Mikaela mengerjapkan matanya berkali –kali karena tidak percaya tanggapan dari orang sana sangat dingin. Belum sampai satu kalimat sudah diputuskan panggilannya. Willy yang ada di situ dan mendengarkan hanya bisa memandang iba kepada Mikaela. Dia pun menepuk bahu Mikaela pelan supaya tidak terlalu sedih karena terlihat ditolak mentah –mentah oleh kembarannya itu.
“Masih mending diangkat sih! Aku saja yang menelpon sama sekali tidak diangkat,” ujar Willy supaya Mikaela tidak terlalu kepikiran soal masalah ini.
“Dia kenapa gak ramah sama sekali sih?” Mikaela tidak menyangka ada orang yang cueknya sampai segitu. Memangnya, Ares itu CEO atau pekerja kantoran yang tidak bisa dihubungi di jam kerja? Mikaela hanya bisa mendengus kesal memikirkannya.
“Dia memang sibuk seperti yang dikatakannya. Walau kuliah, dia juga bekerja supaya bisa membiayai dirinya sendiri dan aku,” jelas Willy membuat Mikaela terkejut bukan main.
“Eh, serius dia bekerja? Pasti kerjanya sibuk banget ya? Biayai sekolah kamu dan juga semua yang lainnya. Tapi mestinya dia berhemat ya kan?” kata Mikaela membuat Willy tertawa menanggapinya.
“Dia memang melakukan pekerjaan yang mengharuskan dirinya tampil sangat elit di kalangan kelas atas. Bukan berarti kami kekurangan uang sehingga dia bekerja, tapi karena dia mesti melakukannya,” jelas Ares teringat betapa Ares melakukan semua ini arena perintah dari paman mereka.
Willy ingin sekali membantu, tapi Ares menolak bantuannya sama sekali! Ares selalu menanggung semuanya sendiri dan Willy tahu sebenarnya Ares tidak ingin hidup seperti itu. Kadang kalau memikirkan semua ini, Willy jadi merasa bersalah kepada kakaknya.
“Berat juga ya! Setiap orang pasti punya alasan sendiri. Oh, iya Wil! Mau aku traktir makan siang? Kita bisa cerita lebih banyak hal sesudah makan!” ajak Mikaela kemudian diangguki oleh Willy.
Semenjak mengenal Mikaela, ada rasa ingin semakin kenal dan dekat dengan gadis ini. Gadis penuh warna dan sangat spesial di mata Willy. Berbeda dengan orang lainnya, hanya pada Mikaela dia bisa melihat warna itu dengan jelas. Rasanya sangat bahagia dan hidupnya tak lagi monoton dan menyedihkan.
‘Apa dia adalah gadis yang dipilihkan Tuhan untukku?’ batinnya merasa ada alasan kenapa Mikaela bisa sangat spesial di matanya.
***
Simon Property Group
“Ares, saat rapat tadi kau mengangkat telpon kan? Bukannya sudah paman bilang, ponsel dimatikan saat rapat?” Harold mengingatkan kepada Ares karena melihat Ares yang mengangkat panggilan dengan suara pelan tadinya. Memang sama sekali tak mencolok, tapi Harold tidak suka kalau Ares melanggar peraturan darinya.
“Maafkan aku, Paman! Ini hanya sebuah kesalahan dan aku tidak akan melakukannya lagi,” jawab Ares dengan penuh penyesalan. Sebenarnya, pria itu sedikit senang karena yang menelponnya adalah Mikaela, gadis yang baru –baru ini dia temui dan cukup menarik. Tapi memang dia tidak bisa banyak bicara karena situasi dan kondisi yang tidak tepat.
“Ya, aku suka dengan sikap penurutmu! Kemarin, adikmu datang ke mansion dan bertanya soal dirimu. Akhirnya, dia tahu juga kau sudah kembali dari California. Apa dia bertanya sesuatu padamu?” tanya Harold karena ingin tahu apa tanggapan Willy soal ini.
“Simon hanya bertanya dan aku menjawab aku harus tetap di sini. Setelah itu, dia tak bertanya banyak hal lainnya,” jawab Ares tak terlalu memberi tahu semuanya. Dari pertemuannya yang terakhir dengan Willy, kelihatannya sang adik sangat prihatin dengan keadaannya. Tapi Ares tidak mau menerima rasa kasihan orang lain karena merasa dirinya masih sanggup melakukan semua ini.
