[ 04 ] Ditembak! Sahabat?

2007 Kata
Jika tanah sehabis hujan itu hangat dan lekat Maka bagiku begitulah arti dirimu. Jika untuk bisa dekat hanya dapat sebagai sahabat Maka aku rela menjadi apa pun untukmu.   –Yudha Turangga–   *** “Gue masih sayang sama lo, Ay.” Yudha berkata terus terang. “Tadinya, gue pengen mematahkan teori tentang cinta pertama yang katanya gak bisa dilupakan seumur hidup, tapi kenyataannya gue gak bisa. Ketemu lo, bikin gue jatuh cinta lagi.” “Udah gila, ya?” sahut Ayla. “Hari gini ngomong sayang–cinta. Lo lupa minum obat?” sembur perempuan itu sarkas. “Loh, memangnya salah?” ujar pria di ujung sana keras kepala. Ayla terdiam, ia tak tahu apa yang dikatakan laki-laki di seberang sana itu serius, atau hanya mempermainkan perasaannya saja. “Ya, itu hak lo, manusiawi juga.” “Kalo memang salah, coba jelasin. Letak salahnya di mana?” “Kita bukan remaja lagi, Yud. Lo ngomong gini gak inget sama keadaan apa?” “Gue sadar, dan tau betul itu, Ay. Tapi … gue gak bisa nahan perasaan gue. Gue harap lo mau ngerti. Ini masalah hati.” “Oke, gue paham. Lagian, menyatakan perasaan gak bakal mengubah apa pun, kok.” “Kenapa lo selalu gitu? Inget Ay, hati ini milik Allah dapat terbolak-balik sesuka-Nya. Gak ada yang bisa memprediksi rasa di dalamnya. Hari ini benci, bisa jadi besok berubah suka.” Lelaki itu berkata dengan nada tegas dan bahasannya membuat Ayla tak mampu membantah. “Iya deh iya, kalo udah masalah begini gue idem aja.” Wanita itu tak ingin berdebat, sebab ia tak tahu maksud sebenarnya dari pria itu. “Gue tau lo masih nyimpen rindu buat gue, iya ‘kan?” suara Yudha melirih, berharap perempuan yang nekat dihubungi ini, memiliki rasa yang sama untuknya. Kali ini, pria itu bertekad Ayla tak seharusnya menolak perasaannya, seperti dulu. “Perasaan gue, ya, … biar gue aja yang tau. Pun misalnya iya, semua sudah terlambat ‘kan?” Ayla berbicara terus terang, ia tahu kini dirinya menjadi selangkah lebih maju dengan membiarkan setiap inci perasaannya dibiarkan terkuak. Akan tetapi, detak dalam dadanya kini butuh ditenangkan, tak ada cara lain selain mengungkapkan. “Kalo seandainya masih boleh memperbaiki semuanya, bisakah kita kembali seperti dulu?” tanya Yudha setelah merasakan pertahanan perempuan itu mulai terbuka. Pria itu tahu betul, perempuan di seberang sana sangat perasa dan selalu tak mampu menolak menolong orang lain. “A-apa maksud—” “Gue mau, kita balik kayak dulu. Masih bisa ‘kan?” “Sebagai sahabat?” “Gue gak akan pernah bisa anggep lo sebagai sahabat, Ay. Lo tau itu.”   ***   19 Juli 1993.   Siang itu masih seperti biasa. Meski sudah waktunya pulang beberapa dari siswa SMP Anggrek yang masih kerasan, akan tetap tinggal dalam kelas. Begitu pula Yudha. Ia sebetulnya bukan tipe orang yang betah berlama-lama di sekolah, tetapi gadis manis di depannya masih mencatat tugas pelajaran sebelumnya, sebab tadi ia harus menulis materi di papan tulis. Nasib sekretaris kelas.   Yudha memandangi gadis itu. Ayla mendelik kesal karenanya. “Bantuin ngapa? Pegel nih tangan gue!” ketusnya pada cowok di depannya itu. “Ay,” panggil Yudha lembut, menikmati ekspresi kesal gadis itu. “Heem,” jawab Ayla acuh dengan tangan yang masih mencatat. “Gue suka sama elo,” ujar Yudha tiba-tiba. Ayla menatap cowok itu tak percaya, lalu kembali mencatat. “Apaan sih, Yud.” “Serius Ay, gue suka sama lo.” “Baru juga satu minggu kenal, lo kesambet ya?” Ayla masih melanjutkan catatannya. “Kita kan udah lama kenalannya.” “Iya, tapi bener-bener kenalnya, kan baru.” “Emang harus lama kenal baru lo nerima gue?” “Nerima apa?” “Jadi pacar gue lah?” “Lo itu sahabat gue, Yud. Sahabat, ya, sahabat, mana boleh sahabat jadi pacar.” Yudha terdiam, ia kesal, tetapi tidak bisa marah dengan gadis di depannya ini. Ia ingin sekali mencubit keras pipi tembam gadis itu agar memahami perasaannya. Lo ini sebenarnya terlalu polos, atau gak peka sih? gerutu Yudha dalam hati.   Ayla berharap agar para guru tidak terlalu sering menyiksanya dengan memberikan tugas menulis seperti siang tadi. Tangan kanannya sudah pegal sebab harus menulis dua kali. Ia mendesah sambil sesekali melenturkan jemarinya, tinggal satu halaman lagi, gadis itu harus bersabar walau sudah mulai gemas dengan tingkah cowok yang duduk di depannya. “Ayla,” panggil Yudha lagi. “Heem. Apa lagi?” “Waktu itu, lo bilang udah punya pacar, ‘kan?” “Iya, emang kenapa?” “Mana orangnya? Kok gak pernah keliatan, lo boong, ya?” “Tauk!” “Kok gitu jawabnya, atau emang udah putus?” Seketika senyum terkembang di wajah Yudha. “Belum, gak tau gimana cara mutusinnya. Dia cemburuan sih, gue gak suka.” jelas Ayla. “Kalo gitu putusin aja,” usul cowok itu datar padahal hatinya berkecamuk penuh dengan pengharapan. “Takut gue. Dia itu kakak kelas kita, ketua PMR pula, ditambah dia pemegang ban hitam Karate, kalo gue dipukul gimana?” terang Ayla mencurahkan kegalauannya selama ini. “Gue juga, kok,” sahut Yudha. “Apa? Lo takut sama dia juga?” “Bukan. Gue juga pernah ikut Karate. Jadi, gue bisa kok ngelindungin lo.” “Harus dong, lo kan sahabat gue.” Ayla berhenti menulis dan menepuk bahu cowok yang selalu mendengarkan segala macam curahan hatinya. “Udah selesai, kantin, yuk. Laper, nih.” “Makan bakso lagi? Tambah melar, ntar.” “Ya … gimana dong? Abis gue sukanya itu.” “Eh, Gak apa-apa, kok. Gue tetep sayang.” “Huuu! Gombal.” Ayla mengacak rambut Yudha. Namun, segera menarik jarinya, sebab merasakan cairan lengket di tangannya. “Ihh, Yudha. Lo pake apaan, sih. Lengket gini.” “Obat ganteng, Ay,” sahut Yudha seraya merapikan poni lemparnya. “Ganteng, mah, ganteng aja, mana ada obat ganteng.” Ayla membersihkan tangan dengan merobek kertas di bagian tengah buku. “Jadi gue ganteng ya?” tanya Yudha. Ayla menatap wajahnya sekilas. “Mungkin,” sahutnya sambil berlalu. “Kok gitu?” Yudha mengejar Ayla yang beranjak pergi. “Kata nyokap lo, pasti lo anak paling ganteng se-dunia.” “Ya iyalah, emak gue. Kalo menurut lo gue ganteng juga?” “Entah, masih gantengan Marcelino kayaknya.” “Siapa, Marcelino?” “Model Majalah Gadis.” “Asyem, nih, anak.”   Mereka tertawa bersama, Ayla mencoba menjitak Yudha dengan berjinjit, karena cowok itu jauh lebih tinggi darinya, tetapi tidak kena. “Dasar bontet!” ejek Yudha sambil menjitak lembut kepala Ayla. “Biarin! Yang penting, kata mama, gue cewek tercantik se-jagat raya.” “Iya percaya, bagi gue juga lo cewek paling cantik.” “Iya dong, sekarang … kantin!” seru Ayla. “Traktir!” tukas Yudha. “Gak jadi deh.” Ayla pura-pura merajuk dan hendak berbalik. Yudha menahan bahu gadis itu, “Eits, enggak ding. Gue yang traktir, tapi saosnya aja.” Lalu cowok itu berlari menuruni tangga, Ayla mengejarnya.   Yudha melompati dua anak tangga sekaligus, berlari sambil melihat ke belakang, hingga tak sengaja menabrak seseorang. “Maaf,” katanya tanpa memandang orang tersebut. “Ayo! Cepet Ay,” teriaknya. Gadis yang dipanggil bergeming, ia menatap orang yang ditabrak Yudha. “Kak Anto,” lirihnya. “Ay, aku mau ngomong,” sahut Anto, ia menggamit jemari Ayla yang memegang susuran tangga. Ayla menarik jemarinya menjauh, lalu berjalan mendekati Yudha, “Aku mau ke kantin, yuk Yud.” Gadis itu segera berbalik, tetapi lengannya ditahan kuat oleh Anto. “Kamu, selalu aja sengaja menghindar,” sentak Anto. Yudha geram menatap Anto yang menggenggam lengan Ayla dengan kencang itu. Meski gadis itu tak berkata apa-apa, tetapi kernyit di dahinya menyatakan kalau ia kesakitan.   Yudha melepas kasar tangan yang menggenggam itu, berdiri memposisikan dirinya di depan Ayla, “Ngomong aja di sini, gue juga mau denger.” “Lo siapa? Gue gak ada urusan sama lo,” bentak Anto. Yudha menatap Ayla yang bersembunyi di belakang tubuhnya, “Gue sahabatnya.” Yudha menggertakkan gigi, merasa tak rela menyebutkan kalimat itu. “Kalo gitu, lo minggir. Gue mo ngomong sama pacar gue,” sahut Anto sengit. “Gue bakal minggir kalo Ayla yang minta.” Yudha menatap Ayla menuntut jawaban. Gadis itu balas menatap. “Tunggu, jangan ke mana-mana, please,” lirihnya. Yudha mengangguk.   Ayla maju sedikit masih setengah menyembunyikan dirinya di balik bahu cowok itu, “Bicara di sini aja, Kak,” ujarnya. Anto menatap Yudha tajam, lalu berganti menatap gadis dengan rambut pendek itu, “Kenapa kamu selalu menghindar sekarang. Apa karena orang ini?” Anto kembali menatap Yudha. “Gak ada hubungannya sama Yudha, Kak, aku cuma pengen putus,” jawab Ayla. “Apa alasannya?” “Aku gak suka aja, Kakak terlalu protektif, juga terlalu sering bertemu. Aku bosan!” jelas Ayla. Matanya menatap Anto, takut-takut. “Baiklah, kamu mungkin hanya butuh waktu untuk sendiri. Oke, gak apa-apa. Aku kasih kesempatan, tapi kita jangan putus, ya?” mohon Anto.   Ayla menggeleng. “Aku maunya putus. Maaf, sekarang aku mau ke kantin, tolong Kakak jangan ngikutin lagi.” Lalu Ayla menarik Yudha pergi dari situ. Meninggalkan Anto yang wajahnya memerah menahan marah. Yudha menatap Anto dengan menyunggingkan seringai kemenangan.   Di kantin, Ayla menyeruput es teh manisnya, setelah menghabiskan semangkuk bakso. Tatapannya menerawang. Yudha menatap gadis itu takjub, sebab masih bisa menyantap habis makanannya setelah kejadian tadi.   Yudha mengetuk meja. “Kenapa ngelamun? Nyesel?” “Gak lah, ngapain nyesel. Harusnya dari berbulan-bulan lalu gue mutusin dia,” sahutnya. “Terus, kenapa ngelamun?” tanya Yudha penuh selidik. “Gue lagi mikir, gimana caranya bisa tetap latihan PMR dengan tenang,” jelas Ayla. “Biar gue yang temenin.” “Yakin? Emang, lo bakal tahan? Dateng ke sekolah di hari Minggu, buat belajar obat-obatan, tali temali, dan urusan P3K lainnya.” “Lo gak percaya? Besok gue daftar sama Ranti—pacarnya Dani, ‘kan? Tenang, asal ada lo, gue gak masalah.” “Jangan maksain diri, ntar sakit gue yang repot.” “Buat lo apa, sih, yang enggak.” “Gomballlll … untung gak tergoda.” “Anehnya, cuma lo yang gak tergoda.” “Mungkin, gue bukan cewek?” “Atau … karena lo spesial.” “Prettt! Lo goda sono cewek lain gue pengen tau siapa yang mau nanti sama lo.” “Gue gak mau goda yang lain selain lo.” “Aihhh, udah lagi, Yud. Pulang yuk! Gue mau latihan basket sore ini.” Mereka pun beranjak, kedekatan keduanya memang terlalu aneh. Di mata orang lain mereka sejoli yang tak terpisahkan. Yudha berharap gadis itu dapat dijadikan kekasih agar dapat meramaikan hari-hari sepinya. Sedang Ayla menginginkan cowok itu selalu ada untuknya.   ***   Sore itu, matahari masih terik. Yudha mendatangi tukang pangkas langganannya. Sesampainya ia langsung duduk di kursi yang dapat berputar 360 derajat. Duduk manis menunggu si Tukang Cukur melayaninya. Sambil menunggu ia membuka-buka majalah yang baru saja ia ambil dari meja belajar adik perempuannya tadi. Tak berapa lama akhirnya Tukang Cukur mendatanginya. “Cukur, Dek?” “Iya, Bang. Persis kayak gini. Belah tengah.” “Wih, modelnya cakep, nih.” “Ini idola calon cewek saya, Bang, kalo potong rambut begini kira-kira saya tambah ganteng gak ya? Dia suka gak ya? Cakepan mana, saya sama dia?” “Cakepan dia, lah.” “Ah, Abang ini. Gak jadi deh, ke tempat laen aja.” “Baru gitu aja udah ngambek. Lagian, gak perlu ganteng, kalo mau si-dia jatuh hati.” “Apaan, Bang, resepnya?” tanya Yudha tertarik. “Beri dia, kasih sayang yang tulus,” sahut si Abang sambil menyemprot rambutnya dengan air. “Kalo dianya gak peka gimana?” “Jangan ngalah dong, harus terus dikejer, pantang menyerah. Situ laki ‘kan?” “Kayaknya sih Bang, eh, iyalah.” “Nah, laki tuh kudu jantan, pertahankan yang pantas dipertahankan. Mosok baru ditolak sekali udah keder.” Yudha mengangguk-angguk merasa perkataan Abang Tukang Cukur itu benar adanya. = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN