13. Masa Lalu I

1035 Kata
Beberapa tahun yang lalu. Ruslan mengamati rumah besar di depan nya. Ia ragu untuk melangkah. Kembali ia melihat pakaian yang ia kenakan. Sungguh sangat sederhana. Ruslan hanya mematung di pintu pagar. Lalu datanglah sebuah mobil sedan warna merah membunyikan klakson. Ruslan terperanjat. Seorang wanita cantik menyembulkan kepala dari jendela mobil. "Hei, kau siapa? Sedang apa berdiri di pintu gerbang?" ujarnya sedikit kesal dan berwajah sangat sombong menurut Ruslan. Ruslan hanya tersenyum tipis lalu mengangguk dan memilih menjauh dari wanita itu. Klakson mobil kembali berbunyi. Dari ujung dinding pagar, Ruslan melihat pintu rumah Mira terbuka. Dari penampilannya yang sedikit lelah dan hanya mengenakan daster sederhana, pasti ia Mbok Ipah, asisten rumah tangga yang sangat baik yang sering diceritakan Mira. Mbok Ipah membuka pintu gerbang dan mengangguk sopan pada wanita yang berada di dalam mobil. "Mbok, sini! Bawa kantong belanjaanku di garasi!" perintah wanita itu. "Baik, Nyonya!" sahut Mbok Ipah sopan. "Apakah itu Maminya Mira? Cantik sekali memang, tapi sepertinya kurang ramah," gumam Ruslan pelan. "Mbok, anak saya Mira sudah pulang?" Benar dugaan Ruslan, itu Nyonya Zainab Dimantara, maminya Mira. "Sudah, Nyonya. Non Mira bilang, sedang menunggu temannya datang. "Teman sekolahnya apa Stevan?" tanya Nyonya Dimantara. "Sepertinya teman sekolahnya, karena Non Mira bilang, mau belajar bersama," sahut Mbok Ipah. Nyonya Zainab Dimantara mengerutkan kening lalu mencari-cari keberadaan Ruslan yang tadi berdiri saja di depan gerbang. Ruslan yang sedang berdiri di ujung pagar halaman segera menyembunyikan diri. "Ya, sudah. Ambil barang-barang di bagasi lalu letakkan di kamar saya semua, ya. Saya mau pergi lagi, sampaikan pada Mira, saya masih ada urusan penting!" perintah Nyonya Zainab Dimantara. Mbok Ipah bergegas menuju bagasi mobil dan mengambil semua kantong belanjaan majikannya dengan sedikit kerepotan. Mobil Nyonya Zainab kembali melaju pergi. Mbok Ipah mengangguk sopan, memandangi kepergian majikannya. Ruslan memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya. "Assalamu'alaikum," Mbok Ipah menoleh. "Wa'alaikumussalam," jawab Mbok Ipah. "Maaf, apa Mira ada di rumah?" tanya Ruslan hati-hati. "Non Mira ada di dalam. Apa Aa teman sekolahnya Non Mira?" sahut Mbok Ipah. Ruslan mengangguk. Mbok Ipah tersenyum lalu mengajak Ruslan ke dalam. "Mari saya bawakan sebagian!" tawar Ruslan karena dilihatnya Mbok Ipah kerepotan membawa banyak kantong belanjaan. "Oh, baik sekali. Tapi tak usah, tak apa-apa," tolak Mbok Ipah. "Sini!" Ruslan memaksa lalu mengambil sebagian kantong belanja maminya Mira. Akhirnya Mbok Ipah mengalah dan mengajak Ruslan masuk. Hawa sejuk dirasakan Ruslan saat memasuki ruang tamu rumah Mira. "Aa duduk saja dulu, Mbok panggilkan Non Mira sebentar, ya!" ujar Mbok Ipah ramah. Ruslan meletakkan barang yang dibawanya. Lalu duduk di sofa empuk nan lembut. Tak berselang lama, Mira muncul bersama Mbok Ipah di belakangnya. "Hai, Rus! Aku pikir kau tak jadi datang!" Mira menyambut Ruslan dengan wajah riang. Mbok Ipah mengambil sisa kantong belanja yang dibawa Ruslan. "Apa itu?" tanya Mira. "Ini tadi Mami Non Mira bawa kantong belanjaan banyak, Aa ini membantu Mbok membawakan ke dalam," sahut Mbok Ipah. "Oh!" sahut Mira tak peduli. "Aa mau minum apa? Nanti Mbok buatkan!" ujar Mbok Ipah pada Ruslan. "Air putih biasa saja," sahut Ruslan sopan. "Buatkan jus mangga, puding dan kue yang kemarin aku beli, Mbok!" perintah Mira. "Baik, Non!" Mbok Ipah mengangguk sopan dan berlalu. Mira duduk di sebelah Ruslan dengan wajah sumringah. "Kenapa telat?" rajuk Mira manja. "Aku hanya telat lima belas menit saja," jawab Ruslan mesem. Kedua mata Mira mengerjap indah. Mira mengenakan dress selutut berwarna kuning cerah. Kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih dan mulus. Rambut Mira panjang dan ikal sedikit bergelombang. Harum tubuh Mira yang khas membuat degup jantung Ruslan tak karuan. Saat Mira tersenyum, dunia yang dipijak Ruslan serasa tak bertapak. Ia menyukai senyum Mira. Bibir yang lembab nan penuh itu seringkali menimbulkan geletar aneh di hati Ruslan. "Kita belajar dulu atau makan dulu?" tawar Mira riang. Ia memainkan rambutnya yang harum. Jantung Ruslan berdegup kencang. "Aku sudah makan tadi di rumah," sahut Ruslan. Mira cemberut. "Makan lagi di sini, ya! Aku sudah meminta Mbok Ipah menyiapkan masakan yang enak karena kau mau datang," rajuk Mira. Ruslan hanya diam, ucapan Mira tak boleh ditentang. Mbok Ipah muncul membawa nampan berisi dua gelas jus mangga, beserta potongan kue dan puding yang menggugah selera. "Mbok, tolong letakkan nampan itu di kamarku saja. Aku dan Ruslan mau makan dulu! Meja makan sudah siap, Mbok?" ujar Mira. "Sudah Mbok siapkan dari tadi, Non!" Mbok Ipah mengangguk sopan. "Kenapa diletakkan di kamar?" tanya Ruslan. "Kita mau belajar di kamarku!" sahut Mira. "Kenapa mesti di kamar?" Ruslan gemetar. "Memangnya mau belajar di dapur?" kekeh Mira. "Ayo!" Mira berdiri dan melambai pada Ruslan untuk mengikutinya ke ruang makan. Kilauan gelang Mira yang berantai dan berbentuk hati sungguh sangat menawan saat terkena sinar lampu di atas meja makan. Mira menyendok nasi dengan lincah namun tidak menimbulkan suara di piring. "Makanlah yang banyak, biar berisi badanmu!" ujar Mira. Ruslan mesem sembari mengangguk pelan. "Mbok, makan denganku sini!" teriak Mira. Mbok Ipah tergopoh-gopoh muncul dari dapur. "Saya sudah makan, Non!" sahut Mbok Ipah. "Kalau begitu, duduklah temani kami makan!" pinta Mira ramah. Mbok Ipah menarik kursi di sebelah Mira lalu duduk diam sembari tersenyum pada Ruslan. "Non, tadi Mami Non Mira berpesan, Nyonya harus pergi lagi mungkin pulang nanti malam," ujar Mbok Ipah. "Apa peduliku?" sahut Mira tidak begitu antusias dengan pesan yang disampaikan Mbok Ipah. Ruslan tercenung. Jelas, hubungan Mira dengan maminya memang tidak begitu dekat. Bahkan mungkin sangat tidak dekat. "Mbok Ipah ini sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Mbok selalu menemani hari-hariku. Saat aku sakit, saat hujan yang disertai geledek besar, Mbok akan berlari ke kamar dan memelukku. Setiap kali pengambilan raport sekolah, Mbok Ipah yang ambilkan," jelas Mira pada Ruslan. Ruslan merasakan nada bahagia sekaligus sedih dalam ucapan Mira. Mira memang sering bercerita tentang maminya yang selalu sibuk dengan kegiatan tidak jelasnya. Hanya papinya yang selalu memperhatikan dan memenuhi semua kebutuhan Mira. Sayang, papinya Mira bekerja di luar negeri dan jarang sekali pulang. Mbok Ipah merasa terharu mendengar Mira berkata seperti itu tentang dirinya. Dibelainya rambut Mira. Tatapan Mbok Ipah pada Mira sarat dengan kasih sayang, layaknya seorang Ibu yang begitu mengasihi anaknya sendiri. "Mbok sayang sama Non Mira, berharap Non selalu sehat, selalu tersenyum tanpa beban." Mbok Mira berkata sangat lembut. Mira menoleh pada Mbok Ipah lalu tanpa sungkan mengecup pipi Mbok Ipah. Ruslan tampak trenyuh melihat adegan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN