[ 11 ] A Kiss Goodbye

1879 Kata
11 Juni 1994.   Hari ini, hari terakhir tahun pelajaran 1993-1994. Pembagian hasil akhir semasa kelas dua telah dibagikan, para orang tua tengah mendengarkan pidato dari wali kelas masing-masing, sedang para siswa menunggu dan tersebar di taman-taman sekolah. “Mei, lo naik ke kelas berapa?” Tami bertanya pada Meilia yang sedang membuka-buka buku rapornya. Bundanya Meilia, tidak datang karena baru saja melahirkan adiknya, jadi rapornya langsung diberikan oleh Bu Ida. “Kelas III-2. Lo, Tam?” “Yah, kita gak sekelas lagi, Mei. Gue katanya kelas III-10.” Tami mendesah sedih karena terpisah kelas dari Meilia, lalu ia berpaling ke Yudha yang duduk di belakangnya. “Eh, lo katanya kelas III-2 juga, ya, Yud? Bareng sama Mei.” Yudha menatap Tami tidak senang, Ayla yang duduk di samping cowok itu pun merasa canggung akibat pertanyaan dadakan tersebut. Tami segera menyadari kesalahan pada pertanyaannya, merasakan suasana yang tiba-tiba berubah tidak enak, ia pun segera pergi menghampiri Darma.   “Yud, hari ini gue mau pamit,” kata Ayla takut-takut, wajah cowok itu tampak seperti awan gelap. Yudha menatap dirinya, tanpa berkata-kata ia langsung menggamit jemari gadis itu dan mengajaknya pergi menjauh dari yang lain. Ayla mengikutinya tanpa protes. Karena takut ia bertambah marah. Dari depan kelas mereka menuju ke arah tangga, menuju lantai dua. Ia pun memaksa gadis itu untuk duduk, lalu ikut duduk disisinya. “Ngapain duduk di sini, Yud. Kelas atas, kan, ditutup selama liburan.” Yudha tidak menggubris protes gadis itu, gantinya ia menatap langsung ke matanya, tajam.   “Ayla, kalo gue minta kenang-kenangan dari lo bolehkan?” “Kenangan apa? Bulannya kemarin udah gue kasih.” “Bukan yang itu. Kenangan ini yang gak akan gue lupakan seumur hidup, bukan berbentuk barang yang dapat dinilai dari materi.” “Kenangan yang kayak mana maksud lo, Yud?” Yudha kembali menatap manik mata gadis polos itu, menimbang-nimbang akankah ia menyampaikan maksud hatinya atau tidak jadi saja. Namun, akhirnya mata itu melembut dan berkata penuh permohonan. “Boleh gue cium lo?”   Ayla terkejut, hal ini bukanlah hal biasa, jelas bukan masalah yang pantas kami bicarakan.  Gadis itu langsung berdiri, Yudha memegang tangannya. “Mau kemana?” tanya cowok itu terkejut. “Pulang! Udah ditunggu mama,” nada suara gadis itu terdengar nyaring saking gugupnya. “Terus, lo mau ninggalin gue sekarang? Begitu aja.” “Gue berangkat besok pagi, Yud, gue ....” Gadis manis itu tak tahu, dengan kata apa ia harus mengatakan perpisahan pada cowok yang disayangnya itu. “Kalo lo pergi sekarang gue akan benci banget sama lo, Ay.” “Maaf, Yud, tapi kalo kenangan semacam itu yang lo minta, gue gak bisa.” “Gue gak minta lebih, please, Ay. Jangan bikin gue benar-benar benci sama lo,” Cowok berkulit cokelat itu masih memandang dengan penuh permohonan.   Ayla memalingkan wajah, ia khawatir akan tergoda pada matanya. Dalam kepala gadis itu menimbang-nimbang, akan mengikuti kemauan laki-laki itu atau berusaha kuat mengabaikan? Sampai akhirnya ia teringat pesan Adena, agar tak menyerahkan cinta utuh pada seseorang yang bukan muhrim. Sekali lagi keputusan dibuat dalam benaknya, meski ia tahu apa yang akan dilakukan akan menyakiti hati Yudha selamanya. “Maaf, Yud, tapi gue harus pulang sekarang.”   Ayla pun berlari kecil meninggalkan kekasihnya sendirian. Berpura-pura tak melihat kabut kesedihan yang terpancar dari mata laki-laki itu. Setelah sepuluh langkah gadis itu berhenti. Ia berpaling dan ingin kembali. Pikiran dan hatinya kembali berkecamuk. Yudha menyusulnya turun. “Ayla! Jadi gini aja perpisahan kita?” Ayla berbalik. Apa yang diakatan Yudha jelas bukan maunya.   Kini jarak mereka hanya satu meter. Namun, gadis itu sudah merasakan perbedaan jarak yang jauh antara dirinya dengan cowok itu.  “Ini, kan, bukan perpisahan dalam arti kata putus, Yud. Kita pasti akan ketemu lagi suatu saat nanti, perpisahan ini hanya sementara.” “Tapi, gue gak mau kita pisah kayak gini. Lampung itu jauh Ayla, gimana cara ketemunya lagi coba?” suara cowok itu tampak putus asa. “Sekarang bukan saatnya, Yud. Kita masih terlalu muda untuk menghadapi dunia. Nanti, jika Allah mengizinkan maka kita akan bertemu kembali.” Ayla menyentuh bahu Yudha, berharap sentuhan kecil itu menenangkan kekalutan dalam hati keduanya. “Jadi, sekarang lo benar-benar akan pergi?” “Percayalah, Yud, bukan lo aja yang sedih, bukan hanya lo yang akan merasa kehilangan.  Tapi, gue yakin kita akan bertemu lagi, please, jangan menyerah. Sekarang tolong biarin gue pergi, sekarang.”   Yudha tak lagi berkata apa-apa, matanya masih menyisakan keengganan berpisah, Ayla mengulurkan tangan, ia menyambutnya, menggenggamnya dengan sangat erat. Mata mereka bertemu, tetapi mulut tak tak dapat saling berkata-kata. Terlalu banyak hal yang ingin diungkapkan.    Setelah beberapa menit, Yudha pun melepaskan genggamannya dengan enggan. Ayla pun berbalik dan kembali berlari, tanpa berani menoleh lagi, gadis itu takut tergoda dan kembali ke dalam pelukannya.   Perpisahan mana di dunia ini yang indah, semuanya pasti berwarna kelabu. Gadis yang berlari meninggalkan laki-laki itu sesungguhnya telah menitipkan sebagian hatinya. Namun, Yudha terlalu marah pada dunia, marah pada Ayla, dan marah pada ketidakmampuannya untuk mempertahankan gadisnya tetap dalam pelukan.   ***   02 Oktober 2019. Sore itu, satu minggu setelah Ayla dan Yudha saling memblokir kontak masing-masing. Wanita itu, duduk di depan komputer, memandang layarnya tanpa melakukan apa pun. Ada sesuatu yang hilang dalam hatinya, bahkan tangis yang luruh hampir di setiap malam, tak mampu mengembalikan hal yang hilang itu. Deringan telepon mengejutkannya dari lamunan. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja, ada harapan kecil sang penelepon adalah seseorang yang mampu mengisi kembali kepingan hati yang hilang. Sayang, foto Meilia terpampang di layar. “Ay. Gimana kabar lo?” tanyanya mengkhawatirkan sahabatnya itu. “Buruk, gue bahkan gak bisa ngerjain apa-apa. Setiap hal selalu mengingatkan gue tentang Yudha, Mei,” jelas Ayla sambil memainkan lembaran kertas laporan, yang belum disentuhnya sejak dua jam lalu. “Sabar, ya. Btw, gue kemaren ngehubungin dia, loh.” Hati Ayla tergetar mendengar laporan Meilia. “Terus dia ngomong apa?” “Dia tadinya diem, gak mau ngomong alasannya dia left grup. Tapi, setelah gue ngomel akhirnya dia cerita.” “Terus?” “Terus numbur, deh. Lo udah kayak tukang parkir, Ay,” seloroh Meilia di seberang sana. “Eh, maaf. Abis, gue berasa kayak ABG akhir-akhir ini, nih. Galau gak jelas.” “Intinya, dia memang beneran kangen sama lo, dia sendiri bingung kenapa begitu. Dia sadar, kok, dia punya istri dan anak, tapi perasaannya sama lo gak bisa hilang gitu aja. Coba lo lebih ngertiin Yudha, Ay.” “Gue takut dianggap pelakor, Mei. Gue juga heran kenapa perasaan sayang dan rindu itu dateng lagi, padahal terakhir ketemu aja udah hampir seperempat abad,” ucap Ayla, sebab hanya dengan Meilia ia mau bercerita detil tentang Yudha. “Katanya perempuan memang bisa nyimpen rasa cinta lebih lama, Ay. Dinikmati aja prosesnya, semakin lo lawan loa akan semakin sakit. Oya, dia nanya, boleh gak kontak lo dia buka lagi blokirnya?” “Baiklah, gue coba, Mei. Buka blokir? Menurut lo gimana?” tanya Ayla, meski rasanya ia ingin langsung membuka blokir untuk Yudha saat itu juga. “Terserah lo-nya, gue sih mikirnya gak ada masalah. Anggap aja kalian melepas rindu seperti sahabat yang udah lama gak ketemu,” sahut Meilia. Wanita itu berpikiran bebas, sebab baginya selagi tak ada kontak fisik intens maka yang dilakukan kedua sahabatnya bukanlah sebuah perselingkuhan, seperti dirinya dulu, buktinya ia kini dengan Darma malah jadi kawan akrab. “Boleh, ya, kayak gitu?” “Gue rasa gak apa-apa.” “Ya udah, deh.” Ayla tak tahu, keputusannya untuk membuka blokir itu benar atau tidak. Ardian jelas protes berat, tetapi hatinya kini protes keras karena telah menahan sakit begitu lama. Dering telepon malam itu membuat Ayla terlonjak, sebab ia baru saja akan mematikan daya. Kontak yang telah ia blokir, kembali menghubungi. Sedikit bergetar jemari Ayla saat menggeser layar ponselnya. “Ay.” “Yudha. Lo udah gak marah?” “Gue gak pernah bisa marah sama lo. Kesel iya, tapi marah? Gue gak pernah bisa.” Wanita itu mendesah dengan penuh kelegaan. “Syukurlah, tapi gue harap lo gak usah ngomongin rindu dan sayang lagi, gue takut nanti istri lo marah. Padahal gue gak punya niatan aneh-aneh.” “Gue gak janji, karena gue gak yakin gue bisa ngelakuinnya. Ay, gue jadi inget. Mungkin ini sebabnya gue bilang kalo kisah kita belum selesai.” Pria di ujung sana tetap keras kepala, baginya mengungkapkan rindu pada wanita itu memang keharusan. Sebab ia tak tahan menahan rasa di hatinya. “Belum selesai gimana?” tanya Ayla bingung. “Lo masih inget hari pembagian rapor dulu?” “Oh! Waktu itu … yang … lo minta cium itu? Astaga lo masih inget? Jadi lo masih penasaran tentang itu?” Ayla tak mempercayai hal itu, sebab dirinya pun masih mengingat jelas gambaran kejadian hari itu. “Iya, kenapa lo gak mau kasih?” tanya Yudha penasaran, sikap perempuan itu di matanya dulu sangat kejam baginya. “Geli aja kali, Yud. Masa anak SMP udah cium-cium segala. Lagian, kata nyokap. Cowok itu kalo dikasih hati minta jantung, dikasih pipi minta yang lain.” “Ish! Ayla, lo mikirnya gitu amat. Dari dulu polosnya gak ilang. Waktu zaman kita sekolah aja, udah banyak yang ciuman dari kelas satu. Lagian, itu bukan ciuman yang lo bayangkan, kali. Bisa aja cuma cium tangan.” “Masa sih? Ya, biarin aja, itu, kan, mereka, bukan gue. Bentar, bukannya cowok itu selalu mikirnya lebih jauh dari perempuan, ya?” tanya Ayla tetap pada pendiriannya yang kolot. “Ayla, Ayla. Tau gak? Gara-gara itu, gue berpikir kalau lo itu gak pernah cinta sama gue. Makanya gue sempat benci lo, berusaha lupain lo dengan terjerumus ke narkoba dan mencoba banyak hal kenakalan remaja yang gak seharusnya gue lakuin.” “Termasuk selingkuh dan jatuh ke pelukan perempuan lain?” “Ya, termasuk itu. Sekarang gue nyesel banget, seharusnya gue mikir panjang.” “Itu sebabnya gue gak mau lo cium. Gue mikirnya, iya kalo kita jodoh, kalo gak jodoh, kan, rugi gue. Menurut gue, seharusnya first kiss itu buat pasangan kita. Bukan buat sembarang cowok.” “Lo itu jahat, ya, nganggep gue cowok sembarangan. Padahal hanya minta sedikit jaminan aja, lo gak kasih. Itu sebabnya gue marah, marah sama dunia, marah sama lo, dan gak pengen kenal sama yang namanya Ayla lagi. Tapi, ternyata gue gak pernah bisa, nyatanya cuma lo satu-satunya orang yang gue cinta. Gue gak pernah lagi jatuh cinta kecuali sama lo.” “Tapi, bener, kan? Kenyataannya gak ada yang bisa jamin kita bakal nikah sama siapa? Jodoh itu sudah digariskan sejak sebelum kita lahir. Makanya gue gak berani berandai-andai.” “Memang lo yakin kita gak berjodoh? Hati ini hanya segumpal darah yang pemiliknya adalah Tuhan itu sendiri, sebab hanya Dia yang mampu membolak-baliknya. Itu sebabnya gue mikir, mungkin, jangan-jangan kita berjodoh, hanya saja pertemuan kita yang ditunda.” “Gue gak tau, dan gak berani berharap sejauh itu.” “Bisa jadi dekat, jika lo berani minta sama, Yang Maha Kuasa.” Ayla tersentak, kondisinya sebagai ibu tunggal. Sangat riskan dianggap sebagai pelakor dalam kondisi seperti ini. Akan tetapi, laki-laki itu. Meyakinkannya sedemikian rupa, membuatnya terjatuh kembali ke lubang cinta yang buta. Hati kecil wanita itu tergerak, masih bolehkah, jika dirinya mendambakan sosok Yudha?   = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN