bc

Hasrat Tuan Aldrich

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
fated
friends to lovers
stepfather
heir/heiress
sweet
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
love at the first sight
polygamy
addiction
actor
like
intro-logo
Uraian

Satu sentuhan adalah kesalahan.Dua sentuhan adalah pengkhianatan.Namun bagi Anna, sentuhan Aldrich adalah candu—manis, memabukkan, dan mematikan.Anna tahu Aldrich adalah zona terlarang. Ia sahabat kekasihnya. Pria yang seharusnya tak pernah ia inginkan. Tak pernah ia sentuh.Namun setiap kali jemari Aldrich menyentuh kulitnya, logika runtuh. Nalar menyerah. Tubuhnya memilih berkhianat lebih dulu daripada hatinya sempat menolak.Di antara kebencian pada keangkuhan Aldrich dan gairah yang tak mampu ia kendalikan, Anna terperangkap dalam labirin dosa.Akankah ia bertahan pada cinta yang aman—atau membiarkan dirinya hancur dalam pelukan pria yang seharusnya tidak pernah ia cintai?

chap-preview
Pratinjau gratis
Pengkhianatan!
“Geli Baby,” wanita yang tengah bergelung di dalam selimutnya tampak menghindari sentuhan-sentuhan pria di hadapannya. Gadis bernama Denisha itu dengan santainya mendekati pria yang tengah bertelanjang d**a di hadapannya lalu memeluknya dan mencium d**a bidangnya. “Aku akan pergi sekarang, kamu di sini saja, kan?” Denisha mengerutkan dahinya menatap pria dalam pelukannya. “Sekarang ini?” Tanya Denisha tak percaya. “Ya, aku ada janji dengan klien Baby, dia panutan aku dalam dunia fashion dan modelling, aku harus bertemu dengannya.” Denisha menghela nafasny panjang mendengar ucapan kekasihnya. “Baiklah-baiklah, aku tidak akan menghentikanmu, tapi datanglah jika kamu tidak sibuk lagi.” Denisha mengerucutkan bibirnya di hadapan pria bernama Andrew itu. Andrew mencium pundak terbuka Danisha lalu meraih tangan gadis bertubuh tinggi tersebut. “Kapan acara pertunangan kalian di laksanakan?” Danisha mendadak merubah mimik wajahnya mendengar pertanyaan Andrew. “Dua minggu dari sekarang, kenapa kamu bertanya masalah pertunanganku?” “Aku sedikit tidak rela,” ucap Andrew dengan wajah di buat sesedih mungkin. “Aku tidak bisa merubahnya An, aku mencintai dia.” Denisha menunjukkan wajah bersalah. “Mencintainya tapi saat ini?” Andrew membuka selimutnya menunjukkan tubuh telanjangnya, Denisha memutar bola matanya melihat tingkah Andrew. “Aku hanya sedang bersenang-senang, kamu tahu Al itu seperti apa.” Andrew mengangguk-anggukan kepalanya. “Pria penggila kerja?” Denisha memutar bola matanya kesal. “Bahkan dia belum menemuiku, meskipun aku sudah berada di LA tiga hari.” Andrew terkekeh lalu bangkit dari ranjang mengambil pakaiannya yang berada di lantai kamar hotel tersebut. Denisha terus menatap Andrew tanpa rasa malu satu sama lain. “Dia memiliki banyak perusahaan yang tersebar di berbagai Negara, Denis. Kamu harus tahu itu, dan mengerti kekasihmu itu, lagi pula kamu akan menjadi Nyonya Aldrich.” Ucap Andrew dengan wajah meremehkan. “Yah, aku tidak bisa mengelak tentang hal itu. Aku akan menikmatinya.” Denisha menunjukkan wajah ceria membayangkan kemewahan menantinya. “Aku pergi sekarang.” ucap Andrew saat selesai menggunakan pakaiannya. Denisha tampak cemberut dan menatap Andrew dengan tatapan tidak rela. “Aku masih kesepian, An.” Andrew menggunakan jasnya sambil melirik Denisha. “Telepon saja kekasihmu, dia pasti akan datang menemuimu, Baby.” Denisha menurunkan selimutnya membuat tubuh polosnya terbuka dan menunjukan dua bukit indah yang masih terlihat kencang dan bulat penuh. “Dengan keadaan seperti ini?” Denisha menggoyangkan dadaanya di hadapan Andrew membuat pria itu mendekati Denisha lalu memegang aset wanita tersebut. Andrew meremasnya sedikit kuat membuat Denisha mendesah sensual di buat-buat. “Mungkin dia akan datang dan langsung membuatmu terkejut dengan kemarahannya.” Denisha tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hmmm, Al ku yang misterius dan sexy.” Jawab Denisha menatap keluar jendela hotel. “Aku pergi,” ucap Andrew membuat Denisha mendongak minta di cium. Andrew dengan cepat mengecup bibir Denisha lalu berjalan keluar kamar hotel tersebut. Denisha kembali berbaring di ranjang dengan tubuh polosnya menikmati hari indah di hidupnya. Andrew berjalan keluar kamar lalu berdiri di depan lift hotel menekan tombol menuju lantai dasar. Lift yang ia naiki bersebelahan dengan satu lift lainnya. Pria itu menunggu lift terbuka dalam hitungan detik saja. Saat Andrew masuk, pintu lift di sebelah nya terbuka dan menunjukkan wajah Aldrich membuat kedua sahabat itu tidak saling bertemu karena pintu lift Andrew tertutup saat Aldrich keluar dari pintu lift lainnya. Aldrich berjalan dengan langkah gagah menuju kamar hotel calon tunangannya. Pria bertubuh tinggi dengan d**a bidang itu berusia 32 tahun, hidung mancung, bibir merah tebal dan berbelah, alis tebal dan garis rahang tegas. Pria yang tidak banyak bicara itu memiliki kharisma yang benar-benar membuat wanita manapun rela bertekuk lutut di hadapannya. Aldrich memiliki darah Indonesia dari sang ibu, sementara ayahnya adalah pengusaha asal Perancis. Wajah blasteran Indonesia-Perancis nya membuat siapa saja yang melihatnya akan tergila-gila padanya terutama kaum hawa. Aldrich berdiri di depan kamar milik calon tunangannya, ia menekan bel hotel menunggu Denisha membukakan pintu untuknya. Tidak butuh waktu lama pintu kamar hotel itu terbuka dengan Denisha yang berpakaian sexy dan tak layak di pandang. “Aku tahu kamu pasti akan kembali.” Ucap Denisha sambil berdiri di hadapan Aldrich dengan menggunakan pakaian dalam saja. Aldrich menautkan alisnya di hadapan Denisha karena mendengar ucapan wanita itu. Sementara wanita itu melebarkan matanya langsung menutup mulutnya dan berlari dari hadapan Aldrich mencari kimono untuk menutupi tubuhnya. Aldrich masuk kedalam kamar hotel tersebut dan melihat keadaan kamar hotel cukup berantakan membuat Aldrich mengerutkan dahinya. “Kamu sedang menunggu seseorang?” Denisha yang sudah menggunakan pakaiannya langsung memeluk tubuh Aldrich mencium pria yang tampak menatapnya datar tersebut. “Tentu saja, aku sedang menunggu kamu, Honey.” Aldrich menautkan alisnya menatap Denisha lalu duduk di sofa yang berada di kamar hotel tersebut. “Siapa yang bersama kamu di sini?” Denisha mendadak bingung mendengar pertanyaan Aldrich, wajah bingung Denisha membuat Aldrich mendengkus kesal. Tatapan mata Aldrich menatap dua gelas berisi wine di atas meja membuat Denisha menatap terkejut ke arah gelas tersebut. Wanita itu dengan buru-buru mendekati Aldrich dan duduk di sampingnya. “Teman aku mampir sebentar tadi malam, aku benar-benar kesepian Honey, kamu bahkan tidak menemuiku.” Aldrich menghela nafasnya panjang merasa benar-benar seperti orang bodoh yang setiap hari harus menelan kebohongan yang Denisha lakukan. Pria itu bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Denisha dengan kedua tangan di dalam saku celananya. “Teman yang hanya bisa di ajak minum berdua? Siapa dia? Aku rasa dia sangat spesial untukmu?” Denisha langsung bangkit dan berusaha mendekati Aldrich namun pria itu mengangkat tangannya memerintahkan Denisha untuk tidak mendekatinya. “Al, aku sangat mencintaimu, jangan berpikir jika aku berbuat curang.” Aldrich tersenyum smirk, ia menyugar rambutnya lalu berjalan mendekati ranjang. Pria itu menunjuk sebuah bungkus pengaman milik seorang pria. Denisha membeku melihat apa yang Aldrich tunjukkan padanya, wanita itu tidak bisa bergerak dari pijaknya sementara Aldrich berjalan mendekati sofa kembali. “Al, i-itu, aku bisa jelasin.” Jawab Denisha tergagap. Aldrich menatap pergelangan tangannya melihat jam di tangannya lalu menatap Denisha. “Mungkinkah seorang teman wanita mau di ajak minum berdua di kamar hotel seperti ini, dari situ saja aku bisa menilai jika ia adalah teman pria, lalu bungkus pengaman itu milik siapa?” Denisha terdiam tidak bisa menjawab tubuhnya membeku menatap Aldrich yang tetap tenang di hadapannya. “Al, aku...” Aldrich mengangkat tangannya menghentikan ucapan Denisha, pria itu mendekati Denisha berdiri di hadapannya. “Sudah cukup Denis, aku sudah lelah, selama ini aku berusaha untuk menjaga kamu seperti bunga agar tetap segar ketika aku petik. Nyatanya semua itu tidak berguna, kamu bahkan bermain api di belakangku. Aku sudah cukup lelah melihat kebohonganmu selama ini, kita akhiri saja hubungan ini.” Denisha mendadak bersujud di kaki Aldrich agar tidak meninggalkannya. “Please, Al, hubungan kita sudah sejauh ini, kita bahkan akan bertunangan dua minggu lagi. Keluargaku dan keluarga kamu akan kecewa dengan keputusan kamu,” Aldrich tidak perduli, ia tetap menarik kakinya dari pelukan Denisha. “Aku selalu bertanya-tanya, kenapa Mama tidak menyukaimu, mungkin ini lah yang ia lihat dari tatapan seorang ibu, jika kamu tidak baik untukku.” Jawab Aldrich membuat Denisha menangis sambil terduduk di hadapan Aldrich. “Al, please, aku sangat mencintaimu, jangan lakukan ini.” Aldrich memejamkan matanya mendengar tangisan Denisha, wanita itu mencoba bersujud di kaki Aldrich agar tidak memutuskan hubungan mereka. “Keputusanku sudah final, kembalilah ke Indonesia, aku akan katakan kepada orang tuaku dan meminta maaf pada orang tuamu.” Denisha menangis terisak di bawah kaki Aldrich, pria itu tidak perduli dan melangkah pergi dari kamar hotel tersebut. “Kamu tidak ingin tahu siapa orang yang sudah bersamaku?” Aldrich menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun. Denisha bangkit dari duduknya mengusap air matanya yang terus mengalir. “Tidak,” “Kenapa? Mungkin kamu akan menyalahkan dirinya karena sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan kita.” Aldrich tersenyum miring tertawa kecil. “Siapapun dia, itu tidak penting bagiku, yang terpenting sekarang adalah aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya.” Denisha mengepalkan tangannya kesal mendengar jawaban Aldrich “Kamu akan menyesal putus denganku Al, aku yakin kamu akan kembali dan memohon padaku.” Teriak Denisha dengan menangis histeris sementara Aldrich terus saja berjalan keluar meninggalkan Denisha yang dalam keadaan kacau. Aldrich terus berjalan dan menekan lift saat tiba di hadapan lift. Aldrich masuk ke dalam lift dan merogoh saku nya melihat foto Denisha bersama Andrew masuk ke dalam hotel ini kemarin malam. Aldrich meremas foto tersebut dan menghela nafasnya panjang, ia tahu semua kebohongan Denisha namun ia tetap diam dan terus menunggu kesadaran wanita itu. Namun sekarang ia sudah benar-benar muak saat tahu Denisha bahkan suka menghabiskan malam bersama Andrew membuatnya merasa benar-benar di bodohi. Ia keluar dari gedung hotel tersebut dan di sambut supir pribadi miliknya yang siap membukakan pintu mobil untuknya. Aldrich masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan gedung hotel tersebut membelah kota Los Angeles dengan hati hampa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.5K
bc

Too Late for Regret

read
347.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
148.0K
bc

The Lost Pack

read
460.0K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook