1- Perselingkuhan
Di sebuah club malam yang ramai, seorang gadis dengan pakaian minimnya mulai menari mengikuti irama musik yang kencang. Tubuhnya seolah dirasuki musik, tak dapat disangkal memang, ia menari dengan begitu indah, yang mana membuat para pria di tempat itu dibuat tak berkedip atas tariannya yang begitu memikat.
Alisa, gadis itu masih menari, ia tak memperdulikan apapun. Dia meracau dan menggumamkam kata yang tak jelas. Dia sudah sangat mabuk dengan mata yang hampir terpejam, hingga salah seorang pria datang menepuk pundak Alisa.
"Kau terlihat sangat mabuk Nona, tak maukah kau ikut denganku?" Tanya si pria dengan tato angsa di lengan kirinya.
Alisa yang memang tak sadar hanya bergumam tak jelas, ia bahkan muntah di pakaian mahal si pemuda tadi.
Uwek
"Aaa? Maaf," ucap Alisa yang tersamarkan oleh suara musik yang begitu mendominasi.
Bukanya jijik, tapi pria itu hanya tersenyum bahkan menyentuh muntahan Alisa di baju mahalnya. "Kau harus membayar bajuku Nona, kau tahu ini sangat mahal," ucap si pria tadi dengan santai.
Alisa menggeleng, dia mencoba untuk mengembalikan kesadarannya, jujur saja pengelihatannya sangat buram karena efek alcohol yang ia teguk satu jam yang lalu.
"Kau tampan!" Tanpa di duga Alisa menyentuh rambut pria tadi. Entahlah, tapi Alisa itu sedang mabuk saat ini, perbuatannya dilakukan antara sadar dan tidak sadar.
"Aaaa? Dan kau, ugh... Kau tampan sekali!" racau Alisa yang masih mabuk.
Pria tadi tersenyum licik, ia tahu Alisa pasti akan tergiur dengan kata 'kaya' dasar gadis murahan.
"Aku bisa memberimu ranjang yang nyaman, karena kau sudah sangat mabuk, maukah kau ikut denganku nona?" ajak si pria itu untuk yang kesekian kalinya dengan menempatkan tangannya di pinggang ramping Alisa.
Alisa tertawa dalam mabuknya, lalu mengalungkan tangannya ke leher si pria tadi. "Maka berikan aku berlian, aku ingin emas, dan yah... Aku ingin uangmu juga!" racau Alisa tanpa sadar.
"Tentu saja nona, akan kuberikan semua yang kau mau jika kau ikut aku sekarang juga," ucapnya dengan licik.
Alisa yang memang sudah mabuk berat bahkan tak menyadari jika pemuda tadi sudah menggendong dan membawanya keluar. Pria itu membawa Alisa masuk ke dalam sebuah mobil mewah lalu pergi mengendarainya dengan sangat cepat entah kemana.
"Aah, malamku akan menjadi lebih b*******h kali ini!" Ucap si pria sambil melirik licik kearah Alisa yang sudah tak sadarkan diri karena mabuk.
Mobil mewah itu terus berjalan hingga kini berhenti di sebuah hotel bintang lima, si pemuda tadi mengangkat Alisa dengan mudahnya, lalu membawa Alisa masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang sudah dipesan olehnya terlebih dahulu.
Bruk
Alisa dijatuhkan di atas ranjang yang empuk dan si pemuda itu memandang Alisa dengan tatapan lapar, "selamat makan, Jayden!"
Dan malam itu menjadi sangat panjang dan panas.
.
.
"Astaga! Dimana dia?!" Sesosok pria sedang berjalan mondar-mandir di depan sebuah pintu apartemen yang masih tertutup rapat.
Dia adalah Liam, kekasih Alisa. Dia membawa sebungkus bubur ayam yang niatnya ingin dia makan berdua dengan Alisa, kekasihnya. Namun yang Liam dapatkan adalah kabar jika Alisa tak pulang sedari malam tadi.
Liam sangat cemas terlebih saat salah seorang tetangga kamar Alisa mengatakan jika sebelum Alisa pergi semalam, gadis itu memakai pakaian yang sangat mini dengan riasan tebal. Liam langsung memikirkan banyak kemungkinan.
Liam masih mencoba menghubungi ponsel Alisa berharap jika sang kekasih akan mengangkat panggilannya, namun tidak. Bahkan Liam sudah mencoba lebih dari dua puluh satu kali dan Alisa tak menjawab panggilannya.
"Alisa itu sangat mementingkan uang, mungkin saja dia sedang menjual dirinya," celetuk salah seorang tetangga apartemen Alisa.
Liam memandang tajam pada si gadis yang memperolok kekasihnya. "Hei! Jangan sembarangan menghina Alisa, dia tak akan berbuat hal serendah itu!" ucap Liam dengan sengit.
"Tapi Alisa itu memang mencintai uang kan? Sedangkan kau? Apa kau bisa memberikan banyak uang, berlian dan barang mewah lainnya?" Tanya si gadis itu lagi.
Liam mengepalkan jemarinya, ia memang tak sekaya orang-orang yang lalu lalang dalam kehidupan Alisa, ia hanya seorang yatim piatu yang sedang menata karir sebagai seorang petinju junior. Biarpun begitu, Liam tetap mempercayai Alisa, mereka sudah berhubungan selama dua tahun lebih, Liam sangat yakin jika Alisa tak akan bertindak sedemikian rupa.
Kring
Ponsel salah seorang tetangga Alisa berdering. Liam menatapnya serius dan bertanya, "siapa?" tanya Liam dan dijawab oleh si gadis tadi, "Alisa..."
"Besarkan volumenya!" Titah Liam dengan ekspresi serius, pria tampan itu benar-benar khawatir dan marah pada Alisa.
"Halo? Alisa? Kau di mana?"
"Eughh... Meta, jemput aku, Aishh, ini sakit sekali,"
Liam yang mendengarkan percakapan antara Meta dan kekasihnya, Alisa, menjadi semakin risau. Mengapa Alisa kesakitan?
"Berikan padaku!" Ucap Liam dan langsung merampas ponsel itu dari Meta.
"Alisa!" Ucap Liam dengan suara tingginya.
"Liam?"
"Kau dimana? Mengapa kau tak pulang semalaman? Katakan padaku! Aku akan menjemputmu!" Ucap Liam dengan tak sabaran.
Hening.
Alisa hanya diam di sebrang sana, Liam yang mendengar jawaban dari Alisa pun semakin cemas. “Hei?! Alisa! Jawab aku, kau baik-baik saja kan?!"
klik
Alisa mematikan panggilan itu secara sepihak. Dan itu membuat Liam semakin kalang kabut. Ada apa dengan Alisa?
"Astaga!" Liam bahkan sampai membanting ponsel Meta ke lantai saking marahnya.
Prank
Bahkan ponsel itu sampai terbelah menjadi tiga kepingan yang sontak membuat Meta berteriak marah pada Liam yang hanya abai dan bergegas pergi dari sana. Tujuan Liam saat ini adalah mencari keberadaan Alisa.
"Semoga kau baik-baik saja Alisa..." Liam terus bergumam, saat ini ia sedang berada di dalam bus untuk mencari keberadaan Alisa. Ada banyak sekali kemungkinan tentang dimana Alisa berada, maka Liam akan mencari satu per satu tempat yang mungkin dikunjungi oleh Alisa.
Kring
Ponsel Liam berbunyi, Liam mengecek siapa yang meneleponnya, namun setelah mengetahui jika yang meneleponnya adalah Jaden, hal itu sontak membuat Liam enggan untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun sepertinya Jaden tak gentar untuk terus menghubungi Liam. Mau tak mau akhirnya Liam mengangkat panggilan itu.
"Halo" ucap Liam menjawab panggilan itu.
"Akhirnya kau mengangkat panggilanku juga... Kakak..." ucap Jaden dari balik panggilan itu.
"Jangan berbasa-basi! Aku muak mendengar suaramu!"
"Oh, astaga... Kau ini kejam sekali padaku,"
Liam bergidik jijik saat mendengar nada bicara Jaden. Taukah kalian, Jaden adalah adik kelas Liam semasa mereka sekolah dulu, namun hal yang membuat Liam jijik dan menjauhi Jaden adalah karena fakta jika ternyata Jaden adalah seorang biseksual dan menyukai Liam. Hei, demi apapun Liam masih normal dan pasti Liam tak akan menerima itu.
"Aku akan tutup teleponnya. Stop menghubungiku!"
"Alisa..."
Sesaat sebelum Liam akan memutuskan panggilan itu, Jaden mengucapkan nama Alisa.
"Kau apakan Alisa? Apa Alisa bersamamu?!" Tanya Liam dengan emosi.
Dapat Liam dengar jika Jaden terkekeh dari balik sana. Dan berkata, "ya... Aku menghabiskan malam yang panjang bersamanya tadi.... Kau tahu kak? Dia itu tak lebih baik dariku, aku heran mengapa kau lebih memilihnya ketimbang aku,"
Demi Tuhan! Rasanya Liam ingin sekali melenyapkan Jaden. Pria itu begitu menjijikan, dan lagi, Alisa bersama Jaden?! Tak mungkin itulah pikir Liam.
"Jangan bicara omong kosong!"
"Kau tak percaya padaku? Sayang sekali...." Ucap Jaden dengan suaranya yang dibuat-buat.
"Alisa!l!"
Dapat Liam dengar jika sepertinya Jaden sedang memanggil Alisa dari sebrang sana dan ternyata ada suara Alisa!
"Yes Jaden?"
Perasaan emosi mulai menguasai pikiran Liam. Dia meremas ponselnya erat.
"Dimana kalian?!" Tanya Liam tanpa basa-basi dan dengan penuh kebencian.