[ 07 ] Rajutan Kisah Bermula

1545 Kata
Jika kata cinta tak cukup meruntuhkan egomu, maka akan kusampaikan kepada langit rasa rindu ini. Agar para malaikat mengaminkan, sehingga kau tak akan bisa melarikan diri dariku lagi.   –Yudha Turangga–   ***   Ayla bangkit dari bangku kayu, menatap kedua sahabatnya yang memberi semangat. Kali ini gadis itu membulatkan tekad dan telah memutuskan. Di ujung sana, Yudha tersentak saat melihat gadis yang disukainya berdiri, lalu berjalan mendekatinya. Laki-laki itu berusaha menenangkan diri dan duduk dengan tegak. Hatinya berdenyut kencang saat Ayla menempatkan dirinya di sisi cowok itu. “Yud,” tegurnya. “Ya.” Hati cowok itu masih berdetak, ia takut jika mengeluarkan banyak kata maka jantungnya akan melompat keluar. “Gue terima.” “Apanya?” “Cinta lo.” Ayla tak tahu apa yang akan dilakukannya ini benar atau salah, hanya satu yang pasti, ia tak mau kehilangan laki-laki itu sekarang maupun nanti. Yudha terkesiap, ia tak mempercayai apa yang didengarnya. “Bohong!” “Jadi gak mau?” tanya Ayla heran. “Ini, serius?” Cowok itu balik bertanya. “Ya iyalah, gue gak mau kehilangan lo, gue juga gak mau jadi musuh lo. Kalo lo gak mau, ya udah,” sahut Ayla cuek, hendak berdiri. “Eh, mau ke mana? Beneran, ya? Asyik! Terima kasih, Ay.” Yudha menggenggam jemari gadis itu erat seraya menatap gadis itu begitu dalam.   Ekspresi Yudha kaku, akhirnya mimpinya jadi nyata, tetapi ia tak mampu berkata-kata lagi di depan gadis itu, terlalu bahagia. Hal ini mesti dirayakan. Cowok itu melepaskan genggamannya, senyum semringahnya kini tak lagi tersimpan. Ia lalu berbalik dan berteriak-teriak keliling kelas. “Gue punya pacar! Ayla pacar gue.” Cowok itu berteriak seantero kelas, membuat mata teman sekelas lain menatapnya. Yudha mendekati Dody. “Denger gak lo, Dod!” Dody yang duduk di pojok kelas menengadahkan wajahnya menatap wajah Yudha yang kegirangan. “Apaan?” “Gue udah punya pacar! Ayla sekarang udah jadi pacar gue!” “Ohh, selamet deh, Yud.” Dody acuh dan kembali menekuni bukunya. Hampir semua teman sekelas sepertinya sudah memastikan hal ini akan terjadi. Mereka memberikan selamat dengan ekspresi biasa saja, tetapi Yudha tak lagi mempedulikan apa pun. Dia berkeliling kelas dengan lincah, masih berteriak-teriak dan melompat ke sana ke mari.  Mengacuhkan Ayla yang menatapnya bingung.    Gadis itu menatap Meilia dan Tami yang tersenyum-senyum melihat tingkah sahabat mereka yang lain. Sejujurnya di dalam hatinya berkecamuk berbagai macam rasa, kasihan, canggung, bahagia, lega, suka, sayang, atau cinta? Ia tak pernah bisa memastikan perasaan apa yang tepat. Hingga waktu berselang perasaan itu tak pernah dapat dijabarkan. Satu-satunya yang dapat dipastikan, hari itu tercatat selamanya sebagai hari pertama mereka sebagai sepasang kekasih.    Bagi Ayla, keberadaan Yudha di sisinya adalah sebuah keharusan. Jika, menerima cinta laki-laki itu adalah cara agar cowok itu tetap di sisinya maka itu pasti akan ia lakukan. Garis friendzone kini terhapus, harap muncul dalam hati gadis itu, semoga kisah akan semakin manis selamanya.   Sepertinya, menerima cinta Yudha adalah hal yang benar. Buktinya, kini laki-laki itu lebih ceria. Ayla mulai beradaptasi dengan perubahan status mereka dan belajar mencintainya. Cinta pun bertumbuh, ia semakin sayang pada cowok itu, menyadari satu hal yang selama ini luput dari pandangannya, laki-laki itu tampak semakin tampan di mata Ayla.   Di masa itu, satu-satunya mal di Tanjung Priok hanya ada di area Kelapa Gading. Sehingga mereka berdua sudah cukup bahagia menghabiskan waktu walau hanya pergi ke toko buku bekas, sekedar membaca komik, minum es di emperan jalan, atau berjalan mengitari sekolah sebanyak tiga kali sebelum naik angkot menuju rumah diisi dengan obrolan remeh hingga curhatan tentang keluarga, mengalir begitu saja. Ayla kembali menyadari hal baru, hal sekecil apa pun, jika dilakukan bersama seseorang yang kita sayang tentu akan menjadi spesial yang memorinya tak dapat luruh meski waktu telah lama berlalu.   Seperti juga pasangan lain, Yudha yang anggota band sekolah, sesekali mengajaknya ke tempat latihan. Lagu-lagu Iwan Fals, Slank, Dewa 19 kadang diperdengarkan melalui kepiawaiannya memainkan gitar.   Ayla menikmati kebersamaan mereka. Bagi gadis itu, Yudha adalah tempat ia mencurahkan segala rasa, tak perlu merasa malu ataupun jengah. Meski tak pernah mengerti apa bentuk perasaannya kasihan, sayang, cinta, atau apa? Ia tak ingin mencari tahu, selagi laki-laki itu berada di sisinya. Sedangkan, bagi Yudha yang sedang diliputi kasmaran. Ayla adalah satu-satunya tempat ia menumpahkan seluruh rasa cinta, hingga tak bersisa. Mereka saling membutuhkan meski dalam kondisi yang berbeda, juga saling mengisi, dan tak ingin terpisahkan.   ***   02    September 2019. Ayla memasuki pintu utama rumah sakit GH, terus ke dalam melewati lift, kemudian berbelok kanan menuju bagian poli umum menjauhi tangga. Langkahnya berhenti di depan pintu yang bertuliskan nama sahabatnya yang telah menjadi dokter spesialis. Ia menegur perawat yang tengah menggaris buku catatan pasien. “Pagi. Dokternya sudah datang, Mbak?” “Selamat Pagi, Oh, Ibu Ayla? Mau kontrol ya? Dokter Ardian baru saja datang, silakan duduk dulu, Bu,” sambut sang asisten perawat ramah.   Perempuan itu tersenyum dan duduk di bangku panjang di depan ruang praktik. Hari masih terlalu pagi, hanya beberapa pasien dengan keluhan mendesak saja yang telah datang. Seperti dirinya mereka juga tengah menunggu di depan pintu ruang praktik dokter sesuai penyakit yang mereka derita. “Silakan masuk, Bu Ayla, dokter sudah menunggu,” panggil perawat sedetik kemudian, membuyarkan lamunan. “Terima kasih, Mbak.” Kembali ia melemparkan senyum dan berjalan masuk ruangan guna menjalani pemeriksaan.   Ayla mengancingkan kemejanya selagi sang dokter mencuci tangan setelah memeriksa tubuhnya. “Sudah agak mengempis benjolannya. Obatnya sudah habis? Mualnya bagaimana?” tanya Ardian berusaha santai. Pasiennya ini adalah sahabat sejak SMA, jadi dia sedikit canggung saat melihat Ayla membereskan pakaiannya melalui kaca di depan wastafel. “Obat tinggal sedikit, mualnya lumayan sering. Sekarang sama sekali gak bisa menggosok gigi lama, Dok,” jawab perempuan itu canggung, meski mereka sahabat penyakitnya ini membuat dirinya tak nyaman, saat pemeriksaan. “Kamu, sih. Gak mau dioperasi aja? Memang sepertinya hanya pembengkakan kelenjar yang tidak terlalu serius, tapi kalo sudah dibuang kan lebih nyaman.” “Belum berani. Oya, saya masih belum boleh makan daging dan ayam?” “Belum, benjolannya timbul karena kelebihan hormon, jadi lebih baik kita redam dulu dengan mengurangi makan-makanan yang mencetusnya.” Ayla mengangguk patuh. “Oke, deh. Oh ya, saya mau curhat.” “Wah, kalo plus curhat, bayarannya dobel, nih,” kelakar Ardian.   “Ish. Lo, masih inget cerita gue waktu itu tentang Yudha? Dia ngajak gue balikan.” Ayla langsung mengubah panggilannya, kini mereka bukan lagi dokter dan pasien. Ardian mendelik marah, karena ia sudah tau orang yang dimaksud perempuan itu, adalah mantannya yang telah memiliki keluarga. “Jangan suami orang! Cari yang lain ngapa? Laki single masih banyak. Gue aja single, nih.” “Lah, gue gak nyari-nyari, Yan. Dia yang datang sendiri.” “Terus lo iya-in? Lo terima ajakan dia? Ini nih, kalo denger yang begini bikin gue emosi dan inget mantan istri gue.” “Ini beda, Yan, gue kan single.” “Tapi dia enggak. Lo mau dijadiin yang kedua? Segitunyakah para perempuan kalo dirayu mantan, langsung berasa terbang dan gak inget sama keluarga.” “Gue gak pernah ngerayu dia, kali.” “Lo gak pernah rayu memang, tapi kisah antara kalian yang pernah ada, itu aja udah bikin dia panas dingin pas ketemu lo lagi. Gue rasa dulu bini gue begini kali, sebelum akhirnya ninggalin gue dengan mantannya.” “Ini beda, Yan, gue gak berharap jadian kok sama dia, gue hanya gak bisa jauh lagi dari dia, itu aja.” “Itu awalnya, udah gak usah diterusin. Lo putusin kontak sama dia. Blokir semua medsos, jangan main api kalo gak mau kebakar, inget itu.”   Suara ketukan di pintu menghentikan obrolan, Ayla menelan kembali kata-kata sanggahan atas kalimat terakhir Ardian. “Maaf, Dok. Ada pasien di ruang IGD.” “Baik, saya segera ke sana.” Ardian mengangguk pada perawat asistennya, lalu menatap sahabatnya yang sedang menggerutu di depannya. “Jangan dimulai apa yang seharusnya sudah berakhir. Biarkan saja berakhir, mulailah dengan lembaran baru dengan orang lain. Inget-inget lagi, dulu gimana lo bisa pisah sama dia. Lo masih ingetkan gimana sakitnya hati lo pas tau suami lo selingkuh? Pikirkan lagi, jangan ganggu rumah tangga orang.”   Ayla beranjak, dia berjalan menuju pintu. Sedang Ardian berjalan mengikutinya. Perempuan itu berbalik ketika langkahnya berada di depannya. Menatap lurus pada laki-laki dengan jas putih yang sekarang berdiri di depannya. “Gue gak mau ganggu siapa pun, tapi terus terang aja. Hati gue gak tenang, gue merasa bersalah atas apa yang terjadi dulu, gue pengen memperbaikinya. Gue rasa, kami harus ketemu untuk menyelesaikan semuanya.” Ardian menatap sahabatnya itu. Sesungguhnya ia memiliki rasa terhaap dirinya, tetapi batas yang dibangun perempuan ini begitu tinggi, ia tak mampu melampauinya. Ia hanya dapat menjadi tempat perempuan itu mencurahkan segala keluh kesahnya, itu saja. “Baiklah, asal lo inget batas. Perbaiki apa yang harus kalian perbaiki, ungkapkan apa yang harus diungkapkan. Setelah itu, gue harap lo kembali ke logika, berpijak di dunia nyata, sebab kalian bukan lagi remaja.” Ayla bingung, kata-kata sahabatnya itu memang benar, hingga tak ada satu pun kalimat bantahan yang mampu ia ucapkan. Namun, wanita itu tidak dapat menghentikan eforia kebahagiaan pertemuannya kembali dengan Yudha. Sekarang, memorinya memanggil kenangan bagaimana manisnya hubungan mereka berdua dulu, hatinya terpaut pada kisah kasih yang belum selesai.   = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN