Aku muak dengan persahabatan!
Akan kuhapus garis tersebut
Memperjelas hitam di atas kertas putih.
Agar lipatan baru tercipta dengan warna-warni cinta.
–Yudha Turangga–
***
25 Agustus 2019.
Maura baru saja menutup telepon dari sekretaris suaminya. Ia sebagai anak pemilik perusahaan memiliki kekuasaan penuh atas perusahaan yang kini dijalankan oleh Yudha, meski pria itu adalah pemimpinnya. Tadi, sekretaris itu melaporkan tindak tanduk suaminya yang semakin sering memegang ponsel demi membalas chat dari seseorang. Sebetulnya hal tersebut wajar jika ia tak melakukannya sambil tersenyum-senyum.
Selain itu, wanita yang usianya lebih tua lima tahun dari suaminya itu memasang CCTV tersembunyi di ruang kerja suaminya, baik yang di kantor maupun di rumah. Sebab pria itu selalu melarangnya untuk masuk tanpa permisi. Akhir-akhir ini ia tampak sering menelepon dan chating dengan seseorang hingga larut malam. Awalnya, Maura berusaha tidak mengambil pusing. Lagipula untuk apa cemburu, ia yakin Yudha tak akan bisa meninggalkannya. Akan tetapi, pendapatnya berubah setelah ia bercerita pada Norma—sahabatnya, pada pertemuan mereka dua hari yang lalu.
“Kenapa, Jeng? Ngelamun aja,” tanya Norma setelah memperhatikan seperti ada yang dipikirkan oleh Maura.
“Aku baru aja dapet WA dari sekretaris suami.”
“Kenapa? Suamimu ngegelapin uang perusahaan? Atau selingkuh sama sekretarisnya?” Norma menggeser duduknya semakin rapat. Suasana pertemuan rutin mereka kali ini di dalam café, jelas tak mungkin mereka berbicara dengan suara keras. Apalagi obrolan mereka akan menjurus ke ranah pribadi.
“Bukan. Ehm … gini, menurut, Mbak. Kalo laki-laki terus-terusan memainkan gadget sambil senyum-senyum itu lagi ngapain?”
“Ya, paling buka medsos atau aplikasi chat. Ngobrol bareng temen atau komenin status mantan?”
“Serius aku ini, Mbak.” Maura mendengkus kesal mendengar komentar wanita berhijab biru muda itu.
“Lah, emang aku gak serius. Tau gak. Tetanggaku, beberapa waktu yang lalu balikan sama mantannya. Dia bahkan sampe nekat ninggalin anak dan istri, loh. Padahal mantannya itu juga bersuami dan punya anak,” jelas Norma dengan senyum mengejek. “Kayak gak bisa nyari gadis. Wong, perempuannya aja gak cakep-cakep amat.”
Maura mendelik tak percaya. “Masa, sih? Itu mantan SMA apa kuliah?”
“Bukan, mantan waktu SD.”
“Apa! Gila kali, ya? SD bukannya masih pada ingusan. Memori apa yang bisa bikin mereka balikan.” Maura menggeleng-geleng masih merasa syok.
“Emang dunia udah gila, Jeng, hati-hati aja, jangan-jangan suamimu lagi chat sama mantannya.”
“Ah, aku gak yakin, Mbak. Tapi ….” Wanita berhijab cokelat muda itu menjawab dengan ragu-ragu.
“Baiknya cari tahu dulu, jangan asal tuduh juga.”
“Iya, Mbak. Terus sekarang bagusnya aku mesti gimana?”
“Telusuri dulu. Coba deh periksa sekali-kali hapenya. Laki, tuh, jangan terlalu diulur, sekali-kali dipegang juga tali kekangnya, biar gak kabur.”
Maura mengangguk-angguk. Ia memang ingin menanamkan rasa percaya pada suaminya, tetapi dirinya tak mempercayai orang di sekitarnya, apalagi itu adalah seorang mantan.
Di sisi lain, Ayla dan Yudha masih meneruskan pembicaraan yang sempat terputus kemarin. Hati keduanya resah sebab pembicaraan mereka masih dirasa menggantung. Belum didapati jalan terang. Ibarat membaca narasi dalam satu paragraf panjang yang belum bertemu titik.
“Maksud kata-kata lo kemarin itu, apa? Maura lo mau ke manain?”
“Memang kenapa dengannya? Dia gak perlu dibawa-bawa dalam pembicaraan ini.” Hati pria itu bergetar, ia tahu apa yang mereka bicarakan ini beresiko, tetapi untuk berhenti Yudha sudah tak bisa. Salah sendiri perempuan itu hadir lagi dalam hidupnya. Kini ia hanya ingin wanita dari masala lalunya itu kembali ke pelukannya.
“Gak usah main-main, deh, Yud,” sentak Ayla, hatinya gelisah. Ini gak bener! Akan tetapi, sama seperti Yudha. Ia belum mengutarakan semua kegundahannya selama pria itu sempat hilang dari hidupnya.
“Memang sekarang gue seperti sedang bercanda?” Kembali laki-laki itu merasa, Ayla-lah yang justru mempermainkan hatinya.
“Mungkin. Sebab gue gak liat muka lo, gw gak bisa baca keseriusan di mata lo. Bisa aja setelah ngobrol begini dan sukses bikin gue kepikiran tentang semua tentang kita, lo ngetawain gue.”
“Jadi, lo juga mikirin gue? Sungguh?”
“Harus, ya, gue perjelas? Jangan-jangan gak hanya gue yang lo giniin?” Ayla mau tak mau berpikir negatif, sebab suaminya dulu pun menceraikannya karena tergoda dengan perempuan lain.
“Lo ini, bisa gak, sih, gak berpikir buruk sama gue. Berulang kali dibilang, kalo gue gak pernah bisa bercanda tentang perasaan ini sama lo, Ay. Jadi, stop berpura-pura menutupi semua perasaan lo sama gue.”
“Gak ada yang gue tutupin, kok. Gue mikirnya … lo mungkin sudah banyak bermain-main di luar sana, jadi ….” Ayla ragu untuk meneruskan, kata-katanya mungkin akan semakin memperkeruh suasana.
“Oh, lo pikir gue lagi pengen main-main sama lo sekarang, gitu? Lo dari dulu selalu aja meragukan gue. Padahal selain lo, gue gak pernah begini.”
“Wajar bukan? Hati gue pernah sakit gara-gara pengkhianatan.”
“Kapan gue pernah mengkhianati lo?” Yudha menarik rambutnya frustrasi, berpikir keras mengapa perempuan itu berpikir seperti itu.
Ayla tak lagi berpikir panjang, ia mengeluarkan kekesalannya yang sejak dulu tersimpan terhadap pria itu. “Dulu, lo susah buat dihubungin, surat-surat gue gak pernah dibales. Gue pikir lo udah ngelupain gue.”
“Dulu, komunikasi buat kita emang susah, Ay. Gue gak betah nulis surat, gue maunya ngobrol langsung, tapi untuk nelpon interlokal itu mahal.”
Mereka mengingat-ingat lagi, masa itu. Di mana telepon umum dan warung telepon masih banyak bertebaran di sudut-sudut jalan, kantor pos, satu-satunya tempat favorit untuk bertukar kabar. Untuk mereka sepasang kekasih yang terpisah jarak dan waktu , komunikasi antar kota dan negara tak semudah sekarang, tinggal klik dan dengan berbagai media.
“Itu artinya gue memang bukan prioritas dalam hidup lo, kalo sekarang kita balikan siapa yang jamin lo gak bakal kayak dulu?”
“Kalo nanti gue bakal sering nemuin dan hubungin. Lo mau ‘kan?” Yudha berkata dengan penuh harapan.
“Janji lagi? Janji yang dulu aja lo gak bisa nepatinnya, Yud.”
“Dulu gak semudah sekarang dalam berkomunikasi.”
“Dulu … gue gak minta hal yang muluk, hanya sebuah surat dan deringan telepon sebulan sekali aja sudah cukup, tapi lo biarin gue berbulan-bulan tanpa kabar.”
“Itu karena gue ….”
“Karena gue emang gak pernah ada dalam prioritas lo ‘kan? Udah deh ngaku aja.”
“Bukan. Waktu itu gue gak percaya diri, gue pikir lo gak segitu cintanya sama gue. Terus, gue malah melarikan diri ke narkoba. Hidup gue sia-siain, termasuk lo. Percaya sama gue, Ay. Gue … gak pernah bisa jatuh cinta lagi sama orang lain, gue akuin, kalo gue punya banyak cewek, tapi rasa cinta? Gue gak bisa ngerasainnya lagi selain dengan lo.”
“Bullshit, lalu sama Maura? Inget, dia istri lo sekarang.”
“Maura bukan cinta, tapi sebuah tanggung jawab.”
“Sudahlah, entah kenapa ngomongin hal ini bikin gue kesal. Inget waktu itu lo hanya nelpon dan kirim surat hanya sekali aja selama setahun. Gue bingung saat itu, sebenernya gue ini punya pacar apa enggak?”
“Mulai bulan depan gue ada bisnis di Lampung, jadi dalam satu atau dua bulan selanjutnya kita bisa terus ketemu dan bernostalgia.”
“Sebagai apa? Kalo sebagai sahabat gue gak masalah.”
“Bisa gak, sih! Kata itu lo singkirkan dulu. Kenapa selalu sembunyi di balik kata sahabat? Lo tau, gue gak pernah bisa jadi sahabat lo, dulu, sekarang, mau pun nanti.” Yudha menggebrak meja kerjanya. Sedang Ayla masih berkeras, ia tak boleh terlena dengan kisah ini.
“Sebelum pacaran, emang lo itu sahabat gue yang paling akrab, selain Meilia, Darma, dan Tami.”
“Berapa kali gue mesti bilang, gue merindukan lo setiap hari. Lo tau gak rasanya diacuhkan gejar lo selama hampir setahun, tapi gak diterima-terima. Sekalinya jadian baru sebentar lo udah tinggalin.”
“Gue ga pernah ninggalin. Lo! Yang ninggalin gue karena, Maura.” Ada penekanan dalam kata-kata Ayla yang menyebabkan pria diseberang tak mampu berkata-kata lagi.
“Itu ….”
“Itu sudah takdir. Kita gak jodoh. Gue ikhlasin semua yang pernah terjadi. Maafin gue kalo gue punya salah. Sekarang, setelah ketemu lo lagi, gue masih mau dekat, tapi hanya sebatas sahabat, gak lebih.”
“Gue … belum bisa nerima hal ini. Tapi, untuk menjauh lagi dari lo, gue juga gak bisa dan gue benci keadaan ini.”
Mereka terdiam. Sama-sama tenggelam dalam rasa bersalah masing-masing. Hati begitu ingin memperbaiki hubungan menjadi lebih baik. Namun, waktu telah berlalu mengubah jalan cerita. Ayla memaksa memorinya kembali ke hari di mana Yudha dulu kembali menyatakan perasaannya. Ia mengulang kenangan, demi mencari kesalahan mana yang membuat mereka seperti sekarang ini.
***
06 Mei 1994.
Masih di kelas paling pojok. Bu Ida senang mengganti-ganti posisi duduk murid-muridnya, Ayla sekarang duduk dengan Dani dan Yudha dengan Tami. Berhubung keduanya sedang sibuk ke kantin, Yudha mendatangi gadis yang tengah melamun di meja paling depan dekat pintu.
“Gue sayang sama lo Ay, lo mau ‘kan jadi pacar gue?” bisik Yudha untuk kesekian kalinya ke telinga Ayla. Gadis itu menatap cowok itu lekat, bukan ia bosan terhadap pengakuannya, tetapi ia tak tahu lagi harus dengan kata apa ia menjawabnya.
“Lo gak bosen ngomong gini?”
“Enggak, karena gue berharap lo bakal nerima gue kali ini.” Senyum Yudha terkembang di bibirnya.
“Kalo gitu, lo udah tau jawabannya, kan?”
“Hari ini gue gak mau denger hal yang sama, lo harus terima gue, sekarang!”
“Kalo gue nolak?”
“Kalo lo masih gak mau nerima gue, lebih baik kita juga gak sahabatan sekalian.” Senyum di wajah laki-laki itu lenyap. Menyisakan pandangan tajam pada gadis yang tiba-tiba merasakan aura dingin di sana.
Ayla menegakkan tubuh, kesal dengan pernyataannya yang mengejutkan itu. “Kok lo gitu sih?”
“Pilih mana, jadi musuh atau pacar?”
“Gue gak mau jadi musuh lo, gue gak mau kehilangan sahabat.”
“Kalo gitu jadiin gue pacar, maka lo memiliki gue sebagai sahabat sepanjang hidup lo.” Yudha tak ingin mengalah kali ini. Ia menggenggam erat jemari gadis itu.
“Tapi ….” Ayla menatapnya ragu. “Kasih gue waktu untuk berpikir.”
Yudha berpaling, tak ingin tergoda dengan tatapan manja gadis dengan mata bulat itu. Ia tak ingin Ayla menggantungkan perasaannya, sudah seharusnya gadis itu menerima cintanya.
“Gak! Memang lo pikir sebelas bulan itu waktu yang sebentar untuk nunggu?” mata Yudha mengeras. “Gue udah ngejer dan pedekate sama lo selama ini, udah ungkapin juga semua perasaan gue. Lo butuh waktu berapa lama lagi untuk membuktikan kasih sayang gue, Ay?”
“Nanti … kalo putus—”
“Masa dimulai aja belum, lo udah ngarep kita pisah sih.”
“Tapi ….”
“Gak ada tapi-tapian. Musuh atau kekasih, jawab gue sekarang.”
Ayla menatap mata Yudha yang tajam. Kali ini, cowok itu tidak main-main dengan omongannya. Selama ini dia memang sangat memperhatikan dan memberikan kasih sayang tulusnya buat dirinya. Bukan tak mengerti, Ayla terlalu takut, jika suatu saat mereka mungkin berpisah.
“Gue gak tau harus jawab apa.”
Yudha geram, kemarahannya telah memuncak. Tanpa berkata ia meninggalkan Ayla sendiri, kembali ke tempat duduknya di belakang. Gadis itu gelisah, ia tak menyangka cowok itu akan meninggalkannya begitu saja, hatinya khawatir laki-laki itu akan benar-benar memusuhinya.
Usia yang masih sangat muda, tidak ada yang dapat menjamin kehidupan cinta akan berjalan mulus dan berakhir abadi. Gadis itu tak ingin ada perpisahan, seperti ayah dan ibunya. Itu sebabnya ia selalu memberi batasan ruang hanya sebagai sahabat untuknya. Walau, batasan itu menyiksa hati Yudha sedemikian rupa.
Gadis itu merenung dalam diam. Tami dan Mei yang baru saja datang dari kantin mendekatinya, merasa heran. Sebab melihat Yudha dan Ayla duduk berjauhan, meski telah saling melempar pandangan, satunya tampak dingin menusuk, sedang yang lain tampak bimbang.
“Kenapa, Ay? Berantem sama Yudha?” tanya Mei.
“Menurut kalian, kalo gue jadian sama Yudha, gimana?”
“Emang kenapa? Bukannya memang dari dulu Yudha sukanya sama lo doing,” jawab Tami.
“Iya, tapi gue gak mau nanti putus.”
“Dicoba aja belum, lo udah ngaku kalah aja, Ay? Kayaknya ini bukan Ayla yang biasanya ambisius, deh. Biasanya lo akan selalu berusaha untuk mencapai apa yang lo inginkan.” Mei menanggapi.
“Mungkin Si Yudha, bukan yang diinginkan Ayla kali, Mei,” cetus Tami.
“Bener gitu Ay? Bukan Yudha orang yang lo suka? Bukannya lo selalu sama dia? Bahkan dia selalu jaga supaya cowok lain gak bisa masuk dalam kehidupan lo? Atau selama ini penilaian gue yang salah?” Mei meminta penjelasan lebih lanjut.
Gadis yang tengah kebingungan itu menatap keduanya bergantian. “Dia selalu ada buat gue, tempat gue mencurahkan semua hal, dan gue juga gak mau ada perempuan lain yang diperlakukan sama oleh dia. Menurut kalian, kenapa gue punya perasaan begini?”
“Itu karena lo juga suka, tapi selalu mengingkari perasaan itu,” jawab Mei, diikuti anggukan Tami.
“Beneran?” tanya Ayla.
“Gue yakin,” jawab Tami seraya bertukar pandang pada sahabatnya di ujung sana. Ia sesungguhnya telah berdiskusi tentang drama meyakinkan perasaan ini dengan Yudha hari sebelumnya.
“Gak salah?”
“Gak ada yang salah. Kalo memang ternyata perasaan itu salah, lo bisa membenarkannya selama pacaran sama dia. Ikuti arusnya, biarkan hati yang bekerja.” Tami kembali meyakinkannya, menyikut pinggang Mei agar membantunya juga.
“Semudah itu. Maksud gue, memang, sih. Selama ini dia gue jadiin tameng saat diganggu atau orang lain, dia juga sering jadi sandaran saat lelah maupun sedih, gue ikat perasaannya, dan menggantungnya di relung hati. Dia juga selalu ada untuk gue, melakukan banyak hal yang dia gak suka demi ngejaga gue. Sekarang, apa boleh gue anggep dia lebih dari sahabat?”
“Boleh.” Mei dan Tami menjawab bersamaan.
“Karena lo gak bakal tau sampe lo coba. Sekarang lo-nya mau nyoba atau enggak?” lanjut Mei.
Gadis dengan rambut ikal itu merasa gamang, apakah harus mengalah dan menerima diri Yudha, yang kini sedang berada di sudut kelas memperhatikan mereka bertiga dalam lirikan penuh harap. Dalam hati cowok itu berdoa, semoga kali ini Ayla mau mengerti betapa ia menginginkannya gadis itu. Sebab seperti juga Ayla, ia tak ingin kehilangan dirinya, tak kan mampu ia jauh darinya.
= = = = = = = = = = = = = = =