[ 14 ] Sadness Home

1731 Kata
Jika tembok bisa menggantikan dirimu Aku akan bersandar padanya tanpa khawatir akan ditinggalkan Jika pagar bisa merengkuh dan melindungi Maka, akan kubangun dengan rapat agar tak lagi terluka   -Ayla Kosha Hammam-     02 Mei 1995.   Baru satu bulan Ayla kembali ke kota kelahirannya. Kota yang tertib, aman, patuh, iman, sejahtera, bersih, sehat, rapi, dan indah, sesuai dengan slogannya, ‘Tapis Berseri’. Jauh dari pemandangan ibukota yang berbanding terbalik, udaranya masih segar dengan banyak taman yang sengaja dibangun pemerintah saat itu. Namun, seperti kota transit lain pembangunan sarana dan prasarana lainnya masih statis, belum ada mal, toko buku dan perlengkapan menulis besar, apalagi bioskop dengan banyak studio.   Begitu juga dengan gadis tomboi itu, ia baru memiilki segilintir teman saja. Bukan karena tidak supel dan kurang dapat menyesuaikan diri, tetapi karena dirinya terlalu merindukan kehidupannya di Jakarta. Walaupun tinggal di pemukiman kumuh, macet di mana-mana, atau banjir jika musim penghujan tiba, ia tak pernah peduli. Dirinya terlalu merindukan teman-teman dan tentu saja Yudha—pewarna hatinya.    Di sini ia sangat kesepian, keluarganya tidak terlalu harmonis, bahkan sedikit lebih kelam meski kehidupan ekonominya sangat baik. Keluarga itu sama sekali bukan tipe keluarga impian. Ayahnya, tipe pekerja keras yang waktunya dihabiskan di luar dari pagi hingga larut malam. Ibunya kini disibukkan dengan butik juga bersosialita. Kak Okta, tentu saja tak akan pulang kecuali di masa liburan. Ayla yang anak bungsu dalam keluarga lebih banyak sendirian daripada berkumpul dengan mereka.   Ayla bersekolah di tempat yang cukup elit di masa itu, membuatnya sedikit terbebani. Gadis itu seperti memakai topeng, tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Teman-temannya terlalu memedulikan strata antara kaya dan miskin, pintar dan bodoh, serta cantik tidaknya parasmu. Gadis yang sudah terbiasa dengan kehidupan majemuk, merasa tersisih dari pergaulan. Semua begitu timpang dimatanya, seperti burung yang terkungkung dalam sangkar, tak dapat bebas mengepakkan sayap dengan leluasa apalagi terbang sesukanya. Ia mau tak mau harus mengikuti standar yang sama untuk para perempuan, rambut pendeknya dianggap tak pantas, sepatu docmart-nya tampak aneh, semakin terbelakang ketika tingginya tak lagi bertambah, kulitnya cokelat dengan wajah sedikit berjerawat karena keaktifannya di luar rumah. Untuk menonjol ia harus berjalan dengan kekangan. Selagi berusaha menyesuaikan diri agar disukai banyak teman, gadis itu menyadari betapa Yudha tak pernah mempermasalahkan kondisi fisiknya, rindunya semakin besar bersamaan dengan butuhnya ia terhadap sosok seorang Yudha di sisinya. Mencari sosok seperti Yudha, itu bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sulit dalam lingkungannya mencari seseorang yang tak pernah memikirkan ia anak siapa, pintar atau tidak, apalagi dirinya yang jauh dari kategori cantik dan tak pernah memedulikan gaya berpakaian. Baru disadari hanya laki-laki itulah yang dapat menerima begitu banyak kekurangan dirinya. Semakin memikirkan hal-hal ini membuat rindu terasa berat. Ayla merasa kepulangannya ke kota ini telah merenggut kebahagiaannya, kini ruang hatinya kosong karena sebagian telah tertinggal di Jakarta.   “Itu karena kamu belum terbiasa,” sela Adena kala gadis itu berkeluh kesah dan meminta izin ibunya untuk meneruskan SMA di Jakarta saja. “Ayla gak betah, Ma,” rengeknya seraya memeluk wanita itu. “Sabar, nanti kamu bisa kuliah di sana, kok.” “Janji, Ma.” Wajah Ayla kembali berseri-seri. Iya bertekad untuk bersabar selama tiga tahun lagi, lalu akan kembali ke kota itu nanti. Tunggu aku Yudha, serunya dalam hati. Selagi menanti, Ayla melarikan dirinya ke berbagai macam kegiatan sekolah, berusaha pulang selama mungkin agar melupakan kerinduan dan kesedihannya. Jika kegiatan sekolah dan les sedang libur, ia akan sekedar duduk di taman bermain, atau berjalan-jalan sendirian di pusat perbelanjaan, agar pikirannya teralihkan dari merindukan Yudha. Membuat dirinya lelah hingga tidurnya lelap, waktu akan berjalan cepat, dan dapat mengalihkan dirinya dari dunia baru yang sesungguhnya ia benci. Namun, laki-laki itu seperti hanya tersisa kenangannya saja, ia tak pernah mencoba menghubungi sesering yang diharapkan gadis itu. Yudha pernah meneleponnya sekali, hati Ayla sangat bahagia kala dapat mendengar suaranya lagi, tetapi hubungan itu tak dapat berlangsung lama, sebab angka rupiah yang harus dibayar cowok itu cukup mahal untuk sekali biaya interlokal di warung telekomunikasi (wartel). Mungkin ia telah menghabiskan uang jajannya selama satu minggu demi panggilan yang kurang dari setengah jam itu. Seperti halnya teman-teman lain yang berpacaran jarak jauh, gadis itu juga akhirnya menerima surat cinta yang ditunggu-tunggu. Akan tetapi, Ayla sedikit kecewa, ia terlalu butuh kasih sayang hingga kesal karena kertasnya dari sobekan tengah dan penanya pun berwarna merah. “Dia marah kali sama lo, Ay, coba selidiki, jangan-jangan dia punya pacar lagi di sana,” kata-kata Vina begitu menyakitkan, ia tidak mau mempercayai teman barunya itu. Ayla yakin Yudha tak akan pernah mengkhianatinya Hari berlalu, detik berjalan lambat hingga hampir satu tahun gadis itu menahan rindu. Deringan telepon membuat Ayla terlonjak, ini malam minggu. Hatinya berharap Yudha lah yang menghubunginya. “H-halo.” Terbata ia menjawab, antara gugup dan kehabisan napas karena berlari dari kamar tadi. “Ay, apa kabar?” suara Tami di seberang, sedikit harapannya ciut. “Baik, Alhamdulillah, lo sama siapa? Tumben.” Ayla tak sabar ingin bicara dengan laki-laki yang dirindukan, berharap Tami hanya sekedar menyapa saja. “Syukur, deh. Tapi maaf, gue kali ini mau bawa berita buruk, Ay,” sahut Tami. “B-berita apa?” suara Ayla bergetar, berharap berita ini bukan tentang Yudha. “Lo jangan kaget, ya. Si Yudha ternyata pacaran sama sepupu gue.” “Serius?” Ayla tak mempercayai pendengarannya. “Masa gue bohong, gue aja kaget. Gue gak ada maksud apa-apa, cuma gak pengen lo sampe dibohongin sama Yudha,” jelas Bagai piring yang tergelincir dari pegangan, hati Ayla seketika pecah. Pertama kali dalam hidupnya ia dikhianati setelah mempercayai begitu banyak, hatinya terluka dan patah. “Pantas saja, dia gak pernah nlepon, pantesan surat cintanya hanya ditulis di kertas sobekan tengah buku, segitunya juga dia nulis pake pena merah, Yudha rupanya gak sayang lagi sama gue,” lirih Ayla, mencoba menahan air mata yang menggenang. “Ay, lo gak apa-apa, kan?” “Gak apa-apa, thanks, ya. Udah ngasih tau gue. Gue bakal putusin dia tanggal enam besok, tepat satu tahun kita jadian.” Ayla menghapus air matanya, mencoba terdengar tegar. Gadis itu menyadari, jarak yang jauh tak mungkin bisa bertahan kecuali setia yang begitu dalam. Apalagi masing-masing telah memiliki alur kehidupan yang berbeda. Tanpa saling mendampingi mustahil kisah mereka dapat berlanjut, tak akan ada saling percaya juga ketetapan hati untuk mempertahankan hubungan. Meski panggilan Tami masih berlangsung tentang banyak hal yang terlewati olehnya selama setahun ini. Ayla sungguh tak lagi peduli dengan semua itu. Beberapa hari kemudian surat putus pun dikirim dengan hati yang terbelah. Secarik kertas dengan rangkaian kata kemarahan sekaligus kesedihan itu, terkirim bersama titik-titik air mata yang telah mongering. Ayla tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, ia rela jika memang Yudha telah memutuskan mencari pengganti dirinya. Gadis itu tak ingin menjadi perempuan bodoh yang berharap akan bertemu dengannya lagi.   Ia mencoba melepaskan beban hubungan jarak jauh itu. Dengan berat gadis itu mengikhlaskan laki-laki yang ia sayangi tak lagi menginginkan dirinya dan telah menemukan kertas baru untuk ia warnai. Ayla hanya harus menemukan pewarna baru atau berusaha mewarnai diri sendiri dengan warna yang lebih cerah, sebab usianya masihlah sangat muda, sekarang mungkin akan tanpa warna, karena tanpa Yudha dirinya bukan lagi Ayla yang dulu.   ***   07 Oktober 2019.   Maura selesai menelepon seseorang untuk memata-matai suaminya, yang kini masih berada di seberang pulau. “Beres, Mbak. Saya sudah mencari tahu tentang perempuan yang, Mbak, maksud. Kami sudah memberikan peringatan, sekeluarnya dari rumah sakit dipastikan dia langsung tau diri dan gak akan berani menggangu suami, Mbak, lagi.” “Oke, saya gak mau tau. Semua harus dikerjakan dengan rapi, dan jangan sampai Mas Yudha mengetahui hal ini.” Maura menutup telepon dengan senyum puas. Ini baru peringatan, ia harap tidak perlu bertindak lebih jauh. Seharusnya perempuan itu akan kapok dan menjauhi suaminya.   Di tempat lain, Yudha berkeras ingin mengantar perempuan yang dicintainya pulang dari rumah sakit, tetapi Ayla menolak. “Enggak! Keberadaan lo di sini aja udah pasti bakal menimbulkan keributan dalam rumah tangga lo. Gue gak mau lo terlalu jauh mencampuri hidup gue,” sergah wanita itu berusaha mengambil tas tangannya dari genggaman pria itu. “Gue gak peduli, sekarang setelah ketemu kita gak bisa begini. Dulu bukannya lo selalu berharap kita ketemu lagi?” Yudha mengangkat tas itu tinggi dari jangkauan perempuan itu. “Itu dulu, sebelum lo menghancurkan semua harapan gue atas hubungan kita. Dan please, itu pemikiran anak SMP yang lugu dan bodoh karena gak ngerti apa-apa, sekarang, kita udah di masa yang beda, Yud.” “Kenapa, sih, lo sekeras kepala ini. Gue udah jauh-jauh datang demi lo, jadi tolong hargain usaha gue sekarang.” “Gue gak pernah minta lo dateng. Inget Yud, gue kemarin nge-drop karena mikirin lo, jadi sekarang tolong jauh-jauh dari gue.” Ayla setengah berjinjit guna meraih tasnya, tak menyadari jarak keduanya semakin dekat. Perempuan yang masih lemah itu terantuk karpet, dan hampir terjatuh. Yudha segera memeluknya, mencegah perempuan itu jatuh tersungkur. Selagi berpelukan, dengan lirih pria itu berkata seraya menahan debaran yang sudah lama tak ia rasakan. “Kalo gitu, biar gue perbaiki semua, kita bicara baik-baik. Mulai sekarang gue gak mau lo sakit lagi gara-gara gue.” Ayla menatap mata laki-laki itu, debaran dalam dadanya membuatnya mengalah. Sialnya hari itu ibunya masih menunggui Andrea di sekolah, dan Ardian sedang mendapat tugas jaga. Ia terpaksa mengikuti kemauan laki-laki itu untuk mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah Ayla di gandeng pria itu menuju pintu. Akan tetapi, Yudha merasa heran sebab pintunya tampak tidak tertutup rapat. “Apa ada orang di rumah?” tanyanya pada perempuan di sisinya. “Gak ada, mama masih di sekolahan.” Gelengan Ayla, membuat pria itu khawatir. “Kalo gitu tunggu.” Yudha berlari kecil menuju pintu, mendorong pintu sedikit yang tampak seperti habis didobrak, dan mendapati rumah tersebut dalam keadaan berantakan. “Ay, bagaimana kalo kamu tinggal sementara di apartemen, hotel, atau rumah kakakmu.” “Apaan, sih. Memang kenapa? Gak usah aneh-aneh deh, Yud.” Ayla berjalan menuju dirinya yang mencoba menutupi pintu dengan tubuhnya. Dari sela-sela Ayla melihat rumah yang berantakan, ia segera mendorong laki-laki itu, lalu segera masuk kamar, mencari-cari di lemari dan laci nakas. Mata Yudha waspada seandainya perampok mungkin masih ada di dalam. “Apa ada yang hilang?” tanyanya setelah yakin kondisi aman. “Sepertinya tidak, tapi aku nemuin ini di atas tempat tidur.” Ayla melambaikan sehelai kertas. Jangan ganggu suami orang kalo mau selamat! = = = = = = = = = = = = = = =  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN