Suasana semakin tak terkendali. Emosi Mas Arga memuncak setelah mendengar ucapan Bara. Wajahnya memerah menahan amarah. Sorot matanya tajam menghujam. Dia kembali menatap Bara penuh emosi. "Apa Lo bilang, Bar?" tanya Mas Arga menegakkan badannya sembari mencengkeram kerah kemeja yang Bara pakai. Kedua laki-laki itu saling menatap tajam. Tak ada yang mau mengalah. Keduanya sama-sama beradu otot. "Karen gugat Lo ke pengadilan. Puas Lo! Lo emang pantas digugat, Ga. Sudah berulang kali gue bilang, jaga dia baik-baik. Dia perempuan istimewa, tapi Lo justru sia-siakan dia. Kalau nggak sanggup buat bahagiakan dia, gue sanggup!" sentak Bara lalu menepis tangan Mas Arga. Aku tak ingin melihat kembali pertengkaran mereka. Kutinggalkan saja mereka tepat di saat kedua anak Dira menangis bersahuta