“Baguslah! Ingat, kau melakukan ini demi adikmu! Sekali saja kau tidak menurut, maka kau tahu sendiri apa akibatnya!” Harold mengingatkan Ares dan pria muda itu hanya menganggukkan kepalanya seperti b***k yang menurut kepada majikannya.
Ares bukan b***k kerja paksa yang tidak dibayar. Dia mendapat bayaran yang setimpal dari semua hasil kerjanya. Tapi yang memperbudaknya adalah paman kandungnya sendiri, yang harusnya menjadi pengganti orang tuanya yang sudah tiada sebelas tahun yang lalu. Mungkin Ares hidup berkelimpahan, tapi sekali pun dia tak pernah menikmati hasil kerjanya. Hidupnya monoton dan sangat membosankan! Setiap hari hanya melakukan hal yang sama, yakni kerja! Hanya satu hari dia bisa istirahat dari semua kegiatan itu.
Tapi Ares tidak keberatan karena semua ini demi adiknya, William Simon! Dibanding dirinya, Willy punya kebebasan yang lebih. Tidak ada aturan yang mesti dituruti Willy atau merasa terancam jika melakukan sebuah kesalahan. Tidak ada target yang mesti dikejar atau pun bisnis yang mesti dipikirkan. Itulah mengapa Ares melakukan semua ini, supaya Willy menjauh dari semua hal tak menyenangkan yang membuatnya seperti b***k sejak usia lima belas tahun.
“Baik! Semuanya beres! Dan jangan lupakan kuliahmu, Nak! Kau harus menjadi nomer satu seperti biasanya. Helios, dia cukup membantu kan?” tanya Harold lagi.
“Iya, Helios sangat membantuku! Aku akan selalu melakukan segalanya sesuai degan ekspetasi Paman!” Ares sekali lagi menyatakan betapa menurutnya dia sehingga Harold tersenyum senang.
‘Kapan… kapan semua ini akan berakhir?’ pikir Ares sambil memandangi punggung Harold yang keluar dari ruang kerjanya. Dia manusia yang juga ingin menikmati kehidupan.
***
“Kita tetangga dong! Kau harus sering berkunjung ke apartemenku di akhir pekan!” ujar Mikaela setelah selesai makan siang dengan Willy.
“Boleh berkunjung? Tapi aku masih banyak kesibukan di musim dingin ini. Aku harus menyiapkan banyak tugas juga melakukan riset. Aku ingin lebih cepat lulus!” balas Willy membuat Mikaela mengerucutkan bibirnya karena sedikit kesal.
“Sesibuk itu ya? Apa kau ingin membantu Ares?” tanya Mikaela tepat pada sasaran.
“Ya, kamu benar, Cassie! Sebagai saudaranya, aku tidak mungkin membiarkan dia menanggung beban sendirian. Dia bilang, aku mesti belajar yang bagus dan lulus! Tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain membantunya,” jawab Willy dengan nada yang sangat tulus.
“Kamu adik yang baik! Aku juga akan tiru kamu! Aku mau lulus dengan nilai terbaik lalu membanggakan keluargaku di Indonesia juga membantu mereka menjalankan bisnis!” Mikaela sangat termotivasi.
“Karena harta yang paling berharga adalah keluarga kan?” Willy menyatakan pendapatnya dan diangguki mantap oleh Mikaela. Mereka berdua sangat menyayangi keluarga mereka dan berusaha jadi sesuatu yang berguna dan bisa membahagiakan keluarga nantinya.
“Oh, iya? Willy benar –benar beribadah di hari Minggu ya? Biasanya kan, jarang ada yang melakukannya di sini.” Mikaela ingin tahu karena dia teringat perbincangan keduanya minggu lalu.
“Memangnya, apalagi yang bisa aku lakukan? Aku diberi napas setiap hari dan juga kehidupan tapi Tuhan hanya meminta sedikit dari waktu kita. Apa menurutmu itu berat?” Willy kini balik bertanya.
“Ahh… eumm… tidak sih,” jawab Mikaela yang sedikit tertohok dengan pendapat Willy.
“Jadi, begitu aku memikirkannya. Mau bagaimanapun orang sekitarku, aku lebih mengutamakan Dia yang memberi aku kehidupan.” Willy menjelaskan alasannya dan berhasil membuat Mikaela kagum.
“Boleh aku ikut?” Mikaela kini menawarkan diri.
“Hei, kenapa kamu meminta izinku? Kalau kamu mau ya datang saja kan? Pintunya terbuka lebar untuk siapa pun yang mencari –Nya!” Willy menjawab sehingga Mikaela menganggukkan kepalanya.
“Iya, maksudku bersama denganmu perginya! Lusa kan hari Minggu, aku boleh ikut?” pinta Mikaela lagi.
“Tentu saja, Cassie!” Willy tidak mungkin menolak permintaan Mikaela.
Setelah makan siang dan juga perbincangan yang menyenangkan itu, keduanya kembali ke apartemen masing –masing. Walau sempat kesal soal Ares yang sok sibuk itu, ada Willy yang menyenangkan sekali kalau diajak bicara. Mikaela berpikir untuk menjadi orang yang jauh lebih baik lagi dengan bantuan Willy. Di Negara yang serba bebas ini, sulit sekali mendapatkan teman yang mau mengajak ke jalan yang benar.
‘Aku harus jaga kepercayaan Papa untuk tidak terjerumus pergaulan bebas! Dari pada aku ke bar dan dapat zonk seperti kemarin, mendingan aku ikut ibadah sama Willy!’ batin Mikaela sudah pada keputusannya.
Gadis cantik itu kemudian melihat barang –barang di apartemennya yang sedikit berantakan dan dengan cepat membereskannya. Setelah itu, dia memeriksa laptop –nya untuk memastikan ada tidaknya tugas dari kampus. Tak lama, dia melihat beberapa e –mai dari dosen dan mesti diselesaikan dalam tiga hari lalu dikirimkan dalam bentuk file elektronik.
“Woah!! Mr. Greyson tidak santai dalam memberi tugas!” kesal Mikaela karena mesti segera mencari bahan untuk tugasnya. Tentu saja, mahasiswa dilarang menjiplak bulat –bulat dari internet. Jadi, Mikaela hanya bisa menggunakan refrensi bukan menyalin.
‘Aku harus selesaikan sebagian hari ini! Besok juga bisa selesai!’ yakin Mikaela dengan cepat mengerjakan tugasnya.
***
Apartemen Ares
Hari ini dan besok akan menjadi liburan bagi Ares karena tidak ada pekerjaan dan jadwal khusus di kantor. Dia masuk ke dalam apartemennya lalu melihat Helios yang sedang sibuk belajar karena tinggal setahun lagi rekan kerjanya itu menjalani hari kuliahnya, sedangkan Ares punya dua tahun lebih lagi. Waktu yang cukup lama tapi sebenarnya bisa dipersingkat jika Ares bisa melompati semua pelajaran. Tapi bagaimana mau melompati, Ares saja sering tidak masuk walau tugasnya selalu selesai. Tapi tetap saja, Ares akan upayakan yang terbaik untuk pendidikannya.
“Hei, Helios? Apa kau sedang mengerjakan tugasku?” tanya Ares ingin tahu saja.
“Ah, maaf Tuan! Saya akan segera mengerjakan tugas anda!” Helios menjawab dan langsung menyusun buku dan tugasnya. Sebenarnya, Helios punya banyak tugas akhir yang mesti dikerjakannya. Tapi yang terutama adalah membantu Ares dan tidak boleh mengutamakan dirinya sendiri.
“Sudah! Kerjakan saja punyamu! Aku sedang punya waktu dan bisa mengerjakan tugasku sendiri. Kau juga mesti lulus dengan nilai terbaik supaya bisa jadi tangan kananku,” suruh Ares tidak mau Helios terlalu sibuk karenanya. Pria yang lebih muda setahun dari Helios itu pun pergi ke ruang belajarnya untuk mengecek beberapa tugas untuk dia kerjakan segera.
‘Wahh! Aku harus menyelesaikannya sebelum hari Senin! Besok juga bisa! Hari Minggu istirahatku tidak boleh terganggu!’ batin Ares dengan sigap mengerjakan tugas yang dikirimkan lewat e –mail oleh dosennya. Mereka memang libur, tapi tetap saja ada tugas yang mesti dilakukannya.
