5. Siklus Bulanan

1177 Kata
Ruslan dan Budi kembali bertemu di warung kopi ujung jalan tempat kemarin mereka bertemu. "Bagaimana kabar jagoan kita ini?" tanya Budi perhatian. Ruslan meringis. "Masih begitu-begitu saja." "Lemah kau, Rus!" Budi terbahak. Ruslan mesem-mesem sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah lama ingin keluar dari pabrik. Tapi aku masih berat dengan status karyawan tetapku. Gaji lumayan besar meski memang pekerjaannya sangat menguras tenaga bagiku," keluh Ruslan. "Fisikmu memang lemah dari kecil. Sejak SD tiap kali pelajaran olahraga kau pasti jarang ikut. Hanya diam di pojok kelas mengerjakan soal-soal matematika."  "Kata istriku, harusnya aku kerja kantoran. Tapi mana ada kerja kantoran lulusan SMU." "Banyak, Rus. Hanya saja sekarang memang agak susah cari kerja, musim pandemi juga," tukas Budi. "Itulah, serba salah aku jadinya." Ruslan membuang rokok yang tinggal setengah.  "Tapi coba saja kirim lamaran ke bagian administrasi. Siapa tahu rezeki. Fisikmu juga tak akan terlalu terkuras jadi bisa membahagiakan istrimu." Budi terkekeh. Ruslan kembali mesem.  *** Halimah berbaring di atas kasur. Matanya terpejam. Pikirannya gundah. Sejak semalam Halimah gelisah. Ia tengah mengalami siklus bulanan. Wanita mengalami perubahan hormon saat menghadapi pra menstruasi-libidonya semakin menanjak. Halimah mengatur napasnya, membuang segala halusinasi menyenangkan dari pikirannya. Meski dahaga batin tak terkira menggerogotinya, ia tetap harus bertahan. Demi cintanya untuk Ruslan.  Namun Halimah lebih sering mengalami hal-hal ajaib dalam pikirannya. Biasanya, ia selalu merasa puas meski harus bermain dengan angan-angan. Terbang sendirian lalu terisak pedih setelahnya.  Halimah menggigit bibir tertahan, menyeka luapan keringat yang membanjiri tubuhnya. Perlahan ia bangkit, duduk menenangkan diri di tepi tempat tidur. Lalu berjalan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya. Meluruhkan seluruh gundah dan gelisah. Berharap keajaiban menyapa, melesatkan impiannya ke langit.  Meredam, menahan, bersabar dan tersenyum. Halimah menutupi keinginan terbesarnya dengan sempurna. Demi keutuhan rumah tangga. Ia selesai membersihkan diri, menggelar sajadah, memakai mukena lalu kembali melangitkan selaksa harapan. Terdengar ketukan di pintu. "Assalamu'alaikum." Suara Ruslan, suami terkasihnya. Cepat-cepat Halimah melipat mukena dan bergegas membukakan pintu untuk Ruslan. "Wa'alaikumussalam," sahut Halimah menyambut kekasih hatinya. Permata jiwanya. Ruslan tersenyum. Rasa letihnya seharian bekerja terbayar dengan senyum cantik Halimah yang segar dan wangi. Ia menyerahkan bungkusan yang dibawanya. "Apa ini, Bang?" tanya Halimah. "Sate," jawab Ruslan.  "Lho, mana tusukannya?" Halimah membuka bungkusan. "Abang minta dilepas tusukannya. Biar susukmu tidak luntur dan cantikmu awet sepanjang hayat," sahut Ruslan. "Ih, Abang. Susuk apa? Aku cantik sudah dari lahir." Halimah merenggut. Ruslan tersenyum. "Itu sate dibelikan teman Abang tadi siang. Sengaja Abang minta bumbunya dipisah dan tusukannya dilepas. Supaya Adek mudah menghangatkannya lagi tanpa melepas daging satu-satu dari tusukannya. Memudahkan urusan istri meski sepele tapi terasa indah, bukan?"  Halimah tersipu. Ruslan mencubit pipi Halimah yang bersemu merah.  "Siang-siang ada yang jual sate di mana, Bang?" "Kawannya kawan Abang buka restoran baru. Tadi siang Abang di ajak makan siang di sana. Tapi Abang tolak, minta dibungkus saja, Dek. Lumayan bisa tidur siang setengah jam habis salat dan makan siang di pabrik. Kalau makan di luar, waktu istirahat dihabiskan di jalan. Kau masak apa hari ini?" "Pepes ayam, Bang. Tadi Uak Sanim membelikan ayam waktu aku belanja di warung Bu Sumi," jawab Halimah. "Uak Sanim?" Ruslan mengerutkan kening. "Iya, Uak Sanim. Tadi ada Nenden lagi belanja juga. Nenden minta dibelikan aneka macam bahan masakkan lalu sekalian belanjaan aku juga dibayar Uak Sanim." "Kau tidak minta tapi Uak Sanim yang menawarkan?" "Iya, Bang. Aku mana berani minta-minta pada pria lain selain suami sendiri," jawab Halimah lembut. Hubungan Ruslan dengan Uak Sanim tidak begitu dekat. Uak Sanim adalah anak yang dibawa istri kedua kakek Ruslan. Ibunya Ruslan dan Uak Sanim tak pernah akur. Istri kedua kakek Ruslan selalu memusuhi anak tirinya, ibunya Ruslan. Sepeninggal kakek Ruslan, harta warisan dikuasai sepenuhnya oleh ibunya Uak Sanim. "Sebenarnya ada hubungan apa Uak Sanim dengan Nenden. Tempo hari Abang tanya, Uak bilang tak ada hubungan apa-apa. Tapi tingkah mereka layaknya seperti punya hubungan khusus." Ruslan tampak berpikir. "Sudahlah, Bang. Biar itu menjadi urusan mereka," sahut Halimah lembut. "Abang juga merasa aneh dengan gelagat Uak Sanim." Ruslan menatap Halimah lekat. "Aneh bagaimana, Bang?" tanya Halimah. Jauh di dasar hatinya Halimah pun merasakan hal yang sama. Uak Sanim biasanya tak pernah peduli dengan Ruslan dan dirinya. Namun akhir-akhir ini Uak Sanim tampak sedikit perhatian.  "Entahlah. Ayo kita makan saja, Dek. Perut Abang sudah lapar," ajak Ruslan. Halimah dengan telaten melayani Ruslan. Mereka makan malam berdua dengan penuh cinta. *** Di kamar Uak Sanim, Nenden menutup pintu kamar dan bernapas lega.  "Di luar tidak ada orang?" tanya Uak Sanim.  Nenden mengangguk lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur. "Sampai kapan kita sembunyi-sembunyi dari warga? Aku tak mau begini terus. Kapan kau akan menikahi aku?" gerutu Nenden. "Sabar sedikit, Nden. Aku sedang mengumpulkan uang agar pesta pernikahan kita nanti meriah. Memangnya kau tidak mau merayakan pernikahan kita besar-besaran?" jawab Uak Sanim. "Besok-besok aku tak mau mengendap-endap lagi ke rumahmu hanya untuk menginap. Kau itu banyak uang, kalau mau bersenang-senang kenapa tidak di hotel saja?" sungut Nenden. "Sudah aku bilang, aku harus menghemat uang untuk acara besar kita," kelit Uak Sanim. "Menghemat apa? Kemarin kau belikan si Halimah ayam waktu belanja di warung Bu Sumi?" Suara Nenden meninggi. "Harga ayam tak seberapa. Lagipula Halimah itu istrinya keponakanku. Kau harus akur dengannya, Nenden." Uak Sanim bergerak hendak memeluk Nenden yang berbaring di sebelahnya. Namun Nenden menepisnya. "Kemarinnya lagi kau belikan ia oleh-oleh Tahu dari Sumedang. Sementara untukku? Tidak kau belikan apapun!" Bibir Nenden semakin mengerucut, wajahnya masam. "Itu pesanan si Ruslan. Sudahlah, makanan yang harganya tak seberapa kau permasalahkan. Kau jangan cemburu pada istri keponakanku sendiri!"  Nenden mendelik. "Sejak kapan kau begitu perhatian pada Ruslan? Setahu aku, kau tak pernah peduli dengan saudara tirimu itu?" Uak Sanim menghela napas sambil memejamkan mata. "Ruslan itu tetap keponakanku. Tak baik selalu memusuhi kerabat sendiri. Apa salah kalau sekarang aku berusaha menjadi Uak yang baik untuk keponakanku?" Nenden melirik Uak Sanim sinis. "Mana senyummu? Tiap kali bertemu selalu marah-marah." Uak Sanim protes. Lalu ia teringat dengan Halimah. Halimah selalu menyuguhkan senyum yang sangat manis jika bertemu dengannya. Hatinya selalu merasa sejuk jika melihat senyum Halimah. Tanpa sadar Uak Sanim senyum-senyum sendiri membayangkan betapa manisnya sosok Halimah. "Hei, apa yang kau pikirkan? Kenapa senyum-senyum sendiri?" hardik Nenden. "Daripada suntuk melihat calon istri tak pernah memberikan kedamaian dengan senyum tulus, lebih baik aku yang senyum-senyum sendiri," sahut Uak Sanim pandai sekali berbohong. "Makanya jadi calon suami itu harus bisa menenangkan hati calon istri. Bagaimana bisa membuat hati calon istri percaya kalau tingkahmu saja aneh!" rutuk Nenden. Uak Sanim bangkit lalu duduk di tepi tempat tidur. "Sini, duduklah!" perintah Uak Sanim pelan. Nenden menurut, ia pun duduk di sebelah Uak Sanim. "Aku tak mau dihujani dengan rasa cemburu dan curiga. Kenapa aku menceraikan istriku dulu? Karena ia terlalu cemburu dan curiga dengan apapun yang kulakukan. Aku merasa terkekang. Berikan kepercayaan untuk pasangan kita. Hidup nyaman dan aman karena kita saling percaya. Aku tak mau pengganti istriku nanti perangainya sama," tegas Uak Sanim. Nenden diam, amarahnya mereda. Ia menunduk. Uak Sanim merengkuh bahu Nenden. Membelai rambutnya dan menangkup kedua pipi Nenden. Lalu setelahnya hal yang sama terjadi lagi di kamar itu. Mereka melakukan hubungan suami istri. Entah sudah yang keberapa kali. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN