Willy memandangi Mikaela yang terdengar begitu terkejut dengan penuturannya yang tidak tahu soal keberadaan kembarannya sendiri. Pria itu kemudian tersenyum tipis lalu memandang ke atas. Semuanya terlalu rumit untuk dia ceritakan kepada gadis penuh warna ini.
“Hei, kau bahkan belum beri tahu namamu,” kata Willy mengalihkan topik.
“Oh, Namaku Mikaela Cassandra boleh panggil Cassie!” Mikaela memperkenalkan dirinya.
“Cassie ya? Nama yang bagus! Dan soal kembaranku tadi, ada alasannya kenapa aku tidak tahu soal keberadaannya di sini. Tapi terima kasih sudah beri tahu aku, karena aku akan bicarakan dengan pamanku soal ini.” Willy berkata sambil berdiri dari bangku.
“Eh, boleh aku titipkan ini supaya kamu berikan kepadanya?” pinta Mikaela sambil memberikan paper bag itu supaya diberikan kepada Ares nantinya.
“Termui saja dia secara langsung! Nanti, aku akan beri tahu kapan kamu bisa bertemu dengannya. Boleh aku minta kontakmu?” Willy bertanya soal kontak Mikaela dan gadis itu mengeluarkan ponselnya dan dia tunjukkan kepada Willy. Pria itu langsung menyimpan kontak Mikaela dan mengirimkan sebuah pesan singkat supaya kontaknya juga bisa langsung disimpan oleh Mikaela.
“Okay, Cassie! Nanti aku beri tahu ya!” ujar Willy diangguki oleh Mikaela.
“Eh? Wait! Boleh aku tahu, Willy jurusan dan tingkat berapa?” Mikaela kelupaan bertanya soal ini setelah pembicaraan mereka yang cukup panjang.
“Aku Jurusan Manajemen bisnis di semester yang ketiga.” Willy menjawab.
“Oh, berarti kamu lebih tua setahun dari aku ya? Baik, mulai sekarang aku panggil senior Willy ya?” tanya Mikaela diangguki saja oleh Willy. “Terserah kamu saja! Baik, aku ada beberapa tugas yang mesti aku riset di perpustakaan. Sampai jumpa lain kali, Cassie!”
Mikaela melambaikan tangannya kepada Willy tak lupa dengan senyuman terukir di wajah cantiknya. Gadis itu menghela napasnya dan dia bisa melihat gas dari napasnya sendiri karena dinginnya udara saat ini. Baju Mikaela sudah cukup tebal tapi memang di bulan Desember adalah puncak musim dingin. Ini adalah pertama kali bagi Mikaela dan dia mesti terbiasa dengan musim dingin. Setelah merasa tidak ada yang perlu dia lakukan di kampus, maka kembalilah gadis itu ke apartemennya.
“Aku harus bertemu dengannya lagi? Kalau dipikir sih, Ares dan Willy punya sifat yang sangat berbeda walau wajahnya sangat mirip. Ares itu… dia sangat dingin dan tatapannya menusuk. Willy sangat hangat dan tenang berada di sampingnya,” gumam Mikaela memikirkan pria kembar itu.
“Eh… tapi bisa saja kan… Willy itu sebenarnya Ares? Jangan –jangan mereka satu orang dengan kepribadian yang berbeda dan Willy pura –pura gak tahu aja!” Mikaela terpikir salah satu teori aneh lagi. Tapi tak lama, gadis itu segera menggelengkan kepalanya.
“Apa sih yang aku pikirkan? Sudah deh, sekarang periksa beberapa tugas yang mesti dikumpulkan bulan depan! Sepertinya, si Ares ini pun tidak mencari –cari coat –nya. Kenapa aku mesti repot sih?” Mikaela tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Tiba –tiba, memori mengenai sebuah kejadian memalukan teringat olehnya. Ya, ingatan ketika dia muntah karena mabuk tepat di baju milik Ares, di coat hitam yang sama dengan yang dicucinya. Wajah Mikaela memerah sendiri mengingat soal itu!
‘Setelah berhari –hari, baru aku ingat semuanya! Pantas saja, Ares menatapku seperti ingin membunuhku kemarin,’ batinnya merasa tatapan tajam itu sangat pantas untuk dia dapatkan.
***
Simon’s Mansion, South Boston, MA, USA
Willy memerhatikan mansion yang besar dan megah ini. Sudah setahun lebih dia sama sekali tidak kembali karena ingin menjalani kehidupannya yang lebih mandiri. Penghuni mansion ini yang adalah pamannya juga tidak pernah menanyakan soal kabarnya sama sekali. Jadi, untuk apa dia peduli juga? Alasannya datang ke sini adalah untuk bertanya soal keberadaan kakaknya. Setahu Willy, kembarannya Ares kuliah di salah satu Universitas ternama, Stanford University California. Tapi ternyata, Ares ada di Boston yang tidak jauh dari tempat tinggal Willy di Cambridge.
“Selamat siang, Paman!” ujar Willy memberi salam penghormatan kepada pamannya, Harold Simon. Pria muda itu menundukkan badannya sendiri sampai Harold menghampiri dia.
“Angkat badanmu, William! Ada apa kau ke sini? Apa biaya bulananmu masih kurang? Aku akan beri tahu Ares nanti!” ujar Harold dengan tak acuh dan langsung melanjutkan langkahnya karena ada hal penting yang mesti dia kerjakan.
“Bukan itu, Paman! Ares… apa dia ada di Boston?” tanya Willy membuat Harold menghentikan langkahnya. Pria paruh baya itu berbalik lalu menjawab dengan santainya, “Iya, aku tarik dari dari California karena keperluan bisnis! Dia itu sangat dibutuhkan di sini.”
Willy tidak menduga hal seperti itu terjadi kepada kakaknya. Pria muda yang adalah kembaran Ares Pratama itu mengepalkan tangannya, karena merasa kalau kakaknya seperti sedang dimanfaatkan oleh pamannya. Bahkan, tidak dibiarkan untuk kuliah di salah satu Universitas yang ternama.
“Di mana Kakak kuliah sekarang? Apa Paman akan mutasi dia ke Harvard?” tanya Willy ingin tahu.
“Sudah setahun lebih dia di sini dan aku kuliahkan dia di Universitas Boston. Aku hanya tidak mau kalian akan membuat dosen bingung karena kemiripan kalian berdua. Sudah ya banyak tanyanya,” jawab Harold kemudian melanjutkan langkahnya tapi Willy mengejar sang paman.
“Tunggu, Paman! Beri aku kontak terbaru Ares!” pinta Willy sebelum pamannya pergi.
“Hahh… baiklah! Tapi kau jangan sering hubungi dia, karena anak itu sibuk! Sibuk juga demi dirimu kok!” kata Harold lalu mengirimkan kontak Ares kepada Willy kemudian pergi.
Willy terdiam mendengar pernyataan sang paman yang mengatakan kalau Ares sibuk demi dirinya. Dia menghubungkan dengan perkataan sebelumnya soal uang saku yang kurang dan mesti memberi tahu kepada Ares. Setelah itu, Willy menyadari segalanya kalau Ares selama ini bekerja keras demi membiayai dirinya! Willy tdiak percaya, kakaknya sudah membiayai kehidupannya di usia yang masih sangat muda. Semua yang mereka nikmati di kediaman Harold Simon sama sekali tidak gratis.
‘Sialan kau, Ares! Kenapa kau malah melakukan semuanya sendiri!’ batinnya benar –benar marah kepada Ares yang tak pernah memberi tahu soal kesulitan yang dialaminya.
***
Ares tiba di apartemennya tepat tengah malam. Ia baru kembali dari Manhattan setelah semua urusan dengan kontraktor selesai. Ia akan memberi laporan terbaru soal bisnis kepada pamannya dan semua berjalan dengan baik –baik saja! Saat pintu apartemen terbuka, Ares terkejut dengan kehadiran seseorang di apartemennya.
“Kau… bagaimana bisa?” tanya Ares terkejut dengan keberadaan kembarannya.
“Mudah saja, aku ke kampusmu dan minta alamatmu. Ternyata setahun lebih kau di Boston, kau tidak berniat menemuiku? Kakak macam apa kau ini?” sinisnya kepada Ares.
“Aku sibuk!” Dua kata itu berhasil membungkam Willy.
“Wah! Wah! Aku tidak menyangka sebenarnya sih, kalau Tuan William dan Tuan Ares se- mirip ini!” ujar Helios yang adalah teman Ares di sini.
“Simon, kau kembali saja ke apartemenmu. Atau… kau kekurangan uang saku?” tanya Ares membuat Willy mendecih. Dia heran, kenapa Paman dan kakaknya berpikir dia datang hanya karena masalah uang saja. Willy menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku!”
“Sudah bertemu! Lantas apa?” tanya Ares lagi merasa tidak perlu ada sesuatu yang dibahas. Lagipula, Ares sangat lelah dia dia ingin istirahat.
“Kau menyuruh orang lain menjadi temanmu di sini. Kenapa tidak aku saja yang membantumu melakukan semua pekerjaan ini, Ares? Aku juga bisa!” Willy tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya.
“Kau hanya perlu belajar dan jalani hidupmu dengan baik! Pulanglah! Jangan pikirkan aku!” suruh Ares sambil menepuk pundak Willy sekali dan masuk ke kamarnya. Lagipula, Ares ingin langsung istirahat setelah seharian melakukan pekerjaannya. Willy keluar dengan perasaan kesal dengan tingkah kakaknya.
‘Sok kuat! Dia pikir, dia itu manusia super yang bisa melakukan segalanya?’ batinnya sambil melangkah keluar. Tapi sebelum benar –benar keluar, dia teringat satu hal. Willy berbalik lalu menghampiri Helios yang ada di sini.
“Helios, apa yang dilakukannya di akhir pekan? Apa dia bekerja juga?” tanya Willy.
“Khusus akhir pekan, Tuan Ares memang menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Hari Minggu dia rutin gym di Lynx Fitness Club karena punya keanggotaan di sana.” Helios memberi tahu dan diangguki oleh Willy. Setelah itu, Willy pun pulang walau cuaca sedang sangat dingin. Ketika mobil Willy melaju, seseorang dari salah satu lantai apartemen memandang nanar ke mobil sang adik.
‘Tidak, adikku! Jangan mau hidup sepertiku,’ batin orang itu yang tidak lain adalah Ares Pratama.
***
Hari liburan digunakan Mikaela untuk belajar hal baru. Tidak mungkin dia olahraga keluar karena sangat dingin. Maka dari itu, dia belajar memasak dari video yang dia lihat di internet. Tapi sayang, setelah satu jam berjuang dan membuat dapurnya acak –acakan, hasilnya sangat menyedihkan.
“HUEKK!! Aku benci masakanku sendiri! Kenapa sih, aku tidak bisa memasak seperti Kak Anye?” gumamnya kesal lalu membuang semua masakannya. Ia pun membersihkan dapur malang itu. Setelah selesai, Mikaela memeriksa ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk.
“Bertemu dengan Ares di Lynx Fitness club hari Minggu? Wait! Itu gym mahal! Masuk sekali saja sudah menggerus uang jajanku!” gumam Mikaela tak habis pikir dengan pesan yang dikirimkan oleh Willy kepadanya soal kapan dia bisa bertemu dengan Ares. Mikaela pun langsung menghubungi Willy supaya mendapat kejelasan soal ini.
[Hai, apa kabarmu?]
“Iya, aku baik! Apa kau bisa beri tahu saja alamatnya? Kenapa mesti bertemu di sana?” tanya Mikaela merasa akan sangat repot kalau bertemu di gym.
[Orang itu tidak akan bisa selalu kamu temui di apartemennya, Cassie. Aku sudah konfirmasi soal jadwal rutinnya untuk nge –gym di hari Minggu]
“Oh, dia orang sibuk ya? Apa kau juga akan ke sana?”
[Tidak, aku tidak bisa meninggalkan ibadahku.]
“Hah? Be –begitu ya? Ba –baiklah, aku akan segera kembalikan kepadanya nanti. Terima kasih!”
Mikaela mengakhiri sambungan telpon di antara mereka. Mendengar Willy yang harus beribadah di hari Minggu membuat Mikaela tertampar. Jujur saja, hadis ini sama sekali tidak ingat kapan dia masuk ke rumah ibadah terlebih lagi sudah sampai di Amerika. Tidak ada teman juga yang mau ajak dia dan akhirnya tenggelam dalam kesibukan duniawi begini.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan Kaela! Lagian, semuanya itu bergantung perbuatan juga kan? Jadi besok adalah hari Minggu dan akan kukembalikan coat ini sekaligus minta maaf kepada Ares!” putus Mikaela daripada dia banyak pikiran.
***
Di hari Minggu, untuk pertama kalinya Mikaela masuk ke sebuah gym. Ia menghabiskan sebagian uang jajannya dalam sebulan demi bertemu Ares. Iya, sangat lucu! Hanya untuk mengembalikan sebuah pakaian yang mungkin tidak dicari oleh pemiliknya. Tapi di sisi lain, Mikaela ingin memecahkan misteri apakah Ares dan Willy memang pribadi yang terpisah atau malah alter ego. Si kembar yang luar biasa mirip itu berhasil membuat seorang Mikaela sangat penasaran.
Maka, Mikaela membuka baju musim dinginnya dan mengenakan pakaian olahraga yang dia beli semalam. Di sini tentu saja tidak sedingin di luar dan semua orang sibuk melakukan olahraga untuk kesehatan mereka. Mikaela memerhatikan pula, di sini lebih banyak pria dan jadinya canggung sendiri. Ia mengenakan baju olahraga yang pas badan dan juga celana yang pendek di sini. Tapi sebenarnya, tidak satu pun yang memedulikan dirinya.
‘Sudah –sudah! Mari coba treadmill saja dulu,’ batinnya sambil menghidupkan sebuah treadmill dan mulai olahraganya. Lima belas menit berlalu, gadis cantik itu merasa kelelahan. Ia belum pernah olahraga seperti ini sebelumnya. Maka, dengan cepat dia meneguk air mineral di botol yang dia bawa untuk mengembalikan ion di tubuhnya. Baru saja berbalik, dia melihat seorang pria yang mengangkat barbel yang besar dengan tangan –tangannya yang kuat. Mikaela tahu siapa pria itu dan terdiam sambil menontonnya sampai pria itu selesai. Setelah lima belas menit, pria itu masih belum menyadari kalau Mikaela memerhatikan dan melanjutkan dengan olahraga lainnya.
‘Ares itu orang yang kuat ya?’ pujinya dalam hati dan tidak lama pria yang diperhatikannya itu sepertinya sudah selesai. Mikaela berusaha mengikutinya, tapi kemudian kehilangan jejaknya.
‘Ke mana dia? Apa ke kamar mandi?’ pikir Mikaela lalu berbalik dengan tujuan untuk mencari di tempat lainnya. Tapi ketika berbalik, dia malah melihat pria yang sudah diperhatikannya sedari tadi bersidekap d**a tak lupa dengan tatapan super tajamnya.
“Kenapa kau memperhatikanku sedari tadi?” tanyanya tanpa basa –basi.
“Ka –kau percaya diri sekali! A –aku hanya melihat bagaimana cara menggunakan alat –alat ini dengan baik kok!” Mikaela beralasan padahal sudah tertangkap basah.
“Oh, begitu ya? Mau aku ajarkan? Aku baru melihatmu di sini dan sudah pasti orang baru ya.” Ares malah menawarkan diri yang malah membuat Mikaela terkejut.
‘Eh, dia percaya? Serius nih?’ Mikaela terdiam dan langsung mengangguk saja. Sayang juga kalau dia tidak olahraga padahal sudah bayar sangat mahal untuk satu hari saja.
Maka, Ares memilihkan sebuah sepeda statis untuk digunakan oleh Mikaela. Gadis itu mencobanya sampai merasa lelah padahal baru lima menit dia mendayung. Ares tertawa kecil karena melihat Mikaela sangat mudah lelah melakukan olahraga yang seperti ini saja.
“Lebih baik, kau banyak lari pagi saja. Sepertinya, kau belum terbiasa,” ujar Ares membuat Mikaela kesal.
“Hei, Ares! Aku bukan ingin olahraga di sini! Aku hanya ingin bertemu denganmu!” balas Mikaela membuat Ares terdiam sebentar.
“Untuk apa kau bertemu denganku? Aku bahkan tidak mengenalmu,” kata Ares kemudian berhasil membuat Mikaela tertampar habis. Benar! Ares tidak tahu siapa namanya!
“Namaku Mikaela dan ingat itu di dalam kepalamu! Masa sih, kau bertindak seperti orang asing padahal kau sudah menghabiskan malam denganku?” kesal Mikaela membuat Ares terkejut. Dia tak paham maksud kalimat gadis ini soal ‘menghabiskan malam’.
“Aku ingat dirimu! Bagaimana bisa aku lupa dengan gadis yang memuntahiku? Tapi tolong, soal menghabiskan malam itu kalimatnya terlalu berlebihan! Jadi, apa tujuanmu bertemu denganku?” Ares kini to the point saja!