Saat bertemu banyak orang, tampak biasa dan baik-baik saja. Sebelum aku menyadari ternyata merindukanmu telah menjadi kebiasaan, jadi apa kabarmu hari ini?
-True Beauty, Ep. 5-
05 Oktober 2019.
Ruang itu berbentuk persegi dengan lampu temaram, di tengah ruangan tiga orang pria paruh baya ditemani tiga orang gadis muda, yang berlenggak lenggok mengikuti irama. Mereka tengah menikmati malam dengan bernyanyi suka cita. Sesekali gadis-gadis yang sepertinya belum genap berusia 20 tahun itu menjerit kecil, saat pria di samping kanan kirinya menyentuh di area-area yang tidak seharusnya. Meski nyanyian para pria itu tak enak di dengar telinga, seringkali sumbang dengan pitch control yang buruk. Akan tetapi, apa peduli mereka, meski malam kian larut dan suasana semakin panas.
Yudha baru saja datang. Setelah memarkirkan mobil di tempat karaoke eksklusif tersebut. Segera ia membaca pesan dari sang sekretaris.
“Tamu sudah menunggu di ruang 29, Karaoke Kaisar, Pak.”
Malam itu, pria berjas biru dongker itu sudah memesankan tempat khusus demi memuaskan tamunya, yang merupakan petinggi-petinggi kantor pemerintahan yang selalu berurusan dengan perusahaannya, hal rutin satu bulan sekali demi memperlancar urusan birokrasi usahanya.
Yudha membalas, dengan meminta sekretarisnya segera membelikan suvenir dan membawakannya ke tempat yang ia ketikkan alamatnya. Setelah selesai, ia segera keluar dari mobil, tetapi panggilan telepon dari Maura membuat pria itu batal keluar.
“Mas, lagi di mana?” tanya wanita itu.
“Lagi menjamu tamu, pulangnya mungkin lewat tengah malam,” jawab pria itu.
“Lagi? Rasanya kok sekarang sering betul?”
“Ini kaitannya dengan rencana expand kita ke seluruh provinsi dan Eropa, kamu gak usah ngegerutu gitu, yang penting usaha kita lancar.”
“Iya, deh, iya, cari duit yang banyak, ya.”
“Ya, sudah, ya.”
Yudha menggeser layar ponsel dan keluar dari mobil. Lalu memasuki gedung, menelusuri lorong dengan banyak pintu menuju ruang-ruang yang hampir sama hingar bingarnya.
Para tamu-tamunya, menyambut kedatangannya. Yudha duduk di pojok ruangan, dan menolak tawaran untuk ditemani seorang pemandu lagu.
“Ah, Mas Yudha ini, ayolah. kita senang-senang sama-sama,” sahut pria paruh baya yang bertubuh kurus-tinggi dengan mata sipit.
“Ha ha ha, maaf, Pak. Saya lagi gak mood. Capek bener hari ini,” tolak Yudha halus.
“Masih muda sudah sering kelelahan, mau saya kasih resep obat kita?” tanya pria paruh baya lain yang berperawakan sedang dengan kumis dan janggut tebal.
“Terima kasih, Pak, tetapi gak usah. Saya minum saja.”
Pria paruh baya terakhir dengan wajah bulat dan bertubuh tambun, menuangkan minuman, dan mengangsurkannya. Yudha meminumnya dengan satu tegukan. Tak cukup itu, ia mendorong gadis di sampingnya untuk mendekat pada Yudha. Laki-laki itu lebih muda dan gagah dari pria sebelumnya, jelas sang penghibur pun dengan suka cita pura-pura menjatuhkan diri ke pelukan Yudha.
Mau tak mau pria itu menangkap lengannya, tubuhnya sintal dengan balutan gaun ketat berwarna merah, wajahnya sebenarnya sudah cukup manis bila berdandan tak terlalu menor. Yudha tak suka dengan perempuan yang berdandan berlebihan, seperti Ayla yang selalu tak mementingkan jerawat yang tumbuh di dahi atau pipinya, sedang di masa itu gadis lain akan sibuk untuk menutupinya.
Wangi parfum perempuan itu pun terlalu menyengat, sedang Yudha lebih menyukai harum tubuh Ayla yang justru tak pernah menyentuh parfum karena alerginya. Pria itu jadi mengingat, kala gadis itu pernah seharian sakit kepala karena iseng mencoba parfum ibunya. Yudha tanpa sadar tersenyum-senyum, membuat gadis di sisinya menggelendot manja. Padahal memori pria itu tengah melanglang buana, di mana ia harus menemani Ayla di ruang UKS. Astaga! Mengapa bayangan gadis itu terus saja terbayang? Ajar saja, sudah seminggu ini hubungan mereka kembali intens, membuat pria itu selalu memikirkan gadisnya.
Perempuan lugu dan tak pernah sibuk dalam memilih baju, ia lebih suka memakai pakaian longgar daripada sempit dan ketat. Ayla yang selalu berceloteh ceria, atau menyenandungkan lagu-lagu Michael W. Smith, Stevie B., dan Tommy Page saat mengerjakan PR, gadis berprinsip kuat mengenai mencintai bukan berarti harus kontak fisik intim.
Mengingat dirinya, membuat rindu di d**a pria itu semakin tak tertahankan, ia pun izin keluar ruangan dan menelepon gadisnya. Satu kali, dua kali, sampai sepuluh kali deringan, teleponnya tak jua diangkat. Ke mana perempuan itu pergi?
Di sisi lain Ayla menatap layar dengan pandangan kabur, sakit kepala, dan mual sedang menderanya. Ia kini terbaring lemah di kamarnya, buliran keringat dingin membasahi bajunya. ponsel itu pun terjatuh. Sesaat sebelum Ardian masuk kamar dan segera membawanya ke rumah sakit.
Ayla akhirnya tersadar, mualnya sudah sedikit reda, sakit kepalanya juga. Ardian dan Adena yang menunggui di rumah sakit mendekatinya saat melihat perempuan itu membuka mata.
“Ayla, laper gak? Atau kamu mau apa? Nanti Mama belikan,” ujar Adena, matanya menelusuri tubuh anaknya yang tampak lemah.
Perempuan itu menggeleng lemah. “Gak usah, Ma. Mama pasti capek nungguin, Ay, di sini.”
“Kamu ini, selalu aja sibuk kerja, sampai lupa mengurus diri sendiri. Kalo udah sakit gini gimana coba?”
Ayla hanya tersenyum lemah. Akhir-akhir ini memang ia memaksakan diri lebih dari biasanya, ia juga sering terlambat makan, atau minum obat teratur. Pikirannya terasa penuh sehingga ia berpikir ingin mengalihkannya dengan membuat tubuhnya bekerja dua bahkan tiga kali lebih keras, agar sesampainya di rumah ia dapat tidur dengan nyenyak.
“Andrea sama siapa, Ma?” tanya Ayla menanyakan satu-satunya buah hati.
“Tenang aja, dia ada di rumah Okta,” Adena meninggikan kepala Ayla agar sedikit tegak.
“Ini hari sekolah, kan, Ma? Gimana dengan PR dan bekalnya? Kak Okta, ‘kan, punya bayi, kasian dia.””
“Tenang aja, dititip juga baru semalam, asal udah liat kamu makan, nanti baru Mama pulang. Kata Ardian hari ini dia off, jadi bisa bantu jaga kamu.”
Ardian mengangguk. “Biar Ardian aja, Tan, gak usah khawatir, ada seorang dokter yang jadi baby sitter, apa gak keren tuh,” candanya.
“Bener, gak apa-apa kalo Mama tinggal, Ay?”
Ayla mengangguk. “Iya, Ma.”
Adena pun melepaskan pegangan tangannya, lalu mencium kening anak bungsunya. “Kalo gitu Mama pulang dulu, nanti malam ke sini lagi.”
“Besok aja, Tan. Besok Ardian jaga sore, kok,” ujar laki-laki itu mencoba menenangkan pikiran ibu sahabatnya itu.
“Baiklah, Tante titip, ya, Dian.” Dengan berat hati Adena meninggalkan Ayla dan Ardian.
Selepas ibunya keluar ruangan, Ayla memandang sahabatnya dan meminta ponselnya.
“Mau ngapain? Lo, tuh, istirahat, gak usah pegang hape atau laptop. Gak usah mikirin kerjaan dulu. Lagian Kak Okta, udah menghubungi kantor untuk minta izin,” tukas Ardian menolak permintaan sahabatnya itu.
“Semalam, dia nelpon,” lirih Ayla.
“Gue tau, semalam pas nyari nomor nyokap lo, dia nelpon lagi. Dia panik setelah gue bilang lagi bawa lo ke rumah sakit.”
“Sungguh? Kenapa bilang, nanti dia nekat dateng gimana?” Ayla tak berani membayangkan jika pria itu sungguh nekat dan mendatanginya sekarang, mungkinkah?
“Gak mungkin, Lampung-Jakarta itu jauh. Masa iya dia dateng hanya karena denger lo sakit, kayaknya dia enggak segitunya, Ay.”
Ayla terdiam, membenarkan pemikiran sahabatnya itu. Pria itu telah memiliki keluarga dan kehidupan yang luar biasa, rasanya memang tidak mungkin.
Suara ketukan di pintu mengagetkan keduanya. Pria dengan tinggi 180 cm, kulit cokelat, dengan rambut belah tengah memasuki ruang rawat VIP itu. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak lelah, ia masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan, kemeja biru muda dengan dasi yang sudah miring, lengan kemejanya telah tergulung dan tidak lagi rapi masuk dalam celana biru dongkernya.
Ayla tersentak. “Yudha?!”
Laki-laki itu berjalan cepat mendekati tempat tidur, Ardian dengan sigap menghalanginya. Mereka saling bertatap.
“Maaf, Anda, siapa?” tanya Ardian pada lelaki tersebut.
“Anda tidak dengar, baru saja Ayla menyebut nama saya. Sekarang permisi, boleh saya menjenguknya?”
Ardian menatap mata Ayla yang meminta dirinya untuk menyingkir.
“Oke, gue keluar sebentar. Kalo ada apa-apa telepon gue atau pencet tombol di atas tempat tidur ya, Ay.” Ardian sengaja mengelus dahi hingga rambut Ayla yang panjang sebelum keluar. Yudha yang melihatnya merasa kesal.
“Iya, iya. Tolong beliin bubur ayam dan teh anget, dua,” pinta perempuan itu.
“Apa lagi?” tanya Ardian.
“Itu aja, kuahnya yang banyak. Oya, kalo lo mo sarapan dulu juga gak apa-apa,” lanjut Ayla.
“Lah, tadi bubur dua buat siapa?”
Mata Ayla menatap pria yang telah duduk di sisi pembaringannya. “Buat Yudha,” ucap gadis itu. “Lo, belum sarapan, kan, Yud?”
Yudha mengangguk, merasa menang tanpa sebab yang jelas. Ardian dengan berat hati meninggalkan keduanya.
“Lo, selama ini sakit?”
“Cuma kecapean? Lo, kok, bisa nyampe sini?” tanya perempuan itu masih tak percaya pria yang dirindukannya ada di depannya.
“Hampir gila gue pas denger lo sakit, pantes aja gue pengen banget nelpon lo, rupanya ini sebabnya. Kok, lo gak pernah cerita?”
“Lo gak pernah nanya.”
“Kok gitu ngomongnya, Sekarang gue nanya.”
“Emangnya lo lagi ada di mana semalem? Istri lo tau, lo di sini?” Ayla mengabaikan pria itu, dan mulai mengkhawatirkan hal lain.
Yudha terdiam, setelah mendengar berita, Yudha bingung bagaimana harus menghadapi para tamunya semalam. Untungnya mereka memutuskan untuk pulang setengah jam kemudian. Selepas mengantar tamunya, Yudha segera menelepon istrinya, mengatakan kalau ada sedikit masalah di proyek pembangunan kantor perwakilan di Lampung, sehingga ia harus segera pergi meninjau.
Istrinya hanya mengiakan sebab sudah mengantuk. Malam itu juga Yudha berangkat dengan menyewa taksi. Permasalahan pembangunan itu memang ada. Namun, hanya sebatas demo kecil perihal sengketa tanah yang akan dibangun. Yudha telah menginstruksikan anak buahnya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sejak siang.
“Kok diem? Jangan-jangan bener istri lo gak tau. Kenapa sih lo senekat ini?” Ayla kembali bertanya.
“Udah, gak usah mikirin yang lain dulu, sekarang lo harus sembuh baru gue bisa tenang. Ngomong-ngomong siapa laki-laki tadi?” Yudha berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Itu, Ardian. Sahabat gue dari SMA? Kenapa?”
“Cuma sahabat? Gak lebih, kan?”
“Ya, kayak gue sama lo, sahabat gak lebih.” tegas Ayla.
“Hubungan kita jelas beda. Seinget gue, kita gak pernah putus, jadi lo itu masih kekasih gue.”
“Jangan gila di sini, Yud. Kalo memang gue kekasih, kenapa lo gak memperjuangkan gue? Ngebiarin gue bertahun-tahun, sekarang dateng lagi dengan dalih, masih sayang? Lo nyari gue aja gak pernah sebelumnya.”
“Dulu gue gak tau nyari lo ke mana, Ay? Gue nyesel, udah pernah mengabaikan saat itu, sekarang gue akan lakukan apa pun untuk memperbaiki kesalahan itu.” Yudha menggenggam jemari perempuan itu lembut, seperti tak ingin menambah sakit lain.
“Kesalahan itu, biarlah tetap menjadi kesalahan. Memperbaikinya akan merusak apa yang sudah tertata selama ini, jadi setelah sarapan, lebih baik lo pulang.”
“Kalo gue gak mau? Bagi gue lo tetap seperti dulu, gak pernah ada perubahan sejak dulu.”
“Terserah!” Ayla pun berbalik. Namun, tiba-tiba mual kembali menyerang. Ia pun muntah. Yudha langsung menekan tombol darurat dan memeluk perempuan itu.
“Ay, sudah seperti ini aja lo masih berkeras seperti ini? Please, Ay. Asal lo tau, kehidupan rumah tangga gue gak bahagia, gue menjalaninya dengan rasa sesak. Ketemu lo sekarang buat diri gue bisa menghirup oksigen lagi. Biarin gue perbaiki semuanya, gue masih sayang sama lo, Ay, dan lo gak bisa maksa gue untuk berhenti mencintai lo.”
Perawat memasuki ruangan dan memeriksa kondisi perempuan yang tampak pucat dan lemah itu. setelah mereka pergi, Yudha mendekatinya dan menggenggam tangannya.
“Gue takut, Yud. Gue takut sakit hati lagi, bayangan lo yang menghilang dulu buat gue gak bisa percaya sama lo lagi.”
“Buang rasa takut lo, Ay. Gue yakin sekarang bisa bikin lo bahagia.”
“Gue gak yakin, Yud.” Wanita itu memejamkan mata, sebab pengaruh obatnya. Yudha masih menggenggam jemarinya. Sampai Maura meneleponnya.
“Mas. Di mana?” tanya wanita itu penuh selidik.
“Masih di Lampung, baru sampai, aku masih di hotel.”
“Kamu bohong! Aku sudah menghubungi penanggung jawab proyek kita di sana, mereka bilang semalam permasalahan sudah dapat diatasi. Lalu, ke mana kamu sebenarnya?” Akhirnya wanita itu tak mampu menahan diri lagi.
“Aku—“ Yudha menatap perempuan di depannya.
Pintu terbuka, Ardian baru saja kembali. “Ayla! Perawat tadi bilang ….“
Ia menatap pria di depan wanita yang tergolek lemah tak berdaya itu. Yudha, melepaskan genggamannya dan keluar ruangan.
“Ayla! Kenapa nama itu disebut? Kamu menemui perempuan itu?” sembur Maura.
“Maafkan aku, dia sedang sakit, kondisinya mengenaskan, aku sangat khawatir,” jelas Yudha, ia tak mempedulikan kemarahan istrinya. Baginya kondisi Ayla lebih penting dari apa pun.
“Kamu sudah berjanji untuk tidak menemuinya, Mas. Kamu bilang nomor dan akunnya sudah di blokir. Kamu membohongiku terus selama ini rupanya.”
“Maafkan aku, sebab terlalu merindukannya, akhirnya aku membuka blokir tersebut, tapi sekarang ia telah memblokir diriku dari hidupnya, jadi jangan khawatir.” Yudha bersandar di samping pintu ruang rawat inap, lorong yang sepi itu membuat suaranya bergema.
“Mas! Apa maksudmu? Jadi kamu tak mau berhenti mencintainya?
“Karena memang tak ada cinta lain selain dirinya. Kau tau, aku bertahan di sisimu karena tanggung jawab semata.” Yudha mematikan sambungan telepon dan terduduk di kursi panjang rumah sakit.
= = = = = = = = = = = = = = =