I'm not Ares!

2440 Kata
“Makasih banyak ya, Al! Kamu sudah bantuin cuci sampai bersih! Besok tinggal kembalikan deh!” ujar Mikaela kepada teman kampusnya. “Bukan masalah, Cassie! Kamu juga udah bantuin aku. Tapi kalau boleh tahu, ini kayaknya punya cowok. Punya siapa? Atau… Cassie sebenarnya sudah punya pacar?” tanya Alya membuat Mikaela terkejut. “Bu –bukan kok! Jadi gini, semalam aku mabuk dan malah mutahin baju pria yang bernama Ares. Dan ternyata, dia satu kampus sama kita. Jadinya, aku gak enak dan mesti balikin!” jelas Mikaela. “Ohh… Ares ini orang kaya ya? Ini ori loh!” Alya malah kagum dengan Ares yang diduga kaya. “Iya, aku jadi gak enak. Udah, kamu pulang sebelum kemalaman! Ini dingin banget loh!” Mikaela memberi tahu Alya supaya tidak kemalaman. “Iya, makasih sekali lagi ya!” ujar Alya lalu pamit dari kediaman Mikaela. Setelah kepergian Alya, Mikaela mendapat pesan dari ayahnya. Selalu begitu setiap hari! Walau sibuk, Adinata Djuanda- ayah Mikaela, tidak pernah lupa menanyakan kabar putri kesayangannya. Perhatian seperti ini pun sudah sangat cukup bagi Mikaela! Dia sangat menyayangi keluarganya. “Eh, Papa malah telpon!” gumamnya lalu mengangkatnya. [Halo,Tuan Putri? Bagaimana kuliahmu? Apa kamu mau pulang?] “Pulang? Kayaknya enggak, deh Pa! Soalnya walau libur, tugasnya banyak banget.” Mikaela menjawab seadanya saja. Dia bukannya tidak mau pulang, hanya saja sebagai mahasiswi jelas tugasnya sampai segudang. Liburan mereka memang cukup lama, sampai musim dingin berakhir. Dan satu lagi, Mikaela ingin menikmati musim dingin di Cambridge, Amerika Serikat! [Benarkah? Baiklah, Kakakmu juga begitu. Kamu baik baik di sana kan?] “Aku selalu baik! Apa lagi kalau mendengar suara ayahku yang super tampan ini!” balas Mikaela dengan suara yang penuh kegirangan sehingga membuat Adinata tertawa di sana. [Putriku ini ada –ada saja! Kamu mau dibacakan dongeng untuk tidur?] “No! Kaela sudah besar, bukan bayi lagi! Kaela mau mandiri mulai sekarang!” tolak Mikaela untuk tawaran ayahnya. Ya, Adinata selalu memanjakan Mikaela sampai gadis kecil itu sangat bergantung kepadanya. Tapi saat ini, Mikaela sedang dalam proses belajar untuk mandiri dan dia mesti dukung. [Baik, Tuan putri! Selamat tidur! Oh, iya? Kamu semalam ke mana? Tidak angkat panggilan Papa?] “Itu karena Kaela sudah ketiduran karena mengerjakan tugas! Maafkan Kaela ya, Pa!” Mikaela menjawab dengan cepat supaya tak ketahuan kalau dia main di bar dan malah mabuk. [Ya, ampun! Kasihan sekali anak Papa. Baiklah, cepat istirahat! Jangan sampai sakit!] “Baik, Papa!” Mikaela mengiyakan pengingat dari sang ayah. [Papa sayang kamu!] “Kaela juga sangat sayang sama Papa!” balas Mikaela dengan sepenuh hatinya. Tentu saja, dia sangat menyayangi ayahnya lebih dari apapun! Dia yang selama ini selalu mendapat kasih sayang berlimpah sehingga kini dia mau buktikan kepada sang ayah, dirinya bisa menjadi sosok yang mandiri sesuai harapan sang ayah membesarkannya menjadi orang yang berguna. ‘Saat kembali nanti, aku bisa menjadi wanita karir yang hebat!’ batin Mikaela dengan penuh harap. *** Van Ness Apartment, Boston Di salah satu apartemen mewah, seorang pria masuk dengan wajahnya yang selalu ditekuk. Setiap harinya memang selalu begitu. Kelihatannya, dia baru pulang dari kampusnya lalu menaruh tasnya ke lemari dan mengambil beberapa buku yang mesti dipelajarinya. “Tuan Ares, kau sudah kembali? Tuan Harold tadi memberi beberapa pekerjaan untukmu,” ujar seorang pria yang tinggal bersama dengan pria yang bernama Ares itu. “Baik, aku akan segera mengerjakannya.” Ares menerima pekerjaan kantornya lalu meletakkan tugas di kampusnya di meja. Temannya itu menatap beberapa tugas milik Ares itu lalu meraihnya. “Biar aku saja yang kerjakan, Tuan! Anggap saja, ini bayaran atas semua kebaikan anda selama ini!” katanya lalu ke ruang belajar. Ares diam saja dan membiarkan pria itu melakukan hal yang dia mau. Itu juga cukup menolong Ares yang mesti melakukan pekerjaan kantornya. ‘Sekarang, aku harus pastikan semua perhitungan di kantor pusat dan beberapa cabang!’ batin Ares lalu duduk di sofa. Ia mengambil kacamata bacanya lalu mengecek semua perhitungan keuntungan. Dia tidak boleh melewatkan satu angka atau huruf pun! Ares tidak boleh melakukan satu kesalahan pun dan mengecewakan pamannya. Ketika bekerja, Ares terlihat sangat serius dan tidak ada yang boleh mengganggunya. Dia sudah melakukan semua ini sejak usia lima belas tahun dan kemampuan berbisnisnya juga semakin berkembang seraya mendapat banyak pengetahuan di kampusnya. Dengan bantuan Helios Jacquard, ya itu nama pria yang tinggal dengannya, segalanya akan lebih mudah. Helios juga punya kepintaran dan bisa membantunya dalam mengerjakan tugasnya. Tapi tak selalu begitu! Terkadang, Helios juga bisa membantunya untuk memberikan file kepada para klien. “Di Manhattan, sepertinya hasil proyeknya sedikit menurun walau hanya 0,01%. Ini tidak baik kalau dibiarkan! Aku harus memberi tahu perusahaan konstruksi untuk memeriksa kembali dana yang mereka keluarkan.” Ares mendapati sedikit masalah dalam pemeriksaan dokumen bisnisnya. “Helios, aku akan pergi ke Manhattan besok! Kau bisa hantarkan tugasnya kepada Mr. Bright?” tanya Ares saat tiba ke ruang belajar. “Baik, Tuan! Sepertinya Tuan sangat sibuk dan lelah. Anda butuh istirahat,” kata Helios membuat Ares tersenyum sangat tipis. “Tidak! Aku tidak bisa mengecewakan Paman! Aku harus melakukan semuanya demi adikku,” balas Ares lalu berlalu dan kembali melakukan pekerjaannya. Helios terdiam memandangi Ares yang benar –benar tidak bisa berhenti melakukan pekerjaannya. Sampai detik ini, dia belum juga bertemu dengan adik Ares Pratama dan tak sekalipun Ares mengundang adiknya itu. Saat Helios mengabdi kepada Ares, yang hanya diberi tahu oleh Tuannya itu hanyalah kalau dia butuh bantuan seseorang supaya bisa lulus dengan baik dan tidak mengecewakan pamannya. Saat melihat keseharian Ares, Helios paham betapa membosankannya hidup Ares. Awalnya dia kagum karena Ares sangat kaya, tapi belakangan dia malah kasihan. *** Crimson Court Apartment Seorang pria tampan baru saja menyelesaikan kegiatan membacanya. Ia melepaskan kacamata bacanya sambil meletakkan buku yang baru saja dia baca. Itu bukan buku biasa! Tapi Kitab Suci! Pria ini selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku itu walau banyak orang menganggap itu kolot. “Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia,” gumamnya lalu mengingat seorang gadis yang dia tangkap tadi siang di kampus. Gadis berambut pendek dan juga sangat cantik! Senyuman terkembang di wajah tampannya karena ada sesuatu yang sangat menarik dari gadis itu! Sangat menawan dan juga penuh warna. Dia kembali memerhatikan sekitarnya dan semuanya sama saja seperti sebelas tahun ini! Tanpa warna dan begitu suram! Dia hanya bisa melihat warna hitam dan putih saja karena sebuah kecelakaan yang membuat matanya mengalami sebuah kerusakan yang fatal. Ya, tapi masih untung dia hanya buta warna bukannya buta total. “Aku tidak percaya bisa melihat warna pada dirinya! Memang hanya warna sederhana! Rambutnya cokelat dan irisnya berwarna hazel terang. Bibirnya merah muda tipis dan begini cantik! Pakaian yang dia kenakan pun aku lihat dengan jelas warnanya! Keajaiban macam apa ini?” Dia masih belum percaya dengan apa yang dialaminya. “Tapi… kenapa dia menyebutku sebagai malaikat maut dan langsung pergi ya?” gumamnya merasa heran karena gadis cantik itu malah menghindar darinya. Ingin sekali rasanya dia berkenalan dengan baik dengan gadis itu. “Huftt! Besok aku akan coba cari dia di kampus. Apa dia akan ke perpustakaan lagi? Kalau ya, tidak akan sulit. Kalau tidak, aku mesti mencari apa jurusannya dan angkatan ke berapa.” Dia bergumam lagi memikirkan cara untuk bertemu dengan gadis penuh warna itu. Pria tampan ini adalah William Simon, salah satu mahasiswa semester tiga terbaik di Harvard! Para dosen sangat mengidolakan dirinya dan merasa kalau kedepannya Willy akan menjadi orang yang sangat sukses. Bukan saja kepintarannya, tapi pemikirannya yang luar biasa! ‘Besok aku akan ke kampus sebelum liburan musim dingin,’ batinnya karena berharap bisa bertemu lagi dengan gadis penuh warna itu. *** Hari ini, Mikaela datang ke kampus dengan sebuah paper bag di mana dia menyimpan coat milik Ares. Ia tidak ada tujuan khusus juga kelas juga sedang kosong karena semua temannya sedang sibuk dengan tugas semester akhir. Tujuannya ke sini hanya satu, mengembalikan coat ini lalu meminta maaf. “Eh, tapi kenapa aku mesti minta maaf sih? Udah baik banget aku mengembalikan barang ini! Mestinya, aku jual saja karena ini ori!” Mikaela sedikit menyesal mengembalikannya. Tapi dia tidak mau kelihatan seperti orang susah yang main curi barang orang lain saja. “Cassie! Kamu sudah selesai semua tugas kan? Sudah bisa liburan dong!” ujar Jasmine kepadanya. “Hmm… ada beberapa urusan sih! Oh, iya? Kalian kenal mahasiswa di sini yang namanya Ares Pratama?” tanya Mikaela siapa tahu temannya ada yang tahu. “Ares? Hmm… gak tahu tuh!” Jasmine jelas tak tahu. “Ares, si dewa perang kekasih Aphrodite?” tanya Kyle membuat Mikaela menggeleng. “Bukan yang itu! Benar –benar Ares namanya! Dia juga dari Indonesia dan sepertinya kuliah di sini!” Mikaela menegaskan keyakinannya. “Jangan –jangan, itu pria kemarin ya? Kalau dia temanmu, pasti kamu tahu dong dia jurusan apa dan tingkat berapa?” selidik Freya membuat Mikaela mati kutu. “Haha… baru beberapa kali bertemu! Kelupaan bahas soal itu!” Mikaela jadi kikuk sendiri. “Ya udah, kamu telpon saja!” saran Carol membuat Mikaela semakin tertegun. Tahu dari mana dia nomer kontak Ares? Itu sesuatu yang sangat gila! Pertemuan mereka semalam saja sangat menyebalkan dan rasanya Mikaela tak lagi ingin berurusan dengan pria itu sama sekali! Tapi bagaimanapun, dia mesti mengembalikan barang milik pria itu. “Iya, benar! Terima kasih!” Mikaela memilih keluar dari ruang kelasnya untuk keliling bangunan Harvard. Mikaela memilih menyusuri seluruh Harvard yang luasnya sampai lima ribuan hektar ini demi menemukan satu orang. Ya, hanya satu orang saja! Seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tidak ada jalan lain, karena dia pun tidak punya kontak dan tak tahu di mana Ares tinggal. “Hosshh! Lelahnya! Ini baru melewati beberapa gedung,” gumamnya setelah berkeliling beberapa gedung jurusan yang luasnya minta ampun. Tak lama, dia melihat beberapa mahasiswa mengambil buku yang banyak dari perpustakaan. Seketika, dia langsung terpikir satu hal. “Oalah! Bego banget sih aku! Kenapa aku gak tanya sama penjaga perpustakaan saja?” Mikaela malah baru terpikir. Siapa tahu, penjaga perpustakaan kenal dengan Ares. Maka, dia langsung beranjak ke perpustakaan sambil membawa paper bag yang berisi coat milik pria itu. Mikaela masuk dan langsung bertanya dengan si ibu penjaga perpustakaan. “Boleh saya tahu, Ma’am? Ares Pratama itu di jurusan apa dan tingkat ke berapa ya?” tanya Mikaela kepada Ma’am Watson yang adalah penjaga perpustakaan. “Siapa Ares Pratama? Sebentar, saya cari datanya dulu.” Ma’am Watson baik sekali ingin membantu Mikaela. Saat mengetikkan nama yang dituliskan oleh Mikaela, dia sama sekali tak mendapat apapun. “Maaf, tapi dia bukan salah satu mahasiswa di sini,” ujar Ma’am Watson membuat Mikaela terbelalak. “Tapi, Ma’am! Bukannya semalam dia di sini? Sa –saya itu yang hampir jatuh dari tangga loh! Dia yang menolong semalam!” Mikaela memberi tahu deskripsi kejadiannya. Ma’am Watson mengernyit dan sepertinya Mikaela salah menyebut nama. “Mungkin… maksudmu William Simon?” tanya Ma’am Watson. “Bukan, Ma’am! Aduh, pusing aku! Padahal, jelas sekali semalam. Namanya Ares, Ma’am!” Sekali lagi Mikaela memberi tahu nama itu tapi tetap saja tidak ada. “Mungkin kau terlalu banyak minum! Sekarang, biarkan anak lain mengantri karena aku mesti mencatat buku yang mereka pinjam!” ujar Ma’am Watson merasa ada yang salah dengan Mikaela. Akhirnya, gadis itu menghela napasnya lalu keluar dari perpustakaan. ‘Apa orang yang gak kuliah di sini boleh masuk?’ pikirnya sangat heran. Baru saja keluar, dia malah bertabrakan dengan seseorang karena Mikaela sama sekali tidak memerhatikan jalannya. “Hei, kita ketemu lagi!” kata pria itu membuat Mikaela langsung mengangkat kepalanya. Gadis itu tersenyum lalu menarik tangan sang pria untuk dibawanya menjauh dari perpustakaan. “Kau… ternyata benar!” Mikaela menyentuh kedua sisi wajah itu. “Ma’am Watson pasti asal –asal saja mengetik di komputernya! Masa dia bilang kalau kamu bukan mahasiswa di sini?” Mikaela bercerita soal tadi. Pria itu tersenyum lalu berkata, “Mungkin beliau sangat sibuk karena setiap hari banyak yang meminjam buku. Kamu kelihatannya seperti mencariku? Maaf kalau aku salah.” “Tentu! Aku memang mencarimu sampai berkeliling kampus yang besar ini! Gila banget kan aku?” jawab Mikaela sambil menghela napasnya berulang kali karena baru saja dia bisa istirahat. Gilanya, di musim dingin ini dia malah keringatan karena sangat lelah. Gadis cantik itu pun bersandar di sandaran bangku yang mereka duduki dekat halaman perpustakaan. “Kenapa… kamu mencari aku?” Pria itu sedikit tersenyum karena gadis itu berjuang untuk cari dia. “Oh, itu! Maaf soal kemarin dan ini coat milikmu! Aku sudah mencucinya dan tidak bau muntah lagi.” Mikaela memberi paper bag berisikan coat hitam itu kepada pria di sebelahnya. Pria itu menatap bingung kepada Mikaela lalu menatap aneh dengan coat yang diberikan oleh gadis ini. “Hei, ini bukan punyaku! Aku selalu menggunakan yang berwarna terang seperti putih atau cokelat muda,” katanya membuat Mikaela mengernyit. “A-apa? Ares, sudahlah! Jelas –jelas tukang bersih –bersih di bar bilang kalau itu adalah milikmu yang aku muntahi! Kalau tidak mau juga tak masalah! Kalau aku jual, ini mahal!” Mikaela menarik lagi coat itu sehingga membuat pria itu bingung jadinya. “Ares? Tapi aku bukan Ares! Namaku William Simon dan sering dipanggil Willy,” jelas pria bernama Willy itu sehingga Mikaela terdiam. Tunggu! Bukannya hari itu jelas –jelas dia sebut namanya Ares Pratama. Maka, gadis itu memicing kepada Willy dan merasa ada yang aneh di sini. “Jangan bohong! Jelas –jelas kau bilang namamu Ares! Ares Pratama! Atau kau malah punya identitas ganda, huh?” Mikaela menuding dan alhasil Willy terdiam. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Mikaela soal Ares Pratama. “Kau bertemu dengan Ares? Di mana tadi? Di bar? Apa dia ada di kota ini?” Willy bertanya banyak hal sehingga Mikaela malah semakin heran dengan semua yang terjadi. “A –apa ja –jangan si Ares itu adalah Doppelganger atau malah kau? Aku jadi takut!” Mikaela malah merinding membayangkan sebuah teori mengenai kemiripan di antara Ares dan Willy. “Tidak usah berpikir terlalu berat. Dia adalah saudara kembarku,” jelas Willy membuat Mikaela semakin terpelongo. Dia merasa seperti orang bodoh di depan Willy saat ini. “Ke –kembar? Pantas saja mirip sekali! Apa dia juga kuliah di sini?” tanya Mikaela penasaran. “Tidak, harusnya saat ini dia ada di California karena menerima beasiswa di sana. Tapi tiba –tiba kamu bilang dia bertemu di bar denganmu?” tanya Willy lagi setelah menjelaskan soal keberadaan Ares. “Iya, benar! Kami ketemu di Boston.” Mikaela menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu, aku harus bertemu dengannya!” Willy berkata sehingga Mikaela makin tak habis pikir. “Kau… tidak tahu kembaranmu ada di Boston?!” Mikaela malah makin heran dengan yang ini. ____________________________ Kalian team mana nih? Willy atau Ares??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN