Sahabat, kata yang aku beri garis tebal pada kertas yang terlipat.
Lalu, aku biarkan ia mewarnainya dengan biru.
Ayla Kosha Hammam
***
03 Mei 1994.
Yudha baru saja memasuki gerbang sekolah. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.20 pagi. Memang sejak naik kelas dua, ia semangat berangkat ke sekolah. Sebab, Ayla selalu datang lebih awal. Bukan karena gadis yang disukainya itu anak rajin, tetapi karena ia selalu lupa mengerjakan PR dan tugas sekolah.
Cowok beralis tebal itu, kadang heran dengan daya tarik aneh gadis pujaannya itu. Parasnya tak cantik bak model majalah, juga tidak terlihat seperti seorang kutu buku—padahal sangat suka membaca. Ayla bahkan cenderung tomboy dan keras kepala. Akan tetapi, Yudha tahu, gadis tersebut memiliki hati yang baik. Bahkan kadang terlalu baik hingga jarang marah dan sulit menolak membantu orang lain.
Yudha sudah memasuki selasar lantai dua, ia mempercepat langkah sampai seseorang memanggil namanya.
"Yudha!" Bahar dari kelas II-A yang memanggil. Ia pun menengok dan berhenti. Bahar setengah berlari menghampirinya, sambil menggenggam amplop berwarna biru muda.
Setelah sampai di depannya, ia mengangsurkan amplop, yang dari sana tercium harum khas surat cinta, keluaran Harvest.
"Apa nih, Har?" tanya Yudha pada temannya itu curiga.
"Titip surat buat Ayla."
Yudha mendelik pada Bahar. Rasa penasaran akan isinya membuatnya bertanya lebih lanjut. "Iya, tapi surat apa, nih?"
"Ada deh. Awas, ya, jangan lo baca. Suratnya udah gue segel, tuh."
"Dih, siapa juga yang mau baca."
"Jangan gak disampein. Gue nulisnya sepanjang malam dengan penuh perasaan, tuh."
"Kalo gitu, lo kasih aja sendiri."
"Lo kan sobatnya, tolonglah."
"Dia udah punya pacar."
"Oya? Siapa? Kata Darma dia baru putus, tuh."
Bahar tak memedulikan ekspresi tak senang Yudha. Dengan setengah memaksa ia mengangsurkan surat itu ke dalam genggamannya. Membuat laki-laki itu ingin meremas dan membuangnya ke tempat sampah. Namun, ia berusaha sekuat tenaga menahan. Bahar adalah teman sepermainan, kebetulan mereka tinggal di komplek yang sama, meski tidak pernah sekelas.
Setelah surat telah berpindah tangan, Bahar pun pergi. Yudha segera berbalik dan masuk kelas. Sesampainya di sana. Cowok itu melemparkan surat tersebut ke atas meja,
Ayla yang sedang mengerjakan PR, terkejut. "Apaan nih? Jangan bilang surat cinta dari lo?"
"Kok, lo tau itu surat cinta?"
"Dari baunya, hampir sama dengan yang gue beli minggu lalu."
"Lo beli kertas surat buat siapa?" selidik Yudha.
"Buat sahabat gue Fitri dan Vera di Lampung. Kenapa emangnya?"
"Oh, enggak. Kirain buat cowok." Yudha melengos, ia duduk bersandar di bangku.
"Ini beneran dari lo?" tanya Ayla, gadis itu berhenti menulis dan meraih surat itu.
Yudha merebut surat itu sambil berkata, "Kalo gitu, gak usah dibuka, gue buang aja ya?"
"Eh, bentar, kenapa dibuang. Sini! Itu buat gue, 'kan?"
Yudha memberikan surat itu dengan berat hati. Ayla segera merobek salah satu sisinya. Kalau saja Bahar melihat hal ini, ia pasti menangis. Surat cinta yang ditulis semalaman itu, dibuka dengan tak berperasaan. Segel berbentuk hati yang ditempelkan, jatuh begitu saja ke lantai, kertas suratnya pun sedikit sobek di ujungnya. Cowok itu kembali takjub, dengan tingkah gadis di depannya, terlalu cuek untuk ukuran perempuan.
Yudha memperhatikan ekspresinya. Ayla membaca cepat dengan suara lirih, lalu tersenyum. Hati cowok itu seperti teriris, padahal gadis itu belum lagi berkomentar tentang isi surat Bahar. Ia sudah merasa cemburu. Kalau saja bukan karena gengsi, tak rela gadis yang disukainya itu membaca surat cinta dari orang lain.
"Seneng ya?" tanya Yudha.
Ayla menatap mata laki-laki yang berpindah ke sampingnya, "Ya senenglah."
"Kalo gue yang nulis surat kayak gitu, lo seneng juga gak?"
"Ehm ... bentar, gue mikir dulu." Mata Ayla menatap langit-langit kelas yang sudah banyak berlubang. Untung saja hari itu tidak ada tikus yang mengintip dari balik kasau.
"Kok! Pake mikir, sih, jawabnya?" protes Yudha gemas.
"Lo, mah, jangan nulis surat lagi. Gak sadar apa? Semua halaman belakang buku gue ada tulisan lo. Nih! Liat, nih! Ini juga! Ini juga, plus bonus gambar vignete lagi." Ayla menunjukkan beberapa buku tulisnya.
Yudha tersenyum malu, ia memang sengaja menuliskan perasaannya pada gadis itu di sana.
Entah sudah berapa kali ia menyatakan perasaannya. Saking seringnya sampai tak lagi dapat dihitung. Akan tetapi, dari sekian banyak pernyataan tak ada satu pun mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.
Ayla yang melihat senyum cowok itu, lanjut mengomel, "Bu Ida, sampai negor waktu itu. Mokal gue, Yud."
"Kalo lo mau gue berhenti nyatain, tanggepin yang bener, dong."
"Kan, udah pernah gue jawab."
"Itu bukan jawaban yang gue mau."
"Mana ada orang nembak maksa kayak lo, Yud."
"Ya, mana tau perasaan lo berubah gitu, kalo tiap minggu nyatain gak cukup, gue bakal ngomong tiap hari, nih."
"Astaga, ancamannya. Mesti ditanggepin gimana lagi coba?"
"Terima cinta gue."
"Cinta? Ha ha ha, emang cinta itu apa, sih? Sok-sokan ngomong gitu. Tau artinya aja kagak."
"Cinta itu adalah, segala suatu yang berkaitan dengan lo, Ay."
Ayla terdiam, menatap wajah sahabatnya itu. Matanya tajam dan serius. Sebetulnya ia bukan tak tahu perasaan cowok itu, tetapi dirinya terlalu takut menerima cinta Yudha. Gadis itu tak ingin kehilangan sosok yang begitu menyayanginya. Sebab kekasih dapat putus di tengah jalan sedang sahabat, akan bertahan selamanya.
Ayla menyentuh bahu cowok itu, dan berkata, "Lo itu sahabat gue, gue gak mau mengubah kenyamanan hubungan kita."
"Tapi, hati gue gak nyaman selagi lo belum jadi milik gue. Gue takut lo lepas ke pelukan cowok lain."
"Kalo gitu jagain gue, nih, kayak tulisan ini."
Ayla menunjuk ukiran yang dibuat Yudha minggu lalu pada mejanya, kumpulan huruf bertuliskan nama mereka berdua yang dilingkari simbol hati.
"Lo, lindungin gue begini. Gue udah seneng."
"Tapi, gue butuh kepastian. Lo itu sebenernya suka gak sih sama gue?"
"Gue gak bisa jawab, karena lo sebenernya udah tau perasaan gue."
"Lo gak suka sama gue, ya?" tanya Yudha pesimis.
"Kalo gak suka, kita gak bakal bisa jadi temen."
"Tapi, gue maunya, lebih dari temen."
Yudha masih bersikeras. Ia tak pernah bosan menyatakan perasaan, sedang jawaban gadis itu selalu sama.
Ayla sungguh tidak mau merusak tali persahabatan mereka. Baginya, hubungan persahabatan akan lebih langgeng hingga tua dibandingkan hubungan cinta. Apa yang terjadi pada orang tuanya membuktikan itu.
"Pokoknya gue maunya lebih dari sekedar sahabat, gue pengen lo mandang gue sebagai seorang laki-laki."
"Tapi, nanti kalo jadi pacar. Bisa aja kita putus, terus ... kita gak bisa sahabatan lagi, gue gak bisa curhat lagi. Pokoknya gue gak mau."
"Kalo gitu siap-siap aja. Gue bakal utarakan perasaa, sampe lo bosan dengernya. Kalo perlu bakal gue ulang kata cinta itu tiap hari, biar selamanya lo gak bakal lupa. Karena selamanya rasa ini akan tetap sama." Yudha sedikit mengeraskan nada suaranya, membuat Ayla berjengit menatapnya.
"Terserah lo!" Gadis itu tak ingin berdebat, meski hatinya gundah merasa takut kehilangan sekaligus kasihan, tetapi berpacaran bukanlah hal yang ia inginkan saat itu. Ia acuhkan laki-laki itu dan melanjutkan mengerjakan PR-nya.
Yudha mendengkus kesal. Terkadang ia lelah dengan pengejaran ini, tetapi untuk menjauhi gadis itu, jelas tidak mungkin. Walau kejadian ini terus berulang, begitu terus setiap minggunya. Ia menyatakan sedang Ayla hanya akan menyimpan baik-baik rasa cintanya di sudut hati. Tak pernah berani mengambil resiko lebih jauh.
***
24 Agustus 2019.
Obrolan Ayla dan Yudha masih berlanjut hingga malam hari. Satu sama lain tak merasa bosan meski telah berjam-jam mereka saling berkomunikasi melalui aplikasi chat. Obrolan yang bermula dari hal-hal receh seperti hobi, makanan favorit, dan berakhir dengan kembali mengenang masa indah kebersamaan mereka.
"Ha ha ha, Jangan ngelawak, Yud. Nanti Maura parangin golok baru tau rasa. Inget, zaman sekolah dulu hanya tinggal masa lalu, waktu gak bisa diputar ulang. Kita gak akan pernah bisa balik ke masa itu." Ayla tak mau mengganggap serius perkataan Yudha sebelumnya yang menginginkan mereka menjalani hubungan seperti dulu.
Dirinya memang telah menjanda, tetapi bukan berarti ia mengiakan begitu saja ajakan seorang mantan. Walaupun rasa untuk dirinya masih tetap ada.
"Gue gak bercanda kalo ngomongin masalah perasaan sama lo, Ay. Walau selalu gak pernah dianggap gue serius. Inget gak, berapa kali coba dulu gue nembak lo?" sahut Yudha.
"Inget, kalo gak salah seminggu sekali lo pasti nembak. Padahal tau bakal dapat jawaban yang sama."
"Lo itu, sebenernya gak peka, apa kelewat lugu sih? Dulu, gue sebel banget sama lo, tauk." Yudha mengomel, protes keras tentang betapa Ayla terlalu cuek dengannya.
"Ya, maaf, Yud, namanya anak kecil, mana ngerti gue."
"Beneran gak ngerti? Tau gak, rasanya dulu itu, ngedapetin lo itu, kok, susahhhh banget." Yudha gemas dan akhirnya mengungkapkan perasaan hatinya.
"Iya, gue inget. Ungkapan perasaan lo itu ada di setiap halaman terakhir setiap buku pelajaran, mulai dari yang mesra mendayu-dayu, lucu, sampai yang mengumpat."
"Udah segitunya, lo gak nerima juga, sampe ampir setahun kayaknya."
"Sebelas bulan, tepatnya," koreksi Ayla. Seperti Yudha, ia juga menyimpan rapi kenangan tentang pria itu.
"Nah iya. Terus, lo masih inget gak? Gue sampe daftar PMR, dan berbagai ekskul yang gak gue suka, semua itu demi deket sama lo."
"Iya, emang sobat teladan lo itu."
Yudha terdiam, kata sahabat yang diucapkan Ayla, membuat emosinya meledak.
"Sobat?! Ay, sekarang gue mo nanya, dan ini serius."
"Lah, emang dari tadi enggak serius? Nanya aja, gih, mumpung nanya masih gratis."
"Lo ... kangen gak sama gue?"
Ayla terpekur, menimbang-nimbang jawaban apa yang seharusnya ia lontarkan. Dadanya saat ini bergemuruh, sulit ditenangkan.
"Kangenlah. Kan, udah lama kita gak ketemu." Satu kata 'kangen' tak mungkin mengubah kehidupan kami begitu saja bukan? Kangen antara sahabat juga diperbolehkan, benarkan? Ayla telanjur menjawab jujur, sekarang hatinya resah mencari pembenaran atas jawabannya yang membuat jantung Yudha berdetak lebih kencang.
"Gue juga kangen banget sama lo, dulu kita jadian bentar banget, padahal ngejernya lama. Giliran jadian cuma sebulan, lo sih pake acara pindah segala. Waktu itu gue ngerasa perjuangan gue sia-sia banget."
"Yah, mau gimana lagi. Saat itu gue gak bisa berbuat apa-apa." Ayla mendesah.
"Ay," panggil Yudha ragu-ragu.
"Apa?"
"Gue tau, kondisi saat ini gak memungkinkan kita untuk bersama, tapi ... boleh gak gue minta sesuatu?" Yudha bertanya dengan d**a yang berdegup kencang, ia sadar pertanyaannya ini akan membawa mereka berdua ke masalah lain, selain hanya sekedar bertemu dan melepas rindu.
"Minta apa?" tanya Ayla.
"Gue mau kita balik kayak dulu lagi."
"Masih pertanyaan yang sama? Kalo sebagai sahabat, gue gak masalah," ucap Ayla memastikan, perempuan itu telah membaca ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara, tetapi ia juga butuh ketegasan.
"Lo tau maksud gue, gak usah pura-pura deh. Lo bukan anak SMP kayak dulu, 'kan?"
"Maksud lo, kita–" Ayla berusaha menenangkan pikiran negatif yang berkecamuk di kepalanya. "Lalu ... Maura?"
= = = = = = = = = = = = = = =