6. Kedatangan Anak Ibu Haji Miftah

1500 Kata
Jam enam subuh, warung sembako merangkap warung sayur milik Ibu Sumi selalu ramai. Hari itu hari minggu, biasanya warung akan semakin ramai karena hari libur. "Bu Haji, belanjaannya banyak sekali. Untuk stok berapa hari itu?" tanya Bu Joko menelisik dua kantong besar belanjaan Ibu Haji Miftah. Bu Haji Miftah tersenyum. "Anak saya Alfian tadi malam pulang mendadak. Saya tidak dikabari sama sekali. Katanya memberi kejutan dan tidak ingin membuat saya repot harus masak-masak," jawab Bu Haji Miftah. "Oh, Alfian anak Bu Haji yang mirip artis Korea itu? Aduh, senangnya anak ganteng kesayangan datang ya, Bu!" Bu Joko tampak bersemangat. "Iya, sudah tiga tahun ia merantau di seberang pulau. Akhirnya bisa pulang meski di tengah pandemi Corona saat ini, Bu. Senang sekali saya." "Nak Alfian di kota rantau sudah menikah apa belum, Bu Haji?" ujar Bu Sinta ingin tahu. "Ya, belum. Kalah menikah masa diam-diam, saya tak diberi kabar." Bu Haji Miftah tertawa kecil. "Kapan nikah, Bu Haji? Usianya sudah sangat lebih dari cukup untuk punya istri, lho!" timpal Bu Joko. "Entahlah, dia selalu sibuk mencari uang. Saya juga bingung, tiap kali saya tanya kapan menikah, selalu diam. Katanya belum bertemu seseorang yang bisa menggetarkan hatinya," jawab Bu Haji Miftah. Ibu-ibu, saya permisi, ya. Mau ke rumah Halimah!" lanjut Bu Haji Miftah. "Ada keperluan apa Bu dengan Halimah?" tanya Bu Sumi. "Mau minta Halimah bantu saya masak-masak. Mbak Murti yang kerja di rumah saya pulang kampung dua hari yang lalu, ibunya sakit," jawab Bu Haji Miftah. "Itu Halimah, Bu Haji!" Weni menunjuk ke arah Halimah yang tampak berjalan ke arah warung Bu Sumi. "Wah, kebetulan sekali. Limah!" panggil Bu Haji Miftah sambil meletakkan dua kantong belanjaannya di kursi kayu dekat Bu Joko yang saat itu tak henti-hentinya makan gorengan. Halimah tiba, ia segera mendekat pada Bu Haji Miftah. "Iya, Bu Haji, ada apa?" sahut Halimah sopan. "Saya mau minta tolong. Alfian anak saya datang dari Manado tadi malam. Mbak Murti pulang kampung. Minta bantuan Limah sekiranya bisa bantu saya masak-masak, bisa?" "Pagi ini, Bu Haji?" "Iya, pagi ini." "Saya izin Bang Ruslan dulu, ya. Kebetulan hari ini saya tidak masak. Kemarin habis masak semur ayam, masih ada sisa. Ini hanya mau beli lalapan saja," sahut Halimah. "Saya tunggu di rumah saya, ya. Semoga suamimu memberi izin. Duh, padahal ini hari libur, ya. Seharusnya kau menemani Ruslan di rumah," sesal Bu Haji Miftah. "Tak apa-apa, Bu Haji. Biasanya Bang Ruslan kalau libur itu tidur seharian. Istirahat full." "Alhamdulillah. Ya, sudah. Kau izin dulu saja sama Ruslan, ya. Saya tunggu, lho!" Bu Haji Miftah meraih kembali dua kantong belanjaannya. "Ibu-ibu, saya permisi pulang dulu, ya!" "Iya, Bu Haji, silahkan!" timpal Bu Joko dan yang lainnya. "Limah, kau masih ingat Alfian, kan?" tanya Bu Sinta. "Iya, Bu. Alfian kakak kelas saya waktu di SMU. Dua tahun di atas saya," jawab Halimah. "Kaya raya dia sekarang. Lima tahun merantau tapi masih belum menikah, waktu di sekolah dulu apa dia tidak punya pacar?" tanya Bu Joko. "Bu Joko ini, ya. Selalu saja ingin tahu. Ke rumah Bu Haji Miftah saja nanti sama Halimah. Sekalian wawancara!" tukas Bu Sinta enteng. "Kau ini, suka-suka aku mau tanya-tanya tentang si Alfian itu. Habisnya aku penasaran, sudah kaya, tampan, tapi masih juga belum punya pasangan. Andai saja aku punya anak perempuan, ingin sekali aku jodohkan dengan si Alfian itu!" papar Bu Joko menerawang. Halimah hanya mesem mendengar ucapan Bu Joko. Ia memilih-milih lalapan kesukaan Ruslan, setelah membayar belanjaannya, Halimah pamit pada semuanya karena ia harus bergegas ke rumah Bu Haji Miftah. *** "Assalamu'alaikum," salam Halimah di pintu masuk rumah Ibu Haji Miftah. Ia sudah dapat izin dari Ruslan untuk membantu Ibu Haji Miftah memasak. Lama tak terdengar sahutan dari dalam. Halimah kembali mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum." Halimah melihat mobil Pajero warna putih yang agak kotor. Ia berpikir itu mobil kakak kelasnya dulu semasa SMU. Karena mobil Innova Pak Haji Miftah ada di sebelah dalam garasi. Terdengar sahutan seorang laki-laki dari dalam. "Wa'alaikumussalam." Pintu dibuka. Alfian tertegun melihat Halimah berdiri di depannya. "Bang Alfi, apa kabar? Sehat, Bang? Duh, senangnya bisa pulang ke kampung halaman lagi setelah bertahun-tahun merantau." Halimah menegur lebih dulu. "Eh, iya. Semalam saya sampai rumah jam dua malam. Kabar baik, Halimah. Pangling, ya!" jawab Alfian sedikit gugup. "Saya mau bertemu Bu Haji, Bang. Mau bantu-bantu masak," ucap Halimah. "Silahkan masuk!" Alfian mempersilahkan Halimah masuk. "Langsung ke dapur saja," lanjut Alfian. "Iya, terima kasih, Bang." Halimah mengangguk sopan dan bergegas masuk menuju dapur. Halimah sering dimintai bantuan oleh Bu Haji Miftah jika Mbak Murti yang bekerja di rumahnya sedang pulang kampung. Bu Haji senang dengan Halimah yang sopan, cekatan dan bersih dalam pekerjaan rumahnya. Alfian mematung di depan pintu masuk. Hatinya bergemuruh. Halimah adalah cinta pertamanya yang selama ini ia pendam. Alfian adalah sosok laki-laki yang pendiam dan pemalu. Saat itu ia hanya mampu mengagumi Halimah diam-diam. Adik kelasnya yang manis dan ceria. Tetangganya yang menarik hati banyak pemuda. Hari ini, di hari pertamanya menginjakkan kaki di rumahnya setelah lima tahun lamanya di kota rantau, Halimah muncul. Masih sama seperti dulu, manis dengan lesung di kedua pipinya, cantik dengan senyumnya yang menawan. Alfian mengepalkan tangan dan menarik napas dalam sambil memejamkan mata. "Alfian, kau sedang apa di situ?" tegur Pak Haji Miftah, ayah Alfian. Alfian terkejut namun cepat-cepat menetralisir ekspresi keterkejutannya. "Tadi ada Halimah datang mau membantu Ibu masak, Yah!" sahut Alfian berusaha membuat suaranya tenang. "Oh, Halimah adik kelasmu dulu? Ia sudah menikah setahun yang lalu dengan anaknya Ibu Marni. Kau masih ingat Ibu Marni? Dulu sering membantu ibumu cuci setrika baju di sini." "Iya, Yah. Aku ingat Bu Marni. Bagaimana sekarang kabar Ibu Marni?" tanya Alfian sambil menutup pintu. "Ibu Marni sudah meninggal, Ayah lupa tepatnya kapan. Ia sudah lama menderita sakit paru-paru. Makanya dulu Bu Marni berhenti cuci setrika baju di sini karena anaknya, suaminya Halimah sekarang, sudah bekerja di pabrik. Ruslan melarang Bu Marni bekerja lagi," papar Pak Haji Miftah. Alfian tampak prihatin. "Coba kau keluarkan dulu mobilmu. Ayah mau ke Balai Desa, ada rapat dengan para tokoh warga." "Baik, Yah!" Alfian membuka pintu kembali dan melaksanakan permintaan ayahnya. Sementara itu di dapur, Ibu Haji Miftah senang sekali dengan kedatangan Halimah. Sebelum Halimah bekerja, biasanya sering ditawari makan dulu. "Halimah, tadi saya beli ketoprak dekat minimarket. Ayo, kita makan dulu!" Ibu Haji Miftah mengeluarkan beberapa bungkusan ketoprak dari kantong kresek hitam. "Pak Haji sudah sarapan, Bu?" tanya Halimah. "Habis subuh Pak Haji sudah makan pepes ikan mas sisa semalam. Pagi ini ada rapat di Balai Desa. Kita makan ketoprak bertiga dengan Alfian saja, ya. Kau tadi bertemu Alfian di depan, kan? Anak saya tambah putih dan ganteng, ya!" Ibu Haji Miftah memuji Alfian. Ia bangga sekali dengan anaknya itu. Halimah tersenyum kecil. "Tambah berisi badannya, Bu!" puji Halimah tulus tanpa maksud lain. "Kalau kata Bu Joko, anak saya mirip artis Korea. Sebentar, saya panggilkan dulu Alfian!" Ibu Haji Miftah menghilang ke ruang tamu. Halimah mesem mendengar Bu Haji Miftah memuji Alfian seperti artis Korea. Tak berselang lama, Ibu Haji Miftah muncul bersama Alfian. "Ayo, kita sarapan sama-sama!" Ibu Haji Miftah segera membantu Halimah membuka bungkusan ketoprak. Alfian diam-diam melirik dan memperhatikan Halimah. "Punyaku lontong saja, Bu. Tidak pakai bihun," ujar Alfian. "Ibu tak lupa kebiasaanmu memesan lontong, Fi." Bu Haji Miftah tersenyum penuh kasih pada anaknya. "Masih saja seperti dulu. Limah masih ingat kalau Bang Alfi pesan ketoprak di kantin sekolah, pasti tanpa bihun. Kita satu organisasi di SMU, Bang," timpal Halimah. "Wah, kau masih ingat rupanya!" seru Alfian mencoba bersikap biasa saja. Padahal dalam hatinya ia merasa senang Halimah punya perhatian untuknya. Halimah masih mengingat kebiasannya memesan ketoprak. Ada yang berdesir hangat di hati Alfian. Alfian dari dulu selalu pandai menyembunyikan perasaannya di depan Halimah. Padahal sebetulnya ia ingin mengungkapkan isi hatinya namun melihat keceriaan Halimah dan begitu banyak yang menyukainya, Alfian merasa minder. Ia menutup rapat cintanya untuk Halimah. Hingga kini. Itulah alasan Alfian belum menikah. Sosok Halimah yang melekat dalam hatinya belum tergantikan oleh perempuan manapun. "Suamimu bagaimana kabarnya, Limah?" tanya Alfian tetap berusaha santai, padahal hatinya bertalu tak karuan. "Limah menikah dengan Ruslan ya, Bu. Anaknya Ibu Marni," lanjut Alfian mengalihkan tatapannya pada Ibu Haji Miftah. Ibu Haji Miftah mengangguk namun tak menjawab karena bibirnya kepedasan makan ketoprak. "Ruslan yang selalu rajin ke masjid," puji Alfian tulus. Pipi Halimah bersemu merah. Ia senang sekaligus malu jika Ruslan selalu dipuji rajin ke masjid. "Sekarang sudah tak serajin dulu ke masjidnya, Bang. Kerjanya sering lembur." "Beruntung sekali Ruslan berhasil menyunting sang kembang desa," ujar Bu Haji Miftah. "Saya yang beruntung mendapatkan cinta Bang Ruslan," sahut Halimah, kembali kedua pipinya bersemu merah. Kembali hati Alfian berdesir. Kali ini desirannya sedikit perih melihat Halimah memuji suaminya. "Kau yang anaknya Pak Haji saja malas ke masjid, Fi. Kalah sama anaknya Ibu Marni dulu." tukas Ibu Miftah setelah menenggak setengah gelas es teh manis. Alfian menunduk malu. "Tapi Bang Alfi bagus sekali kalau sudah mengaji, Bu Haji. Halimah sering mendengar Bang Alfi mengaji di masjid kalau sedang rajin." Perih yang tadi sempat menggores hati Alfian, seketika terobati mendengar pujian Halimah untuk dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN