74. Tujuh Puluh Empat

1111 Kata

Kehidupan Halimah sekarang sudah benar-benar bahagia. Uak Sanim sudah minta maaf, Mira tak lagi mengantar jemput Ruslan kerja. Ruslan sendiri sudah rajin memulihkan energi kekuatannya yang selama ini terpendam. Ruslan tak pernah lagi meminta Halimah membelikannya rokok. Ia juga rajin kembali salat berjamaah di masjid. Terkadang Ruslan membuat sendiri ramuan jus pinang muda. Ruslan memanjakan Halimah dengan malam-malam yang panjang dan penuh dengan lenguhan bersamaan. Mereka bemain dengan lembut, selembut tarian penari yang gemulai. Namun adakalanya mereka juga berkuda teramat liar tak terkendali. "Abang, nanti pakai batik seragaman saja ke pernikahannya Atikah, ya!" Halimah melihat-lihat batik yang diberi Atikah. "Itu batik dari mana?" tanya Ruslan. "Dari Atikah. Nanti kita jadi peny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN