‘Mikir Kaela! Mana yang lebih penting saat ini?’ Mikaela masih belum menjawab pertanyaan Ares untuk bertemu dengannya hari Minggu nanti. Gadis cantik itu masih bingung bukan main dalam keadaan ini.
[Tapi sepertinya kamu sibuk ya? Mungkin lain kali sa-]
“Aku bisa!” Mikaela langsung menjawab cepat sebelum Ares merasa dia kelamaan memberi jawaban.
[Baiklah! Jam sembilan ya!]
“Iya, baiklah! Ini sudah malam, kau istirahat ya, Ares!” Mikaela akhirnya sudah menentukan pilihannya.
[Iya, kau juga!]
Setelah itu, percakapan di antara mereka berakhir. Mikaela melihat jam dinding dan ternyata ini sudah hampir tengah malam. Di waktu seperti ini, Ares menyempatkan waktunya untuk meminta maaf lalu mengajaknya bertemu. Entah kenapa, hal yang sederhana seperti ini membuatnya jadi tak bisa tersenyum. Padahal kesan terakhir Mikaela soal Ares adalah pria yang sangat dingin dan tak peduli dengan sekitar, bahkan sombong!
“Aku ini kenapa sih? Bi –bisanya aku berjanji padanya tanpa pikir panjang! Aku harus minta maaf dulu ke Willy! Sialan! Padahal aku duluan yang mengajak dia bertemu untuk ibadah bersama.” Mikaela benar –benar tak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Tak lama, gadis itu merasakan kantuk luar biasa kemudian memilih untuk istirahat. Hari yang panjang ini berlalu dan diakhiri dengan penuh kejutan. Siangnya, Mikaela menelpon Ares dan malah dicuekin habis. Tapi malamnya pria itu minta maaf sambil menjelaskan segalanya. Ya, intinya dia harus minta maaf kepada Willy besok karena hari Minggu dia tidak bisa ikut beribadah bersama.
***
Apartemen Ares
Pria itu tidak menyangka kalau dirinya mengajak seorang wanita untuk bertemu. Walau di matanya gadis itu sangat berisik, tapi seakan ada keunikan tersendiri yang terpancar dari iris gadis itu.
“Mikaela… nama yang indah! Aku tertarik sekali ketika dia bilang ingin menjadi temanku. Karena tidak seorang pun mau menjadi temanku lebih dulu. Apa yang membuatnya berpikir kalau aku ini orang yang baik untuk dijadikan teman ya?” gumam Ares mengingat sedikit momen di antara dia dan Mikaela.
Hanya sebuah kesalahpahaman dan pertemuan singkat di gym. Tapi hal itu begitu berharga bagi Ares. Karena sejak pertama melihat Mikaela di bar malam itu, Ares bahkan tidak bisa memalingkan pandangannya. Tidak, dia sama sekali belum bisa menebak apa yang dirasakan hatinya. Tapi jelas ada kesenangan di dalam hatinya.
‘Aku menunggu saat bisa bertemu lagi denganmu lagi, Kaela!’ batinnya lalu keluar dari ruang belajar untuk beristirahat. Helios yang ternyata belum tidur mengalihkan perhatiannya.
“Hei, jangan sampai sakit! Kau tidak akan bisa membantu aku kalau sakit!” Ares memperingatkan.
“Baik, Tuan! Hanya sedikit lagi tugas saya selesai!” Helios mengiyakan dan setelah itu dia beristirahat. Besok masih hari untuk mengurus beberapa hal termasuk tugas dan Minggunya, dia akan bertemu dengan Mikaela lagi.
Malam berlalu tanpa terasa. Ares merasa istirahatnya sudah cukup dan bangun pagi. Langsung saja dia membasuh wajahnya sambil berganti pakaian. Ia akan jogging di pagi hari seperti kebiasaannya. Ares sangat peduli dengan kesehatannya, karena dia ingin hidup panjang. Tapi apa gunanya dia hidup panjang tanpa bisa menikmati satu hal pun? Hidupnya yang monoton dan diperintah bagai boneka pamannya. Tapi untuk saat ini, tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain jadi anak penurut.
“Untung saja, Simon sudah bisa berdiri sendiri sebentar lagi! Aku lega jika dia bisa meraih mimpinya!” gumam Ares sambil meneguk air mineralnya. Walau dia begitu dingin kepada kembarannya, ini semua dilakukannya demi kebaikan bersama. Beginilah caranya memperhatikan adiknya!
***
Mikaela berjalan –jalan di sekitar areal apartemen tempat tinggalnya. Ingin rasanya dia lari pagi seperti orang lain, tapi sepertinya gadis cantik ini sudah kesiangan. Semalam dia tertidur hampir tengah malam dan terbangun ketika matahari sudah terik. Yang dilakukannya selain jalan –jalan adalah mencari sarapan lalu belanja bulanan. Salahkan dirinya yang tidak pernah berhasil membuat masakan yang bisa dimakan.
“Cassie! Kebetulan sekali ya?” Willy menyapa Mikaela yang memang tinggal tak jauh darinya.
“Halo, Wil! Kelihatannya, kamu baru pulang jogging?” tanya Mikaela diangguki saja oleh Willy. Walau ini adalah musim dingin, kebiasaan sehat tidak boleh sampai diabaikan. Memang kalau musim begini lebih menyenangkan jika berbaring di atas kasur.
“Kamu mau ke mana?” tanya Willy lagi.
“Aku mau cari sarapan sambil belanja. Baiklah kalau begitu, aku duluan ya!” Mikaela ingin pamit.
“Tunggu! Sarapan lah di apartemenku! Aku sudah membuatkan sarapan yang cukup untuk dua orang!” ajak Willy membuat Mikaela menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik sambil menatap tak percaya kepada Willy yang menawarkan sarapan bersama dengannya.
“Kamu tak keberatan?” Mikaela memastikan dahulu.
“Kalau keberatan, kenapa aku tawarkan? Ayo! Kamu temanku kan?” Willy sekali lagi mengajak Mikaela dan akhirnya gadis itu mengangguk dengan polosnya. Mikaela memang mudah percaya kepada orang lain terlebih lagi dia yang terlihat baik. Tapi untungnya, Willy bukan orang yang punya maksud buruk terhadap seseorang. Willy memang orang baiknya sangat tulus!
Sampailah mereka di apartemen besar milik Willy. Mikaela benar –benar mengagumi interior apartemen ini karena sangat rapi dan bersih. Suasananya juga sangat nyaman tapi gadis ini malah merasa malu sendiri karena melihat semua ini.
‘Oh, astaga! Apartemenku saja tidak se –rapi ini! Malu banget aku perempuan malah begini!’ batin Mikaela sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hei? Kamu kenapa kelihatan tidak senang? Apartemenku sangat kecil dan sempit ya?” tanya Willy langsung dibalas gelengan oleh Mikaela. “Bukan begitu! Tapi kamu rapi dan teliti sekali! Aku jadi sangat malu, karena aku tidak bisa sepertimu.” Mikaela mengaku saja.
“Bisa belajar kok! Aku juga dulu belajar dari kakakku, Ares! Dia itu tidak suka sesuatu yang tidak sempurna. Dekorasi, prestasi, pencapaian dan semuanya dia selalu ingin sesuatu yang sempurna.” Willy menjelaskan membuat Mikaela mengangguk. Ternyata, walau Willy dan Ares kelihatannya tidak terlalu dekat, ternyata mereka saling memperhatikan satu sama lain.
“Baik, ini makanannya! Aku memasaknya sebelum pergi tadi!” ujar Willy sambil menaruh makanan di meja makan. Mikaela memerhatikan makanan yang ditata dengan sangat rapi itu dan terlihat sangat lezat! Segera saja, dia mengambil piringnya dan mengambil makanan untuknya. Saat akan menyantapnya, Willy menghentikan gerakannya.
“Jangan lupa berterima kasih!” kata Willy membuat Mikaela malu sendiri.
“Ma –maafkan aku, Wil! Makasih ya, Wil!” Mikaela menyatakan rasa terima kasihnya kepada Willy dengan tulus. Tapi Willy menggelengkan kepalanya sambil melipatkan tangannya.
“Maksudku, jangan lupa berterima kasih kepada Tuhan!” jelas Willy lagi sehingga Mikaela tertegun.
“Baiklah!” Mikaela menuruti Willy karena yang dikatakan oleh Willy tidak salah. Willy memimpin doa makan mereka bersama lalu setelah itu mereka berdua makan bersama.
‘Keluargaku memang beragama tapi tidak se –religius ini. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang seperti Willy di Amerika!’ kagum Mikaela dalam hatinya sambil memandang Willy yang makan.
Jujur saja, kesannya soal Willy adalah sesuatu yang sangat mendalam. Willy adalah pria yang hangat, lembut dan sangat baik! Pria yang punya hubungan yang baik dengan Penciptanya dan sangat jarang ada di muka bumi ini. Dan sekarang, Mikaela bahkan tidak bisa berkedip memerhatikan pria itu.
“Cassie, apa kau lebih suka makananku?” tanya Willy mengalihkan lamunan Mikaela.
“Ma –maafkan aku, Wil! Aku… hanya kagum sekali padamu!” jawab Mikaela sambil dengan cepat memakan sarapan yang sudah dibuatkan oleh Willy. Saat melihat Mikaela yang menyantap makanannya, diam –diam Willy tersenyum karena tingkah Mikaela yang sangat menggemaskan.
Bagi Willy, setiap momen singkat yang dilewatinya bersama Mikaela membawa kesan yang luar biasa buatnya. Gadis penuh warna yang pertama kali menembus pupil buta warnanya. Dia yang sebelumnya hanya bisa melihat putih dan hitam, kini bisa melihat warna pada diri gadis di sebelahnya ini. Rasanya, ingin sekali dia lebih lama bersama dengan Mikaela.
‘Tapi bagaimana caranya aku bisa terus seperti ini dengannya?’ pikir Willy merasa semua ini terlalu cepat. Tapi untuk saat ini, ada baiknya mereka berteman dulu.
“Willy, terima kasih untuk sarapannya yang enak ya? Kamu baik sekali!” ujar Mikaela setelah menghabiskan makanannya. Dengan sigap, dia mengambil piring supaya dia cucikan.
“Tidak perlu! Biar aku saja!” Willy merebut piring itu karena tidak membiarkan tamunya jadi melakukan pekerjaan di apartemennya.
“Kamu jangan begitu! Aku jadi tidak enak!” Mikaela benar –benar merasa tak enak.
“Sudahlah! Aku yang membuka pintu untuk tamu dan jangan sungkan padaku! Ingat, aku adalah temanmu!” Willy mengingatkan sehingga Mikaela menganggukkan kepalanya dengan sangat senang.
“Oh, iya! Willy, aku ingin beri tahu sesuatu padamu!” ujar Mikaela teringat soal semalam.
“Iya, katakan saja!” Willy santai saja sambil membersihkan piring di wastafel.
“Mungkin, besok aku tidak jadi pergi ibadah bersamamu, Wil.” Mikaela menyatakan pembatalan janjinya. Willy terdiam lalu berbalik setelah menaruh piring di raknya.
“Kamu pasti sibuk karena tugas ya? Baiklah, bukan masalah!” Willy tidak mungkin banyak tanya karena ini jelas urusan Mikaela. Walau besok tidak bertemu, masih ada hari lainnya karena mereka tetangga yang tinggalnya sangat dekat. Tidak sampai lima menit sudah sampai ke apartemen masing –masing.
“Iya! Mungkin lain kali aku akan ikut denganmu! Dan satu lagi, aku senang sekali menjadi teman kamu!” ungkap Mikaela membuat Willy tersenyum.
“Aku juga senang jadi temanmu!” balas Willy dengan sepenuh hati.
“Baiklah! Ada tugas yang menunggu dan aku harus pamit dulu! Bye! Sampai lain waktu!” Mikaela pamit. Willy melambaikan tangannya kepada gadis cantik itu sampai Mikaela menghilang di balik pintu apartemennya. Pagi yang cukup berwarna untuk memulai harinya.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan malam pun tiba. Tugas kuliah yang diberikan semalam sudah berhasil dikerjakan oleh Mikaela. Tinggal hanya mengumpulkannya nanti. Tapi ada yang membuat Mikaela malam ini merasa sangat bingung. Gadis cantik itu berulang kali mengambil bajunya dan merasa ada saja ketidakpuasan saat melihatnya.
