[ 08 ] Cinta Merah Jambu

2359 Kata
09 Mei 1994.   Kelas II-C yang biasanya menjadi biang ribut jika kelas kosong, kini tampak senyap. Bukan karena sedang mengikuti pelajaran dengan tekun, atau sudah waktunya pulang sekolah, melainkan karena Pak Meri guru olahraga yang terkenal killer itu sedang berdiri di depan kelas. Matanya tajam menatap setiap siswa satu-persatu. Lalu telunjuknya mulai memilih. “Kamu, kamu, dan kamu ...  iya kamu, ikuti saya.” Ayla pun berdiri karena termasuk dalam pilihannya. Mata Yudha mengikuti gadisnya yang menjadi salah satu siswa terpilih, dan ia pun segera mengacungkan jarinya sedetik kemudian. “Pak, saya boleh ikut maju?” Guru tersebut menatap Yudha seksama, menimbang-nimbang. Lalu menunjuk dirinya untuk mengikuti mereka. “Ya sudah, kamu juga maju.”   Sang guru olahraga itu meninggalkan kelas menuju kelas selanjutnya, guna memilih siswa lain. Yudha pun segera menjejeri langkah Ayla yang mengikuti instruksi agar menunggu Pak Meri di ruang guru. Ia menatap cowok itu heran. “Kenapa lo ikut maju?” bisiknya agar yang lain tak memperhatikan pembicaraan kami. “Gak tau, lo di suruh maju, jadi gue juga maju, aja,” sahut Yudha cuek. “Lo, tau gak? Kita ini, dipilih untuk lomba gerak jalan, loh. Lo yakin mau ikutan?” “Apa! Beneran?” “Iya. Lo, kan, biasanya paling males ikut beginian.” “Gak apa-apa deh. Abis, lo ikut juga.” Cowok itu cengar-cengir, ia hanya ingin lebih lama bersama dengan gadis itu. Sebab Ayla memang selalu sibuk dengan berbagai kegiatan sekolah.   Setelah siswa terpilih dianggap cukup dan memenuhi syarat, Pak Meri meminta mereka untuk berkumpul di lapangan selepas pulang sekolah, dan mulai berlatih baris berbaris. Ayla yang memang terbiasa dengan kegiatan ekstra kurikuler, memandang geli seseorang di barisan putra. Ia bermandi peluh, sampai-sampai ‘obat ganteng’-nya luntur hingga keningnya tampak berkilat. Rangkaian langit dan awan hampir membentuk lukisan senja dengan sempurna, sore semakin temaram, warna jingga semakin gelap. Para siswa anggota gerak jalan, baru saja selesai berlatih. Setelah satu minggu penuh mereka diberi dispensasi pelajaran sekolah.   Pak Meri, berbicara di depan mereka yang tengah rehat dan duduk rapat membentuk setengah lingkaran, semuanya tampak fokus dengan wejangannya. “Anak-anak, besok adalah hari perlombaan. Kita kumpul di sekolah jam lima pagi. Menggunakan seragam olahraga dan topi OSIS.” “Siap, Pak!” sahut semua siswa serentak. “Oke, malam ini jangan ada yang begadang. Langsung pulang ke rumah dan beristirahat lebih cepat.” “Siap, Pak!” sahut semuanya lagi sebelum dibubarkan.   Ayla berlari kecil mengambil tasnya, diiringi Yudha, mereka telah bersiap untuk pulang. “Ayla!” panggil seseorang. Gadis yang rambutnya kini sudah sebahu itu, berbalik. Mendapati Bahar teman sekelas Darma yang kini berlari mendekati keduanya. “Ada apa, Har?” tanya Ayla, setelah cowok itu berada cukup dekat. Yudha yang tadinya berjarak dari gadis tersebut, mendekatkan diri hingga lengan mereka saling bersentuhan. Kalau saja bukan di sekolah, mungkin cowok itu sudah merangkulnya agar mengusir Bahar yang tak tahu kalau keduanya telah jadian. “Pulang bareng, yuk,” ajak Bahar tak peduli dengan tatapan Yudha yang protektif. “Eh, gue sama Yudha pulangnya, soalnya mau mampir dulu ke ....” jawabku beralasan. Memandang mata cowok di sebelahku yang tampak kesal. “Gue ikut, dong. Emang mau mampir ke mana?” “Eh, ya boleh. Cuma mau beli es campur di warung Ce’ Odah di depan terminal, kok.” Tatapan Yudha mengeras. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Akhirnya mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari halaman sekolah.   Sampai di hari perlombaan. Waktu subuh telah lama lewat, Yudha bolak-balik di depan gerbang sekolah, sekarang sudah pukul 05.15 pagi. Wajahnya khawatir dan tidak tenang. Namun, senyumnya segera terkembang. Saat gadis yang dinantikannya baru saja turun dari angkot. Ayla segera berlari kencang setelah membayar dan terburu-buru memasuki gerbang sekolah, hampir saja ia bertabrakan dengan Yudha. “Ay!  Kenapa baru datang?” tegur cowok itu. “Tadi gue bangun jam lima kurang seperempat, Yud,” sahutnya sambil berjalan cepat menuju tempat berkumpul. “Ya udah cepet! Pak Meri udah nungguin.” Ayla semakin mempercepat langkah diiringi Yudha, ia tidak berani membayangkan kemarahan gurunya dan bersiap menerima hukuman.   “Maaf, Pak. Saya tadi terlambat bangun,” ujar Ayla di depan gurunya itu dengan napas tersengal. Pak Meri menatap gadis itu kesal. “Kamu, lari keliling lapangan lima putaran! Yang lain, segera masuk bus! Darma, kamu ambil perlengkapan!” Instruksinya langsung dikerjakan, Ayla pun mulai berlari keliling lapangan sekolah yang berukuran dua kali lapangan voli itu. Yudha yang menawarkan diri membantu Darma, mengikuti gadis itu dengan matanya.   Ketika pandangan mereka bertemu, gadis itu memberi kode dengan tangan yang membentuk orang memakai topi, dan bibirnya mengucapkan kalimat tanpa suara. “Gue lupa bawa topi.” Mata gadis itu menatapnya memelas penuh permohonan. Entah laki-laki itu mengerti atau tidak maksud hatinya. Ayla tak memiliki pilihan selain terus berlari hingga tiga putaran lagi.   Setelah menyelesaikan hukuman, ia pun berlari kecil ke arah bus dan Yudha berlari dibelakangnya, entah dari mana. Cowok itu memasangkan topi ke kepala gadis yang napasnya masih terengah-engah. Ayla pun berpaling. Napas cowok itu pun tampak tersengal. “Nih-h-h! Jangan hi-lang! Gue pinjem dari anak Pak Kohar, penjaga sekolah kita.” Bersyukur pacarnya itu ternyata mengerti arti pandangan mata dan kodenya tadi. “Terima kasih, Yud.” Ayla tersenyum tulus. Laki-laki itu membalas dengan mengelus rambutnya sekilas, sebelum akhirnya naik bus, mencari tempat duduk, dan duduk berdampingan. Mengabaikan mata seseorang yang tampak cemburu di sudut.   Bus melaju, menembus pagi yang semakin terang. Udara masih terasa sejuk, Ayla sedikit bergidik dan perutnya berbunyi.  “Lo, belum sarapan?” tanya Yudha. “Belum, tadi mama udah buatin roti, tapi gak sempat makan,” jawab gadis itu sambil memegang perutnya yang keroncongan. “Rotinya di bawa?” “Enggak, gue lupa.” “Kebiasaan! Kalo sakit gimana?” “Doain aja enggak.” Ayla menggedikkan bahu, cowok itu menutup jendela. Seakan tahu gadisnya bisa masuk angin nanti.   Sesampainya di bundaran Monas, mereka segera berkumpul dan berbaris. Sebelum terpisah barisan, Yudha sempat menegur gadis itu. “Lo, beneran kuat, Ay? Muka lo mulai pucet.” “Topinya kesempitan, Yud, jadi kepala gue pusing.” “Tuh, kan. Tukeran sama topi gue aja, ya.” “Gak usah, deh. Mana muat topi ini sama lo. Gue coba tahan aja,” tolak Ayla. Belum sempat Yudha berkata lagi, Pak Meri sudah mulai mengatur barisan. “Ayo! Cepat anak-anak rombongan kita akan segera start.”   Mata Yudha masih lekat memandang dengan air muka khawatir, yang tak mampu ia tutupi. Ayla menepuk bahu salah seorang temannya. “Ran, kalo gue pingsan tolongin, ya.” “Kalo gak kuat jangan dipaksain, Ay. Mending lo bilang sama Pak Meri, sana.” “Enggak enak Ran, mana tadi udah telat. Bakal marah besar ntar Pak Meri sama gue.” “Ya udah, gue jagain dari belakang kalo gitu.” “Thanks, Ran.” Ranti mengangguk. Rombongan SMP Anggrek telah berada tepat di depan garis start. Rombongan sudah akan berangkat. Ayla memejamkan mata seraya berdoa, berharap ia kuat hingga garis finish.   Bendera kain bermotif kotak-kotak seperti papan catur itu terangkat. “SMP Anggrek. Maju Jalan!” sahut para pemimpin regu. “SMP Anggrek, JAYA!!!” sahut anggota dengan serentak. Tepukan pun bergemuruh, mengantar barisan memulai lomba. Berjalan mengikuti rute yang sudah di tentukan panitia. Dengan panjang jalur 10 KM dari Monas hingga Stadion Gelora Bung Karno. Ayla berusaha bertahan, walaupun sakit kepala dan rasa mual sudah menyerang. “Aku pasti bisa!” Menyemangati diri yang kini mulai bermandikan peluh.   Satu jam dua puluh menit kemudian, perjalanan yang melelahkan itu pun berakhir. Stadion GBK sudah di depan mata. Hanya tinggal hitungan menit regu putri akan tiba di garis finish. “Tahan ya, Ay, sebentar lagi sampe,” bisik Ranti. Ayla mengangguk. Bibirnya kini sudah berwarna putih, sakit kepalanya semakin hebat, keringat dingin terus mengalir membasahi kening hingga punggungnya.   Bendera yang sama berkibar di depan mereka, garis finish terlewati. Ayla berhenti berjalan dan berdiri sempoyongan. Ranti dengan sigap langsung memeluk dan menahan tubuh gadis itu dari belakang. Barisan pun bubar, semua tampakgelap dan menghitam. Ayla tak tahu lagi apa yang terjadi kemudian. “Ayla!” Beberapa suara terdengar memanggil-manggil namanya.   Entah sudah jam berapa, sayup-sayup Ayla tersadar dari pingsannya, ia mulai mendengar suara celoteh dan canda di kejauhan.  Harum minyak kayu putih tercium dari kening, hidung, leher, dan perutnya. Ia membuka mata perlahan dan mendapati diri berbaring di kursi paling belakang bus. Ranti juga Bahar berada di sisinya. “Ranti,” panggil Ayla. “Udah sadar, Ay?” Gadis yang dipanggil memeriksa keadaannya. Ayla mencoba bangkit, Bahar hendak membantu. Namun, gadis itu menampiknya halus.  Lalu berpaling ke arah gadis yang tengah membantunya merapikan pakaian. “Pak Meri, gak marah, kan, Ran?” tanya Ayla, masih sedikit lemas. “Enggak, lagian lo pingsan setelah sampai finish, kok, gak ada alasan beliau untuk marah.” “Kalo gitu, gue mau di luar aja.”   Dibantu Ranti, mereka pun keluar dari bus. Mata Ayla segera mencari sosok Yudha dan ia mendapatinya duduk membelakangi. Sedang melemparkan kerikil kecil ke arah semak. Ayla duduk di sampingnya. Yudha yang menyadari kedatangannya menatap wajah gadis itu, ia menggenggam jemarinya yang masih terasa dingin. “Masih pusing?” tanyanya. “Masih.” Yudha memberikan roti, dan minum. “Nih, makan dulu.” “Tadi … yang nolongin gue lo, ‘kan?” “Bukan, Darma, Peppy, dan Bahar.” “Kok?” Ayla merasa heran, mengapa bukan pacarnya itu yang menolong dirinya. “Udah keduluan. Pas gue mo ikutan nolong Bahar melototin gue.” Ia berkata sambil mendengkus kesal. “Tapi, yang penting lo sekarang udah gak apa-apa,” sambungnya lagi. Yudha pun tersenyum dipaksakan. Ayla geli sekali melihatnya, tak tahan dirinya untuk ikut tersenyum. Baru kali ini ia merasa senang ada seseorang mencemburuinya.   Saat itu, cerita cinta begitu sederhana, karena masa depan masih dalam angan. Bertemu maka bahagia, tak mengkhawatirkan perpisahan, karena yakin akan terus bersama. Arsiran warna-warni semakin terang warnanya, kertas melipat membentuk cerita baru mereka di hari itu. “Lain kali jangan pingsan lagi,” ucap Yudha. “Kenapa? Lo cemburu, ya, yang nolong gue orang lain?” “Bukan, berat!” senyum isengnya terkembang. “Ih! Jahat!” rajuk Ayla manja.   ***   19 September 2019.   Yudha baru saja bertukar kabar dengan relasi bisnisnya di Lampung. Lokasi tempat ia akan membangun bisnis barunya telah di tentukan. Sebetulnya ia cukup memerintahkan anak buahnya saja untuk menyurvei lokasi, tetapi setiap mendengar nama provinsi itu tersebut, selalu saja mengingatkan dirinya pada sosok Ayla. Tanpa berpikir panjang, segera saja ia mengambil ponsel dan menghubungi wanita tersebut. “Ayla?” panggil pria berkemeja biru muda dengan dasi dengan warna senada itu, ketika suara orang yang dirindukan terdengar menyambut panggilan. “Ya? Ada apa, Yud?” “Lusa besok gue mau ke Lampung, boleh gak kita ketemuan?” tanyanya penuh harap, agar perempuan itu dapat meluangkan waktu. “Hari Sabtu gue ada waktu, nanti gue kirimin lokasinya.” “Baiklah. Tanggal 21, Hari Sabtu, jam sepuluh. Gue bakal ngehubungi lo lagi kalo udah nyampe di sana.” “Oke, gue tunggu.” Ayla menutup panggilan, menarik napas panjang sebelum melanjutkan pekerjaannya. Sesungguhnya ia ditugaskan untuk memandu acara loka karya yang diadakan kantornya. Akan tetapi, ia harus bertemu laki-laki itu. Dalam pemikirannya, selagi mereka belum bertemu dan menyelesaikan segala perasaan mengganjal dalam hati, maka keduanya tidak bisa tenang menjalani hari. Sebab wanita itu tak sabar menunggu hari reuni tiba.   “Oke, see you.” Yudha berkata lembut sebelum menutup panggilan dengan senyum lebar. “Tunggu gue, Ay,” lirihnya. Ketukan di pintu mengejutkan dirinya. Wajah Maura tampak berada di ambang pintu. Pria itu segera meletakkan ponselnya di atas meja.   “Sibuk, Mas?” Maura membuka pintu lebih lebar agar dapat masuk. “Duduklah, tumben kamu ke kantor?” tanya Yudha, ia berusaha menyembunyikan debaran jantungnya. “Hanya mampir sebentar, ada beberapa dokumen yang harus di tanda-tangani. Kamu mau makan siang bareng?” Maura duduk di depan meja kerja suaminya itu. “Ya, tentu saja. Tunggu sebentar, aku mau ke toilet dulu.” Yudha berlari kecil menuju toilet. Di sana, ia membasuh wajah dan sejenak mengatur napas juga debaran yang masih berdetak cepat. Sampai ia sadar, ponselnya tertinggal di atas meja dan baru ingat belum sempat menghapus pesan dari Ayla.   Maura menatap ponsel yang tidak sengaja di tinggalkan suaminya. Rasa penasaran yang sudah berhari-hari di tahannya kini tak terbendung, ia segera meraih ponsel tersebut. Layar ponsel terbuka, sebab belum sempat terkunci. Ruang obrolan antara suaminya dan seseorang bernama Ayla, yang tadi belum sempat terhapus, tampil. Mata wanita itu membelalak, suaminya benar-benar sedang berhubungan dengan seseorang.   Yudha keluar dari toilet dengan terburu-buru. Tak mampu menahan kagetnya sebab melihat istrinya tengah memegang ponselnya. Sekarang, ia sedang dalam masalah besar. “Apa ini, Mas?” tanya Maura sambil memperlihatkan obrolannya dengan Ayla tadi. “Oh, cuma teman. Kebetulan tinggal di dekat lokasi yang akan kita jadikan kantor di sana.” Yudha mencoba menenangkan istrinya yang tampak akan segera meledak itu. “Perempuan?” tanya Maura penuh penekanan pada kata tersebut. “Iya, teman sekelas waktu SMP,” jelas Yudha. “Kalian sungguh-sungguh akan bertemu?” tanyanya lagi penuh selidik. “Rencananya hanya ketemu sebentar aja, sekedar ‘say hi’.” Yudha berkata dengan berusaha keras mempertahankan mimik wajah acuh. “Aku gak rela kamu ketemuan sama dia, lebih baik jangan ketemu.” “Oke. Gak masalah kok, lagian dia juga gak tau bisa atau enggak.” “Aku mau nomornya di blokir, aku gak suka kamu berhubungan dengan perempuan lain dibelakangku.” “Iya, silakan, blokir aja. Di sana juga aku pasti sibuk. Belum tentu bisa ketemuan.” “Janji?” “Janji, Sayang.” Yudha segera memeluk istrinya, berharap istrinya itu tak lagi mencurigainya. Maaf Ayla, mungkin nanti bukan saat yang tepat bagi kita untuk bertemu. kata laki-laki itu dalam hati, berharap semoga perempuan di seberang sana mau mengerti.   Tiba di tanggal yang telah ditentukan. Ayla menunggu di sebuah café. Lokasi pertemuan telah ia kirimkan, pesannya itu telah sukses terkirim dan dibaca. Akan tetapi, pria itu tak kunjung membalas. Hingga di menit ke sepuluh, satu kata terkirim dari seberang. “Maaf.” Ayla menatap layar ponselnya kesal, merasa telah dibohongi lagi.   = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN