Siapa Kamu?

1244 Kata
Anna keluar dari ruangan itu melihat toko bunganya sepi tidak ada Gia disana. Anna duduk di meja kasir dan menopang dahinya masih syok dengan apa yang Aldrich lakukan. Gia keluar dari toilet membuat Anna mengangkat kepalanya melihat kearah Gia. Gia langsung duduk di depan Anna menatap sahabatnya itu. "Udah baikan?" Anna mengerutkan dahinya menatap Gia. "Aku gak apa-apa kok, baikan kenapa?" Gia tersenyum menatap Anna di hadapannya. Lalu mengambil tisu dan mengelap lipstik Anna yang melebar ke ujung bibirnya. Anna tersentak dan mengambil tisu yang ada di tangan Gia. "Biar aku saja." Anna mengambil tisu dengan wajah gugup membuat Gia tersenyum. "Aldrich mencium Lo?" Anna terkejut dan menjatuhkan tisunya dari genggamannya. "Hah," Anna mengambil tisu lagi dengan wajah panik membuat Gia semakin tertawa. "Atau Aldrich berusaha memperkosa Lo?" Anna berubah kesal melihat ekspresi Gia yang mengejeknya. "Berhenti menertawakanku!" Gia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawanya yang hampir pecah. "Kenapa sih perkara begini aja Lo ketakutan? Cerita deh sama gue Lo kenapa." Anna menghela napasnya menatap Gia. "Gia!" "Iya kenapa?" "Kamu kok bisa tahu?" Gia mengerutkan dahinya dan tertawa. "Jelas banget, Lo sih pake acara panik segala. Lo turun dari mobil dalam keadaan bibir berantakan, ya kali di depan Aldrich Lo pake lipstik berantakan." Anna mengangguk mengerti. "Iya juga." "Jadi, Lo ngapain sama Aldrich." Anna menatap malu kearah Gia. "Apa sih." "Anna please, Lo gak mau cerita ke gue?" Anna menunduk menutup wajahnya malu. "Gia, kamu tahu sendiri aku gak mungkin melakukan hal aneh itu!" Gia mengangguk sangat mengetahui. "Ya aku tahu itu tanpa Lo katakan, tapi tidak untuk Aldrich, dia bisa saja melecehkan kamu." Anna mengangguk setuju. "Nah itu lah yang terjadi." Gia mengerutkan dahinya menatap Anna. "Apa?" Anna mengerjabkan matanya menatap Gia. "Dia menciumku!" Gia menahan tawanya karena melihat wajah memerah Anna. "Giaaaa." teriak Anna saat melihat Gia menertawakannya sembari memukuli Gia. "Oke-oke, dia hanya menciummu?" Anna mengangguk cepat dan memegang tangan Gia. "Gia, berjanjilah untuk tidak mengatakan ini pada Andrew." Gia menatap Anna cukup lama lalu menarik tangannya cepat dan menggoyangkannya. "Aishh, apa an sih, lagian dia cuma pacar, tenang aja, kamu masih bisa memilih mana yang membuatmu nyaman dan bahagia." Anna tertegun menatap Gia. "Maksud kamu?" "Aman, tenang aja, lagian cuma di cium juga, Andrew juga bukan suami Lo, jadi jangan ngerasa Lo bersalah banget!" Anna berdecak kesal menatap Gia. "Gila kamu, sejak tadi aku tuh mikirin Andrew bagaimana kalau dia tahu, selama ini aku selalu menghindari ciumannya sementara temannya belum beberapa hari sudah ..." Anna memegang bibirnya tanpa melanjutkan ucapannya. "Alahh, udahlah kan gak ada bekas juga, yang paling penting aku mau tanya kamu deh, gimana rasanya ciuman?" Gia menaik turunkan alisnya menatap Anna. Anna menatap Gia dan berpikir bagaimana rasanya. Ia juga tidak tahu bagaimana rasanya karena ia sibuk menghindar dari Aldrich. "Rasanya ..." Anna terdiam memikirkan bagaimana ciumannya. Ternyata dia tidak tahu, karena ciuman itu juga tidak sampai semenit. Sepertinya ia keterlaluan sampai menampar Aldrich. "Iya gimana rasanya?" Anna menaikkan sudut bibirnya menatap Gia. "Gue gak tahu!" ucapnya cepat membuat Gia melongo. "Bagaimana bisa Lo gak tahu?" Gia tidak habis pikir menatap Anna di hadapannya. "Karena terjadi begitu saja." Gia berdecak payah menatap Anna. "Berapa lama ciuman itu?" Anna menggaruk kepalanya menatap Gia. "Apa itu penting?" "Astaga, Lo gimana sih, emang ada ciuman cuma sedetik nempel, ohh.... Atau jangan-jangan, Aldrich cuma nempelin bibirnya ke bibir Lo gitu aja." Anna menggaruk kepalanya bingung. "Ehhmmm ... ya begitu lah." Gia menggelengkan kepalanya tak percaya. "Itumah bukan ciuman, tapi kecupan." Anna menatap kesal kearah Gia. "Tetap saja, itu ciuman pertama aku, dia gak berhak ngelakuin itu!" Gia menghela napasnya kasar menatap Anna. "Iya deh terserah Lo." ucap Gia menatap Anna ikut kesal dan bangkit dari duduknya. "Gia!" Anna memanggil Gia yang hendak pergi. "Ya kenapa?" "Aku mau pergi, kamu jaga toko bisa kan?" Gia mengerutkan dahinya menatap Anna. "Pergi? Kemana?" "Aku mau menemui Andrew, aku merasa bersalah Gia, dia juga ada disini sebentar aku abaikan saja, malah aku di cium ..." Gia memutar bola matanya menatap Anna. "Ya udah terserah Lo deh, Uda gue bilang gak perlu merasa bersalah tapi Lo gak bisa juga ya, ya udah terseraaah!" Gia menatap kesal kearah Anna lalu berlalu dari hadapan Anna. Anna langsung mengambil tasnya dan pergi menemui Andrew yang ada di apartemennya. * Anna tiba di apartemen Andrew dan langsung menekan pasword nya tanpa berpikir panjang karena Andrew juga mengijinkannya masuk dengan memberikan password nya pada Anna. Saat pintu apartemen terbuka Anna terkejut melihat siapa yang menyambutnya. Ya seorang wanita yang Anna pernah lihat ada di kantor Aldrich. Wanita itu Denisha... "Kamu siapa?" Anna menatap Denisha penuh tanya seolah tidak mengenalnya. "Oh, hai aku Denisha, kebetulan ada pekerjaan aku sedang menunggu Andrew." Anna mengerutkan dahinya menatap Denisha. "Andrew dimana?" Denisha tersenyum kearah Anna. "Dia belum kembali, masuklah." Anna menatap Denisha yang berjalan masuk mengajak Anna. Anna berjalan masuk masih tidak mengerti kenapa Denisha bisa ada di apartemen Andrew sendiri. "Kamu mau minum?" tanya Denisha membuat Anna menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku bisa ambil sendiri." Denisha tersenyum tipis lalu duduk di sofa mengambil remot tv dan menyalakannya. "Sudah berapa lama Andrew pergi?" Denisha menopang kepalanya di sandaran sofa menatap Anna tersenyum. "Sudah lama, mungkin sebentar lagi balik." Anna menatap Denisha lalu meletakkan tasnya dan berjalan ke arah pantry mengambil air mineral di lemari es. Anna duduk di kursi meja makan menatap Denisha yang terlihat seperti orang yang sudah terbiasa di apartemen ini. "Kamu sering kesini?" tanya Anna membuat Denisha menoleh. "Lumayan, aku kira tadi kamu Andrew." Denisha kembali tersenyum membuat Anna sedikit risih. Wanita di hadapannya ini benar-benar cantik paripurna. Di lihat dari berbagai sisi Denisha benar-benar cantik. tubuhnya tinggi putih bersih, bagian-bagian tubuhnya berisi di tempat-tempat sempurna. Denisha benar-benar sexy bahkan Anna seorang wanita merasa minder berada di dekatnya. "Dia wanita yang pernah berpacaran dengan Aldrich." gumam Anna sembari meneguk air mineral di tangannya dengan mata tak lepas menatap Denisha. "Kamu kekasih Andrew bukan?" Anna mengelap air yang membasahi dagunya. Ia mengangguk menjawab pertanyaan Denisha. "Ya," "Berarti kamu, Anna?" tanya Denisha lagi. "Ya, aku Anna." Denisha menatap Anna dan tersenyum lebar. "Ternyata kamu lebih cantik aslinya." Anna mengerutkan dahinya menatap Denisha. "Foto?" "Ya, Andrew pernah menunjukkan fotomu padaku." Anna mengangguk mengerti. Andrew memang memiliki banyak teman seperti Denisha di dunia permodelan. "Kamu Denisha bukan?" "Ya, aku Denisha." "Kamu mantan kekasih Aldrich?" Denisha menatap Anna cepat karena mengenal Aldrich. Ia menegakkan punggungnya menatap Anna. "Kamu kenal Aldrich?" Anna mengangguk cepat. "Ya, ibunya selalu pesan bunga di toko aku." Denisha bangkit berjalan mendekati Anna. "Mama Nina?" Anna mengerjabkan matanya saat Denisha berdiri di depannya dan duduk di sana. "Ya, Tante Nina, dia pelanggan tetap kami." Denisha mengangguk mengerti. "Bagaimana Aldrich? Apa dia sudah punya kekasih?" Anna menatap Denisha dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu." "Kamu tidak dekat dengannya?" Anna kembali menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengenalnya karena dia sahabat Andrew." jawab Anna seolah tidak ada yang terjadi antara Aldrich dan dirinya. "Ahh, begitu ... Kamu pasti punya kontaknya?" Anna mengerjabkan matanya menatap Denisha. "Kontak Aldrich?" Denisha mengangguk tersenyum. "Aku ...." Anna menatap Denisha ragu, mengapa rasanya berat memberikan kontak Aldrich pada Denisha. "Aku tidak punya!" jawab Anna cepat. Denisha terlihat menghela napasnya mendengar jawaban Anna. "Huftt, kenapa sulit sekali mencari kontaknya." gumam Denisha membuat Anna tersenyum. "Kenapa kamu tidak tanya kepada Andrew, mungkin dia punya." Denisha menghela napasnya lelah. "Andrew payah, dia tidak pernah memberikannya padaku." Anna mengangguk senang mendengarnya. Entah kenapa ia senang Denisha tersiksa. Saat keduanya sibuk berbicara Andrew tampak masuk ke apartemennya dan berhenti saat melihat Anna ada di apartemennya juga bersama Denisha. "Anna?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN