Alfian termenung di kamarnya. Ia sungguh tak menduga jika Nenden sedalam itu berhubungan dengan Uak Sanim. Namun ada perasaan lain yang belum mampu ia tafsirkan. Bukan suka apalagi rasa cinta. Ia iba melihat Nenden. Semakin iba saat mendengar kabar buruk tentang Nenden. Kelelahan yang terpancar di mata Nenden nampak jelas di mata Alfian. Nenden mengharapkan seseorang tempatnya berlabuh. Seseorang yang tepat, yang bisa diandalkan dan juga mencintainya dengan tulus. Alfian melihat itu dalam sorot mata Nenden. Uak Sanim jelas bukan orang yang sesungguhnya diinginkan Nenden. Alfian merasa trenyuh setiap kali Nenden datang ke rumah, mencari perhatiannya dengan segala upaya. Alfian sangat menghargai usaha Nenden. Kini, Nenden juga sepertinya sudah berubah. Ia mau mengenakan kerudung, lebih

