"Jangan pergi, Mas! Atau kamu akan melihatku bersimbah darah di sini dan kamu akan menyesal seumur hidupmu!" Dira mengancam sembari mengacungkan pisau kecilnya ke pergelangan tangan. "Kamu mau ngapain, Dir? Mau potong tangan? Potong kaki? Potong leher atau potong bebek angsa?" balasku sembari menatapnya tajam. Rita terlihat histeris lalu mencoba melepaskan pisau itu dari tangan Dira. Dia tak tahu bagaimana Dira selama ini. Senjata itu selalu dia pakai untuk mengancamku. Bo dohnya aku selama ini yang selalu termakan oleh akting profesionalnya. Namun kali ini aku tak akan pernah terjebak oleh dramanya lagi. Semua sudah jelas. Dira hanya pura-pura lemah, padahal dia jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. "Mas!" Teriaknya lagi saat aku membalikkan badan dan melangkah pergi sembari mens

