[ 10 ] Keputusan Tak Terduga

1807 Kata
23 Mei 1994.   Sesampainya di rumah, Adena yang baru saja menutup panggilan telepon memanggil Ayla dan Okta. Keduanya duduk di depan sang ibu yang tampak bahagia. Ia menggenggam jemari kami berdua. Ayla bertanya dalam hati apa yang akan dibicarakan ibunya ini. Kalau melihat dari raut wajahnya sepertinya mereka akan menerima kabar baik.    Ayla tak dapat duduk dengan tenang, ia terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat ibunya terlihat begitu senang setelah dua tahun delapan bulan kami tinggal di Pojok Jakarta yang kumuh, berpindah-pindah rumah hingga delapan kali. Dari lingkungan kumuh yang siap diterjang banjir setiap musim penghujan tiba, daerah rawa, rumah susun, hingga syukurnya sekarang di ruko sempit dua lantai. “Ada apa, Ma? Kok, kayaknya seneng banget,” ujar Okta. “Anak-anak, Mama punya kabar gembira.” “Apa, Ma?” tanya Ayla yang tampak penasaran. “Tadi papa baru aja nelepon, kami bicara panjang lebar, besok ia akan mengunjungi kita,” jelas Adena “Apa?!” sahut Ayla dan Okta berbarengan. “Kalian senang, ‘kan? Papa dan Mama berniat rujuk kembali,” sambung Adena memandang bergantian kedua anak gadisnya. Ayla bagai tersengat listrik, mendengar berita ini. “Beneran, Ma? Alhamdulillah ... terus?” “Mama akan kembali ke Lampung dan tinggal lagi di sana.” “Oya? Ayla seneng banget, Ma. Kita gak akan hidup susah lagi. Yeayyy!” “Iya, kita akan segera pindah, mungkin papa akan menjemput kita di pertengahan bulan depan, kamu sudah libur, ‘kan, saat itu?” Ayla tercengang, mencoba mencerna apa maksud perkataan ibunya ini. “Maksudnya … nanti hanya Mama aja yang pindah, ‘kan? Terus Ayla dan Kak Okta tetap di Jakarta,  ya, kan, Ma?” mencoba mengambil kesimpulan sendiri. “Gak mungkin Mama ninggalin kamu di Jakarta, Sayang, kamu masih kelas dua SMP. Ya, kamu ikut Mama ke Lampung, dong.” “Apa! Terus Ayla harus pindah sekolah? Ayla gak mau. Ayla mau tetap di Jakarta sama Kak Okta aja.” “Gak mungkin, Ayla. Kak Okta, kan, selalu sibuk di kampus, gak mungkin dia bisa urus kamu, Mama gak mungkin ninggalin kamu di Jakarta sendirian tanpa pengawasan.” “Iya, Dek. Kakak mana bisa masakin kamu.” “Tapi, Ma ...,” rengek Ayla. “Mama akan mulai mengurus kepindahanmu besok, kamu gak usah mikirin apa-apa. Lagian, memangnya kamu gak seneng Papa dan Mama rujuk lagi?” “Seneng, Ma. Ayla sangat bahagia akhirnya memiliki keluarga yang utuh lagi. Tapi, ....” “Kenapa? Di sana juga banyak sekolah bagus, kok, kamu, kan, supel pasti nanti bakal punya banyak teman lagi di sana.” “Tapi, Ma. Di sana gak ada Mei, Tata, Darma dan ....” “Kalian masih bisa berhubungan lewat surat atau telepon.” “Tapi, Ma … Ayla baru aja dua minggu jadian sama Yudha.” “Mama paham, tapi ini sebuah keharusan Ayla. Apalagi kamu punya pacar, mau jadi apa kamu tanpa pengawasan dari orangtua.  Lagian kalian masih kecil namanya hanya ‘cinta monyet’, kalo nanti ketemu yang lain juga bakal lupa.” “Iya, Ayla tau, tapi ...  apa gak bisa nunggu Ayla lulus SMP dulu, ya, ma?” “Gak bisa sayang, papa-mu meminta kita segera kembali. Sudah, lebih baik kamu mulai beresin barang-barangmu.” “Tapi, Ma, ...  itu berarti tinggal dua mingguan lagi.” “Memangnya kenapa?” “Ehm, boleh gak Ayla menghabiskan liburan di sini, setelah itu Ayla akan ikut Mama ke Lampung.” Ayla memandang Adena dengan memohon, ia balas menatap anak gadisnya penuh pengertian, dan kemudian mencium kening, lalu memeluk.  “Maaf, Ayla, mungkin keputusan ini terlalu terburu-buru bagimu, tapi Mama mohon kamu bisa mengerti.” Mama melepaskan pelukannya, menatap sebentar, lalu berbalik, dan kembali ke kamarnya.    Okta pun mengikuti Adena masuk kamar, tak akan ada masalah dengan hubungannya, sebab ia masih bisa tinggal di kota ini sampai lulus nanti. Sedang Ayla terpaku, ia tidak dapat lagi berkata.  Keputusan telah di buat, apalah dirinya yang hanya seorang gadis berusia 14 tahun. Sedang berusaha mencerna dan memahami perkataan ibunya, ia menyadari tidak mungkin dapat hidup sendirian di kota besar ini. Bahkan sebuah cita-cita konkret pun belum pernah terbentuk jelas dalam otak remajanya itu.   Menitik buliran air mata saat menyadari keadaan, waktu yang tersisa hanya sebentar.  Masih terdiam ia dalam renungan, sesingkat ini kah hubungannya dengan Yudha? Mereka baru saja mulai merajut sebuah romansa di masa putih biru. Dapatkah keduanya mempertahankan hubungan ini dari jarak yang jauh? Akankah dapat mempertahankan kasih tanpa pertemuan? Dapatkah menjaga kesetiaan satu sama lain? Berbagai pertanyaan tanpa jawaban pasti berputar di sekitarnya. Menghasilkan sebuah keputusan yang tak dapat diganggu gugat. “Yudha, maaf. Aku memutuskan meninggalkanmu,” lirih gadis itu di tengah ruangan temaram.   Keesokan harinya, Ayla tampak murung. Untungnya hari itu tidak ada PR yang tertinggal. Ia duduk dalam ruang kelas yang sepi. Merasa sedih dan bingung, memikirkan bagaimana ia menyampaikan berita ini pada kekasih dan sahabat-sahabatnya.   Tak lama kemudian, dengan senyum lebar Yudha memasuki kelas. “Hai, Ay. Baru dateng?” tanya cowok itu yang segera duduk di sisinya. Ayla menatap pacarnya itu, ia langsung saja menceritakan perihal rencana kepindahan keluarganya. Yudha terkejut bukan main. Seperti Ayla, ia merasa sedih dan sangat tidak rela. Dia masih ingin terus bersama gadis itu. Belumlah berpisah dirinya sudah merasa patah hati, tak dapat menerima kenyataan saat berpikir harus terpisah dari Ayla.   “Lampung?” tanya Yudha yang tak dapat membayangkan dalam benaknya bagaimana bentuk dari kota tersebut. Bagi dirinya tempat itu sangat jauh untuk dijangkau dirinya yang masih remaja itu. Bagaimana caranya ia pergi ke sana untuk mengunjungi gadisnya, dengan cara apa ia melampiaskan rindunya jika ingin memeluknya? Seperti juga Ayla, berbagai macam bentuk pemikiran berkecamuk.   Namun, keduanya tak bisa berbuat apa-apa, mereka mengakui mudanya usia tak mungkin Ayla dapat hidup sendiri di Ibukota Jakarta. “Lo tinggal sama gue aja, gue yang urusin lo ntar. Mau ya?” “Lo ngomong apa, Yud? Gak mungkinlah, lo bukan saudara gue. Jelas bonyok gue gak bakal ngizinin. Menurut lo aja.” “Jadilo udah mutusin untuk ikut nyokap yang balikan sama bokap lo?” “Ya, gak mungkin enggak, gue dari dulu gak pengen pisah sama bokap, apalagi sampai pisah dengan keduanya. Masa lo gak paham?” “Terus gue? Lo gak mikirin gue?” “Mikirin, lah. Tapi gue gak punya jalan lain, kan.” Yudha berpaling dari gadis itu, menahan amarah pada keadaan. Kesal betapa mudahnya bagi Ayla untuk meninggalkannya.   Seharian itu ia terdiam. Setiap gadis itu mendekati untuk mengajaknya bicara laki-laki itu malah menjauh, ia sungguh tak bisa menerima kenyataan.   Diamnya berlanjut hingga minggu terakhir mereka masih bertemu. Ayla sudah meminta Darma, Meilia, dan Tami agar membujuknya. Namun, Yudha masih memendam kekesalannya   Bel istirahat pertama berdering, Meilia menggamit tangan Ayla. “Yudha kemaren curhat sama gue, dia kayaknya masih kesal banget denger lo mau pindah, Ay.” “Gue harus bagaimana Mei? Bukan dia aja, loh, yang sedih, dia kok gak ngertiin gue sih Mei.” “Udah, deketin sono, coba tanya, ngobrol atau apa gitu, jangan diem-diem aja, lo kan tinggal seminggu lagi di Jakarta. Pergunakan waktu yang tersisa sebaik-baiknya, Ay.” Ayla menatap Yudha yang keluar kelas tanpa memandangnya. Ia pun mendesah berat, menatap sahabatnya untuk meminta pertolongan. Meilia menyemangati dengan gerakan tangannya.   Yudha berdiri di depan kelas, bersandar pada pembatas balkon.  Ayla menelusuri setiap lekuk wajahnya dari samping yang tampak sedih, wajah dan posturnya yang selama ini tak terlalu  ia perhatikan. Membatin ia dalam hati, ternyata kekasihnya ini memiliki tubuh tinggi dan kulit yang cukup putih, ia heran mengapa ia tak menyadarinya selama ini kala bersandar di bahu bidangnya saat lelah, gadis itu pun kembali mendesah.   Yudha menyadari keberadaannya, menatap gadis itu sekilas lalu kembali melamun menatap kejauhan yang tak bertitik. Tiba-tiba angin menerpa keduanya, rambut Yudha yang memiliki potongan Andy Lau (Aktor China yang populer saat itu) tersibak. Ayla takjub dengan pemandangan ini, ia mulai mengagumi ketampanan wajah pacarnya yang selama ini telah di abaikan.   Yudha memiliki dahi lebar yang rata, hidungnya cukup mancung, matanya tajam dengan alis tebal yang mencuat, bibirnya terukir sempurna berbentuk memanjang. Walau sayang, kali ini bibir itu tengah merengut penuh rajukan, padahal tiga minggu yang lalu ia tak berhenti tersenyum saat mereka baru jadian, ia tak pernah menunjukkan kesedihan barang sedikit pun pada dirinya, sekarang dia selalu saja diam dan menghindari gadis itu.   “Yud,” panggilan itu tak digubrisnya. Ayla menepuk bahunya perlahan. “Yudha … lo udah gak mau lihat gue?” Dengan canggung ia akhirnya menatap wajah gadis itu. “Apa, Ay.” “Kalo marah sama gue jangan lama-lama dong, gue, kan, udah mau pindah, masa lo diem terus.” “Lo maunya gimana?” “Lo senyum kayak biasa, kita makan ke kantin, terus pulang sekolah nanti kita jalan-jalan muterin sekolah lagi, ya.” “Gue males senyum, untuk apa senyum juga, lo udah mau ninggalin gue.” “Ya ampun, Yud, masa lo gak ngerti-ngerti juga, sih.” “Lo bilang sama nyokap, lo tinggal di Jakarta aja, jangan pindah dulu.” “Gue tinggal sama siapa, Yudha.  Bisa jadi anak ilang gue di sini.” “Tinggal sama guelah, kan gue nanti yang bakal urusin lo.” “Gak mungkin, Yudha. Itu sesuatu yang mustahil. Udah deh, gak usah aneh-aneh pikirannya.” “Kok aneh sih. Gue cuma pengen deket terus sama lo, masa baru jadian itungan minggu terus lo ngasi gue cobaan kayak gini sih.” “Gue bisa apa, Yud, memangnya ini mau gue? Walaupun gue selalu berharap ortu gue rujuk lagi, tapi ninggalin lo itu bukan kemauan gue.” “Lo gak sayang sama gue, sih.” “Sayang, Yudha, sayang banget malah. Kalo enggak, gue gak bakal nerima cinta lo, ‘kan. Please, deh, udahan ngambeknya.” “Gue gak bisa nerima ini, Ayla. Gak sebanding banget rasanya dengan pedekate gue sama lo, sebelas bulan itu waktu yang lama, loh, dan kita jadian belum ada satu bulan.” “Makanya, udahan, ya, marahnya. Ke kantin, yok. Lagian menurut lo, gue bisa apa selain manut ngikutin ke mana mama pergi.”   Yudha menatap gadis itu. Pikirannya berkecamuk. Namun, sedetik kemudian ia berbalik dan berjalan. Ayla pun mengikutinya.  Saat itu, gadis manis itu berpikir semua sudah selesai, Yudha tidak marah lagi, tidak akan ada masalah dengan hubungan mereka, semua akan baik-baik saja. Cinta jarak jauh itu bukan hal yang perlu ditakuti.   Namun, lipatan kertas hari semakin berubah warna menjadi abu-abu, semakin hari semakin gelap. Perasaan tak dapat terlerai dengan baik, banyak tanda tanya tak terjawab, semua kata pada akhirnya tergantung dan tak dapat di selesaikan, dari lidah yang kelu tertelan kembali hingga kerongkongan. Menyisakan gulana hati yang tak selesai.   Waktu tak menunggu mereka menyelesaikan semuanya, perpisahan pun menjadi pasti. Lembaran abu-abu terlipat, Ayla kini terjepit di antara cinta dan keluarga. Berusaha memaafkan dirinya yang saat itu pasrah dan lebih memilih realitas kehidupan.    = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN