Mikaela memerhatikan Ares dengan lebih teliti. Dari cara bicaranya kepada orang lain yang tidak se –ramah Willy, sudah jelas mereka sangat berbeda. Kalau dia masih mau berspekulasi soal alter ego, itu sama saja dengan kurang kerjaan! Dan ya, Mikaela baru sadar kalau kalimatnya terlalu berlebihan soal menghabiskan malam, tapi tidak salah juga kan? Mereka bermalam di satu kamar hotel dan ajaibnya Ares bilang tidak kenal walau ingat.
“Ya, baiklah! Aku ingin mengembalikan coat milikmu yang aku muntahin kemarin,” kata Mikaela daripada berdebat panjang lebar dengan Ares.
“Kembalikan? Maaf, aku tidak memungut sampah,” balas Ares dengan nada yang sangat sombong luar biasa. Mikaela tak abis pikir, coat yang dia cuci dan cari kesempatan untuk dikembalikan hanya sekedar sampah bagi pria sombong ini!
“Eh, jangan sok kaya lah! Memangnya, orang tua kamu cari uang gampang aja kayak Bill Gates yang digaji per menit atau per detik? Aku sudah baik loh kembalikan daripada aku jual!” Mikaela sekarang marah sambil turun dari sepeda statis yang tadi dia duduki. Ares hanya mengernyit memerhatikan gadis di hadapannya ini.
‘Terlalu banyak bicara dan terkesan sok tahu! Ternyata, dia hanya punya penampilan yang cantik,’ batin Ares teringat sempat tertarik dengan gadis ini walau hanya dalam pandangannya. Ares memilih berbalik dan mengabaikan gadis itu tapi tak lama Mikaela menahan tangannya.
“Ikut aku!” Mikaela menarik tangannya dan pada akhirnya Ares ikut saja.
Akhirnya, mereka sampai di loker di mana Mikaela menyimpan baju musim dinginnya juga coat milik Ares yang sudah dia cuci sampai bersih. Ia langsung memberikan paper bag yang isinya coat itu kepada Ares. Pria itu hanya mendengus kesal tanpa menerimanya.
“Ishh! Sombong banget sih! Kalau masih marah sama aku gak apa! Tapi ingat keringat orang tuamu yang udah bekerja dan belikan kamu ini!” Mikaela berusaha supaya Ares luluh.
“Aku… tidak punya orang tua!” balas Ares dengan nada luar biasa dingin sehingga membuat Mikaela terdiam. Dia menatap tak percaya kepada Ares yang sudah menunjukkan ekspresi suramnya. Sepertinya, pria itu sama sekali tidak bercanda soal hal ini.
“Oh, be –begitu ya? Ma –maafkan aku!” Mikaela menyesal sekali jadinya.
“Kau simpan saja baju itu! Anggap saja pemberian dariku.” Ares kemudian berkata sehingga Mikaela kembali menatap pria itu. Ares merasa gadis ini akan lebih marah kalau dia membuang coat itu ke tempat sampah terang –terangan, jadi lebih baik dia berikan saja.
“Be –benarkah? Apa aku boleh juga? Lumayan, uang jajan dua minggu!” Mikaela langsung semangat.
Ares terkejut dengan ekspresi Mikaela yang langsung berubah. Tadi dia marah dan merasa bersalah, tapi sekarang jadi girang lagi. Ares tidak bisa menahan senyumnya sehingga dia memberi jawaban berupa anggukan singkat.
“Wah! Kamu tersenyum! Begitu dong, jangan merenggut terus! Hidup ini memang sulit sekali, tapi pasti banyak hal yang harus kita syukuri!” kata Mikaela kemudian membuat Ares menghela napasnya.
“Hm… setelah ini kau akan pergi kan? Aku akan lanjut lagi,” ujar Ares merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan Mikaela.
“Boleh aku menemanimu? Aku malas olahraga, tapi aku sudah bayar uang untuk sekali masuk mahal banget! Jadi sayang kalau baru satu jam kurang sudah keluar,” pinta Mikaela sehingga Ares menghela napasnya saja. Ditemani oleh seorang gadis? Itu adalah hal baru untuk Ares!
‘Tapi tidak buruk juga,’ pikirnya kemudian.
“Terserahmu saja!” Ares berkata sebagai bentuk izinnya. Mikaela pun langsung tersenyum lebar sambil menemani Ares berolahraga. Tempat ini sangat elit dan banyak orang memandangi mikaela dengan tatapan aneh karena dirasa seperti menggoda salah satu orang kaya di sini. Padahal, gadis itu tidak mau uangnya terbuang percuma saja.
Tak terasa dua jam berlalu dan sudah sampai tengah hari pula. Mikaela tak menyangka, Ares kuat berolahraga sampai berjam –jam. Entah tergerak oleh apa, Mikaela langsung mengambilkan sebotol air mineral dan dia berikan untuk Ares, tak lupa juga dengan handuk untuk mengelap keringat yang membasahi tubuh pria itu. Gadis itu sama sekali tidak berkedip dengan apa yang dia lihat sehingga yang menjadi objek pandangan merasa risih.
“Apa yang kau lihat?” Ares jadi malu dan segera pergi ke ruang ganti pakaian.
“Eh, tunggu! Ini minumlah dulu!” Mikaela memberi sebotol air mineral kepada Ares. Maka, Ares menerimanya dan meneguknya sampai habis lalu meninggalkan Mikaela ke ruang ganti.
‘Aku ini kenapa sih? Kayak… cari perhatian sama cowok sombong itu!’ Mikaela memerah sendiri mengingat dirinya yang sangat bodoh saat ini! Maka dengan cepat, dia berlari ke ruang ganti wanita lalu mengenakan pakaiannya. Tak lupa, dia memakai baju musim dinginnya karena setelah ini akan langsung pulang. Gadis itu pun keluar dari gym dan tak lama Ares juga keluar.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Ares mengalihkan perhatian Mikaela.
“A –aku… tinggal di Harvard St. So –soalnya aku kuliah di sana,” jawab Mikaela dengan sangat bangga.
“Oh, begitu ya?” Ares mengangguk singkat saja. Sekarang, Mikaela menarik napasnya dalam –dalam lalu menghembuskannya sehingga terlihat kepulan asap keluar dari napasnya karena udara dingin itu. Gadis cantik itu membulatkan tekadnya lalu buka suara.
“Ares, boleh aku minta kontakmu?” Mikaela ternyata ingin meminta kontak Ares.
“Apa?” Ares tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela. Ada seorang gadis yang berani minta kontaknya, itu adalah sesuatu yang tidak biasa. Seorang gadis biasanya akan selalu jual mahal dan ingin diperhatikan lebih dulu. Tapi Ares adalah orang yang tidak peduli dengan sekitarnya sama sekali. Jadi, para gadis pun malas mendekati Ares yang sangat dingin katanya.
“Ja –jangan pikir yang aneh –aneh dong! Aku hanya ingin berteman! A- adik kembarmu juga kuliah di Harvard kan? Namanya Willy! Kalian mirip tapi tidak sama. Jadi aku ingin berteman dengan kalian berdua, itu saja!” jelas Mikaela soal alasannya walau dia sudah salah tingkah duluan.
‘Berteman? ‘ Ares membatin dan tidak lama dia mengambil ponselnya untuk memberi tahu kontaknya kepada Mikaela. Gadis itu tersenyum lalu mengetikkan nomer kontak Ares di ponselnya.
“Terima kasih! Semoga kita bisa bertemu lagi!” ungkap Mikaela dengan senyuman yang terkembang di wajah cantik itu.
“Kamu ingin bertemu lagi denganku?” Ares bertanya tak percaya.
“Ya, tidak salah kan? Kebetulan kita juga gak terlalu jauh kan? Hanya jarak setengah jam saja dan aku sudah bisa bertemu dengan Ares.” Mikaela menjawab dengan senyuman tersipu di wajahnya.
“Begitu ya? Tapi kamu tahu soal keberadaanku di sini karena adikku ya?” tanya Ares teringat perkataan Mikaela sebelumnya.
“Eh, I –itu benar,” jawab Mikaela menganggukkan kepalanya.
“Kamu pulang naik apa?” Ares bertanya lagi.
“Ada kok bus –nya! Kamu sendiri naik apa?” Mikaela bertanya balik.
“Aku bawa mobil! Kalau begitu, aku duluan ya!” Ares melangkahkan kakinya dan mengambil mobil yang dia parkirkan di gym. Saat melihat mobil Ares, Mikaela terbelalak karena pria itu bawa mobil sport Ferrari yang sangat keren.
‘Apa dia akan berinisiatif mengantarkan aku dengan mobil itu?’ batinnya penuh harap. Tapi sayang, Ares benar –benar pergi tanpa berniat mengantarkan Mikaela sama sekali. Gadis itu benar –benar kecewa karena terlalu banyak berharap kepada Ares.
‘Bego banget ya, Kaela! Lihat, dia sama sekali tidak peduli padamu! Tapi kenapa kesannya kayak aku yang mengejar –ngejar dia ya?’ Mikaela baru terpikir sikapnya terlalu agresif dan pastinya Ares jadi risih kepadanya. Sepanjang jalan menuju ke apartemennya, Mikaela tak berhenti merutuki dirinya sendiri.
Sesampainya di apartemen, gadis itu masuk dan bersandar di sofanya karena hatinya sangat galau. Bukan galau karena diputusi doi, tapi karena sadar sikapnya kepada Ares yang sangat tidak jual mahal. Bukan berarti dia banting harga juga! Tapi memang niatnya adalah memiliki seorang teman. Tapi Ares bukan orang yang mudah didekati seperti Willy.
“Aku terlalu santai dan pikir dia sama seperti Willy yang orangnya ramah saja! Bagaimana dia memandangku setelah ini!” Mikaela benar –benar kacau memikirkan soal itu.
“Eh, tapi aku juga kan cuma mau berteman? Bodoh amat soal pandangannya! Lagian, dia juga kasih kontaknya kepadaku kan? Berarti dia mau menjadi temanku!” gumamnya seketika menjadi lebih santai. Tidak perlu jual mahal untuk sebuah pertemanan, bukan? Itulah yang dipikirkan oleh Mikaela saat ini.
***
Apartemen Willy
Willy baru saja pulang beribadah yang dia lakukan seperti setiap minggunya. Tapi saat tiba di depan apartemennya, seseorang sudah menunggui di depan pintu apartemennya. Sosok yang sangat mirip dengannya dan serasa bercermin setiap melihat orang itu. Siapa lagi kalau bukan Ares, saudara kembarnya? Tapi yang membuat Willy bingung, kenapa Ares datang ke apartemennya? Ini bukan hal biasa!
“Ada apa?” tanya Willy tanpa basa –basi.
“Tadinya aku ingin langsung masuk, tapi aku tidak tahu passcode apartemen-mu dan juga tidak ada orang di dalam. Kau tahu? Aku baru saja bertemu dengan temanmu tadi,” jawab Ares membuat Willy menganggukkan kepalanya.
“Dia hanya ingin mengembalikan barangmu.” Willy menjawab seadanya.
“Apa dia pacarmu?” tanya Ares sehingga Willy terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya cepat.
“Kau ini bicara apa sih? Aku juga baru kenal dia! Dan dia kenal aku karena bertemu denganmu. Dia kira kau adalah aku. Jadi semudah itu saja kok.” Willy menjelaskan detail kejadiannya lalu membuka pintu apartemennya. Tak lama, Ares menyusuli nya masuk sehingga membuat Willy bingung.
“Kenapa kau masuk?” tanya Willy membuat Ares menatap kesal kepada adiknya itu.
“Kau masih anggap aku saudara kan? Masa aku bertamu saja tidak boleh,” balas Ares membuat Willy menghela napasnya kesal.
“Bukannya kemarin kau usir aku?” sinis Willy dibalas senyuman oleh Ares.
“Bagaimana dibilang ya? Kau juga bertamu nya tengah malam. Itu kan gak sopan! Lagian kalau mau menginap, kau mau tidur di mana? Helios tinggal di kamar satu lagi sebagai rekan kerjaku yang baik. Kau juga punya tempat tinggal yang bagus. Lebih baik pulang saja kan?” Ares menjelaskan alasannya dengan panjang lebar.
“Sudah, jangan banyak basa –basi! Katakan apa tujuanmu. Kau pasti sangat sibuk dengan semua urusan bisnismu kan? Kau bahkan tidak mengizinkan aku membantumu sama sekali! Aku merasa tidak dianggap saudara,” balas Willy jujur saja soal perasaannya. Ares menghela napasnya lalu menepuk pundak adiknya berkali –kali.
“Hei, itu adalah kewajibanku! Sudah lama sekali ya kita tidak berbincang seperti ini? Maaf, aku terlalu sibuk. Kalau begitu, aku pulang dulu ya? Ada banyak tugas yang belum aku kerjakan! Aku hanya teringat soalmu karena Mikaela menyebut namamu. Oh, iya! Gadis itu terlalu banyak bicara juga! Dan juga cukup berani!” Ares memberi tahu kenapa dia ke sini juga penilaiannya soal Mikaela.
“Ya, begitulah!” Willy menjawab seadanya saja karena belum terlalu mengenal Mikaela. Setelah itu, Ares benar –benar pamit untuk melanjutkan hari Minggu di mana dia akan istirahat dari semua kegiatan kerjanya yang tidak ada habisnya. Dan Willy, dia tersenyum ketika teringat soal Mikaela.
‘Gadis penuh warna. Mikaela Cassandra, aku lebih suka panggil dia Cassie,’ batin Willy.
***
Mikaela baru pulang setelah mendapat seseorang yang mau membeli coat hitam milik Ares dengan harga yang fantastis! Siapa memangnya yang gak mau beli barang ori dengan harga miring? Malahan, itu masih sangat baru! Mungkin itu baru sekali atau dua kali pakai. Mikaela sangat senang karena uang di rekeningnya bertambah beberapa ribu dollar.
“Senangnya! Aku pengen makan enak di resto hari ini!” ujar Mikaela dengan penuh semangat. Tapi saat akan berjalan ke restoran, Mikaela berpapasan dengan Willy.
“Hei, Cassie! Senang bertemu dengan kamu lagi di sini.” Willy dengan lembut menyapanya.
“Halo, Willy! Kau tahu? Kemarin kembaranmu memberi saja coat itu untukku! Lalu kau tahu apa yang aku lakukan?” Mikaela sedikit main tebak –tebakkan sehingga Willy menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia tak tahu apa yang Mikaela lakukan pada baju musim dingin milik kembarannya.
“Aku menjualnya seharga dua ribu dollar! Lumayan kan tambahan uang jajan!” jawab Mikaela sehingga Willy tertawa sebagai tanggapan. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau Mikaela bisa melakukan hal seperti itu pada barang kakaknya.
“Hahaha! Benar juga! Kamu gak bisa pakai bajunya ya? Karena bisa tenggelam karena ukurannya yang besar,” balas Willy setelah tertawa.
“Ya, mau bagaimana lagi? Oh, iya! Aku lupa satu hal!” Mikaela tiba –tiba teringat sesuatu.
“Apa?” tanya Willy penasaran.
“Aku mesti berterima kasih kepadanya! Okay, aku akan hubungi dia. Dia kasih kontaknya kepadaku.” Mikaela langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Ares.
“Wah, dia memberi kontaknya kepadamu? Aku tidak percaya,” kata Willy merasa sepertinya Ares sedikit tertarik dengan gadis ini. Ares adalah orang yang sangat tertutup, bahkan Willy saja sulit mendapatkan kontak kembarannya itu.
“Mungkin dia mau menjadi temanku! Oke, aku telpon dulu!” balas Mikaela dan kemudian panggilan langsung terjawab.
‘DEG!’ Mikaela merasakan sebuah debaran ketika panggilannya diangkat. Dia pun menarik napasnya untuk menyatakan terima kasihnya.
“Halo Ares! Ini aku, Mikaela yang ke-“
[Aku sedang sibuk dan jangan hubungi di jam kerja]
‘Tuutt….!’ Seketika panggilan diputus.