23 September 2019.
Yudha memasuki ruang kerjanya, ia menyandarkan diri di atas kursi empuk, di balik meja kayu jati besar seraya menarik napas berat. Ia baru saja kembali dari Lampung jam empat dini hari tadi, belum sempat tidur dengan nyenyak karena harus bertemu klien jam sepuluh nanti. Sekretarisnya, yang hari ini memakai pencil skirt berwarna merah marun dengan paduan kemeja dengan corak dan ruffle di d**a yang berwarna senada, mengetuk pintu dan memasuki ruangan. Setelah membacakan agenda kerja yang harus dilakukan laki-laki itu, ia menyodorkan setumpuk berkas yang harus diperiksa.
“Ada lagi?” tanya Yudha setelah menandatangani berkas terakhir.
“Sudah habis, Pak. Oya, tadi supervior sales and service memberikan laporan yang Bapak minta untuk bahan presentasi besok siang, beliau sudah mengirimkannya via WA sesuai permintaan,” jawab perempuan dengan bibir bergincu merah itu.
“Oke, nanti saya periksa. Setelah ini, saya mau istirahat sebentar, informasikan jika klien kita datang, ya.”
“Baik, Pak.”
Sang sekretaris merundukkan kepala sebelum akhirnya keluar ruangan. Yudha yang tadinya ingin memejamkan mata sebentar, tak tenang. Sebab presentasi besok berkaitan dengan pola pengiriman baru cargo ke luar negeri. Jika berhasil maka perusahaannya akan memperluas jaringan hingga Eropa dan Amerika, karena selama ini perusahaannya masih terbatas pengiriman di Asia saja.
Selagi memeriksa pesan masuk dalam aplikasi obrolan melalui web, pria itu teringat dengan Ayla yang kontaknya telah diblokir kemarin lusa. Yudha berusaha menguatkan diri demi menerima amukan marah perempuan tersebut. Sebab, ia tahu telah mengecewakannya lagi.
Sejenak ia mencari daftar kontak yang diblokir, lalu dengan satu ketukan blokir pun terbuka. Sedikit dirinya merasa bersalah pada sang istri, tetapi laki-laki itu merasa perlu meminta maaf dengan benar pada Ayla, yang ia yakin telah menunggu pertemuan itu terjadi, seperti halnya dirinya.
“Ayla,” panggil pria itu setelah nada dering berhenti.
“Ada apa!? Mau bohongin gue lagi?” sahut perempuan di seberang yang suasana hatinya sedang berantakan sejak Sabtu lalu.
“Maaf … sungguh-sungguh gue minta maaf,” Yudha berharap Ayla dapat merasakan ketulusannya meski hanya melalui saluran telepon.
“Ya sudah, gue gak apa-apa. Gue maklum, kok. Kita udah punya kesibukan masing-masing. Dulu aja susah buat ketemu, apalagi sekarang, ya ‘kan?”
Tak dinyana wanita itu memaafkannya dengan mudah, meski nada suaranya terdengar penuh penekanan emosi.
“Bukan begitu, istri gue tahu tentang lo. Jadi gue hanya menjaga amanahnya untuk gak ketemu lo kemaren.”
“Oya? Lalu, apa katanya, kita kan hanya berteman.”
“Gue juga udah bilang begitu, tapi mungkin dia ngerasain kalo perasaan gue lebih dari itu.”
“Tapi, sekarang lo hubungin gue? Gue jadi bingung. Sebaiknya lo gak usah mulai lagi, Yud. Gue jadi takut nanti dianggap perusak rumah tangga orang.” Ayla mulai merasa tidak nyaman atas pembicaraan mereka. Ini bukanlah hal yang diinginkannya.
“Gue gak mau ngejadiin lo orang yang seperti itu, tapi perasaan gue dari dulu gak bisa diubah gitu aja, Ay. Gue harus bagaimana? Tenang aja, suatu saat gue kenalin lo ama istri gue.” Yudha mencoba menenangkan hati Ayla yang terdengar ingin memutuskan hubungan dengannya lagi.
“Kenalin sebagai apa? Mantan pacar? Jangan gila deh. Bener kata Adrian, seharusnya gue gak pernah memulai lagi apa yang sudah terputus. Manyambungnya sekarang meski sebagai sahabat terlalu riskan bagiku.”
“Gue sepertinya memang udah gila sejak ketemu lo. Asal lo tau, selain karena istri gue yang tau tentang kita, gue juga ngerasa takut untuk ketemu lo lagi.”
“Takut? Gue emang dari masa lalu, tapi gue bukan hantu atau sejenisnya.” Ayla mencoba berkelakar, meski kekesalan masih ia rasakan.
“Lo gak bakal ngerti, Ay. Gue takut jatuh cinta lagi sama lo,” ungkap Yudha.
“Jadi … selama kita pisah dulu, sebetulnya lo udah berhasil lupain gue, dong? Hemm … gitu, toh. Baru sadar gue. Pantes aja lo dulu ngilang.” Ayla berkata sarkas.
“Enggak, Ay. Berapa kali mesti diulang, gue gak pernah lupa. Hanya aja gue dulu gak yakin bisa ketemu lo lagi kayak sekarang.”
“Giliran sekarang, udah waktunya ketemu pun lo masih menghindar, lalu apa itu juga salah gue? Atau takdir kita yang memang udah digarisin gak pernah bisa bersatu?”
“Enggak. Semua salah gue. Gue nyesel dulu begitu mudahnya putus asa dan berhenti memperjuangkan hubungan kita.”
Ayla terdiam, semakin mereka banyak bicara semakin wanita itu merasa bersalah. Ia ingin berhenti saja. “Yud, hubungan ini rasanya gak bisa berjalan baik. Gue mau lo jangan hubungi gue lagi, selain menjaga hubungan lo sama istri, gue juga jadi takut sama lo.”
“Kok, tiba-tiba lo ngomong gitu, jangan gitu deh. Lo kenapa sih?” Yudha tak tahu, kata-katanya yang mana yang menyakiti perasaan perempuan itu.
“Gue rasa, hubungan ini terjalin karena ada rasa yang belum selesai di antara kita. Jadi, sekarang gue mau kita mengakhiri hubungan kita selama ini yang mungkin bisa dibilang ngegantung itu. Dulu lo udah khianatin gue, sekarang anggep aja kita sekarang udah bener-bener putus.” Ayla mencoba menahan tangis yang hendak tumpah, dulu maupun sekarang ia tak pernah ingin berpisah, tetapi dirinya tak mau lagi mengikuti rasa hatinya.
“Ini bener-bener mau lo?” tanya pria itu, nadanya berubah dingin.
“Ya,” jawab Ayla seraya menguatkan hatinya.
“Oke! Kalo itu mau lo. Asal lo tau, lo boleh blokir setiap akun pertemanan kita, silakan lo hapus nama gue dari daftar kontak, tapi lo gak akan bisa hapus nama gue dari hati lo,” ucap Yudha. Kata-katanya menusuk hati wanita itu, menancapkan rasa bersalah dalam dadanya.
“Maaf ya, Yud. Gue—“
Panggilan terputus, Ayla mencoba menuliskan pesan permintaan maafnya yang belum sempat terucap dengan benar tadi. Akan tetapi, pesan itu tidak terkirim, foto profil akun laki-laki hilang. Yudha telah memblokir akunnya lagi.
Ayla tak mampu menahan air mata, ia segera pergi ke belakang gedung kantor, duduk di taman sepi itu sendirian. Membuka satu persatu sosial media. Menghapus satu nama yang paling ia ingat jika mendengar nama SMP Anggrek dan kota Jakarta di sebut. Tak berhenti sampai di situ, ia juga menghapus kontak laki-laki itu dan keluar dari grup alumni.
Meilia selaku admin grup langsung menguhubunginya.
Panggilan telepon dari sahabatnya membuat tangisnya tumpah. Dadanya begitu sakit menahan sakit hati yang menderanya lagi.
“Mei …,” panggil Ayla sambil terisak-isak.
“Kenapa lo keluar grup, Ay? Gue kaget tadi, ada apa?”
“Yudha mungkin bakal benci gue selamanya kali ini.”
“Kalian memangnya kenapa? Dia juga keluar grup gak lama lo keluar tadi. Coba ceritain sama gue?”
Di sela tangis yang tak mau berhenti, perempuan itu bercerita awal mula pertemuan dirinya lagi dengan laki-laki yang kini tengah menggebrak meja dan menendang jatuh kursinya.
“B*ngs*t!”
***
23 Mei 1994.
Seperti biasa, sekolah masih sepi. Masih terlalu pagi, tetapi Yudha sudah memasuki gerbang sekolah, langkahnya yang mantap menuju kelas, terhenti di hadang Bahar.
“Ada apa, Har?” tanya Yudha, ia tampak terburu-buru sebab ingin segera bertemu gadisnya.
“Gue titip surat lagi buat Ayla,” jawab cowok berkacamata itu.
“Surat cinta, lagi?”
“Iya, yang waktu itu gak dijawab sama Ayla, ini gue mau nanya kepastiannya.”
“Udah, gak usah ditanya lagi, dia udah punya pacar.”
“Masa sih? Tapi dia baik banget sama gue, Yud, waktu itu dia sering bantu gue di kegiatan OSIS,” ucap Bahar tak yakin dengan ucapan Yudha sebelumnya.
“Jangan salah sangka, dia memang gitu orangnya. Gak bisa liat orang repot dikit, maunya ngebantuin mulu. Udah simpen aja suratnya.”
“Lo serius? Lo tau gak siapa pacarnya?” lamun Bahar masih tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
“Emang kenapa? Lo mau samperin, gitu?”
“Ya, enggaklah. Gue mau tau aja, cowok mana sih yang beruntung ngedapetin dia.”
“Iya beruntung banget, udahlah gue mo masuk,” sergah Yudha tak ingin lagi berlama-lama.
“Bentar, Yud. Biar deh suratnya kasihin aja. Mana tau pacarnya cuma rumor doang.” Bahar memberikan surat berwarna biru itu ke genggamannya.
“Gue enggak mau, kalo mau, lo kasihin sendiri sana!”
Bahar tetap memaksanya, kali ini memasukkannya ke dalam saku celana cowok yang mulai merasa kesal itu. Yudha mengambil surat dari sakunya dan meremasnya di depan Bahar.
“Loh kenapa lo remet gitu? Ohh … gue tau, lo cemburu, ya? Lo juga suka, kan, sama dia?”
“Iya! Gue suka sama dia dan kita udah pacaran sejak dua minggu lalu, jadi … lo gak usah lagi kirim surat ke dia dan GR dengan perlakuan baiknya dia sama lo,” jawab Yudha tanpa lagi dapat menahan kekesalannya.
Bahar yang merasa malu, merasa Yudha mempermainkan dan mempermalukannya, tatapannya mengeras. Mereka tengah bersiap melancarkan pukulan kepada siapa yang memulai duluan. Untung saja Darma segera mendatangi mereka.
“Hei! Hei! Kenapa nih? Kok malah adu otot pagi-pagi?” Darma segera melerai Yudha dan Bahar yang hampir saling adu jotos itu. Yudha tak ingin menambah kericuhan, sebab beberapa guru terlihat mulai memasuki gerbang. Ia segera berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Sedang Bahar ditenangkan oleh Darma.
“Yudha jadian sama Ayla, ya, Dar?” tanya Bahar segera.
“Loh, lo masa gak tau?”
Kata orang, masa muda adalah masa di mana darah terasa panas, apa-apa dibawa emosi. Masalah pelajaran, saingan di ekskul, atau rebutan cewek, adalah contoh hal yang tampaknya sepele, tetapi kadang bisa menjadi pencetus tawuran antar sekolah. Entah itu anak SMA-STM atau SMP pasti pernah merasakannya. Tawuran itu bahkan bisa bertahan hingga bertahun-tahun, diturunkan dari generasi satu ke generasi selanjutnya, sampai terkadang para junior yang masih lugu tak mengetahui lagi sebab musabab mereka tawuran. Bagai mitos, tak dapat dijelaskan asal muasalnya, tiba-tiba saja terjadi dan membudaya.
Siang itu, Darma mengumpulkan kami semua di ruang sekretariat OSIS, semuanya ada tiga orang perempuan Meilia, Tami, dan Ayla, serta lima orang anak cowok termasuk Darma dan Yudha.
“Teman-teman, siang ini tolong dibantu ya. Ada teman kita yang baru saja kehilangan ibunya. Kita diminta guru untuk mengumpulkan sumbangan per kelas.”
Mereka semua mengangguk-angguk setuju. Setelah menyiapkan semua perlengkapan, mereka pun membagi diri ke dalam empat kelompok, Ayla tentu saja bersama Yudha.
Masih setengah jam lagi menuju jam istirahat kedua. Mereka baru saja menyebar dan hendak memasuki ruang-ruang kelas. Tiba-tiba terdengar pecahan kaca di area laboratorium.
Ayla yang baru saja akan memasuki kelas III-C sangat terkejut. Beberapa guru yang sedang mengajar dan yang berada di ruang guru keluar untuk memeriksa. Begitu pula dengan teman-teman OSIS yang tadinya sedang meminta sumbangan.
Selang beberapa saat kemudian, batu-batu beterbangan menuju arah lapangan. Asalnya dari arah pintu gerbang utama, di luar terdengar beberapa teriakan yang memaki, menghina, juga memprovokasi.
Pak Satpam, Pak Narto, Pak Meri, dan hampir semua guru laki-laki berlari keluar sekolah, begitu juga Darma dan tiga orang teman laki-laki lain, mereka berlari mengikuti keluar gerbang. Melihat keadaan yang menegangkan ini Yudha berkata cepat kepada gadis yang tampak ketakutan itu.
“Ay, lo disini aja! Jauhin kaca, oke!”
“Lo mau kemana, Yud?”
“Cuma ngecek. Itu kayaknya anak-anak Mutiara.”
Yudha sudah hendak berlari, Ayla segera menahannya. Yudha memandang gadis itu, Ayla menggeleng, dan hampir saja menangis.
“Cuma ngecek, oke!” Yudha berkata menenangkan.
“Nanti lo kenapa-napa,” sahut gadis itu parau.
“Sebentar aja, ini masih siang, guru juga masih banyak, gak mungkin ada apa-apa.”
Meilia dan Tami yang tadi bertugas di lantai dua berlari mendekati mereka berdua.
“Ay, Yud.” Mei menatap Ayla dengan pandangan khawatir.
“Mei! Kalian semua balik ke sekret dulu.”
Yudha menatap Meilia dengan pandangan memohon, berusaha melepaskan tangan Ayla yang menggenggam jarinya erat. Meilia memahami maksud Yudha.
“Ayo Ay, gak aman di sini, bisa-bisa kita yang kena batu nyasar.”
Yudha mengangguk, meminta gadis itu melepaskan dirinya. Ayla pun perlahan melepaskan jemari laki-laki itu, sedang jemari dari tangan lainnya mengusap kepala Ayla. Tanpa berkata apa-apa lagi ia berlari keluar. Ayla menatap punggungnya tak rela, Meilia dan Tami mengajak gadis itu untuk segera kembali ke ruang secretariat OSIS.
Di dalam ruangan, mereka semua duduk dalam diam. Uang hasil sumbangan beberapa kelas yang sudah kami masuki, tersebar begitu saja di atas meja, belum sempat terhitung. Mereka bertiga menunggu dalam kecemasan, meski suasana tegang sepertinya telah reda, beberapa guru sudah kembali mengajar.
Pintu terbuka. Gadis-gadis itu berdiri tegak. Darma memasuki ruangan diikuti teman-teman yang lain, Ayla menunggu Yudha untuk memasuki ruangan. Namun, ia tak kunjung datang.
“Dar, Yudha mana?” tanya Ayla segera.
“Ohh … itu, di bawah,” jawab Darma.
“Kenapa? Luka ya?”
Ayla tak menunggu Darma menjelaskan lagi, dengan tergesa ia berjalan keluar. Akan tetapi, akibat terlalu terburu-buru, kaki kanannya terantuk kursi hingga hampir terjatuh. Gadis itu limbung dan kehilangan keseimbangan. Namun, sebelum ia terjatuh ada lengan yang menangkap bahunya. Ia pun menatap penolongnya yang memandangnya bingung.
“Mau kemana?”
“Yudha. Lo gak apa-apa?” Ayla tak menjawab pertanyaan cowok itu.
“Gak apa-apa. Tadi abis dari toilet.”
Ayla merasa malu, tergopoh ia berusaha berdiri tegak dan kaki yang baru saja terantuk tadi baru terasa sakitnya.
“Aduhhh!” keluhnya.
“Kenapa lagi?”
“Tadi nyenggol kursi.”
“Hadeehhh! Makanya gak usah pecicilan. Kursi lagi diem, kok, ditumbur.”
Semua yang ada dalam ruangan menatap geli kebodohan gadis itu. Yudha menahan tubuh Ayla, mendudukkannya di kursi terdekat dan memeriksa kakinya.
Ayla memperhatikan tingkah pacarnya itu, barulah ia menyadari cinta ini sederhana, tak perlu banyak kata untuk menunjukkan perhatian. Hatinya berdenyut, perlindungan dari Yudha menyelipkan kasih sayang yang semakin dalam.
Siang itu semakin terik, bel tanda pulang sekolah sudah berdering. Satu persatu para siswa keluar dari kelas, sesekali berpapasan dengan teman yang masuk kelas petang. Ayla, Mei, Darma, dan beberapa teman lain bersenda gurau sambil menyusuri jalan dan menyebrangi lampu merah di depan sekolah. Beberapa teman yang rumahnya dekat hanya berjalan terus, ada yang menaiki angkot, dan yang lainnya menunggu bus di perempatan, seperti dirinya dan kedua sahabatnya.
Dari arah Plumpang tampak truk kontainer melaju kencang. “Lihat tuh, anak Boedoet lagi di serang Bahariwan.”
Tak lama kemudian, batu-batu sebesar genggaman pria dewasa melanting dari arah truk yang rupanya mengangkut beberapa anak Boedoet. Sang sopir sampai melewati lampu lalu lintas yang baru saja berganti merah, entah karena ingin menyelamatkan diri atau anak-anak yang menaiki truknya.
Anak Bahariwan yang mengejar truk tersebut, ikut melempar apa saja yang mereka temukan sepanjang jalan. Mereka yang sedang menunggu bus pun segera mundur, ketika rombongan tawuran tersebut mulai mendekat.
Namun, Ayla terkesima dengan keadaan itu, kakinya terasa kaku tak dapat digerakkan. Padahal truk semakin dekat, dan beberapa detik kemudian melintas di depan Ayla dan teman-temannya.
Tiga orang anak Boedoet yang berada di atasnya mengangkat sebuah balok kayu sepanjang ±1,5 meter, lalu berusaha melemparkannya ke arah mereka yang mengejar. Balok tersebut pun melayang justru tepat menuju ke arah Ayla. Balok sudah semakin dekat, Ayla masih terpaku, hanya bisa ternganga, tak mampu bergerak sedikit pun, ia memejamkan mata, pasrah.
Tiba-tiba. Tubuhnya ditarik mundur, pinggangnya didekap seseorang dari belakang, dan kepalanya di lindungi lengan. Ayla mengikuti langkah pelindungnya mundur.
Brukk.
Balok kayu jatuh tepat di tempat Ayla tadi berdiri. Tangan yang mendekap dan melindungi itu pun mengendur. Aku menengadah, sosoknya tentu saja tak asing.
“Kenapa lo gak nunggu gue pulang!?” omel Yudha.
“Gue tadi sama ….” Jari gadis itu menunjuk ruang kosong, tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Ayla baru tersadar, mereka berdua berdiri sangat dekat. Segera saja jantungnya seperti mau meledak.
Yudha menatap dirinya keras. “Kenapa, sih. Udah tau ada yang tawuran bukannya minggir malah bengong?!”
“Tadi, gue ….”
Lagi-lagi kalimat menggantung yang keluar, laki-laki itu tak pernah marah sebelumnya. Ayla sedikit ciut. Apalagi dirinya merasa malu karena masih berdiri terlalu dekat dengannya. Saat gadis itu menunduk ia baru menyadari lengan yang tadi melindungi kepalanya itu, kini jemarinya sedang menggenggam jemari Ayla. Pipi gadis itu terasa panas. Namun, Yudha seperti tidak menyadari perubahan rona wajah kekasihnya itu, ia masih tegang sebab khawatir jika sedetik saja terlambat gadisnya itu mungkin akan terluka.
“Lain kali, kalo ada yang tawuran itu minggir, jauh-jauh, jangan dekat-dekat. Ngerti, gak?” Laki-laki itu masih mengomel saking cemasnya.
“I-iya,” jawab Ayla terbata karena jantungnya masih meronta dengan kalap.
“Ayo pulang!” ajak Yudha seraya menarik gadis itu menjauhi perempatan dan menunggu bus di tempat lain.
Gerimis jatuh ke bumi, harum bau tanah yang hangat, menerpa. Seakan turut merayakan tumbuhnya rasa cinta Ayla terhadap laki-laki yang kini berada di sisinya. Lipatan-lipatan kertas hati pun muncul dengan warna merah jambu, seiring dengan keinginan untuk terus bersama tak ingin berpisah hingga akhir usia.
= = = = = = = = = = = = = = =