Kepergian Mas Arga beberapa menit lalu membuat suasana kamar kembali hening. Kuusap perut perlahan seraya melafalkan beberapa doa untuk janin yang ada dalam rahimku. Suara pintu yang berderit membuat lamunanku buyar. Tepat saat aku menoleh, perempuan itu sudah berdiri di ambang pintu menatapku dari tempatnya. Dia. Siapa lagi kalau bukan Dira. Perempuan culas yang bersandiwara sebagai bidadari. Menyebalkan sekali. Sudah cukup diamku selama ini. Jika terus mengalah, dia akan semakin semena-mena dan menganggapku perempuan lemah. Jadi, aku putuskan untuk mengikuti permainannya. "Arvin sama Irvan ikut Mbak Lina dulu ya? Mama mau jenguk Tante Karen," ucap Dira sembari melongok ke luar pintu. Ternyata dia sudah ada asisten di sini yang membantunya menjaga kedua buah hatinya. Aku yakin d

