Jika saja aku tau cinta itu begini dalam menyakiti
Maka aku tak kan pernah ingin mengenalmu
Jika saja aku tau rindu itu memberatkan hati
Tak kan kubiarkan kau jauh dariku
-Yudha Turangga-
06 Oktober 2019.
Maura terduduk di sisi pembaringan yang dingin. Buliran air mata yang tadi menggenang kini mengalir deras, sambil memegang dadanya yang terasa sakit ia menangis keras dalam ruang kedap suara itu. Wanita itu masih tak dapat mempercayai pendengarannya. Bagaimana mungkin, perempuan yang baru ditemui suaminya lagi itu, begitu mudah merebut hati laki-laki yang telah ia nikahi dua puluh tahun itu. Selama ini, segala daya upaya ia kerahkan demi membuat laki-laki itu bahagia, tetapi semuanya kini sia-sia. Ia pikir hanya perlu lebih bersabar sampai angin cinta mengetuk pintu hati pria, yang selalu tertutup untuknya itu.
Namun, kenekatan Yudha mendatangi wanita yang sedang sakit itu, membuktikan bahwa cinta suaminya memang tak akan pernah bisa ia miliki. Maura kembali menangisi nasibnya, nasib yang sebetulnya diharapkan banyak orang. Seorang perempuan dari keluarga kaya, menikah dengan pria yang lebih muda darinya, tampan, dan gagah. Meski tak semua orang tahu, laki-laki itu ia angkat derajatnya dari pesakitan narkoba, seseorang yang bukan siapa-siapa hingga menjadi pengusaha sukses seperti sekarang. Semua adalah berkat usahanya dan tak akan ia biarkan perempuan lain mengambil apa yang menjadi miliknya.
Wanita itu masih memiliki kekuatan, sebab memiliki uang dan anak-anak dari pria itu. Ia merasa sudah maju dua langkah dibanding perempuan yang hanya memiliki kenangan cinta masa remaja saja. Perjalananya membangun biduk rumah tangga bersama Yudha, tak boleh menjadi sia-sia. Ia menghapus kasar air mata dari pipi tirusnya, dan menelepon seseorang.
Di sisi lain, Yudha tak menyesal mengungkapkan apa yang selama ini ada dalam hati pada istrinya. Ia sadar perkataannya itu pasti akan menyakiti perasaan, tetapi ia sungguh-sungguh tak bisa menahan diri lagi, perempuan yang dicintainya kini sedang terbaring lemah, ia tak memiliki pilihan selain merawat dan melindunginya.
Ia memasuki ruang rawat di mana kekasihnya tengah tertidur. Ardian sedang berada di sisinya, Yudha seperti melihat Bahar dalam diri laki-laki itu. Belumlah kenal ia sudah membencinya.
“Ehm,” deham laki-laki itu, membuat pria berkacamata di depannya mengalihkan pandangan dari buku yang tengah di bacanya.
“Masih di sini?” tanya Ardian acuh.
“Aku ingin merawatnya? Jadi, sebetulnya Ayla sakit apa?” tanya Yudha tak mau berbasa-basi.
“Penyakit pasien tidak boleh diumbar kepada bukan keluarganya, Anda jelas bukan siapa-siapa, sebab saya kenal betul keluarga Ayla,” sengit Ardian pada lelaki yang selalu diceritakan sahabat perempuannya itu.
“Kalau begitu saya ganti pertanyaannya. Anda siapa? Sepertinya juga bukan dari keluarga Ayla,” balas Yudha lebih sengit.
“Saya sahabatnya.”
“Saya kekasihnya.” Yudha tak mau kalah. Ia sebetulnya sedikit tersentak, karena seperti mengalami deja vu, tetapi pria itu tak mengingat bagaimana tepat kejadiannya di masa lalu.
“Maaf, kekasih? Sepertinya tidak mungkin. Ayla tak pernah bercerita tentang Anda, jadi selama ini Anda kekasihnya di masa yang mana ya? SD? SMP? SMA? Kuliah? Asal Anda tahu, saya sudah menemani Ayla sejak SMA?”
“Tidak penting berapa lama kami saling kenal, yang penting perasaan kami masih sama sampai sekarang.” Semakin lama Yudha semakin kesal dengan laki-laki di depannya itu.
“Entah kenapa saya tidak percaya, paling juga hanya euforia sesaat sebab sekolah kalian akan mengadakan reuni, benar bukan?” Ardian berusaha menyudutkan laki-laki yang tampak menyebalkan sekali di matanya.
“Bagaimana Anda tahu sekolah kami akan mengadakannya?”
“Tidak ada yang aku tidak tahu tentang perempuan ini, jangan-jangan Anda bahkan tak tahu suku apa Ayla berasal, warna apa yang ia sukai, atau film apa yang ia suka, atau apa cita-citanya sejak kecil? Saya rasa Anda tidak sedekat itu.”
“Kami hanya belum punya cukup waktu untuk saling kenal lebih jauh. Saya pastikan, sejak saat ini kami akan mulai saling mengenal lagi, tidak ada kata terlambat untuk itu.”
“Terlambat, oh, tentu sudah terlambat, sebab Anda bukan lagi pria lajang,” sahut Ardian sarkas.
“Oh, saya paham. Jadi, Anda ini pria lajang yang sedang mendambakan seorang single mom? Luar biasa, saya kira Anda sahabatnya. Rupanya ada udang di balik batu,” ujar Yudah tak kalah sarkas, bibirnya tersungging senyuman kemenangan.
“Kau!”
Ardian maju, hendak meninju wajah pria yang cengengesan itu. Yudha tidak gentar, diam-diam ia juga telah menyiapkan bogem mentahnya di balik tubuh. Selagi mereka saling memandang dengan pandangan mengancam. Yudha menilai pria berkaca mata ini sedikit lebih pendek beberapa senti saja dibandingkan dirinya. Jika, Yudha berkulit cokelat, pria itu berkulit kuning langsat, dengan rambut ikal, berjanggut, dan tubuhnya sedikit gempal. Tampaknya datang dari keluarga baik-baik dan saleh, tidak seperti dirinya yang berlatar belakang keluarga yang berantakan dan mantan pecandu.
Sebelum keduanya saling baku hantam, Ayla menggeliat dari tidurnya seraya merintih memegangi perut. Keduanya berpaling dan segera mendekati gadis itu. Saling menumbur dan menyikut demi memperhatikan wanita yang memiliki arti tersendiri di hati mereka masing-masing.
***
01 September 1999.
Yudha kini sedang menghirup udara kota Yogyakarta, yang sejuk dan lebih bersih dibandingkan Jakarta. Ia baru saja akan masuk ke kampus baru setelah mengundurkan diri dari kuliahnya di Institut Seni di Jakarta. Ia dipaksa ayahnya untuk masuk jurusan manajemen. Program study yang bukan minatnya, tetapi orang tuanya mengancam, jika kali ini ia kembali bermasalah, maka ia akan di buang keluarganya.
Mau tidak mau, ia mengikuti kemauan mereka, sebab kini ia memiliki tanggungan setelah melakukan banyak kesalahan sejak berpisah dari Ayla.
Sepeninggal gadis itu, ia berusaha keras melupakan dan menjalani hidupnya yang terasa hampa, dengan dekat dengan banyak gadis lain. Namun, ia selalu gagal. Bayangan Ayla selalu mengikutinya. Walau ia telah melakukan banyak hal untuk mengalihkan dunianya, dari mulai mencoba narkoba karena diajak teman, sering bolos sekolah dan malah main band, memanjangkan rambut, menindik telinga, bibir, sampai lidah.
Semakin hari dirinya semakin terjerumus, terutama saat menerima surat putus dari Ayla setelah satu tahun berjauhan dari gadis itu. Ia semakin marah dan benci pada Ayla dan dirinya sendiri. Salahnya juga karena selama itu, ia hanya sekali meneleponnya di satu malam. Gadis itu terdengar ceria, membuat rindunya memuncak. Namun, panggilan langsung jarak jauh itu tak dapat berlangsung lama, belum lagi ia memuaskan rindunya, panggilan sudah harus disudahi.
Pernah sekali juga ia menuliskan kata-kata dalam lembaran kertas, bagian tengah buku dengan pena merah hasil mengambil dari kotak pensil milik Meilia. Sekejap saja, kertas itu hampir penuh, tetapi bahkan seluruh kata yang tertulis tak mampu mengungkapkan besaran rindu yang ia simpan untuk gadis itu. Laki-laki itu ingin bertemu dengannya, memeluk dalam dekapan, tak akan lagi dilepaskan. Ia butuh kehadiran perempuan itu sekarang. Bukan hanya sekedar perjumpaan yang membutuhkan perantara.
Banyak hal yang ia ingin ceritakan padanya, tentang keluarganya yang mulai retak, dan keduanya kini telah tinggal terpisah, juga ingin membicarakan tentang band barunya yang akan manggung minggu depan. Cowok itu ingin bercerita sambil menatap matanya, merasakan desahan napas gadis itu kala lelah naik tangga sekolah, desisan pedasnya saat menyeruput kuah bakso yang pedas. Terkadang ia memanggil memori tentang Ayla sambil menghisap ganja atau menikmati putau. Membayangkan gadis itu dan mencumbunya dalam fatamorgana.
Di saat seperti itu, Yudha mengenal Maura—sepupu Tami. Saat semester akhir SMA. Seorang gadis pindahan dari Yogyakarta, yang usianya terpaut lebih tua tiga tahun darinya. Awal berkenalan, Yudha terkejut, sebab gadis itu memiliki sorot mata yang mirip Ayla. Maura selalu mencuri pandang saat laki-laki itu melewati rumahnya, atau sekedar memainkan gitar di depan rumah bersama Darma, Tami, dan teman-teman lainnya.
Kedekatan mereka bermula saat Maura diminta ibu Yudha untuk membantu anaknya dengan mata pelajaran yang tidak pernah menjadi fokus utamanya. Perempuan itu menyetujuinya, sedang laki-laki yang kehilangan kasih sayang Ayla itu, mulai menerima perhatian dari perempuan itu meski hanya sekedar pengisi kekosongan jiwa, sebab dimatanya Maura adalah Ayla.
Seminggu kemudian mereka berpacaran, laki-laki itu mencoba mencintainya, tetapi bayangan Ayla tak pernah pudar seutuhnya. Hari itu, tubuh Yudha menagih kebiasaannya menggunakan narkoba. Padahal itu adalah hari ia harus menerima pelajaran tambahan dari Maura. Setengah sadar, wajah dan perawakan perempuan itu berubah menjadi gadis yang ia rindukan hingga tanpa sadar cowok itu malah mencium perempuan itu, hasrat kelaki-lakian bangkit. Ia tak ingin melepaskan perempuan dalam pelukannya, terus mencumbunya dan menyebabkan hal yang tidak seharusnya terjadi.
Yudha merasa malu dan bersalah atas apa yang terjadi, ketika ia menyadari setelah semuanya terlambat. Namun, Maura yang mencinta laki-laki itu memakluminya. Sesuatu yang tak akan dimaafkan oleh Ayla, jika gadis itu tau apa yang telah ia lakukan dengan perempuan lain. Kejadian itu disimpan rapat oleh Maura dan Yudha, keduanya sepakat untuk merahasiakan kejadian itu. Perempuan itu meminta Yudha agar berhenti menggunakan narkoba.
Laki-laki itu seperti menemukan malaikat, ditambah saat itu rumah tangga ayah dan ibunya sedang retak, ia memang membutuhkan seseorang yang membantunya bangkit kembali. Maura membicarakan hal tersebut dengan kedua orang tua Yudha, mereka sepakat memindahkan kuliah keduanya ke Yogyakarta, selain agar Yudha dapat menjalani rehabilitasi di sana.
Hubungan keduanya tidak diterima begitu saja oleh kedua orang tua Maura, terutama ayah Maura yang seorang perintis perusahaan pengiriman cargo yang sukses.
“Dia laki-laki yang tidak pantas untukmu Maura, usianya lebih muda, belum ada jaminan hidupnya akan mapan atau tidak di masa depan,” nasehat ayahnya.
“Tidak bisa Pa, kami harus menikah. Sebab aku hamil!” sahut Maura.
“Apa!” Kedua orang tuanya terkejut bukan kepalang.
Perempuan itu harus menerima deraan dari orang tuanya karena masih berkeras untuk tidak menggugurkan kandungannya, ia menginginkan Yudha untuk menjadi suaminya.
“Ia bukan laki-laki lemah, ia ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku yakin, dengan sikapnya yang seperti ini, maka kesuksesan akan ia dapatkan di masa yang akan datang.”
= = = = = = = = = = = = = = =