang sangat hangat dan menjadi idaman semua wanita! “Apa ini yang namanya cinta? Astaga, beneran aku merasakan cinta? Kepada Willy?” gumamnya sambil guling –guling tidak jelas di atas ranjangnya. Tapi tak lama, dia tersadar kalau perasaan yang dimilikinya masih terlalu dini. “Hmm… bagaimana ya? Ini terlalu cepat! Aku harus pastikan perasaan ini dulu! Jangan cepat –cepat menaruh hati!” Mikaela berusaha menyantaikan dirinya dulu. Tapi memang benar, sebuah perasaan yang lebih mengarah ke asmara sudah menghujaninya hari ini karena melihat Willy yang sangat luar biasa! Sosok kekasih impian yang diinginkan oleh wanita mana pun! *** Ares baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya. Dia pun memutuskan untuk beristirahat karena besok akan lebih sibuk lagi seperti biasanya. Tapi sayangnya, pikiran Ares sama sekali tidak bisa tenang sehingga ia mengambil sebuah kanvas dan pensil. Perlahan –lahan, dia menggoreskan pensil itu sehingga membentuk sesuatu di kanvas putih itu. Ares mencoba menuangkan apa yang ada di dalam pikirannya sehingga dalam waktu setengah jam terbuatlah sketsa wajah seorang wanita. Pria itu mengerjapkan matanya berkali –kali tak percaya apa yang sedang dia gambarkan di kanvas itu! Padahal, dia hanya sedang menuangkan apa yang dipikirkannya, ternyata itu adalah wajah manusia yang lebih tepatnya seorang wanita. “Aku hanya membayangkan seekor kupu –kupu dengan sayapnya yang indah tapi kenapa yang tergambar adalah wajah Mikaela?” gumamnya tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. “Ha… sudah lama aku tidak menggambar sketsa wajah manusia! Aku hanya menggambar pemandangan karena aku benci pada manusia! Tiba –tiba, pikiranku mengarahkan tanganku untuk menggambarmu. Kenapa?” tanya Ares kepada lukisan yang tidak bisa bicara itu. Ares tidak tahu apa yang tengah dirasakannya sekarang ini! Ia kembali teringat sejak pertemuan pertama di bar. Di mana dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari seseorang walau hanya sekali. Lalu ketika Mikaela menyatakan diri ingin berteman dengannya hingga pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. Semuanya seakan sangat berarti baginya hingga dia tak bisa melupakan gadis itu. “Mikaela! Apa artinya ini? Apa karena kamu berani mendekatiku, aku jadi simpati padamu atau… ada hal lainnya? Sial! Ini sama sekali tidak begitu!” Ares menyangkal apa yang dia rasakan. Segalanya masih terlalu dini untuk dirasakan olehnya. Pria itu pun meletakkan pensilnya di meja lalu berjalan untuk memandang ke luar jendela. Ia melihat pemanangan malam kota Boston yang cukup indah itu. Tapi Ares bukan fokus dengan keindahan itu, malah dia lebih memikirkan apa alasannya dia hidup seperti ini. “Yang terpenting saat ini adalah hidup dengan baik dan menjadi pelindung untuk adikku! Karena jika aku tidak ada, tidak ada yang bisa melindunginya,” gumamnya. Ares mengesampingkan perasaan yang dia miliki untuk saat ini dan barulah dia bisa istirahat. Tapi sebelum tidur, ia menoleh sekali lagi untuk melihat sketsa yang dibuatnya sendiri. ‘Drrtt!! Drrtt!!’ Suara getar ponsel mengalihkan perhatian Ares. Ia melihat ada sebuah e –mail masuk yang berhasil membuatnya mendengus kesal. “Sial! Bagaimana ada pertemuan yang mengganggu hari istirahatku? Hahh… tapi aku sama sekali tidak bisa menentang! Dan artinya… aku tidak bisa bertemu denganmu,” ujar Ares lagi –lagi menatap sketsa wajah Mikaela yang dibuatnya. Pertemuan yang sudah direncanakan olehnya terpaksa harus batal karena urusan bisnis yang mendadak. *** Sebuah pesan masuk mengalihkan perhatian Mikaela yang sedang merapikan tempat tidurnya. Segera saja dia meraih ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dari Ares. Saat membaca pesan itu, Mikaela merasakan kekecewaan karena pertemuan mereka besok malah harus dibatalkan karena pria itu punya urusan bisnis yang jelas lebih penting. “Hahh… berteman dengan orang sibuk itu begini ya? Untung saja, Willy tidak se- sibuk dia!” ujarnya. Dan ya, Mikaela tidak terlalu kecewa karena memang paham dengan kondisi Ares. Ada Willy juga yang mewarnai liburannya untuk besok. Pria yang menjadi pusat perhatiannya saat ini dan sepertinya memang pilihan terbaik untuk menjadi calon pacarnya. “Woahh! Aku mikirin apa sih? Masa iya aku pacaran dengan Willy? Apa dia mau dengan gadis yang tidak religius seperti aku?” Mikaela jadi merasa dirinya tak pantas. Willy sangat religius sementara dirinya selalu abai soal ibadah. “Eh, tapi bukan berarti aku tidak bisa berbenah kan? Aku bisa jadi lebih baik kok! Tapi… tapi kenapa aku malah lebih baik karena Willy? Maafkan aku, ya Tuhan!” Mikaela merasa bersalah sendiri karena sadar dengan tujuannya untuk berubah jadi lebih baik. “Tapi tidak salah juga kan? Kalau kita memilih orang yang bisa bawa kita ke jalan yang benar,” lanjutnya lagi merasa ini bukan sesuatu yang berlebihan! Ya, Mikaela sudah merasa kalau hatinya sudah memilih sosok yang benar! ‘Tapi pertanyaannya sekarang, memangnya dia mau sama kamu?’ Mikaela terpikir sesuatu yang benar –benar membuatnya tertampar! Belum tentu juga Willy tertarik padanya walau selama ini mereka cukup dekat, lebih tepatnya baru dekat! “Tapi siapa yang tahu!” gumamnya lagi. Biarkan waktu berlalu dan memberi jawaban yang jelas! Yang terpenting adalah yang terjadi saat ini! Dan besok, Mikaela akan jalan dengan Willy di malam natal yang pasti akan sangat berkesan. Sebuah perasaan sudah mulai tumbuh di pihak Mikaela. Tapi bagaimana dengan Willy? Sebenarnya pun, Willy punya perasaan yang sama, karena Mikaela adalah gadis penuh warna baginya! Tapi biarkan waktu berjalan dan membawa ke mana perasaan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN