“Kupu –kupu yang indah!”
Satu kalimat yang terdengar dari Ares begitu mengejutkan Mikaela. Gadis cantik itu menatap Ares karena ada sedikit rasa senang yang membuncah di hatinya kala Ares berkata demikian. Sementara itu, Ares tersadar dengan apa yang dia katakan lalu memundurkan langkahnya dari gadis itu. Wajahnya sedikit memerah lalu dia membuang muka supaya Mikaela tidak melihat ekspresinya saat ini.
“Kamu kenapa bilang aku kupu –kupu?” tanya Mikaela ingin tahu alasan Ares.
“Aku… tidak mengatakannya untukmu! Tadi aku melihat seekor kupu –kupu yang ada di taman ini,” jawab Ares membuat Mikaela menatap heran kepada pria itu. Kupu –kupu di musim dingin? Ares pasti bercanda! Mikaela pernah membaca di beberapa komik, sikap seperti ini mungkin saja karena Ares malu –malu dan menyembunyikan perasaannya.
“Kalau mau bilang aku cantik juga tak apa kok! Jangan sungkan! Aku memang cantik kok!” Mikaela percaya diri sekali sehingga Ares tertawa pelan mendengarnya.
“Hei, kenapa tertawa? Apa aku ini jelek di matamu?” kesal gadis itu dibalas gelengan oleh Ares.
“Kalau sudah tahu, tidak perlu dikatakan lagi! Kamu sepertinya terlalu butuh pengakuan,” balas Ares dan berjalan mendahului Mikaela. Ares berhasil membuat Mikaela ternganga karena sikap pria ini sangat cuek kepadanya dan sangat tidak bersahabat seperti saudara kembarannya.
“Eh, tunggu! Tidak boleh bicara begitu pada temanmu! Suka sekali mematahkan semangat orang! Kamu berbeda dengan kembaranmu yang ramah!” Mikaela mulai membedakan dua orang yang mirip tapi sifatnya berbeda.
“Kalau kamu lebih senang berteman dengannya, aku sama sekali tidak masalah,” balas Ares seakan tidak peduli dengan perbandingan itu sama sekali. Mikaela mengerucutkan bibirnya sambil berjalan di sisi kiri Ares sambil terus memperhatikan Ares. Tidak ada percakapan yang dimulainya dan saat Mikaela membuat sebuah topik, selalu diselesaikan begitu saja!
‘Orang aneh! Kalau tahu begini, lebih baik aku tadi pergi ke Gereja dengan Willy!’ kesal Mikaela dalam hatinya karena salah memilih tujuan di akhir pekan.
Saat ini, mereka hanya jalan –jalan gak jelas keliling taman yang cukup indah dan luas ini. Walau ini musim dingin, tapi salju tidak deras sehingga mereka masih bisa beraktifitas. Ares menghirup napasnya dalam –dalam sambil menikmati suasana di sekitarnya. Dia sangat suka taman sejak kecil. Dan pergi ke sebuah taman adalah sesuatu yang bisa menenangkan pikiran pria itu.
“Aku suka sekali pergi ke taman. Banyak kenangan tersendiri yang menghilangkan rasa jenuh karena pekerjaanku.” Ares memulai pembicaraan mereka setelah jalan –jalan gak jelas selama sepuluh menit.
“Aku juga suka kok! Walau sederhana, taman itu sangat asri dan bisa menenangkan pikiran yang jenuh!” balas Mikaela satu argumen dengan Ares.
“Adikku, dia itu juga suka ke taman! Waktu kecil, Ibuku sering membawa kami berdua. Ketika kami terpisah, aku pun sering datang sendiri ke taman untuk menggambar. Aku suka sekali pemandangan yang indah,” ungkap Ares lagi. Tujuannya bertemu dengan Mikaela yang ingin menjadi temannya adalah untuk berbagi isi pikirannya. Itu gunanya teman, bukan? Walau Ares tidak menceritakan masalahnya sama sekali.
“Kamu pandai menggambar ya? Aku tidak bisa menggambar, tapi aku suka sekali!” kata Mikaela jujur saja mengenai dirinya. Setelah mengelilingi taman, kini Ares berhenti di bawah pohon dan gadis itu ikut berhenti bersama pria itu.
“Kamu kenapa ingin berteman denganku? Dan kenapa hari ini kamu mau bertemu denganku?” Ares bertanya lagi.
“Bukannya aku sudah bilang, aku menganggapmu teman dan ingin lebih akrab dengan Ares.” Mikaela menjawab seadanya saja.
“Lalu setelah itu? Kenapa kamu mau berteman denganku? Apa aku bisa memberi manfaat untukmu?” tanyanya lagi membuat Mikaela menatap kesal kepada Ares.
“Hei! Memangnya, berteman itu mencari manfaat dari orang lain! Itu namanya bukan berteman dari memanfaatkan! Aku suka punya banyak relasi dan akrab dengan orang lain. Dulu, aku tidak punya teman sama sekali di sekolah karena merasa aku punya segalanya dan tak peduli dengan orang lain. Tapi sekarang, aku merasa kita sangat membutuhkan orang lain dalam hidup kita! Jadi, aku ingin lebih peduli kepada orang lain!” jelas Mikaela mengenai alasannya ingin memiliki lebih banyak teman.
Ares yang mendengar penuturan gadis itu tanpa sadar tersenyum. Peduli kepada orang lain, hal yang sangat jauh dari Ares Pratama! Ares memang bekerja mati –matian demi adiknya, tapi dia sepertinya sama sekali tidak peduli. Dipikirnya, cukup dengan memberikan uang segalanya akan selesai. Ternyata, memperhatikan itu sangat penting! Dan ketika Mikaela melihat senyum tipis itu, wajahnya memerah sehingga ia tak bisa berhenti menatap Ares.
“Hei, kenapa menatapku begitu?” heran Ares.
“Bu –bukan! Kamu menawan juga kalau tersenyum,” jawab Mikaela sangat spontan.
Ares ingin tertawa mendengar spontanitas dari Mikaela yang berbeda dengan orang lain. Karakter yang jujur dan sepertinya masih polos juga. Ares jadi teringat dengan Willy yang juga tidak jauh beda dengan Mikaela. Mereka berdua menganggap segalanya bisa berjalan baik –baik saja jika mereka menjalaninya dengan benar. Tapi tak selamanya begitu! Karena dunia ini sangat kejam.
“Jangan terlalu jujur! Dunia ini membenci orang jujur,” saran Ares sehingga Mikaela mengernyit.
“Iya, benar! Tapi bukan berarti jujur itu tidak penting! Dan ngomong –ngomong soal manfaat. Sebenarnya kamu cukup memberi manfaat untukku!” balas Mikaela membuat pria menatapnya lagi.
“Iya, benar! Pertama, kamu menolongku dan kemudian aku mendapat coat ori yang mahal dan bisa dijual lagi! Akhirnya, aku dapat tambahan uang jajan deh!” jelas Mikaela benar –benar menjadi sesuatu yang terdengar sangat lucu bagi Ares.
“Aku baru dua kali pakai sebenarnya. Tapi aku tidak suka barang yang sudah membuatku muak walau bekasnya sudah dibersihkan.” Ares menjelaskan soal coat itu.
“Oh… begitu ya? Sepertinya kamu akan susah dapat pacar! Atau jangan –jangan, jika kamu sudah muak dengan seorang wanita, maka kau akan buang dia?!” Mikaela menilai Ares.
“Kenapa disamakan? Tidak ke semua barang aku begitu! Hanya ke barang yang bisa diganti. Ada barang yang tidak bisa diganti dan berharga! Tentu saja berbeda! Dan soal pacar, aku tdak tahu itu termasuk ke jenis yang mana,” jelas Ares supaya Mikaela tak menilainya sesuka hati.
“Pacar termasuk barang bagimu? Eh, memangnya kamu pernah pacaran?” Mikaela sangat penasaran.
“Hm? Tidak ada niat tuh! Fokusku saat ini adalah menjadi yang terbaik!” jawab Ares penuh ambisi.
Hari semakin siang lalu Ares mengajak Mikaela untuk makan siang bersama dengannya. Mereka berdua masuk ke sebuah restoran bintang lima dan mereservasi tempat VIP supaya tidak terganggu. Suasana di sini sangat berbeda dengan di luar yang dingin. Di sini ada penghangat ruangan dan juga menunya sangat enak tapi mahal!
“A –Ares! Aku tidak memesan,” cicit Mikaela karena merasa makan siang di sini hanya akan membuat kantongnya bolong. Benar, dia anak orang kaya! Kaya di Indonesia! Jadi tahu sendirilah jauh perbedaannya, sehingga Mikaela harus berhemat walau sebenarnya tidak bisa dibilang hemat juga. Setidaknya, dia tidak akan foya –foya selama di sini.
“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Ares dibalas gelengan oleh Mikaela.
“Jadi kenapa?” Ares jadi semakin heran. Mikaela pun menunjuk harga yang tertera di menu supaya Ares paham maksudnya.
“Harganya murahan?” tebak Ares membuat Mikaela nyaris menggebrak meja karena geram dengan pria yang sama sekali tidak peka dengan maksudnya.
“Sangat mahal!” Mikaela berkata dengan penuh penekanan tapi suaranya tetap pelan supaya tidak malu. Mendengar itu, Ares tersenyum remeh dan menatap gadis yang duduk di hadapannya.
“Aku masih sanggup bayar kok! Kamu pesan saja! Aku yang mengajakmu dan akulah yang bayar! Jangan sungkan, kamu kan temanku,” ujar Ares supaya Mikaela tidak sungkan. Lagian, mana mungkin dia membiarkan orang lain hanya menatapnya saat makan.
“Kalau begitu… kamu saja yang pesankan untukku. Aku tahu diri kok!” Mikaela jadi makin sungkan kalau dibayarin makan. Ini adalah kali pertamanya ditraktir oleh orang lain. Biasanya, dia selalu bayar sendiri.
“Baik!” Ares mengangguk sambil memanggil pelayan dengan gaya elegannya.
“Pesan dua menu spesial hari ini!” katanya diangguki dengan cepat oleh pelayan restoran. Mendengar apa yang dipesan oleh Ares, Mikaela hanya bisa terbelalak karena pesanan pria itu malah yang paling mahal! Semakin bergaul dengan Ares, rasanya dia sadar kalau mereka berbeda.
Ares memang berasal dari keluarga kaya raya di Boston, jadi tidak heran jika dia menggunakan uangnya sebaik mungkin untuk dirinya sendiri. Uang di tabungannya cukup banyak karena selama ini selalu rajin bekerja. Dia tidak kekurangan sehingga perlu berhemat. Dan lagi, ini juga adalah hal yang biasa buatnya. Karena selama ini dia mentraktir klien dan para kolega bisnisnya. Berbeda dengan Mikaela yang dunianya masih dengan para mahasiswa yang selevel dengannya.
“Jangan menatap kesal pada makanan itu! Makan saja!” kata Ares ketika melihat Mikaela keberatan dengan makanan yang sudah tersaji.
“Terima kasih!” Mikaela tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ares.
“Sama –sama!” balas Ares. Ini adalah pertama kali di mana ada orang lain yang menyatakan rasa terima kasih kepadanya.
Sungguh, pertemuan hari ini dengan Mikaela membuat sebuah kesan yang sangat istimewa untuk Ares! Setelah makan siang selesai, mereka berdua berbincang sejenak hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman masing –masing.
“Besok, aku mesti mengumpulkan tugas lewat e –mail. Tapi aku mesti pastikan dulu! Kalau begitu, aku pulang lebih dulu ya, Ares! Terima kasih untuk hari ini!” ujar Mikaela beranjak dari duduknya tapi Ares langsung menahan tangan gadis itu.
“Biar aku antarkan!” tawar Ares hingga Mikaela berbalik. Dia sama sekali tidak percaya, kalau Ares bisa bersikap manis kepadanya. Hari ini, dia ditraktir makan di resto mahal dan pulang diantar pula! Mana mungkin Mikaela menyia –nyiakan kesempatan itu dan langsung saja dia mengangguk.
Ares mengambil mobil Ferarri miliknya dan membukakan pintu untuk Mikaela. Untuk pertama kali, Mikaela menaiki sebuah mobil sport yang sangat keren dan itu bersama dengan Ares. Setelah memasang seltbelt, Ares langsung melajukan mobilnya melintasi jalanan luas di kota ini. Sensasi menaiki mobil sport memang sangat berbeda dengan mobil biasa! Ini akan meninggalkan kesan tak terlupakan bagi Mikaela.
‘Ternyata, Ares tidak seburuk itu! Kelihatannya, pria ini malah kesepian,’ pikir Mikaela sambil curi –curi pandang kepada Ares yang sedang fokus dengan jalanan. Tak lama, sampailah mereka di apartemen Mikaela. Langsung saja, Mikaela membuak seltbeltnya lalu membuka pintu.
“Mikaela!” panggil Ares membuat Mikaela tidak langsung turun dan berbalik menghadap Ares.
“Kapan aku boleh bertemu denganmu lagi?” tanya Ares sehingga seluruh wajah Mikaela memerah.
‘Apa? Dia ingin bertemu denganku lagi? Ba- bagaimana ini?’ Mikaela sangat gugup menanggapinya.
“Te –terserah kamu saja,” jawabnya dengan agak kikuk.
“Minggu depan? Aku hanya punya waktu luang di akhir pekan,” pinta Ares tanpa sadar diangguki saja oleh Mikaela. Maka melihat tanggapan Mikaela yang setuju, Ares tersenyum.
“Terima kasih untuk hari ini!” ujar Ares.
“Iya, terima kasih kembali!” Mikaela juga berterima kasih pula dan turun dari mobil Ares.
Jantungnya tidak bisa berhenti berdebar walaupun mobil itu sudah berjalan menjauh darinya. Ia tidak menyangka, bisa –bisanya dia salah tingkah kepada Ares. Pria yang cuek dengan sekitarnya tapi sepertinya sangat membutuhkan teman. Dan sepertinya akan menyenangkan jika menjadi teman dari Ares. Itulah yang dipikirkan oleh Mikaela.
“Hei, kamu sepertinya baru pulang kencan ya?” tanya seorang pria yang membuat Mikaela terkejut. Ia berbalik dan tak menyangka kalau salah seorang tetangga menciduknya di sini.
“Wi –Willy! Bukan kencan kok! Aku hanya bertemu dengan seseorang!” jawab Mikaela.
“Oh, seseorang yang spesial?” tanya Willy dengan senyuman manisnya walau niatnya hanya sedikit iseng. Dia baru pulang dari ibadah mingguannya dan kebetulan melihat Mikaela turun dari mobil seseorang. Jadi, dia hampiri saja!
“Ti –tidak begitu kok! Aku… bertemu dengan kembaranmu!” Mikaela memperjelasnya hingga Willy menatap dengan sangat terkejut.
“Apa? Bertemu dengan Ares? Kamu ada masalah dengannya?” Willy malah khawatir.
“Eh, tidak begitu! Dia ingin aku menjadi temannya. Ternyata, dia itu tidak se –cuek yang kita kira. Kelihatannya, Ares hanya kesepian,” jawab Mikaela membuat Willy tersenyum. Dia hanya tidak menyangka, ada seseorang yang se –senang ini berteman dengan saudara kembarnya itu. Maka, Willy mengangkat tangannya sambil mengelus surai Mikaela dengan lembut.
“Iya, terima kasih sudah menjadi temannya! Jujur saja, kamu itu hebat loh! Dia adalah orang yang culit didekati dan mungkin di kampus dia tak punya teman selain rekan kerja yang tinggal bersamanya.” Willy menyatakan rasa senangnya atas kesediaan Mikaela.
“Iya, aku senang loh bisa berteman dengan kalian berdua! Saudara kembar yang baik dan tampan! Terlebih, berteman dengan Willy yang sangat baik!” balas Mikaela berhasil menambah senyuman Willy sehingga terlihat semakin manis.
“Baiklah! Kalau begitu, aku kembali ke apartemen ya! Sampai jumpa lagi!” Willy memutuskan untuk pamit dan mereka berdua saling melambaikan tangan. Ya, segalanya bermula dari pertemanan! Hari esok akan datang tanpa sadar Mikaela tak sabar menantikan minggu depan!
‘Eh, kenapa aku sangat menantikannya?’ Mikaela heran pada dirinya sendiri. Segera saja, dia masuk ke apartemennya untuk mengerjakan tugas dan berusaha tidak memikirkan soal Ares lagi. Ia hanya sedang senang karena mendapat traktiran, itu saja!