“Kaela, kenapa outfitmu sangat membosankan semua? Ayo, cari yang bermerek supaya tidak malu bertemu dengan Ares besok!” gumamnya sambil melihat –lihat bajunya. Sebenarnya, Mikaela bukan tipikal yang suka belanja dan terbiasa dengan penampilan kasual saja. Tapi entah kenapa dia bisa sampai se –sibuk ini hanya untuk bertemu dengan Ares. Dia pun tidak tahu, sehingga gadis ini tersadar!
“Aishh! Aku ini kenapa sih? Mau aku pakai apa juga dia tak peduli! Memangnya kami mau kencan?” kata Mikaela lalu menyimpan semua pakaiannya. Dia tidak perlu sibuk –sibuk menyiapkan penampilan karena besok dirinya akan tampil seperti biasa saja di hadapan Ares. Tidak ada yang istimewa. Sungguh!
Mikaela memilih untuk beristirahat sambil menunggu hari esok. Ia menutup matanya sehingga malam ini berlalu begitu cepat! Tak terasa, pagi tiba dan Mikaela dengan segera bersiap. Gadis itu langsung sibuk menata rambut pendeknya itu. Menggunakan bedak tabur sedikit lalu memilih pakaian kasual yang paling bagus.
“Baik! Ayo berangkat!” Mikaela sangat semangat untuk bertemu dengan Ares pagi ini. Tak lupa, dia mengenakan baju musim dinginnya untuk bertemu dengan Ares di Cambridge.
Sementara itu, Willy melihat Mikaela yang keluar dari gedung apartemen. Ia terdiam sejenak dan berpikir kalau Mikaela ternyata akan bertemu dengan temannya, makanya tidak jadi pergi ibadah. Pria itu pun mengangkat bahunya sambil berjalan menuju rumah ibadah seperti kebiasaannya.
***
Hari yang tidak sibuk dan memang sudah menjadi jadwal istirahat tetap seorang Ares. Saat ini, dia baru saja bersiap untuk pergi ke Cambridge karena akan bertemu dengan Mikaela. Dia cukup semangat memulai hari ini sehingga Helios pun bingung melihatnya.
“Tuan, apa anda mau ke gym?” tanya Helios.
“Tidak, minggu depan saja! Hari ini aku ingin bertemu dengan seorang teman,” jawab Ares lalu pergi dengan mobil sport –nya. Helios yang melihat kepergian tuannya menaikkan sebelah alisnya karena merasa bingung.
‘Teman? Tuan Ares sejak kapan punya teman?’ batinnya merasa ini adalah sesuatu yang tidak biasa,
Tidak butuh banyak waktu untuk sampai ke Cambridge. Ares sudah sampai ke taman di mana dia janjian bertemu dengan Mikaela hari ini. Pria itu memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam. Di dalam sana, ini melihat taman yang dihujani salju. Hujan salju masih belum deras dan orang –orang masih bisa melakukan kegiatan di luar rumah. Saat menunggu Mikaela, Ares melihat seekor kupu –kup berwarna ungu dengan sayapnya yang sangat lebar dan indah.
“Bagaimana bisa ada kupu –kupu yang terbang di musim seperti ini?” gumamnya dan tanpa sadar dia mengikuti ke mana arah kupu –kupu itu terbang. Saat kecil, Ares punya hobi menangkap kupu –kupu lalu menyimpannya di dalam sebuah toples. Jadi, jika ada sebuah kupu –kupu cantik, dia akan mudah tertarik. Dia terus saja melangkah mengikuti kupu –kupu itu sampai-
“Awhh!!!” rintihan seorang gadis terdengar karena mereka bertabrakan pelan satu sama lain.
“Maaf!” Ares langsung minta maaf kepada gadis yang dia tabrak.
“Eh, Ares! Akhirnya kita bertemu!” ujar Mikaela membuat Ares langsung melebarkan matanya.
“Kupu –kupu yang indah!” ujarnya tanpa sadar dengan tatapannya yang terus fokus kepda Mikaela.