Matahari terbenam tanpa terasa. Ares baru saja kembali dari dapur setelah makan malam ke ruang belajar untuk melanjutkan tugasnya. Tidak terasa, sudah sebagian hampir selesai dikerjakan olehnya. Rasanya puas sekali bisa mengerjakan tugasnya dengan cepat.
“Hahh… aku bangga dengan cara kerja otakku!” puji Ares pada dirinya sendiri sambil meneguk segelas air mineral setelah selesai dengan sebagian tugasnya. Jam terus berputar dan tidak terasa sudah pukul sebelas malam.
“Maaf, Tuan! Tapi ini sudah malam dan anda mesti jaga kesehatan anda!” Helios mengingatkan.
“Baiklah! Aku akan minum s**u dulu supaya bisa istirahat dengan lelap,” balas Ares lalu ke dapur untuk mengambil s**u di lemari dan menyeduh untuknya. Pria itu kemudian masuk ke kamarnya sambil memeriksa ponselnya sebentar. Seketika, dia melihat panggilan terakhir yang tertera di layar ponselnya.
‘Siapa namanya? Mikaela ya?’ pikirnya lalu menyimpan kontak Mikaela.
Setelah menyimpannya, Ares terpikir soal dirinya yang sama sekali tidak ramah kepada Mikaela tadi siang. Pria itu berpikir sejenak, apa dia mesti menghubungi gadis itu untuk minta maaf atau abaikan saja. Setelah lima menit berpikir, Ares pun menekan nomer kontak Mikaela.
***
Apartemen Mikaela
“Sudah hampir setengah! Hoamm!! Apa aku ngopi aja ya?” gumam Mikaela merasa tanggung sekali tugasnya itu padahal masih ada dua hari lagi. Tak lama, ponselnya berdering.
‘Hm… Papa nelpon ya?’ pikir Mikaela lalu meraih ponselnya tanpa teralihkan dari laptopnya. Ternyata, itu adalah Ares! Gadis cantik itu terbelalak dan langsung mengangkatnya. Tapi karena masih terkejut yang menelpon Ares, dia tak bisa berkata apa –apa.
[Halo? Apa aku menelpon terlalu malam?]
“Ha –halo! Tidak kok! Aku baru saja menyelesaikan tugasku. Kamu sendiri kenapa menelpon jam segini?” Mikaela menjawab seadanya saja.
[Oh, begadang juga ya? Kebetulan sekali, kita baru saja melakukan hal yang sama. Soal yang tadi siang, aku minta maaf ya. Aku harusnya tidak mengangkat telpon di hari dan jam kerja.]
“Iya, tidak masalah! Aku bisa paham kok! Sudahlah, kamu tidur saja! Pasti kamu kelelahan!” suruh Mikaela walau sebenarnya dia tak ingin percakapan ini berakhir begitu saja.
[Lelah? Iya, sedikit! Tapi saat mendengarkan suaramu aku tidak terlalu merasakannya.]
“Ehh? Ka –kau sedang menggodaku ya?!” Mikaela terkejut dan wajahnya sudah semerah tomat saat ini. Bisa –bisanya pria se –dingin Ares mengatakan hal seperti itu!
[Tidak sama sekali! Aku hanya jujur. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku senang ada seseorang yang menawarkan diri menjadi temanku. Kamu… masih ingin jadi temanku?]
“Te –tentu saja! Walau kita jarang bertemu, aku tetap anggap Ares sebagai teman kok! Sama seperti Willy juga,” balas Mikaela dengan perasaan yang sangat senang sehingga senyuman tidak hilang dari wajah cantiknya.
[Kalau begitu, ayo bertemu!]
“A –apa?” Mikaela tak menyangka dia akan langsung diajak bertemu begini!
[Hari Minggu, apa kamu ada waktu? Kalau kamu kuliah di Harvard, bagaimana kalau bertemu di Cambridge Common yang tak jauh dari kampusmu?] Ares benar –benar terdengar sangat serius ingin bertemu lagi dengan Mikaela bahkan datang ke Cambridge. Mendengar itu, Mikaela malah bingung bukan main!
‘Aduh! Aku hari Minggu kan mau ibadah sama Willy!’ Mikaela teringat soal rencana yang sudah diaturnya pada hari Minggu.