[ 16 ] Lupa dan Belajar Melupakan

1473 Kata
20 Oktober 2019. Wanita itu tersenyum-senyum, hatinya masih diliputi perasaan berbunga-bunga. Kedatangan Yudha di sini baru dapat meyakinkan dirinya untuk kembali bersama pria itu lagi, sebab selama ini memang tidak ada kata putus yang jelas di antara mereka. Ia meraba bibirnya, mengingat kembali kecupan laki-laki itu. Kejadian  romantis, tetapi bukan di tempat yang ia bayangkani depan meja makan dalam dapur. Romantisnya di mana coba? gerutunya dalam hati, padahal itu adalah ciuman yang dinantikan setelah hampir seperempat abad. Ardian menatap perempuan itu, ia curiga ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya. Kemarin ia terpaksa harus merelakan keduanya pulang tanpa pengawalan. "Lo kenapa cengar-cengir? Ada yang lucu?" tanya Ardian penuh selidik. "Adaaaa aja. Rahasia dong. Kita emang sahabat tapi bukan berarti lo mesti tau semua hal." "Halah! Sok rahasia-rahasiaan. Gue curiga si Yudha ngapa-ngapain lo kemaren dan sekarang lo lagi baper, ya, kan?" "Ish! Enak aja. Kali ini gue gak baper, kita sepakat buat jadian lagi." Senyum puas tersungging di bibir Ayla. "Wah! Gila, ni, orang, suami orang di embat juga?" Yudha memalingkan wajah, sebab senyum perempuan itu menggetarkan hatinya. "Dia emang punya gue dari dulu juga, cuma keadaan yang bikin kita pisah, kalo sekarang ketemu lagi itu berarti takdir." Ayla berkeras dengan pendapatnya. "Wahh, ... parah. Gue gak nyangka lo selemah ini. Ayla yang gue kenal itu strong, positif thinking, dan rasional banget. Sekarang cuma gegara mantan SMP yang nengokin elo, udah begini. Ke mana Ayla yang gue kenal?" Ardian merasa harus menyadarkan perempuan itu, sebelum dia terjatuh ke lubang perzinaan. "Itu aslinya gue. Kenapa gak suka? Karena laki-laki itu, adalah dia. Kalo orang lain belum tentu. Dikira gue gampang jatuh cinta. Enak aja. Lo kan dari dulu tau gue, sehebat apa pun orang itu, kalo gue gak cinta gak bakal gue ladeni," ketus Ayla sembari menyilangkan lengan di dadanya, bersikap defensif. "Maksud lo, sekarang lo lagi jatuh cinta lagi sama Yudha? Istigfar, Ay." "Apa yang salah, kita gak melebihi batas, kok." "Sekarang enggak, nanti kalo ketemu lagi? Sedang kalian sudah sama-sama dewasa, pernah merasakan indahnya dunia. Apalagi sekarang kalian sedang dilanda cinta yang menggelora, gak menutup kemungkinan kalian bakal ...." Ardian tak berani melanjutkan, sebab tau kata-kata selanjutnya akan tak enak di dengar meski untuk dirinya sendiri. "Dasar m***m lo, Ian. Gue gak berpikir sampe segitu jauhnya, walau gue janda, gue juga ngerti batas." "Lo mungkin enggak, tapi isi kepala dia? Dia juga laki kayak gue. Lo berani ngasih jaminan apa kalian gak bakal macem-macem." "Stop! Gue gak mau denger. Jijik tau gak." Ayla menutup telinganya dan menggeleng. "Makanya istigfar. Inget, Ay. Dia gak sendiri lagi, emang lo mau jadi madu? Apa bedanya lo sama perempuan yang rebut mantan suami lo? Begitu banyak laki-laki yang masih single, jangan suami orang, Ay. Please, dengerin gue." "Tapi, gue gak bisa nahan lagi, Ian. Setelah sekian lama, gue kangen banget sama dia. Gue menyadari kalo gue sayang banget sama dia. Apa yang gue lakuin sekarang seperti pelepas dahaga. Gue balikan lagi sama dia sekarang agar hati yang kosong ini kembali terisi, waktu yang terlewat dapat terganti, itu aja." "Gue paham, tapi gak gini caranya, dia bukan punya lo lagi." Ayla kembali tersadar, seharusnya ia tak mudah terlena. Hatinya kembali sakit, dadanya mulai sesak. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di depan Ardian yang tengah menatapnya penuh empati. Meski Ardian menyayangi perempuan itu, tapi dia tidak mau menambah luka. Ayla, jelas perlu waktu lebih banyak untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran, sebab ia pun pernah merasakan sakitnya ditinggal seseorang yang disayang. Sedang Yudha, datang kembali di saat wanita ini dalam kondisi membutuhkan perhatian dan kasih sayang lebih. "Baiklah, gue bakal blokir lagi nomor Yudha." "Lo udah pernah lakuin itu, yang ada malah dibuka lagi blokirannya kalo kangen nyerang." "Terus gue musti gimana?" tanya Ayla bingung. "Ganti nomor, bekukan akun sosmed, dan pindah rumah. Jangan biarin dia masuk lagi meski hanya sebuah panggilan atau pesan teks," kata Ardian, sebab jika bukan Yudha yang menemukannya ia juga khawatir istri laki-laki itu akan menemukannya lebih dulu. Ayla harus belajar melupakan. *** Yudha heran, perempuan yang semakin dirindukannya tak dapat dihubungi. Termasuk semua medsos pun tampak tidak aktif, tidak ada postingan baru di dalamnya, dan semua inbox tak ada balasan. Kemarahan Yudha memuncak, ini bukan hal yang dia inginkan. Bukan sekedar ciuman yang di inginkan, tetapi dia mau Ayla seutuhnya. Seperti dulu laki-laki ini ingin menjadikan perempuan itu miliknya secara sah. Keretakan rumah tangga Yudha dan Maura sudah tercium oleh orang tuanya. Saat ia menjemput anak-anaknya sehabis menginap di rumah mereka, keduanya memanggil. "Ada apa dengan hubungan kalian? Kenapa akhir-akhir ini suamimu gak pernah mampir?" tanya Romi—Ayah Maura. "Lagi sibuk, Pa. Mana ada CEO yang santai. Sekarang sering pulang larut malam dan keluar kota juga," jelas Maura. "Lah, kan, ada anak buah. Masa iya CEO-nya sendiri yang turun tangan? Gak mungkin segitunya. Papa khawatir dia sengaja melakukannya, menghindar karena melakukan kesalahan padamu." Romi menyatakan kecurigaannya. "Bener, tapi Mas Yudha orangnya perfeksionis, dia lebih suka mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna, Papa tahu sendiri, deh. Kesalahan apa yang Papa maksudkan? Gak ada kesalahan, kok," elak Maura. "Iya, Papa akui. Dia kalo kerja sangat serius dan gak inget waktu, apalagi jika belum mencapai target yang dia inginkan. Tapi, entah kenapa perasaan Papa gak enak, belum  lagi Papa selalu menyesali kamu nikah sama dia. Seharusnya dulu kamu nikah sama anak teman Papa, si Niko itu. Dengar-dengar sekarang usahanya lancar dan berkembang pesat." "Ah, Papa, Niko lagi niko lagi, dia itu cuma teman. Papa selalu bandingin dia dengan Yudha, deh. Tahun ini perusahaan kita juga lagi mengusahakan expand ke Eropa, bahkan dalam tiga tahun pengiriman kargo lokal sudah mencapai lebih dari 20 propinsi. Pelan tapi pasti, lebih baik, Pa, yang penting perusahaan kita memiliki kredibilitas tinggi dibanding pesaing yang bergerak di bidang yang sama." "Kerja yo kerja. Wayahe sabtu-minggu, mbok, ya, jalan sama keluarga. Apa lagi anak-anakmu sedang butuh sosok ayah. Coba kamu lebih perhatian lagi, jangan sampe suami lebih suka keluar rumah dari pada di rumah," cetus Murni—ibu Maura, sambil membawa teh hangat untuk mereka. "Iya, Ma. O iya, Maura mau tanya, Papa dulu punya mantan juga gak?" "Juga? Memangnya mantan kamu kenapa?" Mama berkomentar penuh selidik. "Eh, bukan, Ma, maksud Maura ...." "Apa suamimu sering bertemu dengan mantannya? Tuh, kan, apa Papa bilang. Kamu, sih, dulu ngeyel kekeuh mau kawin sama dia. Pake pura-pura hamil, sengaja minta pindah kuliah ke Jogja, hanya karena biar dia gak ketemu lagi sama mantannya. Sekarang giliran udah muncul lagi, kamu bisa apa?! Sudah Papa bilang, jangan pernah ambil apa yang bukan hakmu," kata Romi. Sejak dulu ia tak suka anak satu-satunya itu menikahi Yudha, tetapi saat Maura mengalami hal ini, dia juga tak bisa berbuat banyak, apalagi telah memiliki cucu. "Maura yakin. Mas Yudha gak akan ninggalin aku. Meski dia gak pernah cinta sama aku, tapi dia sangat bertanggung jawab dengan anak-anaknya," jelas Maura. Hatinya sakit, tetapi ia tak bisa menyerah sekarang saat ia sudah memiliki keluarga yang sempurna. Mungkin. "Terserah, Papa memang dari dulu kurang sreg sama dia, sebab dia bukanlah pria yang pantas bagimu." Walau bagaimana pun, Maura masih membela suaminya, omongannya  papanya yang seperti ini sudah sering ia dengar. Perempuan itu hanya berpura-pura tak tahu. Baginya, Yudha boleh jadi tidak mencintainya, tetapi dirinya sangat mencintai laki-laki yang merupakan cinta pertamanya itu. Yudha kali ini tak mau menyerah, ia berupaya mencari tau keberadaan Ayla di Lampung. Ia yakin, sekarang walau perempuan itu ditelan b[mi sekalipun, pasti akan ia temukan. Ia lebih khawatir jika Maura menemukannya lebih dulu. Ia takut dan tak ingin Maura melukainya. Sekarang wanita itu tampak biasa saja, tetapi sepak terjangnya melebihi apa yang bisa Yudha lakukan. Yudha benci dengan keadaan ini, saat harus berpura-pura lupa seakan tak terjadi apa-apa. Berusaha setenang mungkin padahal hatinya gundah karena kehilangan kekasih dalam genggaman, sekali lagi. Yudha sudah malas pulang ke rumah, ia kini malah kembali menggeluti dunia malam. Meski tidak lagi menyentuh narkoba, tetapi alkohol, perempuan, dan gemerlap dunia malam menjadi tempat pelariannya. Ia rebah dalam kehidupan kelam, semakin larut dalam lingkup dunia yang penuh tipu daya. Yudha mencari perempuan-perempuan yang mirip Ayla, lalu mencumbunya, menjadikan pelampiasan kemarahan, dan kesedihannya. Demi mengisi ruang hampa di dalam hatinya, walau sementara. Semakin banyak perempuan yang jatuh dalam pelukannya, semakin kering hatinya. Yudha menjadi beringas lari dari pelukan perempuan satu ke perempuan yang lain, mencari sosok Ayla, mengisi jiwa kosongnya dengan kefanaan. Maura bukan tidak tahu. Akan tetapi, jika dibandingkan suaminya kembali jatuh kepelukan cinta pertamanya, ia rela membaginya barang satu malam dengan perempuan yang sama-sama tak akan mendapat cinta sejati Yudha. Di sisi lain, Ayla justru tengah menyibukkan diri, ia mencoba melupakan Yudha seorang yang pernah dicintai juga ia benci, dengan tenggelam dalam pekerjaan dan hobi barunya. Sampai ... alarm ponsel kedua insan itu berbunyi mengingatkan. Besok, adalah tanggal 26 Oktober 2019, hari pelaksanaan reuni Akbar SMP Anggrek. = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN