[ 17 ] See You Again

1965 Kata
25 Oktober 2019. Yudha sedang mencoba menikmati malam, di tengah hiruk pikuk tempat yang akhir-akhir ini semakin sering ia kunjungi. Bukan karena hingar bingar musik techno yang ia sukai, melainkan sekadar pengalih perhatian dari rasa kehilangan. Seorang perempuan berpakaian hitam ketat, dengan punggung terbuka dan paha mulus menatapnya sedari tadi. Kulit putih yang terpapar tampak tak bercacat, sengaja dipamerkan demi menarik hati lawan jenis. Wanita itu berjalan mendekati bar, berpikir mencari kesempatan agar lebih dekat dengan pria yang memiliki tatapan tajam itu. Siapa yang tak tertarik padanya, tampak mapan juga tampan. Menghabiskan satu malam dengannya pasti akan menyenangkan. Perempuan itu dapat menilai dari pakaiannya, pria yang sedang ia dekati itu bukan orang sembarangan. Yudha mengerling padanya, di balas dengan senyum dan kerlingan genit penuh damba. Getar ponsel membuat pandangan Yudha berpaling, bukan sebuah panggilan melainkan alarm yang sengaja diset olehnya, besok adalah hari reuni. Yudha langsung berdiri, ia segera menghubungi sekretarisnya. "Batalkan semua jadwal untuk besok. Aku ada acara mendadak," perintahnya pada sang sekretaris yang mengiakan. Tanpa menoleh lagi pada perempuan yang mengharap sentuhannya, ia keluar dari pub. Di pulau seberang, Ayla yang tengah asyik bergelut di dunia barunya, kini terpaku menatap layar ponsel. Alarm yang telah di set berbulan-bulan lalu itu, kini berbunyi dan mengingatkan apa yang telah diupayakannya untuk dilupakan. Meski berusaha mengabaikan, tetapi pikirannya jadi melantur pada satu sosok bersama kisahnya. Sekejap, ia langsung menghubungi salah satu rekan kerjanya. "Hanny, sori malem-malem. Bisa gak, gue minta cuti untuk besok sampai Selasa?" tanya Ayla segera setelah panggilannya dijawab. "Hah! Kok, dadakan, ada yang ninggal?" tanya Hanny, salah satu staf di bagian administrasi personalia "Bukan. Ada acaranya saudara gue di Jakarta, dia ngasih taunya dadakan. Acaranya penting banget, nih," jawab Ayla, mencoba merangkai kebohongan. "Sodara lo yang mana? Bukannya lo asli orang sini?" Hanny bertanya dengan bingung. "I-iya, i-itu ... ehm, sepupunya kakak ipar, kan, punya mertua, terus besannya itu punya anak, nah, anaknya itu yang di-dinikahin," jawab Ayla terbata-bata. "Hah! Apaan? Gue, kok, gak mudeng? Kayaknya jauh banget silsilahnya bisa sampe ke elo. Kudu, ya, lo dateng?" Hanny mulai curiga. "Eh, iya, kudu banget. Gue udah dapet baju seragam soalnya. Sampe dikasih kain tapis full tenun plus kebaya sulam usus." "Busyet, orang kaya, nih, agaknya?" Hanny semakin curiga. Sebab sebelumnya perempuan itu bilang acaranya dadakan, bagaimana mungkin kain tenun tapis dan kebaya sulam usus khas Lampung dapat jadi begitu cepat? "Hooh, acaranya gede-gedean, akbar." Ayla masih berusaha menutupi kebohongan dengan kebohongan lain. "Kayak reuni, pake acara akbar di sebut-sebut," sindir Hanny. "Eh, bukan, ini bukan reuni. Ini acara sunatan—" Ayla merasa kata-katanya ada yang salah, tetapi kepanikan terlalu menguasainya dan ia memang tidak bisa berbohong. "Katanya tadi kawinan?" Hanny tersenyum, ia tahu sekolah Ayla akan mengadakan reuni. Perempuan itu sudah pernah mengatakannya dulu. Agaknya wanita itu lupa untuk mengajukan cuti, padahal acaranya sudah dekat. "Iya, itu maksud gue. Please, Han. Tolongin gue," mohon Ayla, ia tak tahu harus berkata apa untuk meyakinkan koleganya itu. "Ya, udah. Besok pagi gue bikinin permohonan cutinya. Oya, terus tanda tangan lo-nya, gimana?" Hanny merasa kasihan dan ingin melepaskan sejawatnya dari ketegangan interogasi itu. "Lo UB-in aja, gue ikhlas, kok. Sama, tolong sekalian mintain tanda tangan pengawas gue, ya," jawab Ayla malah tak tahu diri, waktu sudah terlalu mepet. Ia harus berangkat sekarang jika tak ingin terlambat besok. "Wah! Ini, mah, kudu bawa oleh-oleh kalo pulang, kerja gue ekstra soalnya," seloroh Hanny. "Sip, tenang aja. Selagi lo gak minta emas Monas, masih bisa gue jabanin." "Oke, deh. Selamat liburan, ya, Bu." Hanny mengakhiri panggilan, meninggalkan Ayla yang heran, bagaimana bisa secepat itu Hanny menyadari kebohongannya. "Eh, ini bukan libu—" Klik. Panggilan telepon sudah ditutup, Ayla tak tahu akan ke mana kenekatan ini akan membawanya. Kebetulan Adena sedang membawa Andrea ke Kota Metro, demi menghadiri acara yang sebenarnya dilaksanakan di sana, bukan di Jakarta. Juga sebetulnya yang menikah adalah anak sepupu dari alamarhum ayahnya, dan hanya mengadakan pesta kecil khusus keluarga saja. Perempuan itu merasa, ia dan Yudha harus bertemu sekali lagi. Hatinya merasa gamang. Ayla masih merasa bersalah atas rusaknya kehidupan aman dan nyaman laki-laki itu atas kehadiran dirinya kembali. *** 25 Januari 1997. Setelah merasa harapannya pupus, sebab surat dan telepon yang dinantikan tak jua datang. Ayla berhenti berharap, ia hentikan penantian tak berujung itu. Waktu satu bulan yang disyaratkan olehnya dalam panggilan telepon terakhir. Agar Ayla mau kembali menerima Yudha, berlalu begitu saja tanpa kabar. Dengan sisa-sia rasa cinta yang masih ada, dibiarkan hingga bulan berikutnya. Ia berharap, Yudha yang tak mampu beromantis ria itu, hanya perlu waktu membiasakan diri. Namun, tidak terasa tiga bulan berlalu juga. Penantian wanita itu kembali sia-sia. Ia pun memutuskan untuk pergi selamanya dari hidup laki-laki itu. Tanpa kata lagi, Ayla melipat kertas yang tertoreh nama Yudha. Ia kumpulkan semua memori manis dengannya, dalam satu wadah, lalu disimpan semua dalam sudut hati paling jauh, sejauh jarak antara mereka. Selanjutnya, wanita itu bertekad akan membuka lembaran baru kertas tak berwarnanya, kemudian memutuskan untuk tak lagi menunggu seseorang mewarnainya. Ia akan menjadi diri yang mewarnai dirinya sendiri seindah mungkin. Sehingga Yudha akan menyesal telah meninggalkannya seorang diri. Ini adalah awal mula, seharusnya tak pernah ada kata kembali bagi mereka yang sudah pergi. Tiga tahun setelah bertekad, takdir mempertemukan keduanya. Ayla datang ke kota besar itu, demi menghadiri wisuda Kak Okta. Sebab bosan tebersit hatinya untuk menghubungi Tami dan Meilia. "Tam! Gue lagi di Jakarta," panggil Ayla dalam sambungan telepon. "Serius lo, Ay?" tanya gadis itu semringah. "Iya. Ketemuan, yuk? Kita ke rumah Mei, ya," ajak Ayla segera. "Gue ajak Yudha juga, ya, gak apa-apa, kan?" Gadis itu terkesiap, mendengar nama yang telah lama tak terdengar kabarnya. "Iya gak apa-apa. Kalo dia gak sibuk, ajak aja," sahut Ayla, ada getar dalam nada suaranya. "Oke! Gue jemput di kost-an Kak Okta, sejam lagi." Tubuh Ayla mengejang, saat Sebuah mobil Kijang terparkir di halaman rumah kost Kak Okta. Dilihatnya Tami keluar dari mobil, lalu seseorang mengikutinya keluar. "Yudha? Lo, Yudha?" tanya Ayla tak percaya, pria di depannya sungguh berubah penampilannya. "Iya, ini gue, masa lo udah lupa, Ay," jawab Yudha, ia berusaha menenangkan degup jantungnya yang seperti meloncat-loncat. Ayla menelanjangi wajahnya, memang tak ada yang berubah di sana. Namun, rambutnya kini lebih panjang dari dirinya, wajah cowok itu juga sedikit pucat, dan dia tetap kurus walau bertambah tinggi begitu banyak. "Gue gak lupa, cuma lo sekarang sedikit berubah." "Berubah tambah ganteng, ya?" godanya dengan nada ceria. "Ish, GR, deh lo. Gue takjub sama rambut gondrongnya. Lebih panjang dan tebal dari rambut gue, Yud. Sebagai cewek gue merasa tersaingi." Ayla sekuat tenaga tidak menyentuh rambut laki-laki itu. Akan tetapi, keinginan yang begitu kuat, membuat Ayla meraih ujung rambutnya. Mata laki-laki itu menatap gadis yang sedang diliputi penasaran itu. Begitu mata mereka bertemu keduanya merasa malu karena takut terlihat masih menyisakan rindu di masing-masing hati. Ayla segera melepaskan sentuhan pada rambut yang tergerai walau tak dapat berhenti memandangi cowok itu dengan takjub, ia merasa seperti bermimpi dapat bertemu kembali dengannya. "Gue masih Yudha yang dulu, kok, Ay, orang yang masih sayang banget sama lo." Yudha tak tahan ingin mengungkapkan rindunya, sebab jantungnya bertalu-talu demikian kuat minta ditenangkan. "Gombal! Udah bertahun-tahun, mustahil rasa itu masih ada, Yud. Sepupu Tami mau lo kemanain?" "Gue, kan, udah bilang. Sosoknya gak pernah bisa gantiin lo, Ay." Yudha berusaha meyakinkan perempuan itu meski hatinya tak yakin dapat memenangkan hati itu lagi. "Gak tergantikan tapi lo duain ya, Yud," sindir Ayla. "Ay, kita balikan lagi aja, yuk." Tiba-tiba cowok itu mengajaknya kembali untuk bersama. "Dulu aja lo gak bisa pegang janji, Yud, kalo aja lo bisa, dari dulu gak bakal ada kata putus." Yudha terdiam, ia tau kesalahan begitu menumpuk hingga membuat Ayla tak lagi percaya akan kata-katanya. "Duh, berasa obat nyamuk, nih, gue. Berangkat aja kita." Tami segera menggamit lengan Ayla dan mengajaknya masuk mobil. Hari itu, mereka berkumpul kembali, bercengkrama sepanjang jalan. Pertemuan sekejap yang hanya dalam hitungan jam, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mei dan Tami, keluar dari mobil untuk membeli makanan ringan. Sedang Ayla dan Yudha menunggu dalam mobil. Mereka memberi keduanya ruang untuk dapat berbicara, tetapi kini keduanya sangat gugup. Mencoba menenangkan hati masing-masing. "Gue deg-degan ketemu lo lagi," kata Yudha memecahkan suasana hening. "Udah gak percaya gue sama lo, Yud," sahut Ayla sarkas. "Sini pegang di sini jadi lo bisa rasain jantung gue yang berdetak untuk lo sekarang." Cowok itu menarik lengan gadisnya, meletakkan jemari di d**a kirinya. Terasa denyut cepat tak beraturan di sana, menjalar dari buku jemari hingga jantung. Wajah perempuan itu terasa panas dan mencoba menarik tangannya menjauh. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Lo sekolah di mana? Kok gondrong begini, rambut lo bahkan lebih bagus dari gue." Tanya Ayla dengan suara bergetar dengan kembali tanpa sadar menyentuh ujung rambutnya. "Gelanggang Siswa, di daerah Matraman-Jaktim, di sana membolehkan siswanya untuk gondrong. Pelajarannya lebih banyak menjurus ke seni," jelas Yudha. "Oya? Kesenian apa yang lo bisa sekarang? Musik, tari, seni rupa?" tanya gadis itu semakin ingin tahu. "Musik. Gue ikut band sekolah. Dulu main gitar, sekarang pegang bass. Nih, lihat ujung jari gue sekarang kapalan karena harus betot senar yang besarnya sejari kelingking lo," Yudha bercerita dengan semangat. Ia menarik jemari Ayla yang memainkan ujung rambutnya, lalu menggenggamnya. Jemari itu terasa kasar, tetapi wajah gadis itu merona dan kembali memanas sehingga ia melepaskan jemarinya. Yudha menahan jari-jari itu dan genggamannya semakin erat. "Kita balikan lagi, ya, Ay. Please ...," mohonnya, mata itu menatap lurus ke dalam manik mata gadis yang ia harap mengabulkan permohonannya. "Lo masih nyentuh narkoba? Kalo masih gue gak mau," sergah Ayla. Meyakinkan dirinya untuk tak jatuh di lubang yang sama. Merindu juga akan kehilangan. "Kalo gue berhenti? Lo mau?" Yudha menemukan celah agar gadis itu yakin padanya. "Lo udah ingkar janji sama gue, Yud, bahkan untuk menghubungi gue sebulan sekali aja lo gak bisa, bagaimana dengan berhenti dari narkoba yang racunnya sekarang sudah mengendap di tubuh lo?" Ayla mencoba menelaah penyebab putusnya mereka, sungguh ia heran laki-laki itu seperti lupa atas apa yang sudah pernah terjadi. Saat itu, Ayla segera menyesali perkataannya. Namun, ia tak berniat untuk menariknya. Gadis itu tak ingin lagi berdiri dalam kegamangan penantian, ia ingin tetap menjejak tanah, tetap dalam realitas kehidupan, tak mau lagi percaya dengan orang yang salah. Yudha terdiam, ia tak lagi menyahuti atau mencoba meluluhkan hati perempuan yang telah mengeras. Rasa percaya dirinya hilang dan rusak. Ia tau dengan cara apa untuk dapat meyakinkan dirinya. Sisa pertemuan mereka berempat selebihnya hanya diisi canda tawa Ayla bersama Tami dan Mei. Hingga akhirnya malam pun turun, Ayla harus segera kembali, sebab malam itu juga ia dan Adena harus kembali ke Lampung setelah menghadiri Wisuda Kak Okta kemarin. Ayla tau betul isi hatinya. Meski rindu untuk laki-laki itu tak pernah padam, tetapi ia berusaha keras menyimpan sosok Yudha di sudut hatinya. Memupuk rindu dengan untaian kenangan indah yang tak terlupakan. Tekadnya bulat. Ia akan menjadi Ayla yang lebih baik, hingga Yudha akan menyesal tak berusaha mempertahankan dirinya selama ini. Sesampainya di rumah, ia membuka kembali lembaran terlipat yang tersimpan lama. Ditorehkannya sebuah gambaran nyata tentang seorang laki-laki, dengan rambut gondrong yang memegang pergelangan tangannya dan menempelkannya di d**a kiri. Gambar hitam putih tak terarsir dan berwarna, pertemuan hari itu mungkin saja pertemuan terakhir keduanya. Kini kertas pun kembali disimpan dengan gambar dirinya yang terlipat di dalam sudut hati. Di dorongnya semua harapan, berusaha melihat kenyataan di depan mata. Tuhan, mengapa kau gariskan lagi pertemuan dengannya, apakah jika nanti kami dewasa kami akan bertemu dan bersatu kembali? Ayla menyerahkan semua gulana hatinya kepada Yang Maha Kuasa, karena hanya Dia-lah yang mampu membolak-balik hati, paling tahu yang terbaik bagi dirinya juga kekasih abadinya itu. Ayla yakin di balik kesedihan sebuah perpisahan dan pertemuan, ada maha karya takdir yang telah digariskan Tuhan, mungkin Sang Maha Esa ingin menguji sejauh mana dirinya bersabar dan bertawakal. = = = = = = = = = = = = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN