Setelah mendapatkan alamat tempat Alisa dan Jayden berada, Liam segera bergegas menuju ke tempat dimana kekasihnya berada dengan pria gila yang menjijikan, Jaden. Ternyata mereka ada di sebuah hotel mewah.
Kamar nomor 469
Brak
Dengan kekuatannya yang tak main-main, Liam mendobrak pintu itu, hei... Sudah kukatakan Liam itu seorang petinju junior. Dia sangat kuat dengan otot-otot yang menghiasi lengan dan perut sixpack miliknya.
Deg
"Sialan!" Desis Liam dengan amarah saat pertama kali ia membuka pintu dan mendapati jika Alisa dan Jaden sedang b******u dengan Alisa yang hanya tertutupi selimut.
"s**t!" Liam langsung maju dan menarik kerah baju Jaden dan memukulinya habis-habisan.
Bughh
Liam tak henti-hentinya memukuli Jaden yang hanya terdiam tanpa membalas pukulan Liam. Alisa semakin panik. Bagaimana jika Jaden mati, padahal Alisa belum mendapatkan bayarannya malam tadi, uang dan perhiasan yang dijanjikan Jaden.
Hei. Alisa memang sangat mencintai uang dan ia menjadi sangat bodoh hanya karena barang-barang itu.
"Liam! Hentikan!" teriak Alisa dengan suara nyaringnya.
Liam berhenti dan menatap pada kekasihnya.
Plak
Tangan Liam menampar pipi tirus milik Alisa sehingga Alisa terjatuh dengan bibirnya yang sedikit sobek dan mengeluarkan sedikit darah.
"Kau begitu rendah... Alisa!" Ucap Liam dengan sangat kecewa.
Alisa menangis, ia menjadi takut, bingung, dan merasa bersalah. Tapi ia sangat membutuhkan uang saat ini. Uang itu akan digunakan Alisa untuk biaya operasi neneknya yang sekarat di rumah sakit, dan kenyataanya Liam tak tahu akan perihal ini, Alisa sengaja menyembunyikannya dari Liam. Ia tak ingin Liam menjadi khawatir dan berakibat pada pertandingan tinjunya tiga hari mendatang.
"Hiks! Aku, aku butuh uang itu Liam! Aku butuh!" Alisa memegang kaki Liam dan menangis di sana.
Ia lelah menjadi orang miskin, ia mencintai Liam tapi kenyataanya saat itu Liam bukanlah orang kaya. Lantas bagaimana? Katakanlah Alisa adalah tipe gadis bodoh yang sangat mencintai uang dan juga Liam.
"Kau lebih mencintai uang daripada diriku? Sungguh Alisa?"
Alisa masih menangis dia tak berani mengatakan apapun kali ini.
"Jawab!" Suara Liam begitu membuat Alisa bahkan Jaden bergetar ketakutan.
"Ya! Aku tak mencintaimu Liam! Aku hanya mencintai uang! Puas kau?! Hiskk" tangis Alisa pecah usai mengatakan segalanya. Kini pasti Liam membencinya, menganggapnya rendah, murahan dan lain sebagainnya.
"Baiklah... Kejarlah seluruh uangmu! Kita tak berhubungan apapun lagi mulai detik ini!" Ucap Liam dengan lirih, dia tak kuasa memandang Alisa yang juga menangis.
Dia juga membenci fakta jika dirinya bukan orang kaya yang berkuasa, dia tak bisa membahagiakan Alisa dengan hanya menjadi seorang petinju junior yang tak memiliki uang dan kekuasaan. Dia tak bisa memiliki Alisa, begitulah pikirnya.
Tanpa sepatah kata apapun lagi Liam pergi dari sana. Langkahnya berat, ia mencintai Alisa, tentu saja. Tapi keadaan dan bahkan Alisa tak berpihak padanya. Liam... Liam membenci dirinya, dan juga dia membenci Alisa.
Di dalam kamar itu tersisalah Jaden dan Alisa. Alisa masih menangisi apa yang terjadi dan si gila Jaden itu justru sedang marah-marah tak jelas.
"Aku tak mengharapkan ini! Rencanaku berantakan! Sial! Aku menginginkan Liam!" Ucap Jaden dengan memecahkan seluruh perabotan yang ada di sana.
Satu lagi fakta. Jaden itu sebenarnya gila, dia menyuap rumah sakit jiwa untuk bebas keluar masuk sesukanya seperti sekarang.
"Kau!" Jaden kini menatap Alisa yang masih menutupi dirinya dengan selimut.
"Aku membencimu! Kau! Arfghg," racau si gila Jaden itu.
Jaden mengeluarkan sebuah pistol dari balik sakunya dan menyodorkannya pada Alisa yang masih menangis.
"Kau tak berguna! Lebih baik kau mati! Maka mungkin saja nanti Liam akan mau bersamaku! Hahahaha," tawanya dengan gila.
"Gila! Liam tak akan Sudi bersamamu! Pansy!"
"Oh ya? Hahaha. Maka aku akan membunuhmu detik ini juga, jika aku gagal mendapatkan Kak Liam maka kau juga tak boleh memilikinya!" ucap Jaden dengan amarah yang terlihat mengerikan, bahkan Liam mencoba beberapa kali menembak Alisa. Namun Alisa sebisa mungkin menghindar.
Dor
Dor
Dor
Tiga kali tembakan itu meleset dan di tembakan ke empat, Jaden berhasil menembak paha kanan Alisa dengan cukup parah, darah segar mulai mengalir dan membasahi selimut yang Alisa kenakan untuk menutupi tubuh polosnya.
"Arggg sshh," Alisa meringis kesakitan dan melihat pahanya yang tertembus peluru Jaden, dan hal itu membuat Jaden puas dan mulai tertawa kesetanan.
Brak
Beruntunglah Liam kembali, saat tadi dia mendengar suara tembakan. Ia segera berlari dan benar saja tebakan Liam, Jaden sedang menggila.
"Alisa!" Teriak Liam. Biar bagaimanapun, Liam memang mencintai Alisa. Dia memeriksa paha Alisa yang tertembak oleh Jaden. Alisa masih memandangi Liam yang bahkan masih memperdulikan Alisa, gadis itu menjadi semakin merasa bersalah pada Liam. Alisa tidak jahat, tapi semua yang terjadi hari itu membuat Liam beranggapan jika kekasihnya adalah gadis penggila harta yang tak setia.
"Minggirlah kak! Aku akan membunuhnya untukmu!" Ucap Jaden dengan gila, ia mencoba membidik Alisa dengan senjatanya.
"Sialan! Kau yang akan kubunuh!" Liam dengan sigap memukul keras perut Jaden. Darah keluar dari mulut Jaden.
Saat Liam mulai membantu Alisa untuk berdiri dan meniggalkan Alisa untuk mengambil beberapa pakaian yang ada untuk menutupi tubuh polos gadis itu, Liam mendapati Jaden yang diam-diam mengarahkan pistolnya pada Alisa.
Tanpa pikir panjang Liam langsung menjadikan tubuhnya sebagai perisai bagi Alisa, Liam mengorbankan raganya kala itu untuk Alisa yang ia benci. Cinta Liam memang lebih besar dari rasa bencinya kala itu, tapi tetap sja, Liam akan membenci Alisa di kehidupan selanjutnya.
"Alisa!"
Dor
Peluru itu masuk ke dalam d**a Liam. Menembusnya, mengoyak permukaan kulit yang dipenuhi oleh otot kekar itu, dan kemudian menancap tepat di jantung Liam.
Seketika waktu seolah berhenti berjalan. Hening, baik Alisa dan Jaden sama-sama terkejut dengan segalanya. Semuanya terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan detik peluru itu sudah membuat tubuh kekar Liam jatuh ke lantai dingin dengan genangan darah yang begitu banyak.
"Aku membencimu! Alisa!" Ucap Liam dengan lirih, sesaat sebelum Liam menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya, Liam meninggal.
"Liam!" Tangis Alisa pecah. Ini tidak seperti yang Alisa pikirkan, Alisa mencintai Liam, dia tak mau kehilangan kekasihnya dengan cara seperti ini. Tapi sayang, semuanya sudah terjadi. Liam mati dengan perasaan benci kepada Alisa. Petinju junior itu meninggalkan Alisa yang hidupnya sejak saat itu selalu dipenuhi oleh kesedihan.
Jaden? Dia orang gila yang tanpa sengaja masuk ke kisah ini sekarang telah berada di rumah sakit jiwa yang diurus langsung oleh kepolisian.
.
.
Rest In Peace
Liam Alexander
17-07-27
Liam membuka matanya dan mendapati dirinya di sebuah portal hitam yang akan membawanya kepada sebuah kehidupan baru.
"Selamat datang. Raja Draco..." ucap Semua yang ada di sana, mereka menunduk hormat pada Liam yang saat itu terlahir kembali menjadi Draco. Liam bertransmigrasi menjadi sosok yang sangat berkuasa!
Raja paling berkuasa di Hellas.
Raja paling tampan, kaya, dan juga... Kejam
Raja yang memiliki lebih dari seratus selir dari penjuru dunia yang mampu ia pakai kapan saja.
Dan dia Raja terkuat di Hellas. Raja Draco Allerick.