Apa guna cinta berkalang dusta, sendiri lebih baik
Tapi, sendiri membuat bayangan gelap kerap menemani
Jalan begitu kelam, di manakah gerangan sinar terang?
Jika begitu, biarkan aku berdusta, yang penting kau tetap ada
-Yudha Turangga-
09 Oktober 2019.
Yudha membaca cepat isi kertas berisikan ancaman itu. Lalu menatap mata Ayla khawatir. Menerka-nerka apakah mungkin Maura sungguh menyuruh preman untuk mengancam perempuan itu. Kemarahannya berkobar. Namun, sekuat tenaga ia tak menampakkannya di depan perempuan yang baru saja sembuh itu.
"Surat kaleng, tapi siapa yang ...?" Dengan bingung, wanita itu menatap Yudha yang membatu. Gelagat pria itu membuat ia menyadari sesuatu, tetapi berusaha untuk tidak membuat laki-laki di depannya tahu isi kepalanya.
"Apa coba yang mereka cari di rumah ini? Gue gak pernah nyimpen barang berharga, lagian surat-surat penting masih rapi di dalam lemari, hanya baju dan perabotan yang sepertinya sengaja dihamburkan. Aneh," ujar perempuan itu seraya menyelidiki rona wajah laki-laki di depannya.
"Kapan ibu dan Andrea pulang?" tanya Yudha berusaha tak peduli dengan pandangan perempuan itu.
"Sekitar dua jam lagi."
"Kalo gitu lebih baik lo sekarang istirahat, biar gue yang beresin rumah sebelum mereka datang."
Ayla menolak, ia malah mengambil sapu.
"Dalam dua jam gak mungkin beres. Mendinh kita kerjakan berdua, lo benerin posisi kursi dan meja, gue nyapu serpihan dan beresin yang kecil-kecil, oke." Wanita itu memberi instruksi.
Yudha mengangguk. Ia segera bergerak merapikan semuanya, membantu Ayla hingga akhirnya rumah itu kembali tertata rapi seperti sedia kala, hanya tinggal beberapa tumpukan beling dari gelas dan piring yang sengaja dipecahkan.
Ayla tengah memasukkan pecahan beling ke dalam kantung plastik. Perempuan yang sejak dulu sedikit ceroboh itu malah menggores jarinya.
Darah yang mengalir membuat Yudha segera menekan jemarinya dengan beberapa lembar tisu dari atas meja makan. Menyuruh perempuan itu untuk duduk dan menyelesaikan membersihkan sisanya.
Ayla memperhatikan laki-laki itu bergerak ke sana-sini dengan sibuknya, ia masih tak mempercayai pria dari masa lalu itu sedang berada dekat dengannya sekarang.
Meski begitu, Ayla merasa aman. Hanya di depan laki-laki itu, ia tak perlu memasang topeng tegar. Jika saja waktu bisa diputar ulang, wanita iti berharap sosoknya tak pernah menjauh lagi.
Dalam hatinya tebersit ego untuk memilkinya lagi. Surat ancaman itu malah membangkitkan jiwa tomboi dan.pembakang Ayla.
Dulu laki-laki itu adalah miliknya, dia lah gadis pertama yang memenangkan cinta pertamanya, bukan Maura. Jika saja bukan karena narkoba sialan yang merusak pikirannya, maka hati dan jiwa ini dipastikan utuh menerima kehadirannya.
"Sudah selesai, lo tiduran, gih, nanti pusing sama mualnya kambuh lagi," seru Yudha seraya menarik lengan Ayla yang hendak ke dapur.
"Nanti dulu, setidaknya aku buatin minum, kasian tamu jauh gak disuguhin."
"Ketemu lo sekarang aja udah bikin gue seneng banget, kok. Biar nanti gue ambil sendiri. Ayok ke kamar!" ajak pria itu.
Ayla terkejut. Wanita itu menatapnya sungkan. "Kamar? Apa yang dipikirin orang ini?" lirihnya sedikit jengah.
"Eh, maksud gue, lo istirahat aja di kamar. Nanti gue nyusul, eh, bukan gitu maksudnya ... , ah, sudahlah." Yudha mengangkat Ayla dan berjalan masuk ke kamar, ia merebahkan perempuan itu di atas pembaringan.
Meski jengah, Ayla menahan rasa malunya. Ia berusaha berpikir positif. Akan tetapi, rona wajahnya yang memerah tak luput dari perhatian laki-laki yang tengah menyelimutinya itu.
"Ay, kok, muka lo merah?" Yudha bertanya, tapi lalu menyadari apa yang ia lakukan. Berada di dalam kamar berdua saja dengan Ayla, bahkan saat sekolah dulu pun tak pernah ia membayangkan perempuan itu akan berada dalam kamarnya. Wajah laki-laki itu turut merona.
"Lo juga, ngapa kuping lo jadi merah gitu?" tanya Ayla seraya menyentuh cuping telinga lelaki di hadapannya.
Jantung Yudha langsung saja berdetak dua kali lebih kencang. Ia menarik jemari perempuan itu agar tak menyentuh area sensitifnya.
"Lo, gak lagi berpikiran m***m, kan?" tanya Ayla.
"Ya, enggaklah! Tapi, Ay, boleh gak gue ...."
"Enggak!" Tolak Ayla segera sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya.
"Ih, belum juga beres ngomong, maen bilang enggak aja."
"Lo bukan mau minta, ehm, ci-cium, kan?"
"Kalo gue minta emang dibolehin? Dulu aja gak dikasih, apalagi sekarang." Laki-laki itu melirik perempuan yang tampak salah tingkh itu.
"Syukur deh, oya, lo laper gak? Berhubung gue belum sempet ke pasar gegara sakit kemaren, jadi kita pake jasa ojek online aja, ya?"
"Iya, boleh. Ehm, gue boleh numpang mandi gak? Badan gue lengket banget ini, udah berapa hari cuma cuci muka doang."
"Iya boleh, tapi baju gantinya gimana? Lo gak apa-apa pake baju gue. Gue gak punya baju cowok soalnya."
"Ya udah, gak apa-apa, sama numpang nyuci baju yang dipake, ntar kalo udah kering gue pake lagi buat pulang."
"Lo mau pulang jam berapa?"
"Kalo gue udah yakin lo udah bisa gue tinggal," sahut pria itu.
Beberapa saat kemudian Ayla tertawa terbahak-bahak, melihat laki-laki bertubuh tegap yang terpaksa menggunakan celana olahraga sempit dengan kaus berwarna merah jambu yang sedikit mengatung, karena pria itu lebih tinggi darinya.
"Lo gak punya baju laen apa?"
"Itu udah yang paling gede. Kalo mau lebih gede lagi, gue punya daster kalo mau pake," goda Ayla.
"Iya, deh, ini aja," sungut laki-laki itu pasrah.
Suara deringan telepon dari pihak ojek pun terdengar, makanan yang di pesan sudah datang.
Yudha membereskan meja, sedang Ayla berusaha mengambil mangkuk besar di bagian atas lemari dapur. Tangannya menggapai-gapai mencoba mengambil koleksi mangkuknya yang jarang dipakai.
Tangan Yudha dengan gesit mengambilkan untuknya. Ayla berbalik, wajahnya mendapati d**a bidang laki-laki di depannya. Yudha merunduk fokus pada bibir yang tampak manis, lalu memencet hidungnya yang bangir.
"Dasar Bontet! Masa sama sekali gak nambah tinggi sih, Ay?"
"Mana gue tau? Lo, sekarang juga rada gemuk, udah makmur, ya? Udah gak cungkring kayak dulu."
"Iya, nih, udah jarang olahraga karena harus bolak-balik luar kota terus."
"Ya udah di makan, gih, sambil nunggu baju kering. Oya, dari sini dekat dengan terminal bus yang langsung ke Jakarta, lo mau gak gue pesenin tiket?"
"Ada yang jam berapa aja jadwalnya?"
"Kalo gak salah jam 10 malam ini. Terus ada juga yang besok pagi, tapi 'ntar malem lo nginep di mana?"
"Gak boleh di sini aja?" tanya Yudha penuh harap.
"Nanti digerebek RT, mokal lagi."
"Digerebek? Emang kita ngapain? Atau ...jangan-jangan lo ngarepin kita ngapa-ngapain?"
"Ih, Yudha. Lo mikirin apa, sih?"
"Lo yang mikirin apa? Gue, sih, cuma mikirin lo doang dari dulu juga."
"Gombal! Istri lo ... pasti marah kalo tau lo di sini."
"Sudah pasti, tapi tenang aja, gue udah jelasin kok."
"Dia mau ngerti?" Ayla merasa tak percaya.
"Ya, enggaklah, mana mungkin. Tapi, terus terang aja, gue bakal kenalin lo suatu hari nanti sama dia."
"Sebagai apa? Mantan pacar? Teman sekolah? Atau ...."
"Ada deh ...."
"Ih, Yudha, lo mikirin apa sih?" Ayla memukul d**a laki-laki itu yang terasa lebih empuk dibandingkan dulu. Pria itu menangkapnya, lalu menarik pinggangnya sehingga kursi berderit dan mereka duduk semakin rapat.
"Sejak dulu, lo adalah milik gue. Sekarang gue gak bakal lepasin lo lagi. Jangan pernah menghindar lagi, oke!" ucap Yudha di telinganya.
Ayla terdiam, pipinya terasa panas, degup jantungnya bertalu-talu tak karuan. Wajah pria itu mendekat, dirinya tak mampu menolak.
Hatinya telah lelah berlari, kini ia ingin terus menggenggam jemari laki-laki itu selamanya. Ia pun memejamkan mata, menantikan ciuman yang tertunda selama 25 tahun itu.
Yudha tak ingin ragu-ragu lagi, ia mengecup lembut bibir perempuan yang dirindukannya. Wanita itu masih menutup matanya saat kecupan itu disudahinya. Laki-laki itu meraih kepala wanitanya agar lebih dekat.
Kecupan kedua pun ia daratkan di bibir merah jambu itu. Yudha hampir tak dapat mengendalikan dirinya, ia ingin melakukan hal yang lebih lagi. Kecupan itu tak dilepasnya, berusaha mencumbu wanitanya lebih jauh.
"Mama! Andrea pulang!"
Mata Ayla terbuka lebar, ia langsung mendorong lelaki itu, dan segera berdiri. Kakinya terantuk kursi lain, dan ia berdiri dengan satu kaki sambil menahan rasa sakit.
Menyesal telah menerima kecupan dari laki-laki itu, dirinya yang telah lama mendambakan kasih sayangnya merasa terlalu mudah terbawa suasana.
Yudha tengah menatapnya dengan pandangan sendu. Senyum bahagia tersungging di bibirnya.
Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Yudha sekarang telah kembali ke rumah dan berada di ruang kerjanya. Ia tersenyum-senyum mengingat ciuman yang akhirnya ia dapatkan.
Lamuanannya terhenti, sebab Maura membuka pintu ruangan itu dengan kasar.
"Kau! Dasar laki-laki tak tahu diri!"
Yudha terkejut, amarahnya kembali memuncak kala teringat rumah Ayla yang terobrak-abrik ditambah surat ancaman, geram ia menatap istrinya.
"Aku? Tak tahu diri? Aku sudah bertanggung jawab atas semuanya. Kau, kan, sudah tahu sejak dulu aku tak pernah mencintaimu. Aku pun tau kau telah menjebakku dengan sengaja membuatku terlena dan menidurimu. Kau pikir, aku tak menyesal menikahimu? Sesaat kita pindah ke Jogja. Gadis itu kembali ke Jakarta. Harusnya aku tak pernah mengenalmu Maura."
"Kau boleh berkata apa saja, tapi ingatlah, tanpa diriku kau bukanlah siapa-siapa? Kau mau bermain-main karena bosan denganku? Tidak apa-apa, silakan! Tapi ingat, tanggung jawabmu terhadap keluarga tidak boleh kau lupakan, ingat nama baik perusahaan dan anak-anak, Mas. Apakah kau mau dikenal oleh keturunanmu sebagai tukang selingkuh?" Mata Maura mendelik.
"Kau sangat picik maura, aku tak pernah bermain-main dengan Ayla. Aku akan menikahinya dengan atau tanpa restu darimu."
"Silakan, tapi jangan harap kau dapat uang sepeserpun untuk menghidupi gundikmu itu."
"Kau!" Yudha hampir tak dapat mengendalikan diri, tangannya telah terangkat ingin memukul istrinya yang telah lancang mengatai wanitanya sebagai gundik.
Mata Yudha mendelik, menatap tajam perempuan di depanya yang balas memandang dengan menantang.
"Oke, asal kau tahu, jika Ayla dan diriku ini bukan anak yang lahir dari keluarga broken home, sudah pasti bukan kau yang aku nikahi. Jika kau mengharap cinta, kau tak pernah mendapatkannya."
Yudha berbalik, meninggalkan ruangan itu. Maura terduduk sendiri di atas sofa empuk hatinya sakit bukan kepalang.
***
7 Desember 1995.
Setelah mengirimkan surat putus pertamanya, Ayla merasa sudah tak dapat mempercayai siapa pun lagi.
Tak percaya akan rasa cinta, juga pada dirinya sendiri. Namun, semuanya luruh saat Yudha menelepon, dan memintanya untuk kembali.
Tadinya dengan alasan jarak yang jauh, dan komitmen yang tidak kuat Ayla menolak. Akan tetapi, Ayla luluh karena tidak mau Yudha menjadi lebih hancur, alibat patah hati.karena dirinya.
Gados itu tak ingin menghancurkan masa depan orang yang disayanginya, sebab merasa Yudha mencoba narkoba karena dirinya.
Ia.hanya mengajukan satu syarat agar Yudha dapat menghubunginya minimal satu bulan sekali. Laki-laki itu menyanggupi dan mereka pacaran lagi.
Sayang kesempatan itu disia-siakan. Yudha yang masih terlena dengan narkoba membuatnya lupa. Ia selalu hidup dalam bayangan gelap. Tak mampu mencari jalan keluar.
Tiga bulan berlalu begitu saja, hari berlalu begitu cepat. Tak ada secarik surat, bahkan deringan telepon yang mengabarkan kondisinya.
Yudha seperti hilang ditelan bumi. Ayla sama sekali tak dapat menghubunginya. Hubungan mereka menggantung begitu saja. Menyisakan penasaran yang tak kunjung reda sampai saatnya bertemu dan bercinta kembali.
= = = = = = = = = = = = = = =