Delapan Belas:Hukuman

1836 Kata

"Selamat malam." Kedua mata bulat Ochi melebar, keterkejutan terlihat jelas di wajahnya. Dahinya sedikit mengernyit, berpikir terlalu keras untuk memastikan orang yang ada di depannya memanglah orang yang sedang ia pikirkan. Sementara itu pria yang berdiri di depannya mengulas senyum lembut, nampak rapi dengan setelan jasnya. Terlalu formal untuk sekedar berkunjung. "Kamu ingat saya bukan?" ucapnya menyadarkan Ochi dari keterkejutan. Pandangannya segera teralih ketika mendengar suara langkah mendekat dari belakang tubuh Ochi. Senyumnya semakin melebar, ketika mendapati sosok Tama yang mendekat. "Om gak nyangka ada Tama juga." "Om Dikta," sapa Tama lirih entah kenapa menjadi gugup. Ia ingat betul siapa sosok di depannya, salah satu paman Alwan. Satu-satunya orang yang tidak menyalahkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN